Ana masih saja diam meski celoteh Lili dan Iko di belakang memanggilnya mengajak bermain tebak-tebakan. Hatinya tib-tiba sesak mendengar pengakuan orang yang selama ini ia percayai.
Radit dan Wira.
Mereka jelas orang yang berbeda hingga kemarena saat Wira mengabari kondisi kakaknya yang membaik dan akan segera pulanh hari ini. Dan Radit yang beberapa hari lalu menemuinya di rumah dengan kantung mata hitam dan wajah yang teramat tirus.
" Apa maksudmu Dit?" tanta Ana mencoba minta penjelasan daei kegelisahanya.
" Aku dan Wira adalah orang yang sama" Jantung Ana terasa diremas. Jadi selama ini ia telah dibohongi begitu saja.
" Kenapa?" tanya Ana tanpa mengalihkan pandanganya dari jalanan di depan.
" Aku hanya berusaha dekat denganmu"
"Kenapa harus berbohong?" Ana ingin berteriak marah pada sikap Radir namun ia ingat di dalam mobil ini dirinya tidak sendiri, ada Mira dan dua anaknya. Tentu saja tidak mungkin Ana meunjukan kemarahanya kemudian bertengkar.
"Maaf Na" Hanya kalimat itu yang mampu diucap Radit saat ini. Ia tak ingin melihat kakaknya kalut ataupun mengatakan alasan yang tifak dipungkiri olehnya Ana akan menumpahkan kekesalanya di depan dua keponakan dan kakaknya.
Sepanjang perjalanan hanya terdengar lagu dari radio yang diputar. Ana dan Radit masih diam membisu sedangkan Mira tampak memejamkan mata dan kedua anaknya sedang melihat tayangan film animasi dari ponsel.
Setiba di rumah, Radir dengan sabar memapah kakaknya untuk masuk kedalam rumah diikuti Lili dan Iko membawa tas masing-masing. Ana yang masih menyimpan kekecewaan akhirnya ikut membantu membawakan buah-buahan yang dibawa oleh beberapa teman Mira saat menjenguk.
Radit membantu Mira berbaring di kamarnya. Ana dan kedua keponakan Radit menata barang-baramh dari mobil di kamar dan sebagian di dapur.
Tak berapa lama kemudian mobil Hendra memasuki halaman. Kedua orang tua Ana langsung masuk kedalam kamar dan duduk di tepi ranjang.
" Bicaralah padanya" ucap Hendra pad Radit yang kemudian dianggukinya.
Radit keluar dari kamar dan mendapati Ana tengah menata buah-buahan di dalam lemari es.
Dihampirinya gadis itu dan menarik pergelanhan tanganya. Ana yang kaget langsung buru-buru menutup lemari es dan mengikuti langkah Radit keluar.
Keduanya duduk di kursi teras. Radit melirik kearah Ana yang diam dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun pada Radit disampingnya.
" Maaf Na" Radit membuka percakapan dan Ana masih bergeming.
" Sepertinya aku terlalu bodoh sampai kamu dengan mudahnya mengelabuhiku" Balas Ana penuh kebencian.
" Tidak Na, aku yang bodoh dan pengecut. Mendekatimu dengan cara yang kekanakan" Radit menangkuo telapak tangan Ana namun segera ditepis oleh gadis itu.
" Aku hanya bingung bagaimana cara mendekatimu Na, dan menjadi teman adalah cara yang mudah agar kita saling mengenal"
"Dan Wira? kenapa harus menjadi Wira dan Radit kemudian mengusik kehidupanku?" Ana sungguh merasa tak terima. Jika dengan cara berteman, bukankan dalam bentuk Radit maupun Wira ia sudah bisa menjadi teman?.
"Semua bohong. Aku akan bilang pada orang tuaku untuk mundur dari perjodohan ini" Radit terkesiap kaget. Dia berlutut didepan Ana sambil menggenggam tanganya erat.
" Na, kumohon beri aku kesempatan. Aku tahu caraku mendekatimu salah. Menjadi Radit agar dekat denganmu, mengantarmu kemanapun, berbagi cerita, mungkin salah bagimu. Semua hanya soal waktu. Aku yang terlalu terburu-buru mendekatimu dengan menjadi Radit hingga Om Hendra mengatakan perjanjian itu. Tapi aku terlanjur mengenalkan padamu sebagai Radit" jelas Radit panjang lebar. Ana bergeming menatap lurus jalanan tanpa peduli Radit yang berlutut di bawahnya.
Ana bangkit dari duduknya dan melepaa genggaman tanganya. Ia berjalan masuk menemui kedua orang tuanya sambil memasang senyum terpaksa.
" Kak Mira baik-baik saja kan?" Tanya Ana begitu ia masuk kedalam kamar kemudian duduk di tepi ranjang seraya memegang tangan kiri Mira.
" Baik Na, kamu juga apa kabar? Om Hendra bilang kamu juga kecelakaan malam itu"
" Hampir, tidak sampai kecelakan" Ana mejawab semnari tersenyum.
Hendra tahu anaknya yang tiba-tiba dudum disebelahnya kini sedang menahan emosinya dan senyum yang ditunjukan pada Mira adalah palsu. Rima dan Hendra sangat tahu bagaimana anaknya bertingkah.
" Maafin Radit jika caranya mendekatimu salah. Memang kami sengaja mengatakan perjanjian itu setelah kepulangan Radit beberapa bulan lalu dari Surabaya" Diusapnya pelan punggung tangan Ana penuh sayang.
" Tidak Kak, tidak ada yang salah" Ujar Ana menenangkan kekhawatiran Mira.
" Mama sama Papa mau pamit? kamu mau disini atau ikut pulang?" Rima menengahi percakapan dua perempuan didekatnya.
Ana mengangguk kemudian mengikuti orang tuanya berpamitan pada Mira.
" Dia sangat mencintaimu, sejak dulu jauh sebelum perjanjian itu disepakati. Dia sangat menunggu pertemuan denganmu sampai melanggar larangan kami menunggumu selesai lulus kuliah" Ucap Mira sedikit berbisik saar Ana memeluk tubuh Mira hendak berpamitan.
Ana hanya tersenyum kemudian berjalam keluar mengikuti orang tuanya yang sudah lebih dulu berjalan keluar Tak dilihatnya Radit dimanapun dan itu memudahkan Ana berjalan keluar tanoa melihat topeng Radit yang menjadi Wira sekaligus.
*******************************
Reksa masih terpaku di tempatnya, kenangan buruk iti terasa disodorkan ke hadapanya kemudian disiramkan begitu saja pada luka di badanya yang menganga hingga rasa perih menjalari seluruh persendianya.
Reksa memijat pelipisnya dengan penuh tekanan seraya memejamkan mata. Ia tak boleh terus-terusan dibayangi masa lalu. Ia ingin menghadapinya langsung dan jalan satu-satunya adalah bertemu dengan masa lalunya, meminta maaf dan jika perlu ia akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanya.
Ponselnya berdering, nama Ana terpampang jelas pada layarnya. Segera ia menggeser tombol warna hijau dan menempelkanya di telinga.