Ana masih memikirkan ucapan semua orang yang terkesan membela tindakan Radit. Tapi tidak baginya, bagaimanapun juga cara laki-laki itu salah dan berkenalan dengan dirinya sudah seperti pengujian akan karakter seperti yang ia tonton dalam sebuah film, mendekati dengan pribadi lain untuk memgetahui sifat asli seseorang. Dan hal itu sangat tak bisa diterima oleh Ana.
Hingga malam ini pun setelah kakaknya membujuk tanpa kenal lelah, ia masih saja mengurung diri di kamar.
Toktoktok
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan lamunananya. Ani datang sembari membawa segelas kopi s**u dan sebuah buku bersampul hitam polos.
" Mbak kenapa kesini?"
"Lah mau tidur dimana lagi kalau gak disini. Kamar mbak kan buat tidur Faby, masak iya kita tidur sekamar. Belum muhrim dek" Ana hanya manggut-manggut. Ia lupa jika calon kakak iparnya memang ikut datang ke rumah karena paksaan Ani tentunya. Untung saja saat libur akhir pekan jadi tidak akan mengganggu kerjaan di Bank.
" Gak capek apa nangis sama melamun terus?" Ana memilih diam daripada menanggapi kakaknya yang bisa jadi akan berbuntut panjang.
" Stok air mataku masih banyak dan melukis awan juga menyenangkan" Jawab Ana enteng membuat Ani berdecak geli.
" Kamu sama Ir, sama aja. Lagaknya kuat padahal sama-sama lebay" Ana memilih menutup telinganya jika kakaknya menyebut nama laki-laki itu.
" Nih aku kasih bacaan buat nemenin begadang" Ani menyerahkan sebuh buku tebal kearah adiknya sementara dia sendiri menyalakan televisi dan sibuk mencari tayangan yang pas menurutnya sambil memposisikan tubuhnya berbaring disamping Ana.
" Buku apaan ini?" Ana membolak-balikan sampul depan dan belakang serasa tak minat.
" Buka halaman pertama dan lihat judulnya" Ana mengikuti perintah kakaknya membuka halaman pertama dan menemukan satu kalimat.
Ir-Rien Diary's
Ana mengernyit bingung kemudian berlanjut pada halaman kedua.
Di halaman kedua dibuka dengan kisah pertemuan Rin, yang tak lain adalah nama panggilan kakaknya, dengan seorang teman sebangku yang sangat menjengkelkan. Kisah awal perkenalan dengan sosok Ir dan hari-hari yang mereka lalui dengan penuh pertengkaran, persaingan dan pada akhirnya penuh kekonyolan.
Halaman demi halaman Ana baca sambil tersenyum geli dengan tingkah keseharian kakaknya saat masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Hingga pada satu kisah yang menceritakan sosok Ir yang menggendong seorang gadis di punggungnya karena tertidur saat pulang dari berjalan-jalan yang membuat ia jatuh cinta.
Tangan Ana berhenti pada halaman itu dan matanya menelusuri nama gadis yang ternyata tidak disebutkan dalam cerita tersebut.
" Mbak, ini maksudnya siapa? " Ana memiringkan bukunya agar Ani yang tiduran disampingnya dapat melihat bagian yang ditunjuk.
" Oh itu kan kamu dek"
" Maksud mbak?"
"Kamu inget gak pas kamu main ke Surabaya dulu, kamu kan ketiduran di mobil. Papa mau gendong kamu ke kamar tapi Ir lebih dulu menawarkan diri. Karena dia cowok dan Papa gak bolehin gendong depan jadi dia naruh badanmu di punggungnya"
Ana mengingat penggalan cerita itu namun hanya bagian akhirnya saja. Saat itu memang perjalanan dari Kediri- Surabaya memakan waktu tiga jam dan Papa menyetir sendirian. Mama dan dirinya sudah pasti sudah tertidur selama perjalanan. Dan pagi hari yang diingatnya hanyalah dirinya sudah memeluk guling dengan selimut yang hampir merosot. Begitu bangun samar-samar dari teras ia melihat punggung seorang laki-laki mengenakan kaos pas badan berwarna putih sedang bercakap dengan kakaknya kemudian menyerahkan sesuatu dan buru-buru berpamitan pulang.
Sesuatu yang dibawa laki-laki tersebut diserahkan padanya. Bubur ayam dengan suwiran ayam kampung yang begitu menggugah selera membuatnya langsung menerima dan melahapnya tanpa sisa bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu yang ternyata adalah Radit.
Dibukanya halaman demi halaman hingga sampai pada halaman yang kosong tanda kisah yang hanya sampai pada kekasih kakaknya memberikanya bandul separuh hati pada hari ulang tahunya mengakhiri kisah pada lembar diary tersebut.
Hendak ditutupnya buku tersebut namun begitu melihat tali pembatas buku ternyata tidak diletakan di halaman terakhir membuatnya membuka lagi tepat pada letak pembatas buku.
Matanya melebar membaca tulisan yang tertera pada halaman tersebut.
It's Me, Raditya Prawira.
Dibukanya lembar berikutnya. Pengenalan profil Radit, Wira atau Ir , begitu Ana menyebut nama lelaki itu.
Kau bisa memanggilku dengan nama siapa saja yang kau sukai meski berubah-ubah tapi, yakinlah bahwa diriku tak pernah berubah.
Ana membalik halaman berikutnya. Kisah masa sekolahnya yang ia jalani dengan tanpa semangat bahkan ia sampai tinggal kelas karena kenakalanya. Meskipun nilainya sangat bagus namun pihak sekolah tetap memutuskan dirinya tetap tinggal di kelas satu sampai sikapnya dapat berubah.
Hingga ia berkenalan dengan Rin, teman sebangku yang kemudian menjadi sahabatnya.
Dia sahabat terbaik, adik dan juga teman diskusi yang seimbang. Jangan samakan dia dengan gadis dengan otak udang yang bermodal gincu dan tepung melumuri wajah mereka.
Ana tersenyum geli dengan kalimat pujian pada kakaknya dan cemoohan pada perempuan lain. Ana berpikir mungkin Radit tidak suka perempuan yang bermake up. Ana bersyukur dalam hati jika memang benar adanya mengingat dirinya juga tidak pintar memolea wajahnya.
Ditepisnya pikiran yang seakan ia tertarik dan penuh harap menjadi gadis yang disukai Radit dengan menggelengkan kepalanya.
Dibukanya lembar demi lembar hingga. Paragraf demi paragraf ia baca dengan tanggal penulisan yang berganti.
Aku bertemu dengan wajah malaikat yang tengah terlelap di punggungku. Meski ia tak tahu bahwa aku sudah jatuh cinta padanya, bagiku tetap melihatnya tersenyum saja sudah membuatku bahagia.
Ana sayang, maaf aku mencintaimu diam-diam. Lewat angin kutitip rindu agar sampai padamu yanh jauh disana. Jika takdir memberi kesempatan, aku berharap kita berjodoh.
Kenapa sangat sulit melupakan wajahnya?. Rin juga tak mengizinkanku memiliki fotonya barang selembar saja. Dasar lampir! Kenapa dia pelit sekali pada calon adik iparnya ini?
Aku melihatnya lagi disana, duduk bersama Rin sambil tertawa dan aku hanya berani mengintipnya dibalik tembok pagar rumah. Bolehkan aku mendekatimu hai bidadari?
Akhirnya aku memdapatkan fotonya meskipun foto saat ujian nasional waktu sekolah dasar. Bgaiku tak mengapa asal wajahnya tetap dapat kulihat sepanjang waktu dari dalam dompet bututku.
Aku lancang, bagaimana mungkin aku begitu kelepasan mencium keningnya saat dia tidur!. Betapa pengecutnya diriku bukan, mengambil kesempatan itu saat Ana dalam kondisi tidak sadar. Dan yakinlah bahwa cubitan Rin pada sekujur tubuhku karena tindakan nekatku tersebut sampai membuatku demam dua hari. Aku menyesal dan ingin meminta maaf padanya.
Ana tertegun membaca paragaraf barusan. Dengan spontan ia mengusap keningnya sambil tersenyum geli membayangkan dirinya dulu pernah dicium Radit disana.
Aku tak pernah mengira Rin akan dicampakan begitu saja oleh b******n itu. Dan demi apapun aku rela menjadi pelampiasan kemarahan Rin jika bisa meredakan rasa kecewa, sakit hati serta hancurnya. Wajah wanita sombong itu akan terus kuingat pun dengan ucapan kasarnya pada Rin dan keluarganya.
Ana menahan nafas sejenak. Paragraf ini mungkin ditulis Radit saat kakaknya mengalami masa suram tersebut. Dari kalimat yang ditulis tampak Radit begitu murka.
Di halaman berikutnya sudah kosong. Ana pikir mungkin saat itu kakaknya dan Radit tidak satu sekolah lagi karena menurut cerita yang ia dengar dari kakaknya, setelah kejadian itu ia dibawa pulang ke Kediri dan menjalani perawatan dari psikiater. Mungkin sejak saat itu diary ini tak lagi ditulis.
Dibukanya terus hingga pada halaman terakhir. Sebuah foto ditempel di halaman tersebut.
Sebuah foto yang jelas sekali dikenalnya. Seorang laki-laki dengan jas almamater sedang merangkul mesra pundak Ani, kakaknya dengan latar sebuah gedung bertuliskan FAKULTAS KEDOKTERAN.
Ada tulisan dibawah foto tersebut.
Reksahadi Bagaskara.
Terima kasih sudah menyakitiku sampai aku lupa caranya hidup. Akan kubuktikan bahwa aku yang pernah kau hancurkan dan disingkirkan oleh orang tuamu, mampu baik-baik saja dan bahkan akan jauh lebih baik daripada dirimu kelak.
Ana meremas bantal yang ia gunakan untuk alas buku diary dengan kencang. Kenyataan lain yang menimpanya.
Kemarin ia dibohongi oleh status Radit yang ternyata Wira dan sekarang ia tahu bahwa orang yang selama ini mengahancurkan kebahagiaan kakaknya, keluarganya serta tercetusnya perjanjian perjodohan masa lalu dengan Wira tak lain dan tak bukan adalah karena orang selama ini ia kenal dengan baik.
Ingatanya kembali pada penghinaan Monica padanya. Dan pastilah penghinaan pada kakaknya lebih parah darinya bahkan saat kakaknya begitu terpuruk.
"Reksa hanya menjadikanmu pelampiasan karena hatinya pernah dihancurkan oleh perempuan gembel sepertimu. Mendekati Reksa untuk mengeruk hartanya bahkan hampir mengubur impianya menjadi Dokter gara -gara perempuan sialan itu."
"Mungkin Reksa belum bercerita padamu. Jika selama ini dia mendekatimu karena ingin balas dendam pada perempuan masa lalunya yang ternyata memang mirip sekali denganmu"
Ana mengerti sekarang mengapa reaksi Monica padanya saat di rumahnya waktu itu sangat murka. Ya benar, karena bagi Monica perempuan dengan status jelata memang tidak sebanding dengan kehidupanya, tidak sejajar dengan gaya hidupnya dan tidak sesuai dengan pola pikirnya. Gadis dari kalangan seperti dirinya hanyalah sampah tak berguna di matanya.
Dan Reksa, Ana mulai berpikir dengan logikanya. Mana mungkin seorang Dokter yang pesonanya tidak bisa dihindari dengan ribuan wanita yang mengejarnya padahal ia tetap bergeming tiba-tiba datang dalam hari-harinya menawarkan hubungan sebagai teman baik ternyata dibalik itu semua Ana bisa merasakan kepribadianya yang sebenarnya. Ternyata tidak sebaik yang disangka orang.
"Kenpa malah bengong?" Tepukan pada lenganya menyadarkan Ana.
" Di foto ini siapa Mbak?"
" Mas Bagas, dia masa suram Mbak. Waktu itu kamu pernah tanya soal kenangan apa darinya yang masih Mbak simpan kan? nah itu Mbak kasih tahu. Selembar foto yang mbak simpan di tempat aman. Didalam buku diary kami berdua. Kenapa emangnya?"
" Mbak, aku ...sebenarnya selama ini aku berteman dengan laki-laki ini" lirih Ana sambil menunjuk kearah foto tersebut. Ani langsung kaget dan ketakutan secara bersamaan.
-------------------------------------------'