Radit menatap nyalang langit-langit kamarnya. Sudah berapa lama ia menatap kosong tanpa henti. Suasana kamar yang temaram karena segala bentuk penerangan yang harusnya dapat memberi sedikit sinar, tak jua ia nyalakan. Semilir angin malam yang mendesak masuk melalui celah cendela kamar berdinding kayu ulin, dibiarkanya begitu saja.
Pikiranya kacau, tentu saja. Usaha yang selama ini dianggapnya semakin menunjukan keberhasilan, lenyap seketika tergantikan dengan penyesalan pada tindakan terburu-burunya. Hanya kata seandainya lah yang sanggup ia lontarkan terus menerus disertai rutukan pada dirinya sendiri yang terlalu mengaggap remeh masalah kebohongan kecilnya.
Harusnya ia sedikit bersabar menunggu waktu yang ditentukan untuk pertemuanya secara resmi, perkenalan yang diatur sedemikian rupa kemudian barulah ia bertindak. Bukan malah mendekati diam-diam dengan pribadi lain yang sebenarnya tidak berbeda sama sekali dengan dirinya sehari-hari, dan disaat yang sama mengenalkan dirinya sebagai sosok lain.
" Belum tidur?" Suara lembut perempuan yang amat dicintainya kini sudah berada di ambang pintu.
" Belum" Mira menyalakan lampu kamar dengan tiba-tiba membuat mata Radit seketika menyipit diterpa silau cahaya yang menerobos paksa retinanya. Pandanganya harus beradaptasi dengan terangnya lampu kamar.
" Berdiam diri tidak akan menyelesaikan masalah" Dihampirinya sang adik yang tengah berbaring di peraduanya.
" Aku hanya sedang berpikir dengan kata 'seandainya' yang terus memenuhi kepalaku" ujar Radit yang mulai membuka matanya penuh dan menatap kembali langit-langit kamarnya yang sebenarnya tidak pernah menarik sedikitpun bagi siapa saja yang menatapnya. Dan sekarang ia malah berlama-lama seolah disana terdapat pemandangan terindah yang tak pernah dilihatnya.
" Apa penjelasanmu tidak ditanggapi?" Tanya Mira.
" Hem, emosinya mengalahkan semua alasan yang kuberikan" jawab Radit putus asa.
" Mungkin dia butuh waktu. Kakak yakin dia tidak benar-benar marah padamu"
"Dia kecewa"
"Wajar, dan kamu harus meyakinkanya terus" Radit diam. Ana mungkin tidak marah namun kecewa. Kecewa pada kebohongan kecilnya yang seolah mempermainkan dirinya. Dan ia harusnya memberi keyakinan untuk merubah rasa kecewa yang terlanjur menjalari benak gadis itu.
"Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Ana butuh bukti bahwa kamu sungguh-sungguh denganya" Ditangkupnya tangan adik satu-satunya dihadapanya kemudian dipeluknya.
Kakak perempuanya, menepuk pelan pundak Radit penuh sayang. Meski usia mereka tak lagi kanak-kanak, sebuah pelukan ternyata sangat membantu menyembuhkan kegundahan. Seperti itulah hubungan Mira dan Radit. Begitu akrab, hangat dan begitu kuat.
"Tidurlah. Hari semakin pagi dan kakak butuh kamu besok" Radit mengangguk. Sungguh ia bersyukur memiliki kakak yang teramat menyayanginya, menguatkanya. Meski kadang dirinya yang harus menguatkan kakaknya yang seorang perempuan dengan sikap lemah lembutnya namun adakalanya dirinya sendiri butuh sandaran berbagi. Ia bukan lelaki cengeng yang berlindung dibawah ketiak perempuan, ia hanya butuh kekuatan dari kehangatan hubungan darah.
******************************
" Ir......" Teriakan di kamar Radit membuat laki-laki yang baru tidur setelah subuh menggerutu kesal kemudian menutup telinganya dengan bantal.
Merasa diacuhkan, Ani melompat ke ranjang Radit dan mengoyak tubuhnya yang tengkurap tanpa selimut dan bantal yang menutup telinga kirinya. Ditepuknya berkali-kali dengan keras punggung telanjang Radit penuh semangat seoalah ia sedang bermain ketipung.
Radit menggeram marah, sungguh menyebalkan gangguan pagi harinya dengan kedatangan sahabatnya. Apalagi tepukan yang mulai terasa panas di kulitnya.
" Sayang, jangan ditepuk terus. Kita tunggu diluar saja biar Kak Mira yang bangunkan" ucap Faby mengingatkan tindakan calon istrinya yang sangat membuatnya cemburu. Bagaimana tidak, Radit dan dirinya sama-sama lelaki. Dan tangan kekasihnya dengan riangnya menepuk punggung polos Radit yang tidak didapatkanya selama mengenal gadis itu karena ia memang memegang teguh prinsip budaya timur.
Tapi sentuhan kulit yang bagi Ani hanya sebatas gurauan seorang teman tetap saja membuat Faby mengobarkan api cemburu dan kekasihnya sama sekali tidak menyadari hal itu. Faby pun memilih keluar dan menunggu di ruang tamu bermain dengan dua anak kecil yang sedari tadi membuat kegaduhan karena bertengkar memperebutkan mainan.
" Ir, bangun udah terik nih. Kalau gak bangun juga, aku siram pakai oli" Radit bergeming. Ancaman Ani tak ada artinya.
" Ir, ditungguin Ana tuh di depan. Ngajak balikan kayaknya" Ajaib, begitu nama Ana disebut seketika Radit membuka matanya dan bangun dari tidurnya bahkan ia sudah bersiap berdiri dan segera melangkah keluar.
" Ups, aku bohong" tukas Ani sambil menahan tawanya agar tidak lepas. Radit yang masih bertelanjang d**a dan hanya mengenakan celana pendek dengan memegang handle pintu seketika berhenti dan membalikan badan menatap murka pada Ani yang duduk di tepi ranjangnya.
" Setan lampir! Beraninya ngerjain orang" Dilemparkan kaos lengan pendek miliknya yang tergantung dibalik lemari kearah Ani dengan cepat. Dan sahabatnya yang terkekeh tersebut tidak siap dengan serangan yang didapatnya sehingga kaos Radit menimpa wajahnya.
" Bau jengkol" Dengus Ani. Radit kesal, paginya harus diganggu kedatangan sahabatnya dan gurauanya yang hampir membuatnya melonjak.
" Tumben kesini?" Tanya Radit akhirnya pasrah. Diraihnya kaos yang ia lemparkan tadi dari tangan Ani dan mengenakanya cepat.
"Mas Bagas, ternyata dia kenal dengan Ana" Radit menoleh mendapati Ani barusan mengucapkanya dengan mimik serius.
" Sudah saatnya dia tahu. Orang tuanya bahkan pernah menghinanya. Aku menemukanya terlunta di jalanan" Ani tampak mengeram marah. Radit menggeser sebuah sebuah bantal agar ia bisa duduk disamping Ani.
"Kamu kenal dia juga?" Selidik Ani.
" Awalnya aku tidak tahu kalau Dokter yang pernah diceritakanya padaku itu Bagas. Aku juga baru tahu saat di Rumah Sakit. Dia yang menabrak kak Mira" jelas Radit.
"Lalu bagaimana tanggapan kekasihku soal Reksa?" Mendengar kata 'kekasih' dari bibir Radit membuat Ani mengerutkan kening.
" Kekasih? belum resmi juga gaya bilang kekasih" cibir Ani membuat Radit terkekeh pilu.
" Dia sempat tidak menyangka. Tadi waktu aku berangkat kesini, dia bilang mau menemui Mas Bagas di Rumah Sakit. Mungkin karena sudah putus denganmu dia jadi berpaling padanya" Radit mengumpat dalam hati bagaimana bisa Ana berencana menemui laki-laki itu sedangkan dia sudah mengetahui yang sebenarnya. Dan kalimat Ani sukses membuatnya dibakar cemburu.
" Gak bisa dibiarin" Geram Radit sambil mengepalkan tanganya. Ani tersenyum simpul disampingnya. "Cemburu Bang?" Radit mendelik penuh emosi dan Ani memilih diam saja.
" Sensi amat!, udah kita kembali ke topik aja"
"Dia hanya takut dipermainkan seperti diriku. Lagipula kulihat dia menyesal dengan keputusanya mundur dari perjodohan kalian. Aku tahu sebagai sesama perempuan, dia suka sama kamu tapi kamu terlanjur mematahkan kepercayaanya" Bibir Radit tersungging.
" Semalam dia membaca buku diary kita tentang perasaanmu padanya dulu. Dan kulihat semalaman dia meluk boneka darimu sampai pagi" lanjutnya
" Coba kalau aku yang dipeluk gitu" Dijentikan jari Ani pada kening Radit hingga laki-laki itu mengaduh. Khayalan m***m Radit membuat Ani kesal.
" Jadi aku masih punya kesempatan?" Ani mengangguk penuh semangat.
" Tergantung usahamu gimana. Pokoknya aku percaya sama kamu Ir. Besok aku mau pulang, jadi urusan merebut hati adik kesayangaku, aku sudah gak mau ikut campur lagi"
**********************************
Ana menyesap cappucino hangat yang hampir setengah masih sambil melamun. Kenyataan yang didapatnya semalam sungguh tak pernah disangkanya. Selama ini laki-laki yang menjadi temanya adalah penyebab kakak kandungnya mengalami masa suram hingga trauma yang berujung pada perjodohan untuk dirinya.
Dan sekarang ia tengah menunggu laki-laki tersebut tengah menuju ke kantin Rumah Sakit tempatnya kini duduk dengan secangkir minuman yang disesapnya tanpa minat. Pikiranya sudah kenyang dengan berbagai asumsi yang ia ciptakan sendiri tentang pertemuan, orang tua serta kedekatanya selama ini dengan laki-laki itu.
" Sudah lama ya? maaf tadi masih ada pasien" Ana tersenyum simpul mendapati Reksa sudah menarik kursi dihadapanya.
" Belum lama juga kok, minumanku baru habis sebaskom" gurau Ana sedikit memaksa membuat Reksa tersenyum. Entah kenapa ia sedikit merasa canggung berhadapan dengan Reksa.
" Kamu bener udah baikan?" Tanya Reksa seraya membuka botol air mineral yang memang tersedia diatas meja.
" Baik kok aku kan cuma hampir, belum dan semoga gak sampai kecelakaan" Ana menjawabnya sambil terkekeh.
" Tumben ngajak ketemu ?" Tanya Reksa yang merasa heran saat gadis didepanya ini mengiriminya pesan ingin bertemu di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
" Mampir aja tadi habis dari Mesra. Daripada pulangnya ganti taksi, mending ngrepotin kamu buat nganter aku pulang" Reksa terkekeh.
"Kamu gak bawa motor? trus ojek yang biasanya anterin lagi kemana?" Reksa menelan ludah menyebut sopir ojek yang ternyata mengenal masa lalunya.
" Gak boleh bawa motor, tadi aku naik taksi" Ana sengaja tidak menjawab masalah sopir ojek karena ia masih tidak ingin membicarakan laki-laki itu sekarang.
" Oh, aku anter kamu pulang tapi setengah jam lagi, oke?" Reksa melirik jam tanganya. Ana mengangguk setuju.
Setengah jam lebih lima menit kemudian Reksa menepati janjinya mengantar Ana pulang ke rumah. Reksa yang heran tidak biasanya dan tidak sekalipun gadis yang tengah duduk di sebelahnya didalam mobil ini memintanya. Ditepisnya prasangka apapun karena hatinya begitu senang dapat menghabiskan waktu dan mungkin saja bisa berkenalan dengan orang tua Ana sesampai di rumah.
Begitu sampai di depan rumah, Ana menawari Reksa turun dan mampir ke rumahnya barang sejenak. Reksa pun setuju, diikuti langkah Ana masuk melalui pintu gerbang kemudian menyilahkanya duduk di kursi teras rumahnya, seperti saat Radir datang tempo hari. Ia selalu menyilahkan tamu laki-laki sebatas duduk di teras tanpa pernah mengajaknya masuk kedalam ruang tamu.
" Mau minum apa?" Tawar Ana ramah.
" Air putih dingin saja, Makasih" Ana mengangguk kemudian masuk kedalam. Sebelum masuk, Ana melirik sekilas sepeda motor miliknya yang terparkir rapi di garasi tanda kakaknya sudah pulang.
Reksa menunggu sambil membaca koran hingga suara langkah kaki yang semakin dekat membuatnya seketika mengangkat wajahnya yang tertunduk. Begitu mengangkat wajah sedikit menoleh, matanya bersitatap dengan mata seseorang yang ia rindukan juga yang pernah ia lukai hingga berapa banyak air mata yang telah jatuh dari bola mata itu.
" Apa kabar Mas Bagas?" Reksa seketika menjatuhkan koran yang dipegangnya. Ludahnya kelu tanpa bisa menjawab pertanyaan sederhana dan terlihat mudah sebenarnya untuk dijawab.
---------------------------------------------------