Sebuah Tragedi

2192 Kata
Arslan terus melakukan latihan stamina, ketangkasan, dan konsentrasi. Latihan itu dia lakukan setiap hari, sampai dia menjadi sedikit lebih hebat.   Dua bulan kemudian.   Arslan sedang melakukan istirahat dari latihan yang rutin dia lakukan. Di saat yang bersamaan Moisels datang menghampirinya.   “Arslan!” sapa Moisels.   Arslan menengok ke arah Moisels. “Ohh… Kau rupanya Moisels, ada apa?”   Wajah Moisels menjadi serius. “Ada yang ingin, ku bicarakan.”   “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Arslan. “Besok aku, akan melakukan ekspedisi ke daerah Tonturea,” ungkap Moisels dengan wajah yang sangat serius.   “Wah… Hebat kau bisa dipilih melakukan ekspedisi,” kata Arslan sambil tersenyum, tetapi di wajah Moisels, tidak menunjukan rasa senang.   Moisels hanya terdiam.   “Kenapa kau seperti tidak senang?” Arslan mencoba bertanya alasan dia menjadi murung.   “Huh… Sebenarnya ini adalah ekspedisi yang sangat berbahaya.”   “Berbahaya? Kenapa.”   “Karena ini merupakan salah satu tugas bagi anggota yang mengikuti pelatihan, saat ekspedisi tidak akan ditemani oleh senior Guild yang berpengalaman. Dengan kata lain semua anggota yang masih dalam pelatihan harus membuktikan mereka layak menjadi seorang petualang atau anggota guild nantinya.   “Setiap anggota yang masih dalam masa pelatihan akan beranggota kan hanya 4 sampai 6 orang, dan masing-masing dari setiap anggota yang mengikuti pelatihan berbeda harus mengirim satu atau dua anggota yang sudah mengikuti pelatihan lebih dari satu tahun.”   “Berarti, kau yang kali ini dipilih sebagai wakil dari kelas Blade Master,” cetus Arslan.   “Iya. Aku dan satu orang lagi yaitu Zinber yang harus mewakili Blade Master, sementara untuk anggota lainnya aku tidak tahu. Yang ku takutkan dari ekspedisi ini sering terjadi kejadian yang diluar dugaan, tugas kami hanya melakukan ekspedisi ke suatu wilayah tertentu terus melakukan laporan. Jika ada masalah di wilayah tersebut, biasanya anggota guild yang berada dibidang administrasi akan mengeluarkan Quest bagi para petualang untuk menyelesaikan masalah sesuai laporan yang anggota ekspedisi buat.”   Moisels menjadi diam setelah berbicara, dia merapatkan giginya seperti sangat kesal akan sesuatu.   “Tetapi selalu saja anggota yang melakukan ekspedisi, menghadapi masalah. Di wilayah yang mereka lakukan ekspedisi, sering muncul monster-monster yang berbahaya. Monster itu memiliki kekuatan luarbiasa, itu jauh dari kemampuan para anggota ekspedisi dan akan berakhir pada kematian. Kurangnya pengalaman dan ketrampilan membuat tragedi itu sering terjadi bagi para anggota baru. Bagi mereka yang berhasil melakukan ekspedisi tanpa bertemu dengan monster mereka akan sangat beruntung, namun bagi anggota yang selamat dari tragedi kemunculan monster akan mendapatkan pengalaman dan akan menjadi sebuah kenangan yang buruk atau baik tergantung dari individu itu sendiri.” “Begitu rupanya, itu alasan mu sejak dari tadi terlihat kesal,” kata Arslan sambil menatap mata Moisels.   “Iya, karena dulu kakak ku pernah tewas dalam ekspedisi. Jadi aku agak sedikit kesal, karena dengan kemampuan ku saat ini mungkin aku masih belum bisa mengalahkan monster dengan ukuran besar,” ungkap Moisels dengan memalingkan wajahnya ke arah tanah.   “Hmmm… Sebaiknya kau lakukan apa yang kau bisa, berharap saja nanti saat kau melakukan ekspedisi tidak terjadi hal yang buruk.” Arslan coba untuk membuat Moisels menjadi sedikit lebih percaya diri.   “Iya, kau benar.” Moisels menatap awan dengan wajah yang sangat serius. “Aku berharap nanti semuanya akan baik-baik saja.”   “Sepertinya sudah, saatnya aku melakukan latihan lagi.” Arslan berdiri dan berjalan lalu dia berhenti. “Jika kau berada dalam, kesulitan cobalah untuk berpikir dengan tenang.”   Moisels terdiam mendengar ucapan kalimat Arslan yang terakhir. “Kau benar Arslan, aku akan lebih berusaha untuk tenang dalam situasi apapun.” Moisels tersenyum setelah mengucapkan kalimat itu, sekarang dia jauh lebih baik. Dia memandang Arslan yang berjalan menjauh. “Terimakasih Arslan.”   Arslan melanjutkan latihannya, sekitar 35 menit kemudian. Arslan melihat Moisels dan Zinber, berbicara dengan  Astro dari kejauhan, lalu Moisels dan Zinber pergi keluar area pelatihan. Di saat Moisels berjalan, dia berhenti untuk menatap Arslan yang juga menatapnya dari kejauhan, kemudian dia menunjukan jempol tangannya ke arah Arslan sebagai tanda perpisahan.   Arslan yang melihat itu hanya mengangguk sambil tersenyum.   “Moisels apa yang kau lakukan ayo kita pergi.” Zinber menegur Moisels yang dia lihat sedang berhenti entah sedang melakukan apa.   “Oh maaf.” Lalu Moisels pergi menyusul Zinber yang sudah menegurnya.   “Semoga kau beruntung Moisels, saat kau kembali aku akan menjadi lebih kuat dan hebat,” ungkap Arslan sambil menatap Moisels yang pergi meninggalkan tempat pelatihan Blade Master.   Selama kepergian Moisels, Arslan melanjutkan latihan seperti biasanya. Dia menjadi sedikit kesepian karena selama ini di tempat latihan, hanya Moisels yang akrab dengan Arslan. Arslan tidak mudah untuk bergaul, karena masa lalunya di desa dia sering di jauhi oleh anak-anak seumuran dengannya atau orang-orang dewasa menganggapnya aneh. Akhirnya dia lebih nyaman sendirian.   Dua minggu sudah berlalu. Arslan masih belum juga mendapatkan kabar tentang Moisels, dia menjadi sedikit penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Moisels dan partynya.   “Komandan Astro!” Arslan mendatangi Astro yang biasa melakukan pengawasan latihan.   “Huh…” Astro melihat ke arah Arsaln. “Ohh kau rupanya Arslan, ada apa?” tanya Astro.   “Apakah ada kabar dari rombongan anggota yang melakukan ekspedisi?”   “Hmm sayangnya belum ada, aku tahu kau pasti khawatir dengan Moisels kan.”   “Iya,” jawab Arslan dengan tegas.   “Kau tidak usah khawatir, pasti dia baik-baik saja.” Astro coba menenangkan Arlsan yang khawatir akan keadaan Moisels.   Datang seorang pria anggota guild menghampiri mereka berdua.   “Komandan Astro!” teriak pria itu sambil berjalan dengan cepat menghampiri mereka berdua. “Mmm… Ada apa?” Astro melihat pria itu berjalan tergesa-gesa. “Pasti ada berita penting yang akan dibawanya.”   “Tim ekspedisi sudah kembali, tetapi mereka ditemukan dalam keadaan terluka parah. Dari mereka berlima hanya tiga yang selamat, dan yang selamat mengalami luka parah.”   “APA!” ucap Astro, dia kaget mendengar laporan pria itu.   Arslan terdiam membisu, matanya melotot dan air keringatnya keluar cukup banyak. Dia benar-benar kaget dengan laporan yang dijelaskan pria itu.   “Sekarang mereka berada di ruang medis. Anda diminta untuk ke sana, untuk melihat keadaan mereka.”   “Baik aku akan segera ke sana!” Astro berkata dengan wajah yang serius.   “Kalau begitu aku permisi dulu!” Lalu pria guild yang membawa laporan itu pergi.   “Bagaimana ini Komandan Astro?” tanya Arslan di tengah ketegangan yang mereka rasakan setelah mendengar kabar buruk yang disampaikan pria dari anggota guild.   “Aku akan pergi ke ruang medis untuk melihat keadaan mereka, kau harus tetap berada di sini!”   “Tidak, aku harus ikut ke sana. Aku ingin tahu apakah Moisels termasuk orang yang selamat dari ekspedisi itu.” Arslan menolak Astro yang memintanya untuk tetap berada di tempat pelatihan.   “Baiklah! Ayo kita segera ke sana.” Astro tidak bisa menolak Arslan, karena dia melihat tatapan mata Arslan yang sangat serius. “Aku tidak bisa menghalanginya jika tatapannya sudah berubah menjadi serius.”   Arslan mengangguk.   Lalu mereka pergi ke ruang medis. Di depan pintu ruangan medis, terlihat 2 orang yang merupakan komandan dari divisi Guner Master dan Magic Master. Divisi Guner dipegang oleh Lisa, sementara divisi Magis Master dipegang Vito.   “Astro akhirnya kau datang juga,” ucap Vito yang melihat Astro dan Arslan yang berjalan ke arah mereka.   “Arslan! kau masuk saja duluan, aku akan menyusul mu nanti.” Astro menyuruh Arslan untuk masuk ke ruangan medis, karena dia melihat ada obrolan penting yang akan dibicarakan.   “Baik!”  Arslan masuk ke dalam ruang medis, meninggalkan Astro.   Lalu Astro mulai mendekati para komandan yang sudah berkumpul di sana.   “Astro kenapa kau mengajak anak kecil ke sini.” Lisa berkata dengan heran kepada Astro yang tadi dia lihat mengajak Arslan.   “Dia adalah satu anak yang mengikuti latihan untuk menjadi Blade Master,” jelas Astro.   “Anak sekecil itu, jangan membuat ku tertawa,” ucap Lisa dengan nada mengejek.   “Kau jangan meremehkan setiap anggota, yang berada dalam pengawasan ku.” Astro merasa tersinggung dengan ucapan Lisa yang telah menghina Arslan sebagai salah satu anggota dalam latihan Blade Master.   “Hentikan!” Tiba-tiba terdengar suara keras dan lantang. Ternyata yang bersuara keras dan lantang itu adalah Hugo yang merupakan Komandan tertinggi di Tranquilina.   “Komandan Hugo!” ucap Astro dengan suara yang terkejut ketika melihat Hugo sudah berada di sana.   “Lisa, jangan remehkan seseorang dari penampilannya. Karena kehebatan seseorang tidak selalu berdasarkan penampilan atau umur.” Hugo menegur Lisa yang sudah keterlaluan menilai sesuatu dari penampilan dan umur saja.   “Mmm… Baiklah,” ucap Lisa dengan mengalihkan pandangannya, dia merasa kesal karena ditegur Hugo.   “Komandan Hugo, mengenai situasi para tim ekspedisi,” kata Vito kepada Hugo.   “Benar,” potong Hugo. “Para anggota ekspedisi, diserang oleh Grenzuta Rex.”     Grenzuta merupakan monster seperti T-rex yang memiliki sirip punggung seperti Spinosaurus tetapi bercabang. Grenzuta merupakan monster agresif yang sangat mempertahankan wilayahnya. Siapapun yang memasuki wilayahnya akan dia serang, kemampuan mencium bau mangsanya, yang luar biasa sangat mudah baginya untuk menemukan mangsanya yang bersembunyi.   Grenzuta hidup di daerah hutan atau daerah dingin. Biasanya dia akan melakukan perjalanan demi mendapatkan makanan. Grenzuta termasuk monster yang tidak kenal takut semua monster lain yang dia lihat akan dianggap sebagai musuhnya. Ukuran dari Grenzuta antara 3 sampai 5 meter. Kemampuan yang dia miliki, berupa gigitan yang mematikan dan daya tahan tubuh yang kuat serta pemulihan luka yang sangat singkat.     “Apa!” Astro kaget mendengar ucapan dari Hugo.   “Sering sekali kejadian seperti ini. Rim ekspedisi selalu saja tidak beruntung,” ucap Vito   “Iya, sebelumnya tim ekspedisi juga pernah diserang oleh Trackanto Dragon. Aku semakin khawatir dengan anggota lain yang akan melakukan ekspedisi sebagai tes mereka dalam latihan,” ungkap Hugo dengan wajah yang sedih.   Sementara itu Arslan berada di ruangan medis, dia melewati salah satu ruangan, di saat itu dia melihat Moisels yang sedang terbaring. Arslan langsung masuk dan mendekati Moisels yang sedang memejamkan matanya.   Moisels lalu membuka matanya karena dia merasa ada langkah kaki mendekatinya.   Lalu Moisels melihat Arslan yang sedang melangkah menuju dirinya. “Kau rupanya Arslan.”   “Iya, kenapa keadaan mu menjadi seperti ini Moisels?” tanya Arslan sambil menatap ke seluruh tubuh Moisels. Lengan kanan Moisels terluka dan diperban, kepalanya juga diperban.   “Hehehe… Payah sekali bukan!” kata Moisels sambil tertawa kecil.   Arslan hanya terdiam sambil menatap serius ke arah Moisels.   “Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Arslan.   Moisels terdiam dan merapatkan giginya sebagai tanda kekesalannya.   “Saat kami melakukan, ekspedisi. Kami diserang oleh Grenzuta, monster dengan tingkat kesulitan level A. Zinber tewas dan satu orang dari anggota yang mengikuti pelatihan g*n Master, juga ikut tewas hanya tersisa tiga orang. Yaitu aku, satu dari anggota pemanah dan satu dari anggota magic.” jelas Moisels.   “Begitu, rupanya. Yang penting sekarang kau selamat. Jangan sia-siakan nyawamu.” Arslan coba untuk membuat Moisels kembali semangat.   “Ya kau benar, aku tidak boleh menyia-nyiakan nyawa ku ini.”   Suasana menjadi hening.   “Arslan!” Moisels berkata dengan wajah yang serius.   “Apa!” Arslan menatap Moisels yang menatap dirinya dengan wajah yang penuh keseriusan.   “Jadilah kuat! Dan berjuanglah demi tujuan mu,” ucap Moisels untuk menyemangati Arslan untuk tidak menyerah setelah melihat keadaannya.   “Kau ini bicara apa. Tentu saja aku akan terus berjuang, bahkan aku akan lebih hebat.” Arslan berkata dengan sedikit nada sombong kepada Moisels.   “Bagus kalau begitu.” Moisels tersenyum simpul setelah mendengar ucapan Arslan.     Kemudian Astro datang.   “Komandan Astro,” kata Moisels sambil melihat Astro yang berjalan ke arah mereka.   “Bagaimana keadaan mu? Moisels,” ucap Astro saat melihat Moisels yang terbaring.   “Aku tidak apa-apa.”   “Untuk sekarang kau sebaiknya istirahat dulu.”   “Komandan!” Moisels terlihat sedih di wajahnya.   “Ada apa?” tanya heran Astro setelah melihat raut muka Moisels yang sedih.   “Aku minta maaf, karena aku gagal dalam melakukan ekspedisi.”   “Tidak! kau tidak perlu minta maaf karena ekspedisi yang kau lakukan sudah benar. Jadi sekarang kau hanya perlu beristirahat untuk kembali lagi melakukan latihan.” Astro menjelaskan kepada Moisels supaya dia tidak merasa sedih lagi.   “Baik,” ucap Moisels sambil pandangannya tertunduk.   “Kalau begitu aku dan Arslan harus kembali lagi ke tempat pelatihan.”   “Ehh… tidak terlalu cepat Komandan,” kata Arslan yang cukup heran karena cepat sekali mereka harus kembali ke tempat pelatihan.   “Tidak, akan lebih baik jika di waktu sekarang kau lebih banyak berlatih, nantinya sebagai bekal untuk mu. Jika suatu saat kau melakukan ekspedisi seperti Moisels,” jelas Astro kepada Arslan.   “Kau benar, Komandan. Aku harus banyak berlatih.” Semangat Arslan semakin membara setelah mendengar kata-kata dari Astro.   “Kalau begitu kami permisi dulu, Moisels jaga kesehatan mu.”   “Sampai jumpa lagi Moisels.”   “Iya, berjuanglah Arslan.”     Lalu Arslan dan Astro pergi dan kembali ke tempat latihan.     Malam harinya Arslan merenung di kamarnya sambil menatap bintang dari jendela kamar.   “Ternyata, menjadi seorang kesatria yang memiliki kemampuan hebat itu susah. Tetapi aku tidak akan menyerah, aku pasti akan menjadi seorang kesatria yang benar-benar bisa mengalahkan Dragon yang telah menghancurkan kampung halaman ku.”   Dan semenjak Arslan bertemu dengan Moisels, dia semakin rajin dan tekun dalam berlatih hingga kemampuannya meningkat dengan pesat, bahkan Astro juga mengakui kemampuannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN