Menjauh

1506 Kata
Ana diam-diam mengintip dari balik cendela ruang tamu. Samar-samar ia dapat melihat pergerakan kakaknya dengan Reksa yang kini terlihat lebih santai. Tidak salah memang rencana membawa Reksa datang ke rumah dan menyodorkan kakaknya untuk saling bertegur sapa setelah sekian lama waktu memisahkan mereka yang ternyata saling menyiksa dalam diam. Dari balik kelambu biru yang disingkap bagian tengahnya ia dapat melihat kecanggungan, keterkejutan dan sekarang kelegaan menyelimuti. Percakapan keduanya juga dapat ia dengar karena pintu satu-satunya yang menjadi akses keluar masuk rumah terbuka lebar . Sudah jelas ia bisa mendengar semua percakapan kedua orang yang tidak ia sangka memiliki kisah masa lalu yang rumit dan sekarang, seperti takdir sudah memberinya kesempatan bertemu dan mengenal Reksa hingga pada akhirnya ide mempertemukan keduanya tercetus begitu saja. Dilihatnya kedua orang tersebut sudah terlihat akrab kembali, Ana memberanikan keluar menemui keduanya. " Ada yang ingin berterima kasih padaku?" Mendengar suara Ana yang tengah bersender pada pintu dan bersedekap membuat Ani dan Reksa menoleh bersamaan dan menyebutkan nama gadis yang sedang patah hati itu hampir bersamaan meski dengan sebutan berbeda. " Na" "Adek" Ana tertawa lebar kemudian melangkah kearah kakaknya. Direngkuhnya pelan pundak saudara kandung yang amat dicintainya. " Dia kakakku Rek, memang terlambat mengenalkanya padamu karena ternyata kalian sudah saling kenal" Ani membalas rengkuhan adiknya dengan menepuk punggung tanganya. " Kalian saudara kandung dan ternyata sangat sulit lepas dari keluarga ini" Gumam Reksa jelas sambil pura-pura menghela nafas berat. Ani mendecih tak suka dan Reksa malah tertawa. " Tapi jangan kamu ulangi pada adikku. Kasihan dia sedang patah hati" Reksa melihat ada binar kesedihan di sorot mata Ana yang sekarang memaksakan diri pura-pura kesal dengan ledekan kakaknya. " Bisa patah hati juga ternyata. Kirain cuma bisa patah kaki saja seperti waktu itu" Ledek Reksa tak mau mengalah menggoda Ana yang mengerucutkan bibirnya. " Kamu doain kakiku patah ya, luka kayak kemaren aja udah sakit semua" Tawa Ani berderai melihat adiknya yang kesal. " Memang kamu kenapa dek kok sampai luka?" tanya Ani. " Aku bertemu Ana pertama kali saat tanpa sengaja mobilku menabrak motornya. Dari awal bertemu dia sudah mengingatkanku padamu. Ternyata memang kalian saudara" Jelas Reksa yang diakhiri dengan kalimat ironi tentang sosok masa lalu yang ternyata tak pernah lepas dari benaknya. " Kamu gak move on juga dariku. Buat apa jas keren, mobil mewah, tampang oke tapi gagal move on" Ledek Ani sedikit menyindir. Reksa sadar dengan kelebihan yang dimilikinya mampu menarik ratusan perempuan yang siap melemparkan diri dan tubuhnya cuma-cuma padanya, namun tak sekalipun hatinya merasa ada ketertarikan selain dengan Ariani dan juga sialnya ia jatuh hati pada adik gadis itu juga. " Sudah kucoba tapi belum ada yang cocok" Jawab Reksa dengan memasang wajah sedih. " Mbak Ani aja udah move on Rek, masak kamu gak bisa?" Ada sedikit keterkejutan dari nada ledekan yang dilempar Ana padanya. Dalam hati Reksa menyimpulkan jika gadisnya itu sudah memiliki kekasih. " Oh iya Mas, mumpung ketemu disini aku sekalian kasih tahu buat datang ke pernikahanku empat bulan lagi. Undangan menyusul kalau udah jadi" Benar ternyata dugaan Reksa. Gadis itu sudah benar-benar bangkit dari keterpurukanya dan menemukan seseorang yang mau menerima kesalahan yang ia tinggalkan. " Selamat ya, dan kuusahakan bisa datang " Ani mengangguk penuh harap. " Kalau bisa bawa istri juga Rek biar kesannya gak jones banget di nikahan mantan" Reksa tersenyum miris dengan sindiran yang mengarah pada kelucon dari Ana. Namun bagiamana dia akan membawa istri jika yang ia harapkan berjalan disampingnya ternyata adik dari mantanya sendiri dan sudah bisa dipastikan reaksi Monica yang langsung mencabik-cabik keluarga Ana begitu tahu bahwa kenangan masa lalu yang pernah membuat Mamanya murka kembali hadir dalam kehidupanya. " Gak janji juga" Jawab Reksa dengan senyum penuh pilu. Melirik sekilas jam tanganya, ia pun mengakhiri obrolan atau bisa dikatakan reuninya dan berpamitan kembali ke Rumah Sakit melanjutkan pekerjaanya. Ana dan kakaknya melambai dari gerbang rumah mereka mengantar mobil Reksa melesat menjauh pergi. ********************************* " Sepertinya hari ini sangat menyenangkan sekali bukan?" Malam hari begitu Reksa sampai di rumah, ia sudah disambut oleh Monica yang duduk bersama suaminya di ruang tamu. " Aku lelah Ma, kalau mau mengajak bicara nanti saja. Aku mau mandi"  Ujar Reksa acuh. Ia terlalu malas menanggapi pertanyaan Monica. " Mandilah dan segarkan pikiranmu dari perempuan menjijikan itu" Baru saja kaki kananya menapak satu anak tangga menuju kamarnya di lantai dua langsung menghentikan pijakan berikutnya. Kepalanya menoleh pada Monica yang tengah mengobrol dengan suaminya seakan kalimat yang ia lontarkan baru saja hanyalah angin lalu. " Apa maksud mama dengan perempuan itu?" Ucap Reksa sedikit berteriak. Diputar kembali tubuhnya berjalan kearah kedua orang tuanya yang terlihat tengah mengobrol. " Ma" Monica pun menoleh begitu Reksa sudah dekat denganya. Ditatapnya tubuh anaknya yang menjulang tinggi karena sedang berdiri dan dirinya duduk. " Bukanya kamu bilang tidak ingin diganggu karena lelah?" Sindir Monica. Reksa yang kepalang kesal dan berniat menyelesaikan urusan yang hendak disampaikan Mamanya, mau tak mau ikut duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. " Kenapa Mama selalu menyebut perempuan itu, perempuan itu terus. Dia punya nama. Ana". Monica menyunggingkan senyum sinisnya. " Mama tahu namanya. Apalagi kakak perempuan itu juga sangat Mama kenal. Bagaimana denganmu?" Yang Reksa khawatirkan benar terjadi. Mamanya sudah mengetahui siapa Ana sebenarnya yang tak lain adalah saudara Ariani. " Darimana Mama tahu" "Tidak sulit mencari informasi tentangnya dan kedekatanmu dengan mereka. Pasti menyenangkan sekali reuni hari ini. Dikelilingi gadis-gadis bodoh yang tidak pernah mengerti dimana tempatnya berada. Sangat disayangkan hidup dan uangmu selalu menjadi incaran mereka" Reksa menahan geram. Lagi-lagi Mamanya bertindak seolah hidupnya selalu menjadi mainan yang dapat dikendalikan seenaknya. Dan semua prasangkanya selalu didapat hanya dengan menelan mentah-mentah informasi yang didapat tanpa tahu kebenaranya. " Apa Mama takut aku tahu yang sebenarnya?" kini senyum licik terukir di sudut bibir Reksa. Monica mengerutkan keningnya. " Mama selalu mengatakan Riani pergi meninggalkanku bersama laki-laki lain. Membuangku karena kesalahan yang kuperbuat dan nyatanya, Mama yang membuatnya jauh dariku dengan segala tuduhan yang malah memperburuk keadanya. Aku sudah menuruti kemauan Mama untuk tidak berhubungan lagi denganya agar Mama tidak macam-macam pada keluarga Riani, tapi apa? Mama tetap memaki keluarganya yang menjadi korban dan membuat semuanya semakin menderita. Aku, dia dan mereka menderita , apa Mama pernah peduli itu semua?" Bentak Reksa dengan suara meninggi. " Iya, Mama tetap datang ke rumah perempuan itu agar menjauhimu, agar dia sadar mimpinya menjadi bagian keluarga terpandang kita tidak akan pernah tercapai. Dia hanya memanfaatkanmu agar bisa menikah dan menguras harta kita. Harusnya kamu sadar dengan tipu muslihat perempuan sok polos seperti dia" "Cukup!" "Apa salah jika Mama menjaga anak semata wayang Mama yang hampir gagal meraih cita-citanya dengan rencana dan keputusan konyolmu" "Cukup Ma!" Kini suaminya angkat suara. Daritadi ia hanya mendengarkan dua kubu yang saling berteriak. " Kamu berani membentak ku Pa?" Monica tidak terima suami yang biasanya dengan mudah ia kendalikan haluanya kini malah membentaknya. " Iya aku berani, kenapa?. Harga dirimu terluka karena bentakanku? sejak dulu harusnya aku berani memperingati sikap sombong dan keras kepalamu" Monica menatap tajam pada suaminya. " Dia anakmu yang butuh kasih sayangmu, bukan kekangan" Nafas Monica memburu menahan emosi dari serangan anak serta suaminya yang menyudutkanya. " Jika kamu masih ingin melihat gadis itu bernafas, jauhi dia. Kali ini Mama tidak main-main Reksa" Ancam Monica penuh tekanan. Reksa berlalu dari hadapan orang tuanya agar tidak tersulut kembali. " Dan kamu, jangan coba ikut campur dan mengatur kehidupanku" Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan suaminya yang hendak membantah. Sampai saat ini ia tidak berkutik dengan kuasa istrinya. Bagaimanapun juga ia ingin melihat Reksa dapat bebas dari kekangan istrinya meski ia harus memiliki keberanian yang cukup untuk mengendalikan istrinya lebih dulu. ********************************** Sudah seminggu sejak kakaknya kembali ke tempat tinggal neneknya, Ana kembali menata hatinya. Dan sudah seminggu pula ia kembali beraktifitas seperti biasa. Menunggu hari wisudanya yang tinggal satu bulan lagi dihabiskanya dengan merevisi skripsinya setelah ujian. Merapikan kemudian mengumpulkan ke perpustakaan kampus untuk di input kemudian dijilid bersama skripsi lainya sesuai standar yang diberlakukan. Dan dua minggu ini selain rajin ke kampus mengurusi skripsi, ia juga rajin mencari informasi lowongan pekerjaan setelah ia mendapatkan ijazah stelah wisudanya berlangsung. Beberapa perusahaan dan kantor yang membutuhkan tenaga kerja sesuai persyaratan yang ia miliki sudah ia catat dengan rapi. Sambil menunggu wisudanya, sedikit demi sedikit ia terus mencari informasi dan melengkapi berbagai persyaratan yang diminta. Sebelum pulang ke rumah, ia ingin mampir ke Rumah Sakit bertemu dengan Dini karena sudah lama ia tidak bersantai menghabiskan waktu jalan berdua dengan sahabatnya tersebut. Dengan mengirimi Dini pesan singkat terlebih dulu, ia pun segera melsatkan motornya menuju tempat sahabatnya bekerja. Setiba di parkiran Rumah Sakit dan melihat ada Reksa yang tengah berjalan tak jauh dari tempatnya berdiri, Ana segera berteriak memanggil nama laki-laki yang dikenalnya dengan lantang sambil melambaikan tanganya. Karena tak juga mendapat jawaban yang mungkin karena suasana di luar ruangan dan suara orang lalu lalang membuat suaranya tak terdengar jelas, membuat Ana sedikit berlari menghampiri Reksa. " Rek!" tepukan pada lenganya membuat Reksa menoleh sejenak kesamping tepat disebelah Ana yang berdiri. " Aku panggilin gak nyahut juga" Ujar Ana sedikit ngos-ngosan. Reksa yang disapa Ana sempat melihat kearah gadis itu kemudian melengos dan pergi begitu saja meninggalkan Ana yang kebingungan. Reksa berjalan sedikit tergesa tanpa perduli Ana memanggilnya lagi. Bahkan sampai Reksa hilang dari pandanganya ia masih saja tak mengerti kenapa sikap Reksa berubah sejak pertemuan terakhir mereka bersama Ani di rumah. -----------------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN