CHAPTER 5: Berkenalan
Malam belum terlalu larut, bahkan belum menyentuh tengah malam. Namun, suara sirine polisi yang tiba-tiba menggema ke segala arah membuat suasana di sekitar menjadi rusuh seketika. Dentuman musik bersuara keras yang berasal dari speaker mobil sport yang tadinya berjajar rapi, langsung bubar tanpa permisi. Beberapa kerumunan yang tengah melempar kartu sambil menenggak minuman keras langsung lari terbirit-b***t. Riuh, ricuh, rusuh. Semua orang berhamburan, berlarian kesana dan kemari. Abigail tampak panik dan bingung harus berlari ke mana. Sebenarnya tidak masalah jika polisi menangkapnya. Toh dia bisa menghubungi Steven untuk membebaskannya. Tapi jika dia tertangkap maka rencana yang sudah hampir berhasil akan hancur berantakan.
"Mengapa Steven tidak menghentikan razia malam ini, sih?" Gerutu Abigail kesal. Dia benar-benar tidak tahu harus pergi kemana. Seolah semua jalan sudah tertutup untuknya.
Namun, tiba-tiba saja suara deruman mobil terdengar melesat cepat. Membelah kerumunan dengan tanpa pandang bulu. Kini, bukan hanya sirine polisi, tetapi begitu Abigail menoleh, ia melihat ada mobil John yang melaju sangat cepat ke arahnya. Tanpa aba-aba lantas lelaki itu menginjak pedal rem secara mendadak, membuat mobil menukik miring dengan sangat ekstrem--dan hebatnya, tidak terbalik sama sekali. Kemiringan yang sekitar empat puluh lima derajat itu sukses menangkap tubuh mungil Abigail. Membawa gadis itu masuk ke dalam mobil John melalui jendela mobil sport-nya.
Tidak perlu menodongkan pistol, mengeluarkan kata-k********r, apalagi mengancam dengan pisau. Bagi gadis itu, dalam sepersekian detik yang menegangkan barusan sudah sukses membuat jantung Abigail hampir lepas dari tempatnya. Lantas sekarang ia tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali duduk diam sambil menenangkan diri. Berusaha meredam degupan jantungnya yang bertalu-talu tanpa henti, bak bom yang siap meledak dalam hitungan mundur. Ini gila, benar-benar gila! Terlebih saat gadis itu menyadari bahwa ia sedang duduk di atas pangkuan John.
"Berpeganglah padaku, Nona. Kecuali kau mau lebam - lebam karena tubuhmu terbentur setir." Perintah John.
Untuk kesekian kalinya ia terkesiap. Bukan hanya karena posisi duduknya yang sangat tidak nyaman dan aneh ini. Melainkan karena Abigail harus bersiap-siap menghadapi uji tingkat kesehatan jantung lainnya, yang tentu saja versi John Raymond. Sambil menarik napas perempuan itu mencoba menuruti perintah John, tapi awalnya Abigail yang meragu hanya memegang pundak pemuda itu. Sampai pedal gas diinjak kuat beberapa detik setelahnya, wanita muda itu baru tahu bahwa John tidak bercanda dengan ucapannya. Mobil melaju dalam kecepatan tinggi secara tiba-tiba, tanpa aba-aba maupun belas kasih pada jantung Abigail yang rasanya semakin renta saja.
Begitu mereka pergi dari sana, beberapa mobil polisi mengejar sambil membunyikan sirine. Mau tak mau, John jadi harus mengikuti permainan mereka. Dengan keahliannya mengendarai mobil, lelaki itu berusaha menghindari beberapa titik dan posko yang biasa digunakan polisi untuk berjaga. Jalanan kota Boston yang mulai lengang itu menjadi arena balap dadakan, karena ajang kejar-kejaran antara John Raymond dan polisi patroli. Lelaki ini jelas pandai sekali mengendalikan kuda besinya.
Mobil yang tadinya melesat lurus itu tiba-tiba menjadi zig - zag. Ada beberapa mobil penduduk sipil yang melaju dengan kecepatan standar, dan langsung disalip oleh John. Abigail bergidik ngeri, tanpa sadar ia memejamkan matanya sambil mengeratkan pelukannya pada pria itu. Entah sejak kapan, tapi tangannya sudah melingkar pada leher John Raymond. Aksi kejar - kejaran yang tidak kenal takut itu akhirnya berhenti saat para polisi mulai menyerah. Tertinggal sangat jauh di belakang mereka. Sampai Abigail sendiri merasakan bahwa suara sirine polisi meredup, sebelum akhirnya hilang sama sekali.
John melirik pada spionnya dan melihat bahwa mobil - mobil patroli yang mengejarnya sudah tidak ada. Masih dalam posisi menyetir, pemuda itu menarik napas dan tiba - tiba saja penciumannya menghirup aroma floral lembut yang menguar dari Abigail. John bahkan bisa mendengar dengan jelas bagaimana kacaunya irama detak jantung gadis ini. Dia pasti sangat ketakutan, pikir John. Tanpa sadar sudut bibir John membentuk kurva yang begitu manis akibat gadis itu. Tak lama kemudian ia memperlambat laju mobil, dan terus berkendara sampai ke tempat tujuannya. Hingga lelaki itu akhirnya menghentikan mobilnya di sebuah garasi. Namun, Abigail masih tak kunjung membuka mata dan melepaskan pelukannya.
"Mau sampai kapan kau menutup mata, Nona?"
Bola mata Abigail terbelalak. Ia terkejut setengah mati dan langsung membuka matanya. Gadis itu mundur dengan gerakan tiba - tiba, dan hampir saja ia hampir saja terjungkal jika saja John tidak menahannya. Wajah terkejut sekaligus syok yang terpampang di wajah Abigail sukses menggelitik perut pria itu. Dia tertawa melihat reaksi gadis itu.
"Astaga!” John tertawa keras. “Astaga, ya ampun!” Dia masih tertawa. “Baru kali ini aku melihat ada gadis yang menutup matanya saat berkendara denganku." Heran John kemudian.
Terpaksa Abigail harus berpegangan pada bahu lebar Jhon Raymond agar tubuhnya tidak limbung lalu jatuh seperti tadi. "Memangnya gadis - gadis yang ikut balapan denganmu tidak takut?”
"Takut? Tentu saja tidak. Mereka pasti merasa senang dan lepas." John masih terkekeh, lesung pipinya tercetak jelas, dan itu membuat lelaki yang seharusnya Abigail buru malah tampak semakin rupawan saja.
Dalam hati Abigail merutuki dirinya sendiri, dasar bodoh! Kau itu sedang menyamar, Abby. Seharusnya kau berakting seperti perempuan nakal yang terbiasa ikut balapan. Mestinya kau tidak takut dan merasa senang saat pria ini mengebut gila - gilaan … tapi kenapa kau malah ketakutan, bahkan sampai memejamkan mata?!
Gadis itu menarik napas, aku pasti ketahuan, pikirnya.
“Sepertinya aku memenangkan balapan tadi.” John tersenyum puas. “Lelaki yang tadi mengganggu dirimu bahkan tidak bisa membalap Vernon. Sudah jelas kalau dia adalah amatir.”
"Eum, yah … terima kasih atas bantuannya--" Abigail terhenti, dia tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menolehkan kepala dan menatap laki-laki itu dengan tatapan agak bingung. Seolah sorot matanya bisa menanyakan ‘Siapa namamu?’ pada pria di depannya.
Hebatnya, John paham maksud dari tatapan itu. "RM. Panggil aku RM."
"Baiklah. Terima kasih karena sudah menolongku, Tuan RM. Aku akan pergi sekarang." Abigail membuka pintu mobil dan berniat untuk turun.
Kaki wanita itu hampir menyentuh tanah, kalau saja John tidak buru-buru mencekal tangannya dan menariknya kembali ke dalam mobil. Lalu mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya lagi seperti semula. Abigail jelas terkejut, dia sama sekali tidak menyangka kalau John akan melakukan hal semacam ini. Bahkan, napasnya tercekat ketika perempuan itu menatap sendiri manik gelap yang tampak jelas dari posisinya sekarang.
“Semua orang harus saling mengasihi dan menyayangi, membantu satu sama lain ketika tertimpa masalah. Hal itu juga yang baru saja aku lakukan, yaitu menyelamatkanmu.” John bicara dengan suara yang tenang dan lembut. “Tapi sayang ….”
“Sa-sayang?” Abigail mengulang ucapan John takut - takut.
"Sayang sekali bahwa pertolonganku tidak gratis, Nona. Jadi kau harus membayarnya." Senyuman maut John yang begitu menawan terpampang jelas di bibirnya.
Glup!!
Abigail menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan John. Entah kenapa ingatannya berlalu pada berpuluh pasangan setengah telanjang yang berduaan dengan seduktif dan melakukan free s*x di tempat terbuka saat balapan belum dimulai. Sial memang … dari semua pemandangan dan ingatan, kenapa ia harus mengingat yang satu itu. Ditambah dengan tatapan seduktif John, posisi yang menggoda, serta ruang gerak yang sempit ini … pikiran Abigail semakin menjadi-jadi.
Apakah secepat ini aku harus kehilangan keperawananku di tangan laki-laki yang baru kutemui ini? Sedih gadis itu dalam hati.
* * * *
Bersambung di 1201 kata, semoga pertemuan mereka enggak ambyar duluan ya, haha. jangan lupa tap LOVE-nya, Kakak. Sekalian add cerita ini ke library kalian ya. Terima kasih sudah membaca, saya terhura, eh-- terharu maksudnya. See you on the next chapter~!