Di kediaman orang tua Johan, saat ini pria itu tampak frustasi kabar menikahnya sang kekasih dengan kakak sepupunya sendiri membuat pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menjadi murka. Ia lalu melemparkan seluruh barang-barang yang ada di kamarnya sambil terus mengumpat kesal.
"Anjing emang si Rayyan. b******k! Bisa-bisanya dia nikung calon bini gue. Argh tunggu pembalasan gue sialan!!!" Johan berterial murka lalu menonjok kasar besar yang ada di kamarnya.
Rupanya keributan yang Johan buat terdengar sampai ke luar kamar. Alhasil mama Jessica yang penasaran pun langsung masuk ke dalam kamar anak sulungnya itu dan betapa terkejutnya beliau saat melihat kondisi kamar yang sudah mirip seperti kapal pecah. Berantakan dan banyak pecahan beling di sekitarnya.
"JOHAN! APA YANG KAMU LAKUKAN? APA KAMU SUDAH GILA, HAH?" teriak mama Jessica kesal, wanita itu pun langsung mencengkeram lengan anaknya dengan kencang. Berusaha menghentikan tindakan brutal Johan yang ingin menginjak pecahan kaca di sekitarnya.
"LEPAS MA!" Johan malah mendorong mama ya dengan kencang hingga mamanya itu tersungkur jatuh di lantai.
"DASAR ANAK KURANG AJAR!" papa Raffi adik kembar papa Raffa, orang tua Rayyan pun datang dan langsung memberikan satu bogeman mentah di wajah tampan anaknya.
Pria itu dua kali memukul wajah Johan. Papa Raffi tidak terima jika ada orang lain yang menyakiti sang istri, sekalipun itu anak kandungnya sendiri.
"Berdiri bodoh! Apa yang kamu lakukan!" Papa Raffi menendang pelan kaki Johan, menyuruh anaknya itu untuk bangun.
Johan tampak mengelap sudut bibirnya yang berdarah seraya berkata. "Papa sama Mama nggak usah ikut campur urusan ku!" hardiknya dengan kesal.
Papa Raffi pun menggelengkan kepalanya heran. "Hal apa yang membuatmu melakukan tindakan bodoh seperti ini?" Pria paruh baya itu pun mulai sedikit tenang. Perlahan beliau mulai bertanya dengan nada yang sedikit lembut.
"Kenapa, Mas. Kamu kenapa?" Mama Jessica pun mendekat lagi dan mengusap punggung anaknya dengan lembut. Beliau paham betul jika tadi Johan tidak sengaja menyakitinya.
Johan memejamkan matanya sekilas sambil menghembuskan nafasnya kasar seraya berkata. "Sea nikah, Ma. Dia menghianatiku," gumam Johan lirih dengan suara yang bergetar, sepertinya pria itu tengah menahan tangisnya.
Papa Raffi dan mama Jessica pun saling pandang, dan tak lama keduanya mengulas senyuman kebahagiaan akhirnya Sea menikah dengan orang lain. Kini mereka pun tak perlu susah-susah memisahkan Johan dengan Sea, wanita jahat versi orang tua Johan.
"Bagus dong. Kan dari awal mama bilang Sea itu wanita nggak baik. Dia nggak cocok bersanding sama anak mama yang tampan ini," ucap mama Jessica dengan senyuman penuh kebahagian di bibirnya. "Iya kan, Pa?" tanya nya pada sang suami.
Papa Raffi terlihat mengangguk setuju. "Iya benar itu. Papa yakin setelah ini kamu akan dapat jodoh wanita yang lebih baik dari Sea."
Johan menggelengkan kepalanya lemah, sambil terus meremas rambutnya dengan kencang seolah menggambarkan keadaannya yang terlihat begitu frustasi. "Sea menikah sama abang Rayyan. Ma, Pa," ucap Johan lalu air mata pun mengalir deras di kedua pipinya.
"APA?" teriak orang tua Johan begitu terkejut. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut mereka harus segera menemui orang tua Rayyan dan meminta penjelasan atas kejadian ini karena biar bagaimanapun orang tua Johan nanti akan membongkar semua kebusukan Sea, mencoba menyadarkan orang tua Rayyan jika mereka telah salah memilih menantu.
***
Keesokan harinya Rayyan dan Sea telah kembali ke Jakarta. Dan untuk surat nikah mereka pun telah diurus oleh orang suruh Rayyan. Tak butuh lama buktinya buku nikah itu pun sudah jadi tadi pagi. Benar-benar the power of the money.
"Ini kamar saya," ucap Rayyan yang kini sudah membuka pintu kamarnya. Ya, untuk sementara Rayya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya dulu, sambil menunggu rumah tingkat dua miliknya yang baru saja direnovasi.
Sea tidak menjawab dan langsung menaruh barang bawaan di lantai dekat sofa. Wanita itu pun langsung menundukkan dirinya di sana. Perasaan Sea tengah sedih, baru saja ia membaca pesan dari Johan. Mantan kekasihnya itu mengirimkan foto bagian tubuhnya yang terluka dan membubuhkan beberapa kalimat di dalamnya.
"Luka ini terjadi karenamu," tulis Johan pada sebuah pesan yang ia kirim untuk Sea.
Kini mata Sea pun tampak berkaca-kaca, ia tak tahu harus bagaimana? Andai bisa memilih tentu Sea akan melarikan diri sekarang juga dan bertemu dengan Johan lalu merawat tubuh mantan kekasihnya itu yang tengah terbaring sakit. Tapi, apa daya Sea tidak mungkin melakukan hal itu karena kini status mereka telah berubah. Sea tak lagi menjadi kekasih Johan. Melainkan menjadi istri dari kakak sepupu sang mantan kekasih yang bernama Rayyan.
Melihat Sea menangis Rayya pun mendekat, pria itu kini telah duduk di samping sang istri seraya berkata. "Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Rayyan penuh perhatian, tangan pria itu pun tak tinggal diam terus mengusap dengan lembut air mata yang mengalir deras di pipi istrinya.
"Nggak ada apa-apa," jawabnya singkat lalu menutup kembali ponselnya.
Rayyan tampak memicingkan matanya. Feelingnya Sea tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya karena penasaran Rayyan pun langsung mengambil ponsel sang istri dan memeriksanya.
"Abang, pinjam ponsel kamu sebentar," ucap Rayyan setelah membaca pesan di ponsel istrinya.
Sejujurnya Rayyan ingin marah. Tapi, sekuat hati ia tahan karena Rayyan sadar disini dia lah yang salah karena telah merebut kekasih adik sepupunya. Sekuat hati Rayyan mencoba menahan amarahnya apalagi saat membaca balasan pesan Sea yang mengatakan masih mencintai Johan. Rayyan semakin bertekad kuat dalam hati ingin membuat Sea suatu saat nanti mau membuka pintu hatinya, mencintai dan menerima dirinya seutuhnya. Menjadikan Rayyan satu-satunya pria yang pantas dan wajib dicintai oleh Sea.
"Buat apa, Bang? Hmm, aku mau telepon ibu Ella dulu." Seolah tak ikhlas ponselnya di ambil Sea pun terlihat berusaha merebutnya kembali.
"Ada sesuatu hal yang harus Abang periksa." Rayyan berkata cukup lembut sambil tersenyum tipis. Pria itu bahkan telah merubah nada bicaranya sekarang.
Hal itu juga yang membuat Sea tak kuasa menolak keinginan suaminya itu. Sea sendiri bingung, harusnya ia marah atau mengamuk pada Rayyan karena telah berhasil menghancurkan semua impiannya. Tapi, balik lagi Sea pun harusnya bersyukur karena Rayyan lah yang datang bak pahlawan menolong dia juga neneknya.
"Istirahatlah! Abang mau menemui papa Raffa sebentar."
Setelah mengucapkan hal itu Rayyan pun langsung mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut sambil mengusap-usapnya dengan sayang, dan tak lama pria itu pun terlihat melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Ya Tuhan apa yang aku pikirkan. Kenapa aku mulai nyaman bersama dia," gumam Sea mendesah frustasi, ia lalu meraup wajahnya gusar. Seharusnya ia tidak terbuai dengan perlakuan lembut Rayyan padanya.