PROTES CLARA

2673 Kata
Pintu kaca berwarna buram itu terbuka tiba-tiba. Membuat sepasang mata terbelalak melihat pemandangan yang disuguhkan siang itu. Di depan matanya, Jose yang sedang asyik berpeluh dengan seorang perempuan terlihat terkejut dan segera ambil posisi yang pantas. Sementara tamu yang masuk tanpa ijin itu terlihat merah padam wajahnya. Ia menahan rasa malu dan marah yang seakan hendak meledakkan kepalanya. Gadis itu Clara, yang akhirnya berhasil masuk ke ruangan Jose dengan berbagai argumen dan hampir marah dengan Roza, sekretaris Jose, karena wanita itu keukeuh menghalangi Clara yang juga keukeuh hendak menemui Jose. “Oh, jadi ini yang membuat sekretaris Kakak demikian ngotot melarang aku masuk?” tanya Clara dengan nada ketus sambil menatap perempuan Jose dengan tatapan seolah hendak membunuh. Sementara Cindy, si perempuan teman Jose terlihat gugup dengan mukanya yang merah menahan malu sekaligus jengkel. Tangan wanita itu sibuk membenahi bajunya yang nyaris berantakan karena ulah Jose, tentu saja. Jose hanya menatap tak berdaya ke arah Clara. Tanpa berlama-lama, Jose mengambil langkah bijak, mendekati perempuannya untuk kemudian mengatakan sesuatu. Nyatanya wanita itu buru-buru keluar dari ruangan Jose, diiringi tatapan membunuh yang Clara tunjukkan. Clara yang melihat sikap kakaknya, berdecak sebal. “Jadi begini kelakuan Kakak!?” Clara tak sabar untuk segera menghujani Jose dengan pertanyaan pedas yang mendesak-desak di dalam pikirannya. Jose hanya menghela napas tanpa menjawab apapun. “Kamu ke sini hanya untuk memarahi Kakak, Clara?” Clara mendengus. “Tadinya tidak, tapi Kakak yang membuat aku kecewa! Aku  ke sini hanya ingin memastikan kabar yang aku terima.” “Kabar?” Jose bertanya sambil menyadarkan bahu kokohnya pada sandaran kursi sambil tangannya mengusap dagunya yang mulai tumbuh jambang tipis. “Ya. Kabar pernikahan Kakak.” Clara masih juga tak bisa membuat nadanya sedikit lembut. “Kamu dengar dari siapa kabar itu?” Jose bertanya tenang sambil meraih beberapa lembar berkas yang berserak di atas mejanya. “Tak penting aku tahu dari mana. Yang ingin aku tahu hanya kebenarannya!” Jose tersenyum kemudian mengambil napas untuk menjawab dengan tegas. “Ya, Kakak akan menikah.” Clara melotot. “Jadi benar Kakak akan menikah?” Jose mengerutkan keningnya. “Clara, Kakak sudah menjawabnya, jadi jangan mengulang pertanyaan yang sama karena jawabannya juga akan sama!” “Oke kalau Kakak memang mau menikah, tapi aku berharap bahwa kabar siapa calon istri Kakak itu salah.” “Memangnya siapa yang kamu dengar?” “Jasmine.” Jose terdiam sejenak, menatap Clara dengan pandangan datar. Jose menimbang, alasan terbaik mana yang akan dia ungkapkan pada Clara, agar gadis itu tidak salah paham. “Kak, benar atau tidak?” Clara bertanya sekali lagi pada Jose. Nafas Jose terdengar jelas di telinga Clara. Ia menatap wajah Jose dengan berbagai dugaan. “Sayangnya apa yang kamu dengar adalah benar, Clara..” Jawaban Jose membuat Clara tertegun. Raut wajahnya berubah seketika. “Ya! Kakak akan menikahi Jasmine!” Jose menjawab tegas menunjukkan kemantaban, meski sebenarnya Jose gamang, benarkah langkahnya menikahi gadis belia itu. Mata gadis muda itu membulat, hingga terlihat garis wajahnya menguat. “Jasmine? Aku nggak habis pikir ya, mengapa harus  Jasmine? Dia seumur dengan aku, Kak! Dia bahkan teman sekolah aku,” ucap Clara terdengar protes. Namun Jose diam dan berdiri dari kursi kerjanya dan berdiri di dekat jendela kaca ruangannya. “Aku nggak tahu, apa yang terjadi dengan kalian selepas pulang malam itu. Tapi yang aku tahu, Jasmine jadi aneh sejak hari itu!” “Tak ada yang terjadi diantara Kakak dan Jasmine, Clara...” suara Jose merendah, namun tak mengalihkan pandangan dari berkasnya, ia tidak ingin Clara tahu apa yang ia perbuat pada Jasmine. “Jangan berbohong Kak!” ujar Clara ngotot. Jose jengah hingga laki-laki itu kemudian membalikkan badannya menghadap jendela besar yang memberikan pemandangan kota yang hiruk pikuk, hingga Clara kini hanya melihat punggung Jose. “Kamu keberatan kakak menikah dengan sahabatmu itu?” tanya Jose datar. “Kak, dia masih terlalu muda untuk kakak... kami baru lulus SMA, dan aku sangat tahu cita-cita Jasmine. Ia ingin sekali menjadi seorang dokter anak. Dengan menikah, cita-citanya akan kandas Kak!” cerita Jasmine, dengan napas memburu. Jose menatap lurus ke arah jalanan kota yang ramai. Awan berjalan pelan di angkasa, seperti bayangan Jasmine yang terus bergerak di memori pikirannya. “Kak, tolong Kakak pikirkan lagi... aku tidak ingin kakak menghambat cita-citanya..” ungkap Clara yang tidak tahu apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu dan Jose kakaknya. Jose membalikkan tubuhnya dan mendekati Clara. Tatapan mata Jose berusaha menyakinkan adiknya itu. “Clara, keputusan kakak sudah bulat.” “Taapp..” Jose menaruh telunjuknya ke bibir Clara. “Jasmine masih bisa kuliah.” Jose menjawab santai. Dan melintaslah wajah tirus Jasmine yang dia temui terakhir di rumah sakit. Clara menghela napas panjang. Menatap wajah Jose dengan tatapan jengkel. Pikirannya tidak puas dengan semua jawaban kakaknya itu. Jose kembali ke kursi kerjanya. Clara masih berdiri dengan raut wajah penuh tanya. “Kak...  dia masih sangat muda..” Clara masih belum puas berbicara. “Lalu kenapa, Clara? Apa yang salah?” “Jelas salah! Kakak seperti menikahi adik kakak sendiri! Apa kakak pengidap paedofilia?” tuduh Clara dengan menatap Jose penuh selidik dan dahi berkerut. “Stop, Clara!! Jangan mencerca seolah-olah Kakak yang menginginkan pernikahan ini!” Jose merasa diintimidasi dengan kalimat-kalimat Clara. “Jadi ini keinginan siapa?” “Tanyakan saja pada Jasmine!” Clara terkejut. “Jasmine?” “Siapa lagi? Memangnya berapa Jasmine yang akan kunikahi?” Jose bertanya dengan nada tinggi karena merasa dipojokkan oleh Clara, bahwa seolah-olah dirinyalah tersangka dalam kasus pernikanan mereka.  “Kalau memang tak ada yang kamu bicarakan lagi, sebaiknya kamu pulang, Clara!” “Kakak mengusir aku?” “Ayolah, Clara... di sini banyak sekali pekerjaan yang harus kakak kerjaan dan tak akan selesai jika harus mendengarkanmu mengomeli kakak terus...” Clara merengutkan wajahnya. “Dan pekerjaan Kakak akan beres jika dikerjakan berdua dengan perempuan yang tadi?” Muka Jose merah menahan geram karena Clara selalu punya cara untuk membuatnya marah. “Kamu akan tahu setelah kamu dewasa, Clara.” “Dan sekarang aku  juga sudah dewasa. Jadi akan lebih baik jika Kakak berhenti berpetualang dengan perempuan manapun jika tak ingin pernikahan dengan Jasmine gagal.” “Maksudmu?” “Aku akan memberitahu Jasmine tentang apa yang telah Kakak lakukan dengan perempuan tadi!” Clara mengancam. Jose tersenyum kecil. “Silahkan.. karena Kakak akan memilih tak menikahinya kalau saja itu bisa Kakak lakukan, Clara. Jadi sekarang pulanglah, karena apapun tak akan bisa membuat pernikahan ini gagal. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang, Clara.” “Apa yang sebenarnya Kakak sembunyikan dariku sebenarnya?!” Gadis itu bertanya dengan nada tinggi. “Pulanglah. Kakak sibuk!” Jose mengusir Clara dengan nada yang halus. Dia sungguh tak ingin meladeni kesibukan Clara kali ini. Clara kehabisan akal, dia segera bergegas meninggalkan ruangan Jose dengan membanting pintu. Jose menghela napas setelah Clara keluar dari ruangannya dengan muka yang masam, sangat tak enak dipandang. Memang, ini tak cukup mengerikan. Tapi bagaimanapun Jose sudah berjanji pada mamanya untuk menjaga Clara, semampu yang ia bisa. Tumpukan kertas di meja kerjanya membuat pikiran Jose kusut. Pantaslah jika tidak jarang dia memanggil wanita ke dalam ruangannya. Sesuatu yang manis dari wanita-wanita cantik itu bisa membuang kejenuhan Jose untuk sesaat. “Derrrtttt!!” getar ponsel Jose membuyarkan kantuk Jose. Ada beberapa panggilan di ponselnya yang tidak terdengar olehnya. Dan sebuah pesan dari Cindy. Sayang, aku masih ingin bersamamu... Adikmu itu sangat mengganggu sekali! Jose tersenyum kecut membaca pesan dari Cindy. Cindy salah satu wanita yang tergila-gila padanya, dan Jose memanfaatkan hal itu. Sekali lagi, Jose membaca pesan nakal Cindy di ponselnya, dan mengurungkan niat untuk membalasnya. “Roza, tolong bawakan kopi pahit ke ruangan saya,” pinta Jose dengan menelpon Roza lewat telepon kantor. Tidak terlalu lama, Roza datang dengan secangkir kopi. “Maaf Sir, saya tidak bisa menahan Nona Clara tadi,” Roza meminta maaf atas insiden tadi. Jose mengangguk lalu mempersilahkan Roza kembali bekerja. Aroma kopi itu menelusuk ke hidungnya. Jose menarik napasnya panjang, menghirup dalam aroma pahit dari kopinya. Sekilas wajah Jasmine tergambar di hadapannya. Bibir gadis itu sedang tersenyum dengan tatapan sendu yang ayu. Hei, apa kabar gadis aneh itu sekarang? Jose membathin. Jose menyeruput kopi di cangkir kramik biru muda itu. Keningnya berlipat seketika rasa pahit sampai di lidahnya. Dan ada bayangan wajah tirus yang terbaring pucat di Rumah Sakit kembali melintas di benak Jose, membuat laki-laki itu meringis miris. Jose mengangkat handphone yang sedari tadi tergeletak di atas mejanya. Dipencetnya keypad untuk mencari kontak Jasmine. Namun keraguan kembali memenuhi otaknya ketika kontak Jasmine dia temukan. Telepon atau tidak? Tapi akhirnya Jose menekan tombol back, dia tak jadi menghubungi Jasmine. Ini hanya akan membuat gadis itu merasa diperhatikan. Tidak! Sekecil apapun, Jose tak mau terlibat ketertarikan dengan Jasmine. Cukup Jasmine yang berkubang dalam kekonyolan sikapnya. Tersenyum sedikit sinis mengingat kekonyolan Jasmine, akhirnya laki-laki itu bangkit meninggalkan ruangannya. Dia akan melupakan segala t***k bengek tentang pernikahan gegabah yang telah dia putuskan.   * * * * *   Usai pulang dari kantor Jose, Clara tak langsung pulang. Dia meminta sopirnya untuk mengantarkannya ke rumah Jasmine. Dan Jasmine yang sedang berada pada tahap pemulihan, sedikit terkejut dengan kedatangan Clara. “Hei, Cla? Apa kabar?” Jasmine menyambut Clara dengan sapaan yang sedikit kikuk, karena Clara menatapnya dengan pandangan meneliti. Clara tak menjawab. Dia hanya duduk sambil masih menatap Jasmine. “Aku barusan dari kantor Kak Jose,” Clara membuka pembicaraan yang membuat Jasmine sedikit terkesiap. Dia hanya meremas jarinya yang sedikit basah oleh keringat. “Oh, ya?” jawab Jasmine singkat.. “Ya. Aku menanyakan gosip rencana pernikahan kalian.” Jasmine terdiam sambil menunduk. “Maaf, Cla. Aku belum sempat mengabarkannya padamu.” Hanya itu yang sanggup Jasmine katakan untuk ucapan Clara. “Ini bukan salah kamu, Jasmine. Aku hanya kurang yakin ketika kamu memutuskan untuk menikah dengan Kakakku.” Jasmine mendongak, menatap Clara dengan pandangan penuh tanya. Mengapa Clara meragukan rencana pernikahannya? “Apakah kamu punya alasan yang bisa kuterima mengapa kamu menikah dengan Kak Jose, Jasmine?” Jasmine bingung harus menjawab apa. Tapi hanya satu kalimat yang kini melintas di kepalanya. “Karena aku mencintainya.” Jawaban lirih Jasmine ini sukses membuat Clara melotot tak percaya, bagaimana mungkin Jasmine yang masih muda dan cantik ini bahkan jatuh cinta dengan Jose? “Kalian pernah pacaran di belakangku, Jas?” Jasmine menggeleng. “Kalian tak pernah pacaran dan kamu mengaku bahwa kamu mencintai Kakakku? Jasmine, kita masih muda, Jas! Kita masih bisa kuliah dan mengejar impian, kenapa harus menikah sih? Dan yang kamu cintai mengapa harus Kakakku?” Jasmine menatap Clara. “Memang ada yang salah pada Jose, Cla? Atau karena aku tak pantas untuknya?” Clara gelagapan. Tak mungkin dia mengatakan bahwa Jose masih suka bermain perempuan meskipun dia sudah akan menikah. “Bukan masalah pantas atau tidak pantas, Jasmine. Dia... dia terlalu tua untuk usia kita, Jasmine!” Akhirnya Clara menemukan jawaban yang paling masuk akal. Namun Jasmine hanya tersenyum lembut, membuat Clara semakin tak habis pikir dengan jalan pikiran Jasmine. “Kita juga suatu saat akan tua kan?” “Oke, jadi apa yang sebenarnya terjadi hingga kamu mau menikah dengan Jose? Apakah... apakah kalian sudah make love?” Clara bertanya sedikit vulgar membuat Jasmien bersemu merah karenanya. “Cla? Sungguh, tak terjadi apapun antara aku sama Jose. Aku hanya mencintainya, itu saja.” Habis sudah kalimat Clara untuk mengingatkan bahwa Jose bukan laki-laki yang baik untuk Jasmine. Bukan karena Clara tak menyukai Jasmine untuk menjadi kakak iparnya, tapi Clara justru ragu, apakah Jose pantas untuk perempuan secantik dan sebaik Jasmine. Jose memang bukan laki-laki tua yang bertubuh tambun apalagi buruk rupa. Jose adalah laki-laki rupawan dengan tubuh yang liat dan seksi. Beberapa gambar tato bahkan terlihat menghiasi lengannya yang berotot. Jambangnya tumbuh halus menegaskan bahwa dia selalu rapih dengan penampilannya. Tinggi semampai dengan pinggul seksi dan bahu yang kokoh memungkinkan wanita manapun akan dengan rela bersandar manis di sana. Dan sialnya, salah satu wanita itu adalah Jasmine. Ini satu-satunya hal yang Clara sesalkan. Mengapa harus Jasmine? Mengapa bukan perempuan lain? “Jadi sejauh mana persiapan pernikahan kalian?” Clara mencoba berkompromi dengan keputusan Jose dan Jasmine. Jasmine angkat bahu sambil menggeleng. “Semua sudah diurus sama kakakmu.” Sungguh, Clara terperanjat dengan kesungguhan Jose menangani pernikahannya kali ini, mengingat bagaimana acuhnya Jose pada kalimat pernikahan dan segala macamnya. Meskipun Clara tahu, Jose pasti menyerahkan semuanya pada WO. “Jas... maaf kalau aku meragukan rencana kalian, karena ini memang diluar ekspektasiku.” Jasmine hanya tersenyum. “Aku juga tak menyangka bahwa aku akan menjadi kakak iparmu.” Clara bahkan kecewa melihat kebahagiaan Jasmine menikah dengan Jose, tapi kemudian dia tersenyum. Dia pasti akan mendukung Jasmine, asal Jose serius. “Kamu terlihat kurus? Apakah laki-laki itu tak pernah mengajakmu keluar sekedar untuk makan?” Clara mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk menerima kenyataan bahwa benar Jose akan menikahi Jasmine. Apapun alasannya, Clara berharap semua ini akan membawa sesuatu yang lebih baik untuk Jose. Dan gelengan Jasmine membuat Clara tergelak. “Bergantilah pakaian, aku akan mengajakmu makan di luar. Mulai sekarang, biasakan diri untuk terbiasa dengan Jose yang tak pernah romantis.” ungkap Clara datar, sedikit sebal karena ingat bagaimana tidak manusiawinya kakaknya yang satu itu. Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk.   * * * * *    Mall tak begitu ramai seperti hari minggu. Tapi kafe dimana Clara mengajak Jasmine makan siang kali ini lumayan banyak pembelinya. Selain karena menu yang disuguhkan bercitarasa tinggi, harga yang ditawarkan juga bervariasi. Sebenarnya bukan karena Clara tak memiliki cukup uang, tapi entah mengapa Jasmine ngotot ingin makan di kafe ini. Meski keduanya masih ada sedikit kecanggungan, tapi Jasmine terlihat berusaha tetap seperti semula, sebelum dia dan Jose berencana menikah. Jose? Hanya dengan nama laki-laki itu melintas di kepalanya, Jasmine sudah merasakan desiran yang entah mengapa malah memunculkan senyum di bibirnya yang ranum merah. “Jasmine? Hei, kenapa senyum-senyum sendiri  dari tadi?” Clara mencoba membawa Jasmine untuk kembali pada kenyataan. Jasmine tergagap, kemudian segera membuang senyumnya yang bahkan nyaris tersungging kembali. Clara hanya geleng kepala melihat keanehan demi keanehan yang Jasmine lakukan. “Memang begini ya efek jatuh cinta? Menikah tanpa pacaran, jatuh cinta tanpa alasan, bahkan tersenyum sendiri tanpa sebab?” Clara memandang Jasmine yang juga kebingungan dengan kesimpulan Clara. “Nggak usah dipikirkan, abaikan!” “Apakah aku seperti itu?” Jasmine balik bertanya. “Setidaknya itu kesimpulanku selama beberapa jam bersamamu.” Jasmine hanya mengangkat bahu. Hidangan makanan dan minuman yang mereka pesan, diantar oleh pelayan. Keduanya khusyuk dengan menu masing-masing, tepat ketika di pintu masuk kafe terlihat sepasang manusia yang terlihat mesra dan tidak asing di mata Jasmine. Si perempuan terlihat menggandeng mesra lengan si lelaki sambil sesekali menatap dengan pandangan penuh cinta. Sementara si lelaki yang terlihat demikian modis namun macho terlihat berjalan tenang. Kemeja putih yang dia kenakan masih terlihat rapi, meski tanpa dasi di kerahnya. Bagian lengan yang telah terlipat sampai ke siku mempertontonklan otot-otot yang menonjol dan memberikan kesan liat. Tanpa sengaja Jasmine menatap kedua orang itu, tepat ketika Jose, laki-laki iti, juga menatap tanpa sengaja kepadanya. Rasa terkejut terpias dari wajah Jasmine. Tubuhnya berinteraksi dengan pikirannya membuat rasa sedih naik ke kedua matanya. Lelaki itu membuat hati Jasmine seketika seperti terbakar. Mata Jasmine masih mengekori gerak-gerik kedua pasangan itu, membuat debaran halus tiba-tiba menghantam jantung Jasmine, setiap kali sang pria memandang wanita yang kini duduk didekatnya. Pada saat itu pun Clara sadar akan apa yang diperhatikan Jasmine. Pemandangan tidak sedap ini membuat Jasmine dan Clara seperti berada pada pusaran arus tak terlihat yang membuat keduanya menjadi seperti orang bodoh karena tak bisa mengalihkan pandang satu sama lain. Sementara si wanita cantik yang masih saja menggandeng lengan Jose dalam keadaan duduk, ditatap Clara dengan pandangan membunuh. Diam-diam Clara menggeram, sementara Jasmine sibuk menata hatinya yang kini dipenuhi gerimis. “Mulailah membiasakan diri dengan kelakuan brengseknya, Jasmine,” kata Clara dengan lirih namun geram kemudian menyeret langkah Jasmine meninggalkan kafe meskipun makanan mereka belum habis. Entahlah, mereka tiba-tiba kenyang. Mereka lantas bergegas meninggalkan kafe setelah membayar makanan mereka. Keduanya tak menyadari, di sudut meja yang lain, sepasang mata Jose menatap mereka dengan penuh amarah karena merasa diabaikan.     * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN