Ana memaksa ikut kedua orang tuanya menjenguk kakaknya Wira karena selama dirawat ia belum pernah menjenguk barang sekalipun. Berhubung menurut informasi, hari ini adalah kepulanganya dari Rumah Sakit. Tentu saja Rima dan Hendra datang dan ikut mengantar kepulanganya mengingat orang tua Wira sejak dulu saling mengenal.
Setiba di halamam Rumah Sakit yang ternyata adalah tempat biasa ia menunggu Dini sahabatnya dan juga Reksa. Hendra dan Rima berjalan beriringan sedangkan Ana berada di belakang keduanya.
"Ma, aku mau ke toilet dulu" Rima menjawab dengan anggukan kecil. Ana bergegas mencari toilet yang sudah dihafal dimana letaknya karena beberapa kali ia pernah datang kemari. Begitu langkahnya yang tergesa menuju toilet, tanpa diduga pandanganya menangkap sesosok wanita yang ia kenal. Langkahnya berhenti seketika. Ingatan akan penghinaan padanya tempo hari membuat rahangnya mengeras.
Punggung wanita itu semakin jauh namun tatapan mengikuti dari Ana masih tidak ia lepaskan. Dari sekian waktu ia datang ke Rumah Sakit ini, Ana bingung kenapa harus saat ini ia melihat wajah penuh kesombongan itu disini?. Ah ya, jelas dan wajar saja jika wanita itu berkeliaran disini. Bukankah Reksa bekerja disini?
Ana mendesah lega saat wanita itu sudah hilang dari pandangan tertelan pintu dorong milik Rumah Sakit ini. Kemudian ia lanjutkan langkahnya mencari toilet.
*******************************
Ana mengakhiri panggilan dari Mamanya yang menanyakan keberadaan dirinya saat ini. Setelah dari toilet, tanpa sengaja ia berpapasan dengn Dini yang sedang lewat setelah mengantarkan obat pada salah satu pasien. Dan sedikit obrolan mereka terjadi mengenai keadaan Ana setelah kecelakaan, pertemuan dengan Wira yang gagal dan alasan ia berada di tempat ini yang tak lain adalah menengok kakaknya Wira yang kemarin kecelakaan.
Dini mendengarkan dengan antusias, sangat. Dan ia girang bukan kepalang karena di Rumah Sakit ini ia bisa melihat dan menilai langsung seperti apa calon yang dipilihkan oleh kedua orang tua Ana. Selesai menerima telepon agar ia diminta segera menuju parkiran karena anggota keluarga sudah berkumpul hendak pulang.
"Udah mau pulang?" Tanya Dini begitu Ana menutup panggilanya.
" Iya, katanya sudah ada di parkiran" Jawab Ana seraya tanganya memasukan ponsel kedalam tas selempang miliknya.
" Kakaknya Wira dirawat di ruang mana?"Tanya Dini penasaran.
" Oh, di ruang VIP katanya" jawab Ana sepengetahuan yang diterimanya dari Rima yang menceritakan karena Mamanya saat itu menunggui semalaman.
" Iya kamar berapa?" Ana tampak berpikir dan mengingat nomor yang pernah dikatakan oleh Rima.
" Kalau gak salah di kamar A 18" Kamar untuk kelas VIP ditentukan berdasar abjad, berbeda dengan kamar kelas ekonomi yang menggunakan nama bunga. Alasan menggunakan huruf abjad adalah karena lebih mudah menyebut dan tentunya membedakan tingkatan. Tingkat fasilitas yang diberikan juga ada perbedaan namun hanya sedikit. Semakin awal abjad yang digunakan, semakin baik pula fasilitasnya. Dan pemilihan abjad A yang berarti berada di kelas istimewa membuat Monica merasa tak terima dengan keputusan anaknya menempatkan korban leteledoranya disana.
" Owh" Dini mencoba mengingat sesuatu tentang kamar tersebut dan ya, dia mendengar kabar yang beredar beberapa hari belakangan di kalangan rekan kerjanya tentang pasien di kamar tersebut yang ternyata semua biaya ditanggung oleh Dokter Reksa. Dan kabar berikut yang ia dengar adalah Dokter tampan tersebut adalah pelaku tabrakan yang korbanya adalah pasien tersebut.
Mendengar bentuk tanggung jawab yang diberikan oleh Dokter tersebut membuat kalangan perempuan yang mengidolakanya semakin kagum dengan langkah terpuji yang diambil.
" Eh Na, pasien di kamar itu kakaknya Wira ya?" Dini tampak meyakinkan lagi. Ana mengangguk.
" Iya kakaknya Wira. Mama bilang ada salah seorang Dokter disini yang menjadi penyebab kecelakaan itu makanya dia ditempatkan di kamar VIP dan semuanya ditanggung Dokter itu" jelas Ana membuat Dini manggut-manggut menarik kesimpulan sendiri.
" Kamu tahu siapa yang bikin calon kakak iparmu itu kecelakaan?" Pancing Dini. Ana menggelengkan kepalanya tak minat. Siapapun yang melakukanya toh sekarang yang terpenting kakaknya Wira segera ditangani dan sekarang sudah sembuh. Ana mengakui jika bentuk tanggung jawab pelaku amat besar pada keluarga Wira dan ia pikir hal tersebut sebanding dengan penempatan di kamar spesial, penanganan yang tepat serta pelunasan seluruh biaya.
" Jadi kamu gak tahu kalu Dokter Reksa yang menabrak kakaknya Wira? " Ana kaget dengan kabar barusan. Jelas ia tak tahu karena ia tidak berada di lokasi kejadian.
Dini tersenyum dalan hati melihat ekpresi keterkejutan Ana. Bagi Dini, mengatakan bahwa Reksa lah penyebab kecelakaan tersebut bisa jadi akan memicu pertengkaran keduanya karena Reksa, laki-laki yang ia percaya dan ia sayangi ternyata penghancur pertemuanya dengan Wira.
"Ana..!" Teriak Hendra dari kejauhan sambil berjalan sedikit tergesa kearah kedua gadis yang sedang bercakap-cakap. Baik Ana mapun Dini langsung menoleh ke sumber suara.
" Kenapa lama sekali? Wira dan keluarganya akan pulang. Kamu jadi ikut ke rumah mereka gak?" Tanya Hendra begitu sampai dihadapan anaknya.
" Iya Pa, tadi ketemu Dini jadi sekalian ngobrol sampai lupa waktu" Ana menjelaskan. Dini menyalami tangan Hendra sambil meminta maaf karena menahan Ana terlalu lama. Hendra dan Ana berpamitan pada Dini dan keduanya berjalan beriringan keluar dari Rumah Sakit.
" Pa, papa tahu gak siapa yang menabrak kakaknya Wira? aku dengar dia Dokter disini juga" Sepanjang jalan menuju parkiran ia terus memikirkan nama Reksa yang disebut oleh Dini.
" Dokter Reksa namanya. Papa dengar dia sangat menyesal sudah membuat seseorang terluka parah. Bahkan dia bertanggung jawab penuh untuk kesembuhan Mira" Ana berhenti seketika.
Mira.
Ana memutar otaknya seakan mengingat nama Mira pernah ia dengar namun dimana ia masih belum ingat.
" Kenapa berhenti?" heran Hendra melihat anaknya sudah berhento padahal posisi mobilnya dan Wira masih di depan.
"Siapa Mira?" tanya Ana akhirnya.
" Kakaknya Wira. Bukanya kamu juga sudah kenal dia? makanya waktu ketemu kamu, Mira meminta ikut juga karena kangen kamu katanya" Jelas Hendra yang terdengar ambigu di telinga Ana.
Hingga langkahnya kembali berjalan menuju mobil milik papanya. Disana ada Mamanya yang sedang berbincang sambil berdiri dengan seseorang yang amat ia kenal.
" Nah akhirnya datang juga!" Seru Rima lega melihat anak dan suaminya sudah datang dengan melongokan kepalanya sedikit karena tertutup tubuh tinggi lawan bicaranya. Ana hanya melihat punggung laki-laki yang kemudian bergerak membalikan tubuhnya perlahan.
Ana mengernyit heran dengan sosok dihadapanya kini. Kenapa laki-laki ini tampak begitu akrab dengan Mamanya.
"Hai Na" ucap Radit tampak gugup, tidak seperti dirinya yang biasa.
" Kok kamu ada disini? lagi jenguk keluarga ya?" tebak Ana terlihat santai dan akrab. Berbanding terbalik dengan Radit yang menghembuskan nafas dengan berat dan sedikit kaku menadapat serangan colekan di lengan dari Ana seperti biasa saat mereka bertemu.
" Eh itu, aku jemput kak Mira" Tunjuk Radit pada sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Hendra terparkir.
" Na, Mama sama Papa berangkat dulu nanti ketemu di rumahnya Wira" ucap Rima seraya melirik kearah Radit yang sedang gugup.
" Loh, Wiranya mana Ma?" Belum juga Ana mendapat jawaban, Rima sudah masuk dan melambai kearahnya. Ana menjadi bingung sendiri. Tidak mungkin ia mencari Wira di parkiran sedang ia sendiri belum melihat wujud laki-laki itu. Dan dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya hendak menelpon Wira.
Radit masih berdiri mematung dengan bingung apa yang harus dilakukanya saat ini. Ana menekan tombol panggilan hingga suara ponsel Radit berbunyi nyaring di saku celananya.
Dikeluarkan ponsel tersebut sambil menatap Ana yang menempelkan ponsel di telinga seakan menunggu jawaban di seberang. Lidah Radit terasa kelu bahkan salivanya saja susah ditelan.
" Na" panggil Radir lirih.
"Ish, kenapa gak diangkat juga sih" gerutu Ana mendapati panggilanya di reject berkali-kali.
"Tante Na..." suara riang Lili dan Iko membuat Ana menoleh seketika. Dua bocah tersebut berlari sambil merentangkan kedua tanganya mengahmbir di pelukan Ana.
Bertiga tertawa sambil berpelukan. Radit yang melihat pemandangan tersebut mulai sedikit tersenyum setidaknya rasa tegang yang menderanya sedikit hilang.
" Tante Na, ayo masuk mobil" Ujar Lili dan Iko seraya menarik tangan Ana untuk mengikuti langakh gadis kecil itu seakan menyeret tubuh Ana yang bekali lipat besar dan tingginya.
" Tapi Tante sedang nunggu teman" seloroh Ana mencoba menolak tarikan Lili dan Iko yang sudah semakin dekat dengan sebuah mobil.
"Mama lagi sakit, Tante gak mau jenguk? tuh di mobil" Kini Iko tak mau kalah membujuk Ana. Radit yang berjalan di belakang mereka akhirnya sedikit berjalan lebih cepat karena melihat Mira melambaikan tangan dari balik cendela mobil bagian belakang.
"Iya tante jenguk. Ayo antar tante ketemu Mama kalian" Putus Ana membuat kedua bocah tersebut girang.
Mereka bertiga sampai di samping mobil yang terbuka pintunya. Ada Mira yang sedang duduk bersandar di kursi dan Radit disebelahnya sedang membukakan botol minuman dan memyerahkan kepada Mira sambil terus memegangi selama kakaknya menghisap melalui sedotan. Karena kurang hati-hati Mira tersedak dan dengan lembut Radit menepuk pundaknya dan membersihkan sisa air yang disekitar bibir dengan tissue. Hati Ana menghangat melihat pemandangan di depanya. Hubungan yang harmonis dan penuh sayang dua orang saudara.
" Ana" panggil Mira dengan suara lemahnya. " Ayo masuk" lanjutnya. Ana tampak ragu.
"Masuklah" tambah Radit. Apalagi kedua bocah malah menarik Ana untuk duduk di depan samping sopir yang ternyata Radir duduk juga disebelahnya.
" Tante duduk di depan ya, Lili sama Iko mau temenin Mama di belakang soalnya Papa kerja" tukas Lilo cepat sebelum An la bertanya. Radit menganggukan kepala tanda ia menurut saja. Suami Mira memang mulai kerja hari ini meski agak terlambat datang karena menunggu Radit datang sebelum ia berangkat kerja.
Dengan pasrah Ana duduk dan mengaitkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Pintu tertutup dan Radit siap menginjak gasnya untuk melaju.
" Na, aku adalah Wira" ucap Radit pelan dengan pandangan lurus ke depan. Ana membeku di tempatnya bahkan saat mobil itu melaju ia tak juga merasakanya. Dunianya seakan membingungkan . Selama ini ia merasa sudah dipermainkan dengan satu orang dengan dua kepribadian. Sekelabat bayanga serasa berputar di otaknya dan dalam hati ia memang membenarkan kalimat Radit barusan.
------------------------------------------------