Bab 4: Balapan Liar (2)
Nana membuka map jalanan kota di atas kap mobil milik kekasihnya. Mina, Alex dan Jin mengelilingi map itu. Nana menunjuk pada pertigaan dekat tempat itu lalu menatap Jin.
"Bae, kau jaga di sini." Perintah Nana yang dijawab anggukan kepala oleh kekasihnya. "Mina kau jaga di persimpangan ini." Nana kembali menunjukkan pada jalan yang bercabang tiga.
"Siap, Kak Nana." Mina mengangkat tangannya dan melakukan penghormatan layaknya sedang melakukan upacara bendera. Nana cuma melirik sekilas, memaklumi kalau perempuan yang masih sangat muda itu mungkin saja merindukan masa SMA-nya di Korea sana. Bagaimana tidak? Mina kabur dari rumah karena tidak tahan terhadap tekanan orang tuanya, dan secara kebetulan hampir dijual dalam lelang manusia. Beruntung John menemukannya lebih dulu.
Nana melanjutkan, "Dan Alex … kau berjaga di sekitar sini."
"Ok." Jawab Alex lalu mengecup pipi Mina.
"Aku akan berjaga di sekitar garis finish. Kalian harus segera menghubungiku jika melihat polisi, Ok?" Perempuan itu lantas menggulung map-nya sebelum menatap semua teman-temannya.
"Ok." Jawab Mina dan Alex serentak.
"Kau terlalu serius, Sayang." Protes Jin.
Nana berjalan ke arah Jin lalu mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. "Tenang Bae, setelah balapan malam ini aku akan benar-benar serius padamu."
Blush ... !
Kedua pipi Jin tiba-tiba terasa panas mendengar ucapan Nana. Dia tahu ke arah mana pembicaraan gadis itu. Sejak melihat Nana mengenakan kaos putih dan rok mini putih sudah membuat tubuh Jin terbakar. Ditambah lagi membayangkan apa yang akan Nana lakukan nanti membuat tubuh Jin ingin meledak saking panasnya.
"Ayo kita mulai pertunjukannya." Nana melepaskan pelukannya dan berjalan menuju motocross hitamnya.
Jin mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan tangannya sebelum akhirnya ikut menghampiri motornya yang berwarna putih. Sedangkan Mina duduk di belakang Taehyung dan memeluknya erat.
"Kau tahu, Sayang, dua bukit kembarmu membuat juniorku mengeras."
Mina tertawa mendengar ucapan Taehyung. "Bersabarlah Alex, terlebih kalau tidak mau Raymond marah."
Ketiga motor itu melaju lebih dulu menuju pos mereka masing-masing. Sedangkan di garis awal terlihat tiga mobil sudah berjejer bersiap memulai balapan. John dengan kuda besi hitamnya terlihat santai menginjak gas menimbulkan suara yang keras. Di tengah, August tampak gugup memegang stir mobil Honda Subaru berwarna biru. Dia tidak pernah ikut balapan liar dan sudah dipastikan dia akan kalah. Namun dia tidak akan menyerah guna untuk melancarkan misinya.
Di ujung lainnya, terlihat mobil Ferrari berwarna orange yang dikendarai laki-laki berparas tampan dengan keturunan Amerika. Vernon, nama laki-laki yang selalu menantang John. Meskipun sering kalah namun laki-laki itu tidak pernah menyerah mengganggu John. Lisa, gadis yang saat ini mengenakan tank top merah dan rok mini jeans biru berjalan di depan ketiga mobil. Di tangannya memegang slayer berwarna senada dengan bajunya.
"Dengar para lelaki tampan, tidak ada peraturan dalam balapan ini. Cukup berpikir melaju lebih cepat hingga sampai finish. Kalian siap?" Tanya Lisa seduktif.
Ketiga laki-laki itu menekan gas tanpa membuat mobil mereka maju. Lisa mengangkat tangan kanannya yang memegang slayer merah. "Ready....Go...."
Lisa menurunkan tangannya dan seketika ketiga mobil itu melaju melewati tubuhnya yang ramping. Suara deruman dan suara sorakan penonton meramaikan malam yang cerah itu. Dengan gesit John memainkan setir mobilnya dan melaju mendahului kedua mobil. Dibelakangnya Vernon berusaha menyusul John. Namun berbeda dengan August yang tidak memiliki pengalaman balapan sama sekali. Mobilnya sedikit tertinggal jauh dari kedua mobil di depannya.
Mobil itu melewati pertigaan dimana Mina sudah berada di sana. Gadis itu mengeluarkan ponsel dan menghubungi Alex.
"Mereka sudah melewatiku Taetae." Mina memberitahu Taehyung.
"Ok. Dan sebentar lagi aku akan melewati tubuhmu, Sayang." Mina tersenyum mendengar godaan kekasihnya.
Ketiga mobil itu terus melaju kencang. August berusaha memberanikan diri menginjak rem sehingga menaikkan kecepatan mobilnya. Di depan Vernon berhasil membalap John hingga mobilnya berada tepat di depan mobil pria itu. Dengan ahli John dan Vernon menggerakkan persneling dan menukikkan mobilnya melewati belokan. Berbeda dengan August yang sedikit kewalahan. Tak lama mereka melihat Alex yang melambai ke arah mereka lebih tepatnya ke arah John. Ia lantas cepat-cepat menghubungi Jin yang berada di pos berikutnya.
“Kak Jin, mereka sudah melewatiku. Tugasku sudah selesai ‘kan? Aku mau pergi bersama Mina." Alex sudah menaiki motor sport berwarna biru gelapnya.
"Baiklah.” Jin hampir mematikan sambungan teleponnya, tapi tidak jadi. Buru-buru pria itu melanjutkan, “Eh---Tunggu! Gawat Alex, ada polisi!"
"Sial! Aku akan menjemput Mina kalau begitu." Alex segera memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu melesat pergi.
Hampir sampai di pos Mina terdengar suara sirine polisi. Netra Alex pun menangkap sosok kekasihnya yang sudah berlari dengan menenteng sepatu hak tinggi di tangannya. Tatapan mata mereka saling terpaut dan Alex menganggukkan kepalanya seakan memberi kode pada kekasihnya. Mina tahu apa yang harus dilakukannya. Tangan Alex yang tidak memegang gas motor terulur, dan langsung ditangkap oleh Mina. Dengan gerakan lincah Mina sudah meloncat ke jok belakang Alex. Motor itu segera melaju kencang menghindari para polisi.
Di tempat lain, Jin sudah naik ke atas motornya seraya menunggu kedatangan ketiga mobil itu untuk memberitahu mereka jika polisi datang. Baru saja memikirkan John, ketiga mobil itu muncul dari persimpangan. Jin menggerakan tangannya memutar sebagai tanda jika ada polisi. John yang melihat tanda dari Jin langsung memukul setirnya kesal. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel. Dia menghubungi Nana dan tak lama terdengar suara adiknya yang terdengar panik sekali.
"Apa polisi sudah di sana?" Tanya John.
Suara Nana terdengar panik dan buru-buru, "Hampir, Kak. Ini aku sedang memperingatkan yang lain."
"Apa gadis itu masih di sana?" Tanya John lagi.
Nana tahu siapa gadis yang dimaksud kakaknya. Gadis yang sudah membuat John melakukan balapan. Indera penglihatan wanita itu menangkap sosok Abigail di tengah keributan dan wajahnya tampak bingung. Orang-orang berlarian, dan polisi mulai berdatangan. Nana juga kebingungan. "Ya dia masih di sini. Apa Kakak mau aku membawanya?"
John menarik napas panjang, "Tidak, akan sangat berbahaya untukmu. Kau pergilah dengan Jin. Aku akan segera ke sana"
"As your command, Capt!" Nana menutup sambungan teleponnya.
John menginjak gasnya semakin dalam dan tak peduli lagi mengenai balapan. Bahkan dia tak lagi melihat Vernon di depannya tadi.
* * * *
Bersambung, 1012 kata. Ada yang menantikan kisah Joonie setelah dewasa? staytoon yaaa! Jangan lupa TAP LOVE atau ADD/IKUTI cerita ini dan masukkan ke perpustakaanmu, ya~!