Berakhir Sampai Di Sini

1219 Kata
Malam ini Rayyan benar membuktikan ucapannya. Tepat pukul sebelas malam pria yang kini berusia tiga puluh tahun itu pun resmi mengucapkan ijab kabul, mempersunting Sea menjadi istrinya. Acara sakral itu disaksikan oleh para tetangga juga dipimpin langsung oleh pemuka agama setempat. Sejak tadi Rayyan tak hentinya menyunggingkan senyuman bahagia di bibirnya karena telah berhasil menjadikan Sea sebagai istrinya. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan wanita yang kini telah berusia dua puluh lima tahun itu. Ya, Sea sendiri bukan terlihat bahagia malah sebaliknya, ia seperti seorang wanita yang tersiksa juga sangat menderita. "Sea, Rayyan sudah menjadi suamimu sekarang. Hormatilah, patuhilah semua perintahnya selagi masih dalam hal kebaikan." Bu Ella tampak sedang memberi nasihat pada cucu semata wayangnya itu. "Ibu doakan, semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah, warahmah. Bahagia dunia dan akhirat. Aamiin." Doa tulus pun bu Ella panjatkan demi kebahagiaan Sea dan Rayyan. Saat ini hanya ada mereka bertiga di ruang tamu karena para warga pun sudah pulang kerumah masing-masing. Bu Ella sengaja menahan Sea lebih lama di ruang tamu, beliau ingin memberikan nasihat pada Sea bagaimana cara menjadi istri yang baik, pun juga pada Rayyan. Wanita paruh baya itu tak lupa memberikan wejangan pada cucu menantunya itu. "Iya makasih, Bu. Doanya." Sea pun masih menundukkan kepalanya sejak tadi yang ada di pikirannya adalah Johan, sang kekasih hati. Bu Ella mengalihkan pandangannya pada Rayyan lalu berkata. "Sudah malam Rayyan, istirahatlah ibu tahu kalian pasti lelah," ucap Bu Ella yang kini sudah beringsut dari duduknya. "Sea, Rayyan. Ibu mau masuk kamar dulu ya," pamit wanita paruh baya itu kemudian di iringi langkah kakinya yang tengah berjalan menuju kamar. Rayyan pun mengangguk, benar apa yang dikatakan bu Ella. Tubuhnya benar-benar lelah hari ini dan sepertinya ia butuh waktu untuk beristirahat secepatnya. "Sea, antarkan saya ke kamar," ucap Rayyan memecahkan keheningan di malam ini. Pria itu pun menoleh menatap sang istri yang masih berdiam diri di tempatnya. Tanpa banyak kata Sea pun langsung beringsut dari duduknya, sambil menghentakkan kakinya kesal ia pun berjalan cepat menuju kamarnya di sudut ruangan. "Bapak, tidur di sini. Saya mau tidur di kamar deket dapur," ucap Sea yang sudah berhasil membuka daun pintu berwarna putih tersebut. Ia masih berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat masam. Rayyan menggelengkan kepalanya heran. Ada-ada saja tingkah menggemaskan Sea, bagaimana bisa mereka tidur terpisah sementara keduanya kini telah sah menjadi pasangan suami istri. "Saya nggak kasih izin kamu tidur di luar," cegah Rayyan saat Sea hendak membalikkan tubuhnya keluar kamar. Dengan cepat Rayyan pun mencekal pergelangan tangan istrinya itu. "Kita tidur di sini sama-sama," titahnya dengan tegas. Sea tampak mencebikkan bibirnya kesal. "Bapak, jangan kurang ajar dong. Jangan bikin saya naik darah," ucapnya begitu sewot. Ia mencoba memberontak dan ingin melepaskan genggaman tangan suaminya itu. Tanpa banyak kata Rayyan pun langsung menutup pintu tersebut dengan kaki kanannya, dan tak lama ia mulai menguncinya lalu memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya seraya berkata. "Silahkan kalau kamu mau keluar." Rayyan melepaskan tangan Sea, seolah tanpa beban ia pun langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Sea tampak menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia harus punya stok sabar yang banyak untuk bisa menghadapi sikap Rayyan yang menyebalkan itu. "Ngeselin banget jadi orang," gerutu Sea kesal, ia pun mengalah dan mengambil karpet di samping lemari lalu menggelarnya di bawah ranjang. Hal ini Sea lakukan karena ia tidak ingin tidur seranjang bersama pria itu, meski mereka sudah menikah tapi Sea sama sekali tidak mencintai suaminya itu. "Mau saya gendong atau jalan sendiri," ucap Rayyan dengan mata terpejam, ia tahu betul apa yang telah Sea lakukan saat ini. "Cepat naik ke atas kasur. Saya ngantuk!" Sea kesal lalu menendang karpet itu cukup kencang. Ada saja akal bulus Rayyan yang membuatnya mati kutu. Dari pada di gendong pria itu, lebih baik ia jalan sendiri. Pikir Sea dalam hati. "Iya bawel banget sih!" Meski kesal Sea pun tetap menuruti ucapan suaminya. Perlahan Sea mulai merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi memunggungi suaminya itu. Rasa lelah mulai melanda Sea, perlahan kedua matanya pun mulai terpejam. Waktu tidur Sea pun mulai terusik saat merasakan tangan kekar seseorang memeluk erat perutnya, dengan cepat ia pun langsung membuka kelopak matanya lebar-lebar. "Lepasin, Pak!" "Ssttt, diam jangan teriak nanti di grebek tetangga lagi." Bukan melepaskan Rayyan malah semakin erat memeluk tubuh Sea. Bahkan pria itu tak segan menempelkan hidung mancungnya tepat di ceruk leher istrinya itu sambil terus menghirup aroma vanilla yang menyeruak di tubuh wanitanya. Andai Sea dan dirinya saling mencintai sudah pasti malam pengantin ini akan mereka lewati dengan begitu syahdu. Sayang Rayyan harus berusaha lebih keras agar bisa menaklukkan hati istri cantiknya itu. "Jangan gini, Pak. Lepasin!" Sea terus memberontak bahkan mencoba mendorong tubuh kekar Rayyan dengan sikunya. "Berhenti memanggil saya dengan sebutan bapak," protes Rayyan tegas, dengan cepat ia pun sudah berhasil membalikkan tubuh Sea hingga tepat berada di hadapannya. Sea tampak memutar bola matanya jengah. Baru satu jam menjadi suaminya, ada-ada saja permintaan aneh pria itu. Apa Sea akan betah menyandang status sebagai nyonya Rayyan? "Terus saya harus panggil apa?" tanya Sea yang kini sudah membuang pandangannya ke arah sekitar. Ia tak enggan menatap pria di depannya ini. Rayyan terlihat tidak senang dengan tingkah Sea barusan yang terlihat mengacuhkannya. "Tatap saya kalau sedang bicara!" ucap Rayyan dengan tegas, pria itu menarik dagu sang istri agar menatap dirinya. "Panggil Abang. Mulai hari ini kamu harus panggil saya Abang," titah Rayyan tegas dan tak terbantahkan. "Ab-abang." Sea tampak tergugup saat mengucapkan hal itu, bagaimana tidak? Tangan kanan Rayyan nyatanya sudah bebas menjelajah kemanapun ia mau. Dan hal itu juga yang membuat tubuh Sea menegang seketika. Sudut bibir pun Rayyan ketarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Ia senang melihat wajah Sea yang terlihat gugup seperti itu. "Good wife, and I like it," bisiknya pelan tepat di telinga sang istri. Bibirnya pun tak tinggal diam mengulum lalu menggigit cuping telinga Sea dengan begitu gemas. "Ah, sakit." Sea meringis saat merasakan sedikit kebas di telinganya. Rayyan pun tersenyum. "Kamu mendesah? Mau menggoda Abang, hmm?" ucap Rayyan sambil membelai wajah Sea dengan lembut. Ini pertama kalinya Rayyan berbicara santai pada Sea. Jantung Sea berdetak lebih kencang, nafasnya bahkan terasa sesak nyangkut di tenggorokan. Perasaan apa ini? Kenapa saat bersama Johan ia tak pernah merasakan hal itu. Merasakan dadanya berdebar kencang diiringi oleh ribuan kupu-kupu yang seolah berterbangan di sekitar perutnya. Oh sumpah demi apapun Sea selalu kesulitan bernafas saat berdekatan dengan Rayyan seperti sekarang ini. "Nggak. Aku mau." Ucapan Sea terputus saat mendengar ponselnya di atas nakas berdering, dengan cepat ia pun langsung mengangkat panggilan itu. "Halo Mas. Iya gimana, Mas?" Sea tersenyum senang, ia bahkan menjawab telepon Johan dengan nada yang begitu lembut. Hal itu juga yang berhasil membuat Rayyan menjadi marah juga kesal. Tanpa pikir panjang pria itu langsung mengambil alih ponsel sang istri seraya berkata. "Johan, mulai sekarang Abang minta kamu jangan hubungi Sea lagi," ucap Rayyan to the point tanpa basa-basi. "Bang, lo kok sama cewek gue? Kalian lagi ngapain?" Johan terdengar panik, apalagi saat ini sudah menunjukkan pukul satu malam. Tiba-tiba pikirannya pun mendadak over thinking. "Dengerin gue baik-baik. Mulai hari ini hubungan kalian harus berakhir karena sekarang Sea resmi jadi istri gue. Lo denger Jo. Gue nggak suka Sea berhubungan dengan orang lain, sekalipun itu lo, adik gue sendiri." Tak ingin membuang waktu, Rayyan pun langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN