Rama saat ini terbelalak mendengar ajakanku. Menyiratkan rasa terkejut sekaligus tidak percaya karena aku yang mengatakannya tiba-tiba. Aku, mengajaknya menikah! Aku mengajak Rama menikah secara terang-terangan di hadapan umum. Apakah Rama setuju? Apakah ini terlalu terburu-buru untuknya? Apa boleh buat. Aku benar-benar merasa tak sanggup bila terjadi sesuatu lagi pada kami. "Keduluan, deh! Rasain, lelet amat, sih, kamu!" celetuk seseorang yang ternyata adalah sahabat kami. "Ardi?" tanyaku tak percaya. "Ngapain kamu di sini? Rania?" "Rania di rumah sama mama. Aku terpaksa ke sini karena ada orang minta tolong. Katanya nggak punya uang, habis dirampok dompetnya, mau ngelamar ceweknya. Jadi, terpaksa aku utangin dulu buat beli jimatnya!" jelas Ardi panjang lebar sambil melempar benda kec

