Hambatan Yang Terungkap

1617 Kata
Radit sibuk dengan laporan keuangan di tanganya. Sepulang dari pulau seberang karena mengurusi ujian tesisnya, pada akhirnya membuat kerjaanya menumpuk. Kakaknya, Mira yang biasanya membantu masalah laporan keuangan dipaksa suaminya untuk tetap beristirahat di rumah. Alhasil Radit sangat kerepotan. Dan dia mulai berpikir membutuhkan accounting yang akan membantu tugas Mira. Tidak menghilangkan tugas kakaknya begitu saja, melainkan agar ada yang dapat meringankan bebanya. Begitu selesai menyibukan diri sejak semalam, menjelang siang akhirnya ia dapat bernafas lega. Setelah dirasa tidak ada hal yang memberatkanya untuk tetap berada di kantor miliknya, ia bergegas menjemput kedua keponakanya di rumah. Mengantar Lili yang memiliki jam masuk siang hari dan menjemput pulang Iko yang selesai jam belajarnya. Mengendarai motor yang dulu ia gunakan untuk mengantar jemput Ana dengan statusnya sebagai sopir ojek langgananya, ia menuju sekolah. Menembus jalanan siang hari yang terasa mulai panas padahal belum tepat tengah hari. Mengantar dan menjemput kedua keponakanya menjadi rutinitas sehari-hari Radit. Mira tidak bisa mengendarai motor, suaminya kerja dan siapa lagi kalau bukan Radit sebagi Om kesayangn merekalah yang menyelesaikan masalah tersebut. Setiba di rumah, Lili sudah duduk sambil membaca buku di teras rumah. Begitu suara motor Radit terdengar memasuki halaman rumah, seketika Lili menoleh dan buru-buru memasukan bukunya ke dalam tas. Tanpa turun dari motornya, Radit melambai pada Lili agar segera naik. Lili turun berganti Iko yang naik. Motor Radit kembali melaju melintasi jalanan siang yang panas dan padat merayap. " Kapan kak Mira mau kembali membantuku?" tanya Radit begitu ia sampai di rumah. Diteguknya segelas air dingin dari lemari es untuk menghilangkan dahaga. " Coba kamu buka lowongan pekerjaan siapa tahu ada yang cocok" Pikiran Radit mencoba menyetujui usulan kakaknya. Tapi berbagai kendala pasti akan ditemui jika merekrut pegawai baru apalagi yang dikerjakan masalah uang. Tentu saja Radit masih bimbang. " Nanti aku sendiri yang mengarahkan dan memantaunya" Radit mengangguk. Usulan kakaknya bisa langsung ia tindak lanjuti jika kakaknya bersedia ikut campur dalam mengarahkan pekerjaan pegawai yang hendak direkrutnya. Bagaimanapun juga urusan keuangan sangat rentan dan butuh kepercayaan tinggi. "Baiklah, nanti aku pasang iklan lowongan pekerjaan" Putus Radit. " Besok titip anak-anak di bengkel. Mereka lagi libur soalnya ada pertemuan wali murid dari pagi sampai siang" pesan Mira yang diangguki Radit. Setelah berbincang dengan kakaknya, Radit pamit masuk ke dalam kamar. Selain berniat merenggangkan badanya yang sejak semalam ia forsir dengan lembur ia juga mulai memasang iklan melalui media online. Berharap kriteria yang diharapkan dirinya dan kakaknya dapat segera ditemukan. *********************************** Laki-laki yang diperhatikanya kini sudah menghilang bersama sebuah motor yang dulu sering menemaninya berkeliling berbagai tempat. Dulu motor itu menjadi saksi rasa lelahnya mengerjakan penelitian di salah satu bank swasta, menjadi tumpuan betapa terlukanya perasaanya atas sikap buruk Monica dan saksi bisu betapa tawa yang ia bagi bersama pemiliknya sampai saat ini masih tersimpan dan semakin ia rindukan. Dihelanya nafas berat menghadapi keputusan yang tak mudah. " Na?" Sapa seseorang yang seketika membuat Ana menoleh. " Loh kok kamu bisa disini?" tanya Ana balik. Perempuan itu mengambil tempat di meja Ana saling berhadapan setelah memesan satu porsi sop buah. " Aku lihat kamu tadi dari sana" Tunjuk Nania dengan jarinya kearah sebuah mini market tak jauh dari tempat laki-laki tadi dan dua anak kecil sedang berdiri. " Mau beli minuman, eh lihat kamu disini langsung aku samperin" Jelasnya kemudian. " Aku kira kamu udah balik ke Jakarta ngurus butikmu disana" Tanya Ana mengingat Nania sempat berpamitan padanya beberapa hari yang lalu bahwa dirinya sudah berada di Jakarta. " Iya sih, baru sampek kesini kemarin" Ana hanya manggut-manggut. " Kelihatan galau banget kayaknya Na" Tebak Nania seraya menyendok sop buahnya. Ana menghela nafas berat. " Iya nih. Lamaran kerja dimana-mana selalu ditolak. Bahkan belum sampai interview, baru sebutin nama udah dibilang gak ketrima. Nasib.. nasib" Nania mengernyitkan kening sambil berpikir. " Sabar. Mungkin memang belum rejeki kamu. Tapi tadi aku lihat ada lowongan kerja di bengkel depan, lagi cari akunting" Ana melebarkan daun telinganya mendengar kata lowongan pekerjaan barusan. Meskipun bukan jurusan yang diambilnya, setidaknya jika masalah laporan keuangan dan sebagainya ia sanggup belajar. Mata Ana seketika berbinar. " Seriusan?" Nania mengangguk antusias. " Aku barusan dari sana dan lihat pengumumanya ditempel. Bengkelnya besar dan selalu ramai. Temanya Reksa yang rekomendasikan tempat itu. Kalau bengkelnya besar, gajinya lumayan besar juga kayaknya" Jelas Nania terkekeh dengan promosinya. Memang pagi tadi ia meminjam mobil Reksa untuk dipakainya ke lokasi butiknya yang baru. Gara-gara menghindari kucing yang lewat, Nania membanting setir ke samping mengakibatkan lecet pada mobil Reksa serta rusak pada spionnya. Setelah menelpon Reksa minta maaf dan berniat memperbaiki mobilnya, teman Reksa yang kebetulan mendengar percakapan keduanya melalui telepon akhirnya memberi rekomendasi bengkel mobil terbaik di kota ini. Dan selama menunggu, ia memutuskan mencari minum di mini market samping bengkel. Tak tahunya ia malah melihat Ana yang termenung sambil menikmati sop buahnya. Ana yang mendengar penjelasan Nania semakin tak sabar ingin mendatangi bengkel tersebut dan melihat langsung isi pengumuman. " Habis ini temenin aku kesana ya" Rengek Ana pada Nania penuh harap. ************************************ Sebuah panggilan pada ponsel pintarnya membuat Ana segera menggeser tanda hijau untuk mengangkatnya. " Halo juga Rek" Jawab Ana begitu suara di seberang menyapa dirinya. " Apa kamu sibuk?"Tanya Reksa dari seberang. " Tidak, kenapa?" "Aku hanya mau minta maaf padamu" Ana mengernyit heran. Ana merasa Reksa tidak sedang membuat kesalahan apapun kenapa harus meminta maaf? " Maaf buat apa sih Rek" Sahut Ana cepat tak sabaran. Nania yang di sebelahnya menoleh seketika saat nama Reksa disebut. " Kamu sedang mencari pekerjaan kan?" Ana mengiyakan. Memang ia sedang sibuk mencari tempat kerja yang menerima keahlianya tapi kenapa Reksa menanyakan hal ini?. "Kenapa memangnya?" Tanya Ana balik. "Ini tentang Mamaku, Na" Ucap Reksa terasa berat. " Kenapa lagi Mama mu?" Ana ikut penasaran. Meskipun malas membahas tentang wanita itu, mungkin saja Reksa sedang ingin bercerita atau berkeluh kesah padanya. " Mamaku, ternyata dia menyabotase semua tempat kerja yang kamu ajukan lamaran. Mama mengancam semua perusahaan jika ingin tetap mendapat suntikan dana dari perusahaan kami, tidak boleh ada yang menerima namamu sebagai karyawanya." Bagai disambar petir mendengar kabar mengejutkan dari Reksa. Pantas saja kegagalanya dan kejanggalanya saat mengajukan lamaran ternyata ada campur tangan dari Monica, orang yang sejak dulu menjadi sumber masalah bagi keluarganya. "Bagaimana bisa Rek?" lirih Ana merasa begitu tertekan. Tidak tahukah dia bahwa selama ini Ana pontang-panting mencari pekerjaan dan selalu gagal. Ia mengira bahwa kemampuanya memang belum dibutuhkan atau setidaknya persyaratan lain darinya masih belum memenuhi sehingga ia selalu berbesar hati berharap bahwa usahanya pasti berhasil. Namun kenyataanya, rencana kegagalanya adalah sabotase. "Aku tidak tahu Na, sungguh. Aku baru tahu tadi pagi saat mendengar Mama berbicara dengan salah satu pimpinan perusahaan. Dan setelah kutanyakan memang itu semua ulah Mama" Ana mencengkeram ponselnya erat-erat. Memangnya apa lagi salahnya sampai harus mendapat gangguang dari wanita itu?. "Sekali lagi aku minta maaf Na atas nama Mamaku. Kalau perlu akan kubantu mencari lowongan di tempat lain" tawar Reksa. Mata Ana memanas, air mata merebak keluar begitu saja. Bahkan suara Reksa yang masih meminta maaf berkali-kali tidak didengarnya. Ponselnya ia letakan di meja tanpa memutuskan panggilan. Nania yang melihat perubahan ekspresi Ana langsung melirik kearah ponsel yang masih tersambung dengan Reksa. " Kamu tutup aja teleponya, biar Ana aku yang tenangin" Nania memutus panggilan dari Reksa. Direngkuhnya tubuh Ana yang mulai terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. " Kenapa wanita itu tidak berhenti menggangguku? Apa sebenarnya salahku?" isaknya berurai air mata. Nania mengusap punggung Ana sambil mendekapnya. Meski dia tidak tahu dan mengenal tante Monica secara dekat tapi dia tahu segala aturan, keinginan, paksaan dan berbagai macam kekakangan wanita yang menjadi orang tua Reksa melalui cerita-cerita sahabatnya itu pada anak dan suaminya. Sebuah pesan singkat dari ponsel Nania membuatnya segera meraih dompet dan membukanya yang ternyata dari Reksa. Reksa : Karena bunga yang kutitipkan padamu untuk Ana dilaporkan oleh Dini, Mama mengira aku masih berhubungan denganya. Nania membaca dan memahami pesan yang dikirim Reksa barusan. Dan pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa Monica masih mengira bahwa anaknya dan Ana menjalin hubungan. Dan informasi ini pasti karena ulah Dini yang tidak tahu menahu tentang hubungan Reksa dan Ana sebenarnya. Ingatkan  bahwa setelah ini ia akan memberi perhitungan pada Dini. " Sudah Na, jangan dipikirin. Yakin aja masih ada kesempatan buat kamu" Hibur Nania. Sebenarnya ia ingin menawari pekerjaan buat Ana di butiknya. Namun butik yang sedang dirintisnya saja masih tahap pemilihan lokasi. Belum lagi proses renovasi yang tidak sebentar sedangkan Ana sepertinya sangat ingin mencari pekerjaan segera. " Sekarang hapus dulu air matanya. Habis ini aku temenin ke bengkel" Ana masih terisak namun mendengar ada harapan di depan mata seketika ia menghapus dengan bantuan sapu tangan milik Nania. Setelah lebih tenang dan membayar sop buah, Ana mengikuti Nania berjalan menuju bengkel tempat mobil Reksa sedang diperbaiki. " Sudah selesai?" Tanya Nania pada salah seorang karyawan laki-laki yang tengah membetulkan mesin. " Sudah, silahkan dilihat disebelah sana"  karyawan itu memanggil salah seorang temanya yang menangani mobil Nania untuk menunjukan mobil yang dimaksud. Nania mengikuti seorang laki-laki menuju mobilnya.  Sementara Nania sibuk memeriksa hasil mobil Reksa, Ana bertanya pada laki-laki tadi. " Maaf, saya mau masukan lamaran pekerjaan. Saya harus menemui siapa kalau boleh tahu?" Laki-laki itu melihat map yang digenggam oleh Ana. Dengan ramah ia menjawab. " Mau melamar pekerjaan ya?" ulang si karyawan. Ana mengangguk. " Son!, tolong antar mbak ini masuk" Perintah si karyawan. Seseorang yang dipanggil Son, berjalan kearah Ana. Dengan tak kalah ramah ia menunjukan jalan menuju sebuah ruangan dengan Ana mengikuti di belakangnya. Sampai di depan sebuah ruangan, Soni, mengetuk pintu menginterupsi pada penghuni ruangan tersebut bahwa ada pelamar yang datang. " Mari masuk mbak? sudah ditunggu bapak di dalam". Soni pamit pergi meninggalkan Ana yang menghirup nafas dan dihembuskan perlahan berkali-kali menghadapi rasa gugupnya. Pintu ruangan terbuka menampilkan Ana yang berjalan perlahan masuk. Didongakan matanya melihat penghuni ruangan. Kedua pasang mata itu bertemu. Saling menatap dalam keterkejutan masing-masing. Ada rindu tertahan pada manik keduanya. Sejenak suasana terasa hening. Jantung Ana seakan berdetak tak karuan melihat seseorang yang menatapnya di depan sana. " Silahkan duduk nona Ariana" ----------------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN