“Dia gak terima kalo Nara jadi ketua osis, soalnya Nara cuma di pilih sama guru-guru bukan berdasarkan voting tiap perkelas. Jadi dia ngerasa Nara menang hasil dari dipilih guru. Dan lo tau kan kalo guru-guru udah pilih siswa pasti yang di pilih anak-anak yang berprestasi dalam akademik. Didit gak terima, dia merasa buat jadi ketua osis bukan cuma di liat dari prestasi akademiknya aja melainkan harus ada campur tangan murid sma kristal di sana, bukan cuma berdasarkan penilaian guru,” jelas Dion.
Karin dan Frenya berhenti saling bergosip, ada hal yang lebih menarik dari mana menggosip artis. Perhatian mereka kini sepenuhnya pada pembicaraan anak cowok.
Karin mengerutkan alisnya. “Jadi Nara dipilih berdasarkan penilaian guru? Gak adil banget.” Vino mengangguk setuju.
“Gue juga kalo jadi Didit pasti marah, gak adilah buat angkatan mereka.” Pendapat Vino disetujui oleh mereka semua. Termasuk Azka. Meski cowok itu masih fokus pada permainan PS.
“Udah biarin aja,” acuh Daniel tak ingin di ambil pusing. Menurutnya ini bukan lagi urusan angkatan mereka. Biarlah angkatan kelas sebelas yang mengurusnya.
“Angkatan lo tuh, Nya,” ledek Kevin pada Frenya yang sejak tadi hanya menyimak.
Frenya melipat kedua tangan di bawah dadanya. “Ck, Bodo amat! Anya kan anak terbuang di angkatan.” Ya, memang begitu adanya. Dia yang menjadi juara angkatan tapi Nara lah yang sering di bangga-banggakan guru. Tidak adil.
“Gue heran sama angkatan lo, padahal yang jadi juara angkatan itu kan lo, Nya. Lo juga yang sering ikut olimpiade nasional tapi yang selalu di banggain malah sih Norak,” decak Kevin tak habis pikir dengan guru guru sma Kristal.
“Anya pinter tapi kelakuan mines.” Vino membalas perkataan Kevin. Memperjelas bagian mana yang Frenya tidak di sukai guru.
Kevin tidak terima dengan pernyataan Vino menyela, “Ya gak bisa gitu dong, harusnya Kelakuan itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk membanggakan nilai akademik. Nilai akademik is akademik, akhlak is akhlak.”
“Vino ngomong gitu karena dia juga korban, hahaha.” Dion tertawa, mengusap punggung Vino, seolah berkata sabar dalam usapan itu.
Vino yang tampaknya tak peduli pun berujar. “Sorry gue gak munafik di sekolah. Ya gak, Nya?” Frenya dan Vino saling melirik, mereka tertawa lalu mengepalkan kedua tangan, saling memberi tos jauh.
“Iya dong!”
“Daniel.” Obrolan mereka harus terhenti karena panggil Farrel pada Daniel.
“Daniel! coba liat deh, gue bisa berdiriin botol ini dongg” Farrel yang sejak tadi fokus pada permainan botolnya tiba-tiba berdiri menuju tempat Daniel. Dia mulai menunjukkan keahlian. Ya, menurut Farrel itu adalah bakat.
“Apa-apaa?” Meski Farrel hanya menunjukkan pada Daniel, Namun Kevin, Dion, Karin dan juga Frenya ikut penasaran dengan aksi Farrel. Mereka memperhatikan apa yang akan Farrel lakukan. Sedangkan Vino kembali memfokuskan diri ke pertandingannya dengan Azka.
“Liat nih, ya.” Farrel mencari posisi nyaman untuk berdiri, lalu melempar botol yang airnya sudah butek ke arah meja depan Daniel. Dan berhasil. botolnya berdiri.
Farrel bersorak girang sambil melompat-lompat seperti anak kecil kegirangan mendapatkan hadiah.
“LIAT TUH! BOTOLNYA BERDIRI KAN!” Bangga Farrel. Dagunya ia naikkan.
Kini Dion dan Vino, yang sudah berhenti bermain juga turut melihat ke arah dapur. Kecuali Azka yang hanya melirik tanpa minat, lalu kembali fokus pada ponselnya.
“GUE PUNYA IDE,” sela Kevin. Smirk muncul di bibir tebalnya.
Karin dan Frenya merasakan perasaan yang tidak enak. “Apa?” Jawab mereka berdua.
Kevin menyenggol bahu Frenya dan melihat ke arah Karin. “Siapa yang gak bisa berdiriin botol itu dia harus terima dare, gimana?” Kevin menaik turunkan alisnya, melirik pada teman-teman yang lain.
Tidak buruk. Karin orang pertama yang merespon. “Seru nih kayaknya.” Tatapan Frenya dan Karin saling beradu, mereka saling menaik-turunkan alis. Frenya tahu apa isi pikiran Karin.
Permainan ini pernah mereka lakukan saat di markas, dan kalian bisa menebak siapa yang paling bersemangat dalam permainan? Ya, Frenya.
Sekelebat kenangan memori masa lalu terulang di otak Frenya. “Vino harus ikutan!” Antusianya. Vino yang merasa terpanggil, menatap Frenya dengan tatapan yang sudah tahu maksud Frenya.
“Gak! Dare kalian gak jauh jauh dari Clara.” Perkataan Vino sontak mengundang mereka semua untuk tertawa, termasuk Karin yang sudah pernah di ceritain oleh Azka.
“SUMPAH MUKA LO KOCAK BANGET WAKTU ITU HAHAHA.” Kevin tertawa terpikal-pikal ketika mengingat masa lalu mereka.
Bukan tanpa alasan mereka tertawa. Momen Clara dan Vino akan menjadi momen yang bersejarah bagi mereka. Seorang Vino terkena kotoran hewan?! Sih raja motor yang sangar terkena kotoran hewan? Apa kata anak buahnya. Untung kejadian ini hanya kelas Clara dan kelompok mereka saja yang tahu. Jika tidak maka habis sudah reputasi Vino sebagai fuckboy sma Kristal.
“Sialan lo,” umpat Vino dengan wajah sedikit memerah ia terpaksa kembali mengingat kejadian itu. Vino melempar stick ps punya Azka pada Kevin. Untung Kevin gercep menangkap benda itu.
Farrel mengalihkan topik. “Udah ayo! Karin, Frenya, Dion, Daniel, Vino, azka, harus ikut main juga! Pokoknya semua harus ikut main!” ancamnya.
“Males.” Suara singkat dan datar itu berasal dari Azka. Mereka menoleh serentak ke arah cowok itu. Tentu Farrel yang paling lebay, dia memasang wajah ingin menangis.
Farrel mengerucutkan bibirnya. “Karin! Ajakin Azka main juga dong!” Jurus Farrel keluar.
Karin menyenggol Azka. “Udah ikutin aja kata tuh bocah.” Mata Karin memberi kode pada Azka untuk segera menyetujui jika tidak ingin Farrel menangis saat ini juga.
Azka melirik Farrel, menghela nafas pelan. “Terserah.”
Senyum lebar terbit di wajah bayi seorang Farrel. Dia beralih ke samping kirinya. “Dion ikutan juga, ya.” Farrel berpaling ke Dion.
Dion mengangguk. “Boleh.” Kini Farrel menengok ke arah Daniel.
“Daniel,” panggil Farrel manja. Daniel yang sejak tadi hanya menyimak ikut mengangguk.
“Iya.”
Farrel bersorak riang. “Vino juga ikut kan?” Farrel harap harap cemas.
Baru saja Vino ingin menolak, namun sudah di dului oleh Karin dan Frenya. “Ikut dongggg!” Balas mereka antusias.
Farrel pun tak kalah antusiasnya. “Kevin! ayo bantuin angkat meja, kita duduk di karpet aja biar seru.” Farrel mengangkat meja ruang tamu dengan bantuan Kevin. Hanya mereka yang tampak antusias. Sungguh niat sekali Farrel. Biasanya dia tidak akan mau repot-repot mengangkat barang barang berat, tapi ini? Mood farrel berubah drastis. Sedangkan Dion, Karin, Frenya dan Daniel team netral. Tidak terlalu antusias, namun tidak menolak juga. Berbeda dengan Azka dan Vino yang tampak tidak minat sama sekali dengan permainan ini.