"Saya antar kamu pulang," ujar Rayyan yang sedari tadi keukeuh ingin mengantar Sea. Pria tampan itu pun mengeluarkan sebuah mobil sport keluaran terbaru dari garasi mobilnya.
Sebenarnya Sea sedari tadi ingin menolak. Namun, Rayyan terus memaksanya ditambah Queen, ibunya pria itu pun ikut mendesaknya. Sea hanya bisa pasrah dan menurut saja. Gagal sudah berkencan dengan Johan malam ini.
"Share lock, tempat tinggalmu," ucap Rayyan yang kini tengah fokus memandang lurus kedepan mengendarai mobilnya. Rayyan lalu mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya pada Sea. "Ketik saja di sini," titahnya kemudian.
Sea pun langsung mengambil ponsel itu dan membuka nya, beruntung benda berbentuk pipih itu tidak dikunci sehingga Sea membukanya. "Ini Pak," ucapnya setelah selesai mengetik alamat tujuannya, lalu ia berikan lagi ponsel itu pada siempunya.
Rayyan menerima dan membaca lokasi maps pada ponselnya. Tak lama pria itu pun mengerutkan keningnya bingung. "Serius kamu tinggal di sini?" tanya Rayyan lau menoleh ke arah Sea sekilas.
Sea pun menganggukkan kepalanya yakin. "Iya. Malam ini saya berubah pikiran. Sepertinya saya akan pulang kerumah nenek saya di Indramayu," ucap wanita itu seolah tanpa beban. Sesekali Sea ingin mengerjai Rayyan sebab setiap hari pria itu selalu membuatnya kesal.
Rayyan mengangkat sebelah alis matanya lalu tersenyum penuh arti. "Oke, saya turuti keinginan kamu." Tanpa pikir panjang pria itu lalu menambah kecepatan mobilnya. "Bersiaplah di sana nanti saya akan melamarmu secara langsung di depan nenekmu." Kini Rayyan pun tampak menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. Ia tidak menyangka jika Sea akan mengajaknya berkunjung ke rumah sang nenek. Kesempatan ini tentu saja tidak akan di sia-siakan oleh Rayyan.
Mata Sea membulat seketika, mulutnya pun ternganga lebar. Sepertinya ia telah salah meminta pria itu menemaninya mengunjungi kediaman neneknya di Indramayu. Sea lupa jika Rayyan adalah makhluk yang paling nekat.
"Oh, bisa mampus gue kali dia beneran ngelamar di depan ibu," gumam Sea frustasi dalam hati. Saat ini wanita itu tengah berpikir apa yang harus ia lakukan agar Rayyan mau kembali ke Jakarta. Satu hal lagi sifat Rayyan yang Sea hafal, pria itu sangat keras kepala. Apapun yang menjadi kehendaknya harus segera dilaksanakan.
Setelah melakukan perjalanan hampir tiga jam, kini mereka pun telah tiba di sebuah desa yang asri di Indramayu, Jawa Barat. Mobil berwarna hitam milik Rayyan pun melaju pesat membelah jalanan itu menuju perkampungan sekitar, sesuai dengan alamat rumah yang Sea tunjukan tadi. Kini mereka pun sudah tiba di sebuah rumah sederhana berwarna hijau bolu pandan itu.
Rayyan memindai pemandangan sekitar rumah itu. Rumah yang tampak asri dan sejuk karena di sampingnya ditumbuhi oleh pohon yang rindang juga aneka tanaman hias. Namun, ada satu yang membuat Rayyan terlihat penasaraan. Saat melihat seorang pria bertubuh tinggi besar telah menyeret seorang wanita paruh dengan begitu kasar.
"Itu siapa yang diseret-seret keluar rumah?" gumam Rayyan lirih, pandangan matanya masih tetap menatap ke depan. Melihat seorang wanita paruh baya yang sudah menangis tersendu-sendu.
Sejak tadi Sea tidak fokus karena tengah asyik berkirim pesan pada sang kekasih. Hingga saat mendengar suara Rayyan barulah wanita itu mengalihkan perhatiannya. "Ya ampun Ibu. Itu nenek saya, Pak." Sea pun terlihat begitu panik, tanpa banyak kata ia lalu keluar dari mobil dan berlari cepat menuju pekarangan rumah neneknya.
"Ibu," panggil Sea lalu berjalan menghampiri neneknya yang sudah menangis terisak di sisi tiang rumahnya. Wanita itu mendekat lalu memeluk tubuh neneknya dengan erat. "Ibu kenapa? Mereka siapa Bu?" tanya Sea lalu melirik sekilas ke arah tiga orang pria yang berpakaian seperti preman itu.
Wanita paruh baya itu pun menggenggam erat tangan sang cucu seraya berkata. "Mereka depkolektor," sahutnya lirih, lalu mengusap air mata di pipinya. "Ibu baru tahu sebulan yang lalu kalau almarhum mami mu punya hutang sebanyak satu milyar sama mereka," jelas wanita paruh baya yang bernama Ella. Sejak masih bayi orang tua Sea telah membiasakan anaknya memanggil sang nenek dengan sebutan ibu.
Sea pun tercengang, untuk apa uang sebanyak itu digunakan oleh almarhum mamanya? mendadak Sea pun menjadi bingung sebab yang ia tahu mama nya itu mempunyai cukup banyak uang tabungan, salah satunya uang yang Sea gunakan untuk modal usaha membuka toko kue di Jakarta.
"Kalian pasti bohong!" tuding Sea tidak terima, wanita itu lalu menatap sinis tiga orang pria berbadan tambun itu. "Almarhum mama saya nggak mungkin punya hutang segitu banyaknya," ucap Sea lalu berdiri dan berkacak pinggang seolah menantang ketiga pria itu. Sea tak akan pernah takut pada siapapun selagi ia memang di jalan yang benar. Prinsip itu lah yang selalu Sea anut selama ini.
"Banyak bacot nih bocah," sentak pria yang terlihat lebih tinggi dari pada temannya itu, ia lalu melempar selembar kertas ke arah Sea. "Baca itu baik-baik. Kami akan kembali seminggu lagi." Setelah mengucapkan hal itu ketiga pria itu pun langsung pergi meninggalkan kediaman bu Ella.
Sea yang penasaran pun langsung mengambil kertas itu dan membacanya. Sea tampak menggelengkan kepalanya cepat, merasa tidak percaya jika sang mama mempunya hutang sebanyak ini dan yang lebih parahnya lagi tanpa sepengetahuan mereka semua mendiang mama nya telah menyerahkan sertifikat rumah ini dan juga beberapa sawah milik sang nenek sebagai jaminan.
"Kenapa jadi begini, Bu," gumam Sea yang kini ikut terduduk lemas, ia pun tampak kacau memikirkan masalah ini. Dari mana ia dapat uang sebanyak itu untuk melunasi hutang-hutang mendiang mamanya. Sementara usaha toko kue yang Sea jalani pun belum balik modal sepenuhnya.
Rayyan yang sedari tadi diam saja, kini pun berjalan mendekat. Ia lalu berjongkok dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan dua wanita beda generasi itu. "Assalamualaikum Bu," sapa Rayyan sopan lalu mengulurkan tangannya pada bu Ella.
Bu Ella pun sempat tertegun sejenak, ia baru sadar bahwa ada tamu di rumahnya. "Waalaikumsalam. Maaf Anda siapa ya?" tanya bu Ella penasaran. Meski begitu bu Ella tetap membalas uluran tangan pria itu.
"Dia pelanggan tetap aku Bu. Bapak Rayyan namanya," jelas Sea singkat lalu beringsut dari duduknya dan membantu sang nenek untuk berdiri.
Bu Ella pun mengangguk paham. "Mari masuk Pak. Tidak enak jika mengobrol di luar." Bu Ella mempersiapkan tamunya untuk masuk, tak lama wanita paruh baya itu pun pergi dapur dan membuatkan minuman hangat untuk para tamunya.
Sementara di ruang tamu, Sea masih terus membolak-balikkan kertas tersebut. Membaca dengan teliti apakah perjanjian ini asli atau palsu. Atau bisa saja ini hanya akal-akalan depcollector saja untuk merampas semua harta milik neneknya.
"Hay, are you okay?" tanya Rayyan lalu menepuk pelan bahu Sea, ia jadi penasaran apa yang sedangkan dipikirkan wanita itu hingga melamun seperti ini.
Sea tampak menghela nafasnya berat. "Buruk Pak. Sangat buruk." Wanita itu lalu menceritakan semua yang telah terjadi. Termasuk hutang piutang yang ditinggalkan mendiang ibu, serta konsekuensi yang akan ia dapat jika tidak segera melunasi hutang tersebut.
Rayyan pun tampak terdiam dan mencermati semua perkataan yang Sea ucapkan tadi. Sebelum akhirnya satu ide brilian pun muncul di dalam kepala pria itu.
"Saya punya jalan keluar yang tepat untuk masalah kamu ini," ucap Rayyan lalu menatap dalam Sea yang sedari tadi tampak terlihat murung.
Sea pun sontak mendongakkan kepalanya seketika. "Apa itu, Pak?" tanya wanita itu penasaran. Siapa tau Rayyan dapat membantu dirinya memecahkan masalah ini, gumam Sea berkata dalam hati.
Tanpa permisi Rayyan lalu menarik tangan Sea dan menggenggamnya dengan erat seraya berkata. "Menikahlah denganku. Maka akan ku lunasi semua hutang mendiang mama mu," ucap Rayyan santai seolah tanpa beban. Uang segitu tak ada apa-apanya bagi Rayyan karena dalam waktu lima belas menit pun perusahaan yang ia keloka bisa menghasilkan uang lebih dari satu milyar.
"Apa?" Shafa melotot lalu menatap tajam Rayyan. "Saya nggak mau menikah dengan Bapak, satu-satunya yang akan menjadi suami saya ya cuma mas Johan," tolak Sea dengan tegas. Ia dan sang kekasih bahkan sudah memutuskan akan menikah dalam waktu dekat ini.
Rayyan mengedikan bahunya tanda tidak peduli. "Terserah kamu saja. Tapi, coba pikirkan sekali lagi. Apa Johan bisa melunasi semua hutang-hutang mendiang ibumu?" tanya Rayyan lalu menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Ingat hubungan kalian tidak direstui oleh om Raffi dan sampai saat ini kehidupan Johan pun masih menumpang pada orang tuanya," jelas Rayyan panjang lebar. Pria itu memang sudah mengetahui banyak hal tentang hubungan asmara Sea dengan adik sepupunya itu.
Sesaat Sea pun termenung, membenarkan setiap ucapan yang Rayyan katakan tadi. Selama dua tahun ini hubungannya dengan pria bernama Johan memang tidak pernah mendapatkan restu dari orang tua pria itu, begitu pula dengan Jenny, anak dari Johan itu terlihat begitu membenci dirinya. Sea mendesah nafasnya kasar lagi-lagi yang Rayyan ucapkan selalu benar, Johan mana mungkin mau membayari semua hutang-hutang mendiang ibunya, mengingat sampai saat ini pun kekasihnya itu masih menumpang tinggal di kediaman orang tuanya. Ya, setahun yang lalu bisnis yang Johan dirikan bangkrut dalam waktu yang singkat, hal ini terjadi karena Johan tidak hati-hati dalam memilih investor, alhasil semua uang yang ia gunakan untuk modal raib dibawa kabur pengusaha asal negeri Jiran itu, terlebih saat itu Johan kurang teliti dalam menandatangani perjanjian kontrak kerja, sehingga sampai saat ini ia pun tidak dapat menjebloskan pihak investor ke pihak berwajib.
"Jadi gimana? kamu setuju atau tidak dengan usulan saya?" tanya Rayyan terlihat tidak sabaran. Ia begitu kesal saat menunggu Sea yang tampak berpikir cukup lama itu.
Sea lalu memejamkan matanya sekilas, mengambil nafasnya dalam. Lalu menghembuskannya secara perlahan. "Baiklah saya terima tawaran Bapak. Tapi, setelah menikah nanti saya punya perjanjian yang harus Bapak turuti," ucap Sea dengan tegas.
Wanita itu sudah bulat dengan pilihannya, memutuskan menerima lamaran Rayyan. Sea berharap pernikahan yang mereka jalani nanti hanya bersikap sementara dengan begitu jika waktunya tiba Sea dapat kembali kepelukan Johan lagi. Toh hubungan mereka berdua hanya sebatas simbiosis mutualisme. Sea membutuhkan uang dan Rayyan membutuhkan calon istri agar tidak terus menerus didesak kedua orang tua nya untuk segera menikah, sampai harus mengikuti serangkaian kencan buta yang telah disiapkan oleh maminya.
Rayyan lalu mengambil kertas perjanjian hutang piutang tadi di atas meja, lalu membacanya. Sesaat kening pria itu pun berkerut seolah tengah berpikir.
"Tante Cindy," gumam Rayyan bertanya-tanya dalam hati. "Siapa kamu sebenenarnya Sea? mengapa mendiang mama mu bisa akrab dengan model terkenal di negeri ini."