Jadilah Miliku Malam Ini

1062 Kata
Rayyan tampak mengedarkan pandangan ke arah sekitar, seperti sedang mencari sesuatu yang dapat menjawab rasa penasarannya pada sosok Sea. Namun, tak ada satupun foto tentang keluarga Sea yang menempel di dinding rumah ini. Siapa keluarga sebenarnya? Mendiang mami nya Sea bahkan mengenal jelas Cindy yang notabene model sekaligus pengusaha terkenal di negeri ini. Rayyan tahu betul siapa itu Cindy. Dia tidak akan pernah salah dalam memilih circle pertemanan. "Nak Rayyan. Silakan di minum!" Bu Ella baru saja datang dan membawa dua gelas teh hangat, lalu menaruhnya di atas meja. "Ibu berterima kasih sekali sama, Nak Rayyan. Tadi Sea cerita bahwa, Nak Rayyan lah yang melunasi semua hutang mendiang maminya Sea." Rayyan mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Bu," jawabnya singkat. Kini pria itu pun terlihat mengangkat cangkir teh lalu menyesapnya perlahan. "Bu, tujuan saya kesini ingin membicarakan hal penting pada ibu," ucap Rayyan dengan sorot mata tegas, dan di saat yang bersamaan Sea pun datang dan kembali duduk di samping neneknya. Bu Ella terlihat mengerutkan keningnya penuh tanda tanya. "Oh iya, ada perlu apa, Nak Rayyan?" tanya wanita paruh baya itu penasaran. "Saya kesini mau melamar Sea, Bu. Dan saya tidak ingin menunda pernikahan ini lebih lama lagi," ungkap Rayyan dengan tegas, jelas dan gulas. Bahkan terlihat penuh keyakinan di dalamnya. Bu Ella dan Sea pun sama-sama terkejut. Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika cucunya akan menemukan jodohnya dalam waktu dekat ini. Sementara Sea pun tampak begitu tercengang dengan ucapan Rayyan barusan, Sea pikir pria itu tidak akan secepat ini melamar dirinya. Bu Ella pun tersenyum, beliau tidak bisa menyembunyikan senyuman kebahagian di bibirnya. "Alhamdulillah. Kalau ibu sih setuju aja. Ibu liat, Nak Rayyan ini orang nya baik dan mudah-mudahan juga bertanggung jawab." Bu Ella tampak senang saat melihat seorang pria melamar langsung cucu semata wayangnya itu. Tindakan Rayyan barusan sudah membuktikan bahwa pria itu adalah sosok pria gentleman, sosok pemberani yang meminang secara langsung wanita yang disukainya. "Kamu sendiri gimana Sea? Sudah siap berumah tangga?" tanya Bu Ella yang kini telah menatap dalam cucu cantiknya itu. Sea diam terpaku di tempatnya. Melihat wajah cerah sang nenek saat Rayyan melamar dirinya membuat Sea tidak tega untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah mencintai pria itu. Namun, sekelebat bayangan depkolektor yang tadi menyeret kasar bu Ella pun kembali memenuhi isi kepalanya. Kini Sea pun terlihat tengah memejamkan matanya. Sebenarnya bisa saja Sea meminta bu Ella untuk mengikhlaskan rumah ini juga beberapa petak sawah miliknya di jadikan alat pelunas hutang. Namun, Sea sadar tindakan nya itu salah. Bu Ella pasti akan sedih kala harus menyerahkan rumah ini pada orang lain. Sea tau betul rumah ini memiliki sejarah juga kenangan terindah bagi neneknya. Sea mengangguk samar. "Iya Bu, aku bersedia," ucap Sea lirih sembari menundukkan pandanganya. Sedari tadi ia pun terus menatap wallpaper pada layar ponselnya dimana ada gambar dia dan Johan yang tengah bergandengan tangan cukup erat. "Maafkan aku mas Johan. Ini semua aku lakukan demi ibu. Aku enggak mungkin biarin ibu kesusahan memikirkan hutang mendiang mami ku. Aku janji mas, setelah kontrak pernikahan ini berakhir aku akan kembali padamu," guman Sea bersedih dalam hati. Andai Johan bisa membantunya keluar dari masalah ini tentu saja Sea tak perlu repot-repot berurusan dengan Rayyan lagi. *** Rayyan memutuskan menginap di rumah bu Ella karena tidak mungkin kembali ke Jakarta sekarang karena mengingat saat ini sudah larut malam di tambah Rayyan tidak mengajak sopir pribadinya tadi. Bu Ella sendiri telah meminta Sea membersihkan satu kamar tamu yang terletak di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. Kamar itu biasa di gunakan papi Sea kala tengah menginap di rumah ini. "Pak, kata ibu ini pakaian papi saya. Jika Bapak mau, bisa di pakai dulu buat ganti sementara," ucap Sea lalu menaruh pakaian itu di atas ranjang. Rayyan mengangguk lalu berjalan mendekat. "Terima kasih," ucapnya singkat. Rayyan pun memicingkan matanya saat melihat satu stella pakaian branded dari salah satu merk terkenal. Rayyan tau betul hanya kalangan menengah ke atas saja yang mampu membeli barang dari merk brand tersebut. Pria itu kini mengalihkan pandangannya, kembali menatap Sea dengan penuh tanda tanya. Sejak pertama mengenal wanita itu, Rayyan hanya tahu jika Sea adalah seorang gadis biasa yang sederhana. Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Rayyan kembali mengingat rentetan kejadian hari ini. Tentang cindy, juga baju branded ini. Siapa Sea sebenarnya? Dan hal itu pun yang membuat Rayyan makin penasaran akan sosok wanita cantik di depannya ini. "Mau kemana?" tanya Rayyan saat melihat Sea yang hendak berjalan keluar kamar. Sea yang sudah tiba di ambang pintu pun menoleh. "Mau tidur, Pak. Saya ngantuk." Sea berujar sedikit ketus. "Tunggu," cegah Rayyan dan berhasil memegang pergelangan tangan wanita itu dengan erat. Kini Sea pun terlihat mendengus kesal. "Ada apa lagi sih, Pak? Saya capek mau istirahat dulu." Kali ini Sea benar-benar marah, sejak tadi pagi hingga saat ini Rayyan selalu saja mengganggu ketenangan dirinya. "Temani saya tidur di sini." Tanpa menunggu persetujuan Sea, Rayyan pun langsung menggendong tubuh wanita itu ala bridal style dan merebahkan tubuh mungil itu perlahan di atas ranjang. Sea refleks menjerit terkejut. "BAPAK JANGAN KURANG AJAR SAMA SAYA!" mata Sea melotot tajam ke arah pria itu, ia marah saat Rayyan dengan sesuka hati menggendong tubuhnya. "SAYA NGGAK SUKA SAMA." "Diam, jangan teriak-teriak nanti nenek kamu bangun," potong Rayyan cepat. Pria itu masih betah berada di posisinya. Mengungkung tubuh Sea dan menatap wajah cantik wanita itu dari atas. "Kamu cantik," puji Rayyan jujur dan tulus. Sea memang cantik dengan kulit seputih s**u juga bentuk tubuh yang padat, sintal dan berisi. Sea tergugup, melihat wajah Rayyan semakin mendekat ia pun menjadi panik. "Bapak, awas jangan dekat-dekat saya." Ucapan Sea pun terputus saat merasakan benda berbentuk kenyal menempel tepat di bibirnya. Tubuh Sea pun lemas seketika, dengan sialnya wanita itu malah memejamkan matanya seolah tengah menikmati pertukaran saliva keduanya. Sea tampak merutuki kebodohannya saat lidah pria itu membelit, menggigit bahkan menghisap lidahnya pelan, ia justru membalas permainan lidah pria itu dengan menggebu. Tolong kembalikan akal sehat Sea, seharusnya ia menolak atau bahkan menampar wajah pria itu karena telah kurang ajar mencium dirinya. Tapi, apa daya Sea malah menikmati dan terlena dengan permainan lidah pria ini. Argh, Sea benci dirinya yang tidak bisa menolak pesona pria tampan ini. Rayyan menjadi orang pertama yang memutus tautan bibir keduanya. Sesaat kemudian pria itu pun terlihat menyatukan kening keduanya seraya berkata. "Jadilah milikku malam ini," ucap Rayyan dengan nada yang mulai serak, bahkan tatapan matanya pun sudah mulai berubah sayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN