Hari sabtu akhir bulan ini tinggal dua hari lagi. Sudah sejak seminggu yang lalu Rima sibuk menyiapkan keperluan wisuda anaknya dengan merepotkan diri sendiri mencari salon hasil rekomendasi teman-teman arisanya, mencari kebaya yang cocok dikenakan anak bungsunya dan mencari sepatu hak tinggi karena seumur-umur sampai anaknya mau lulus kuliah, tidak satupun Ana memiliki sepatu hak tinggi.
Meskipun dengan sedikit memaksa dan menyeret anaknya berkeliling, akhirnya dalam satu hari mereka berdua mendapatkan apa yang dicari. Dan setiba di rumah, Ana yang merasa kakinya sangat sakit karena Mamanya benar-benar mengajaknya berkeliling hampir seluruh gerai di berbagai pusat perbelanjaan langsung memijat kakinya di ruang tamu.
" Yang punya acara siapa yang ribet siapa" keluhnya sambil terus memijat kakinya.
" Salah siapa suruh belanja sendiri gak juga berangkat" Sahut Rima tak mau kalah dari arah dapur mengambil minum.
" Masak sendirian belanjanya Ma, aku gak tahu menahu kalau masalah memilih baju, salon atau apalah itu namanya" Ujar Ana membela diri. Memang dia terlihat tidak begitu antusias menghadapi hari besarnya yang bagi sebagian lain akan sangat senang apalagi orang tua saat anaknya memakai toga dan menerima ijazah tanda kelulusan dan pengesahan gelar yang diperoleh dengan penuh perjuangan dengan euforia acara wisuda. Tapi bagi Ana, dengan sedikit rasa bahagia dan bangga bagi kedua orang tuanya, ia malah merasa berat karena nasib setelah gelar disandang kemudian bersaing dalam dunia kerja yang sesungguhnalah yang harusnya patut dirayakan masih belum pasti.
"Kenapa gak ngajak Dini? biasanya kan kamu jalan sama dia" Ana berjalan mendekat kearah Rima guna mengambil minum.
" Dia sibuk akhir-akhir ini. Katanya banyak temanya yang sakit jadi dia menggantikan jaga beberapa temanya. Pas aku kesana waktu itu aja dia kelihatan sibuk banget" Memang sebulan lalu saat ia ingin mengajak jalan Dini, sahabatnya itu sedang sibuk. Salahnya sendiri yang tidak melihat balasan pesan singkat dari Dini dan menemuinya langsung ke tempatnya bekerja.
Selain bertemu Reksa yang menunjukan gelagat aneh, ia juga tidak jadi mengajak Dini jalan. Alhasil ia pun pulang ke rumah. Dan sejak saat itu ia belum menghubungi Dini lagi. Dan Reksa, entah kenapa dia tampak tidak seperti biasanya.
*************************************
"Selamat ya sayang" ucap Rima penuh rasa bangga pada putri bungsunya yang kini sudah lulus study nya. Dipeluk kemudian dikecupinya kedua pipi dan dahinya penuh sayang. Hendra pun melakukan hal yang sama.
Selesai acara wisuda yang sangat melelahkan bagi Ana, pasalnya sejak subuh Mamanya memaksa bangun dan mengantarnya ke salon guna merias wajahnya. Kemudian berangkat ke gedung salah satu hotel lebih pagi, dilanjutkan acara wisuda yang menjalani berbagai prosesi panjang harus ia lalui.
Hingga akhirnya ia dapat bernafas lega karena seluruh rangkaian acara sudah selesai. Dan kini selain mendapat ucapan dari kedua orang tuanya ia menyempatkan mengabadikan kenangan berupa foto bersama.
" Kita rayakan keberhasilan kamu dengan makan bersama, gimana kalau kita ke PM?" saran Rima. Ana mengangguk setuju dan Hendra hanya mengangakt bahu. Lagipula tempat tujuanya hanya tinggal melangahkan kaki saja sudah sampai tidak perlu jauh-jauh karena posisi hotel dan PM saling berhadapan.
Ana melepas atribut wisuda dan menyisakan baju kebaya, bersama Rima duduk menunggu Hendra menhambil mobil.
" Dengan Ana ya?" Tanya seorang perempuan cantik dengan perawakan tinggi, rambut panjang digerai tengah membawa sebuket bunga. Ana yang merasa namanya disuarakan langsung menoleh dan menunjuk dengan jarinya kearah dirinya.
" Iya saya Ana. Tapi disini nama Ana bukan cuma saya dan kamu siapa?" Sebelum Ana merasa bahwa perempuan iti mencari dirinya karena memang di kampusnya nama panggilan yang sama dengan dirinya ada puluhan dari berbagai jurusan dan mungkin saja ada beberapa yang tengah mengikuti acara wisuda hari ini.
" Panggil saja Nania. Ariana, itu benar kamu kan?" Ana langsung mengangguk. Kalau menyebut Ariana, sudah pasti memang hanya dirinya dengan nama seperti itu di kampusnya.
" Ini ada titipan bunga dari teman saya buat kamu" Diserahkan buket bunga yang dibawa kepada Ana.
" Terima kasih, tapi ini dari siapa ya?" Bingung Ana. Dengan perempuan di depanya saja dia tidak mengenal apalagi dia menyerahkan bunga yang dikatakan dari temanya.
" Ada kartu ucapanya disitu" tunjuk Nania dengan jarinya.
Dilihatnya secarik kertas yang menyertai buket bunga tersebut.
Selamat atas wisuda Strata Satu yang berhasil kamu raih.
-Reksa-
Ana mengulum senyum. Meskipun ia sempat membenci Dokter itu karena dialah sumber kesedihan, keterpurukan dan kehancuran kakaknya di masa lampau. Namun begitu melihat kesungguhanya saat menjelaskan apa yang terjadi dan permintaan maafnya ,kebencian di hati Ana meredup seketika. Apalagi kakaknya juga sudah kembali berdiri dengan masa depan yang hendak dirakitnya bersama calon suaminya dan mencoba melupakan puing kesedihan yang berserakan mengikuti langkahnya sepanjang usia.
"Ayo Ma, Na!" teriak Hendra dari dalam mobil dengan membuka kaca mobilnya membuat ketiga perempuan itu menoleh kearah suara.
" Kamu ikut kita saja makan bersama" tawar Rima pada Nania.
" Tapi saya-"
"Udah ikut saja, ini hari bahagiaku. Ayo!"Sahut Ana. Sejenak berpikir akhirnya Nania mengangguk setuju.
********************************************
Selesai makan bersama, Rima dan Hendra memutuskan pulang terlebih dulu sedangkan Ana ingin berbincang lebih lama dengan Nania, kenalan barunya yang ternyata sangat menyenangkan mengobrol bersama.
" Kamu gak risih pakai baju seperti ini?" tanya Nania memperhatikan Ana yang agak kesusahan saat berjalan dan tidak nyaman dengan baju kebayanya, meskipun di tempat makan ini ternyata banyak teman-temanya yang mengadakan makan bersama keluarga dan masih mengenakan pakaian seperti dirinya.
" Iya juya sih. Apa kita cari baju dulu aja ya?" Putus Ana dan sangat didukung oleh Nania.
"Aku temani"
Setelah menghabiskan minumanya, keduanya beranjak pergi tanpa repot membayar karena semua tagihan makanan mereka berempat sudah diselesaikan Hendra sebelum pulang.
Keduanya tampak sibuk memilih baju hingga kantong belanjaan terasa penuh. Selesai memilih, mencoba dan menyesuaikan dengan kantongnya ia pun segera menyusul Nania yang sudah berdiri mengantri di kasir.
" Aku yang traktir. Tadi Papa kamu udah traktir aku, sekarang aku yang traktir kamu." Ujar Nania begitu ia hendak mengeluarkan dompetnya.
Meskipun merasa tak enak hati tetap saja Ana mengganti bajunya di toilet sekaligus menghapus make up nya dibantu Nania yang membawa peralatan make up di tas seperti kebanyakn perempuan lain seringkali membawa satu paket lengkapnya saat bepergian. Berbeda dengan dirinya yang awam terhadap make up, boro-boro Ana membawa di tas, punya satu macam saja dia jarang memakainya.
Selesai mengganti pakaianya agar lebih nyaman, Nania mengajak kenalan barunya ke coffe shop yang masih didalam Plaza Mulia.
" Kamu udah berapa lama kenal Reksa?" ucap Ana membuka percakapan sembari menunggu pesanan keduanya.
" Sejak kecil aku dekat denganya. Kami dulu bertetangga dan satu sekolah saat TK. Tapi kemudian aku pindah ke Jerman" Ana hanya manggut-manggut saja.
" Kamu sendiri gimana? udah lama juga kenal Reksa?" Ana menggeleng.
" Gak juga sih. Cuma beberapa bulan aja. Mungkin kalau sama kakak ku, dia kenal lama"
"Oh Riani maksudnya?" tebak Nania cepat. Ana mengangguk keheranan.
" Kamu kenal kakak ku?" Nania mengangguk antusias.
" Aku dan Reksa bersahabat sejak kecil. Meskipun aku pindah, tapi kami tetap berkomunikasi. Dari dulu Reksa susah bergaul apalagi dengan perempuan. Sejak mengenal kakakmu dia berubah, lebih terbuka, tersenyum dan mulai banyak bicara dan semua hal dia ceritakan padaku" Ana mendengarkan dengan seksama.
" Kamu tahu sendiri tante Monica mengekangnya untuk menuruti apa yang dia inginkan. Dan satu kesalahan yang dilakukanya pada Riani membuatnya terpukul. Dan dia kembali menjadi Reksa yang dingin. Hingga ia mengenalmu, adik dari masa lalunya" Nania menoleh kearah Ana yang antusias mendengarkan cerita dari mulutnya.
" Dia menyukaimu Na. Tapi kamu menolaknya, dan sekarang ia malah semakin menyukaimu" Mata Ana membelalak sempurna mendengar kenyataan itu. Memang Reksa pernah mengatakan perasaanya tapi ia kira sudah hilang dan hubungan keduanya sebatas teman saja.
" Dan demi menyelamatkanmu dari ancaman tante Monica, ia rela menjauhimu" Ana mulai memahami arah pembicaraan Nania. Pantas saja terakhir ketemu sikap Reksa sangat acuh padanya.
" Maksudnya menyelamatkanku gimana sih ?"
" Aku juga gak tahu Na, tante Monica kalau punya mau bisa disikat tanpa sisa" Ucap Nania dengan ekspresi bergidik ngeri membuat Ana juga ikut merasakanya.
" Kamu nakutin aku deh" Sahut Ana. " Lagian aku gak ada hubungan apa-apa sama Reksa. Lagipula aku cuma bisa anggep dia teman aja" Nania menghela nafas berat mendengar kalimat barusan.
" Hem, kasihan Reksa udah berharap banyak udah gitu ujung-ujungnya sakit hati" Dendang Nania pada kalimat terakhir dengan mimik sendu . Ana yang mendengar langsung terpingkal.
" Katanya hidup di Jerman, tuh lagunya sambel balado aja hafal"
" Aku udah setahun balik ke Indonesia. Orang tiap hari denger lagu itu di lampu merah ya mau gak mau jadi hafal" Keduanya tertawa.
Dering ponsel Ana menghentikan percakapanya dengan Nania. Segera diangkatnya yang ternyata dari Dini.
" Hal-"
"Selamatya ya Na, selamat buat wisudanya. Sorry gak bisa dateng buat ngucapin langsung" Cerocos Dini di seberang bahkan belum sempat Ana menyelesaikan satu kalimatnya.
" Iya gak papa, makasih ucapanya. Kamu masih kerja?" Tanyanya pada Dini.
" Iya Na, kenapa?"
"Salam buat Reksa disitu ya. Bilangin makasih bunganya" Setelahnya panggilan mereka berakhir.
" Siapa?" Tanya Nania penasaran.
" Oh, Dini, temanku yang kerja di tempatnya Reksa juga" jawab Ana sambil memasukan kembali ponselnya.
" Kamu gak tahu ya kalau temanmu itu yang melaporkan kegiatanmu pada tante Monica. Setiap melihatmu dekat dengan Reksa, apa yang dilakukan Reksa di Rumah Sakit atau apapun yang terjadi dengan keluargamu termasuk perjodohanmu yang gagal dan pertemuan dengan kakakmu. Reksa mengetahuinya saat dia datang melaporkan tentangmu ke rumah" Betapa kagetnya Ana mengetahui bahwa Dini melakukan hal semacam itu.
" Tidak mungkin, Dini tidak seperti itu" Ana membela sahabatnya. Sudah lama ia mengenal sahabatnya. Nania tersenyum lembut kemudian menggenggam tangan Ana yang masih tak percaya.
"Suatu saat kamu akan tahu seperti apa orang yang kamu anggap sahabat selama ini" Ucap Nania mengingatkan.
--------------------------------------