Maaf

1507 Kata
Ani berusaha menahan gemuruh di dadanya. Sekelebat kenangan masa lalu bahwa laki-laki yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri itu adalah bagian masa lalunya. Masa lalu saat bunga asmara dalam hatinya pernah mekar hingga wewangianya memabukan akal sehat. Masa lalu yang penuh tawa canda dan masa lalu yang telah merobek kebahagiaanya berganti tangis penuh luka. " Ba... baik" Jawab Reksa terbata-bata. Sungguh ia ingin merengkuh tubuh itu, mengeratkan di dadanya melepas rasa sakit yang telah ia timbulkan pada kekasih masa lalunya itu. Ani mencoba setenang dan sekuat mungkin berada di hadapan Reksa. Dengan hati-hati ia meletakan gelas dari nampan yang ia bawa dari dalam. Sebenarnya bukan dia yang menyiapkan melainkan Ana. Saat adiknya tampak sibuk di dapur, ia sekedar menyapa dan berniat mengambil minuman untuk Faby yang sedang istirahat didalam kamar selepas pulang dari rumah Radit. Kedatangan Reksa ke rumahnya serta ketidak sengajaan Ani yang mengambil minum segera dimanfaatkan Ana agar mau memberikan minuman tersebut kepada seorang tamu  tanpa diberitahu siapa orangnya karena Ani memang tidak begitu kenal siapa saja teman-teman dekat adiknya selain Dini yang dulu saat kuliah seringkali menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya. Tanpa diduganya, ia melihat seorang laki-laki tengah menunduk membaca sebuah koran. Laki-laki yang amat dikenalnya meski waktu membuat jarak teramat jauh. " Mas kaget kenapa aku disini?" Tanya Ani begitu ia selesai menyuguhkan gelas dan duduk di sisi meja lainya. Bersebelahan namun terhalang meja. " I...iya" Masih saja Reksa gugup padahal gadis di sampingnya kini terlihat santai dan tak peduli. " Tidak usah gugup Mas" Ucap Ani dengan senyum tipisnya menatap kearah Reksa. " Aku dan Ana, saudara kandung" Bahu Reksa seakan ingin merosot begitu mengetahui kenyataan barusan. Jika Ana dan Riani adalah saudara, Reksa merasa dirinya sudah jatuh pada pesona saudara kandung yang semestinya ia bisa belajar dari kesalahan masa lalunya. Ada hening yang menyelimuti. Baik Ani maupun Reksa bingung percakapan apa yang akan mereka ucapkan untuk mengakhiri kecanggungan ini. " Kamu, gimana kabarnya?" Dengan mengumpulkan keberanian, Reksa akhirnya membuka suara untuk bertanya. "Untuk sekarang, aku sangat baik" Ada nada sindiran yang ditangkap Reksa dari kalimat Ani. "Kamu jadi Dokter sekarang, sepertinya juga kehidupanmu baik-baik saja" Reksa mengangguk miris. "Sibuk apa sekarang?"  Ani menoleh pada Reksa yang sudah mulai berani bertanya lagi. " Ngurusin catering di kampung" Reksa hanya mengangguk. Diminumnya air dingin dalam gelas yang disuguhkan untuknya hingga setengah bagian yang tersisa. " Terima kasih Mas" Reksa meletakan gelas dengan hati-hati sambil melirik Ani yang menyunggingkan senyum kecil. " Untuk apa?" Heran Reksa dengan kalimat yang tidak mungkin diucapkan seseorang yang pernah dilukai terlebih luka itu masih membayangi keduanya. " Semuanya. Terima kasih sudah memberikan cinta yang tulus untuk ku du-" " Maaf" sahut Reksa cepat dengan nada suara yang lirih. "Aku tidak perlu permintaan maaf mu Mas, justru aku ingin berterima kasih. Kejadian itu mengajarkanku banyak hal. Dan sampai saat ini aku masih bertahan. Jadi tidak usah meminta maaf karena aku sekarang baik-baik saja" Reksa terpengarah. Benar, Ani memang terlihat sangat jauh lebih baik, lebih dewasa dan tumbuh dengan cita-citanya mengembangkan bakat memasaknya. Namun bagaimanapun juga hatinya rapuh penuh luka yang tidak mungkin terlihat dan dilihatkan begitu saja secara terang-terangan. " Aku minta maaf atas tindakan Mama" Menyebut panggilan itu dari mulut Reksa seketika membuat tubuh Ani menegang. " Aku tidak tahu jika Mama datang ke rumahmu dan mengatakan hal yang menyakitimu" Ucap Reksa penuh sesal. " Saat aku mengatakan ingin menikah denganmu ada atau tidaknya kemungkinan itu terjadi, Mama mengancamku akan membuat hidup keluargamu hancur" Ani memdengarkan seksama sambil mengingat saat - saat terpuruknya terisolasi di dalam kamar karena raunganya yang sering meledak karena keadaan frustasi beratnya. "Bodohnya aku yang percaya ancaman Mama. Meskipun aku menurut tidak akan menghubungimu lagi, tetap saja dia memakimu di rumah" Sesal  Reksa. " Aku yang bodoh Mas. Kupikir dulu kamu yang lari begitu saja dan meminta Mama mu mengakhiri hubungan kita" Ada air mata yang menetes dan buru-buru disekanya.  Dulu saat Monica datang ke rumah ia memang tidak bertemu secara langsung karena keadaan sedang tak berdaya dengan pikiran kosong terbaring di kamar. Ada bibinya dan juga Radit yang menemui Monica secara langsung. Dan setelahnya Radit yang memberitahukan kedatangan dan maksud orang tua Reksa menemui di rumah. Selain memaki status mereka tak sepadan juga meminta menjauhi anaknya karena hubungan mereka akan menghambat study Reksa yang saat itu tengah menjalani pendidikan menjadi Dokter. " Setelah sekian lama, akhirnya aku punya kesempatan meminta maaf dan menjelaskan secara langsung padamu" Ani mengangguk sambil menatap Reksa yang terlihat lega. " Sama Mas. Aku juga menunggu suatu saat akan bertemu denganmu dan membuktikan bahwa aku masih sanggup berdiri meski sudah kamu sakiti" " Dan lewat Ana, kita bisa bertemu lagi" Lanjutnya. Reksa setuju. Andai saja ia menolak mengantarnya pulang mungkin ia tidak akan bertemu dengan masa lalunya saat ini. Jika pun dipertemukan, mungkin bukan hari ini. Bagaimanapun juga Ana sudah tahu siapa dan apa hubungan Reksa dan kakaknya. ******************************** Dini mengepalkan tanganya menahan geram. Ia sudah curiga pada kedatangan Ana ke Rumah Sakit menemui Reksa. Menurut asumsinya, Ana menolak perjodohan dengan laki-laki pilihan orang tuanya karena faktor ekonomi dan jabatan sehingga menjadikan Reksa sebagai penggantinya. Menjawab rasa penasaran, seperti biasa Dini yang bertugas sebagi informan Monica, sengaja mengikuti mobil Reksa yang mengantar Ana ke rumahnya. Meakipun tidak dapat mendengar pembicaraan Reksa dan Ani, kakak sahabatnya yang dikenalnya juga karena ia sering menghabiskan waktu di rumah Ana dan mengenal semua anggota keluarga sahabatnya dengan baik meskipun dengan kakaknya yang jarang ia temui. Dini tahu jika Reksa dan Ani terlibat pembicaraan serius meski hanya mengintip keduanta dari belik gerbang besi rumah Ana yang tertutup. Dan Dari ketegangan obrolan keduanua kini nampak jelas ada kehangatan pada mimik wajah Reksa dan Ani. Sudah tentu sosok Reksa diterima dengan hangat oleh keluarga Hendra. Padahal selama mengenal Ana, jarang sekali ia membawa teman laki-laki apalagi sampai ada anggota keluarga yang menerima dan mengajaknya mengobrol selain Ana sendiri. Dan kedatangan Reksa disambut hangat oleh Ani sudah cukup membuktikan jika hubungan keduanya akan memasuki tahap lebih maju. Hal itu kabar buruk baginya dengan artian kesempatan merebut hati Reksa akan semakin sulit. Dan semua itu tidak bisa dibiarkan. Segera setelah cukup mendapatkan bukti, ia mengirim beberapa foto hasil pengintaian dan laporan pada Monica melalui email. Target meminta Dokter nengantar ke rumah dan bertemu kakak kandungnya. Mereka terlihat akrab dan dipastikan Dokter bisa diterima di keluarga target. Sepengetahuan saya orang tua  target sangat selektif memilih teman laki-laki anaknya. Perlu diketahui jika perjodohan target dengan laki-laki pilihan orang tuanya batal dan target sendiri yang memutuskan. Yang ditakutkan adalah target mengincar Dokter yang mempunyai jabatan lebih tinggi daripada calon pilihan orang tuanya. Selesai mengirim laporanya, Dini bergegas kembali ke Rumah Sakit. Namun tak berapa lama taksi yang ia naiki berjalan meninggalkan kediaman Ana, teleponya berbunyi tanda ada pesan masuk. Dibukanya cepat dan mendapati sebuah pesan dari Monica yang menanyakan siapa kakak Ana yang dilihatnya mengobrol bersama Reksa dan meminta Dini mencari semua hal yang berhubungan dengan kakaknya Ana. Meski heran kenapa Monica malah tampak antusias dengan siapa Ani ketimbang hubungan Reksa dan Ana. Semakin lama berpikir semakin membuatnya bingung sendiri. Dengan mengumpulkan ingatan yang ia dapat selama mengenal keluarga itu ia pun mengirimkan laporanya segera. Ariani, kakak kandung Ana yang tinggal bersama neneknya di kota Kediri. SMP dihabiskan di kota kelahiranya sedangkan saat SMA melanjutkan di kota Surabaya dan tinggal bersama bibinya. Termasuk anak yang cerdas karena beberapa kali menjuarai lomba. Anak pertama dari dua bersaudara. Pernah menjalin asmara sekali saat menempuh SMA di surabaya. Karena alasan kesehatan dia pindah ke kota kelahiran saat kelas tiga dan lulus sekitar tujuh tahun lalu. Sekarang menjalankan bisnis catering bersama neneknya. Dini mengirim informasi singkat sejauh yang ia ketahui tentang Ariani. Informasi itupun sudah susah payah ia korek dari ingatanya agar tidak ada kesalahan sedikitpun. Beruntung Ana sering bercerita tentang kehidupanya dulu saat masih di pulau Jawa. Meskipun tidak banyak dan tidak detail, setidaknya sudah cukup. Jika masih kurang menurut Monica ia akan mengoreknya pelan-pelan dari Ana. ********************************** Monica membaca email dari Dini sambil tersenyum sinis. Kakinya melangkah menuju kamar Reksa kemudian mencari sebuah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu jati. Tanpa diketahui Reksa, Monica pernah memergoki anaknya sedang merenung sambil menatap isi kotak tersebut dan pernah suatu hari ia yang penasaran, membuka kotak tersebut. Betapa terkejut dirinya mendapati benda-benda di dalam kotak tersebut adalah kenangan masa lalu anaknya dengan anak miskin yang dianggapnya hanya pembawa beban dan kesialan karena sempat merecoki konsentrasi anaknya selama menjalani pendidikan kedokteran dengan menjalin hubungan kekanakan. Begitu ditemukanya kotak tersebut, Monica duduk di tepi ranjang dan membukanya tak sabaran. Mengacak-acak isinya hingga apa yang dicarinya akhirnya didapatkan. Diangkatnya selembar foto usang yang menampilkan wajah anaknya tengah merangkul pinggang gadis belia disampingnya. Disandingkan lembaran foto tersebut dengan foto yang ditampilkan layar ponselnya, foto kiriman dari Dini. Diamati kedua gambar tersebut seksama kemudian diremasnya foto tersebut geram. Foto yang ditampilkan kedua benda tersebut sama. Foto anaknya dan gadis itu adalah orang yang sama. Remasan pada foto tersebut semakin menjadi dan tanpa bisa menutupi emosi, dilemparkan ponselnya hingga membentur tembok. Nafasnya memburu mendapati kenyataan bahwa anaknya masih saja diiringi masa lalunya. Baik kakaknya maupun adiknya ternyata sudah menjerat Reksa kedalam lingkaran hubungan yang tak mudah dipisahkan. Ia harus memutar rencana agar anaknya tidak terjebak dalam permainan rakyat jelata yang sampai kapanpun tidak pernah sebanding dengan strata sosial mereka. ---------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN