Keseruan di Apartemen

1108 Kata
“Ngomong-ngomong sih ketos kita kemana? Gak keliatan batang hidungnya,” sambung Karin. Pantas saja dia merasa ada yang kurang lengkap, ternyata sih sang ketos dan bucinannya. “Biasa nunggu Ibu negara selesai ekskul,” malas Kevin. Seperti sudah biasa melihat kebucinan mereka yang tak ada habis habisnya. Kan Kevin juga ingin! “Dasar pasangan bucin.” Karin duduk di sofa tengah dengan kaki yang sengaja ia sangga ke meja. Sehingga hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kevin. “ANJIR! KAKI LO BAU! JANGAN DI SEBELAH GUE b**o! TURUNIN!” Bukannya menurunkan kakinya karin justru membawa kakinya ke arah hidung Kevin yang memang sedang duduk di bawah sofa yang sekarang diduduki Karin. Dia menyeringai puas. Makan tuh kaki! “f**k! ANJING KARIN KAKI LO KENA MULUT GUE AAA!” Teriak Kevin kesal. Dia ingin menabok Karin tapi tidak bisa karena perhatiannya masih fokus pada pertandingan. Dia tidak mau kalah lagi dan berakhir di cemooh oleh teman-temannya. Karin, sialan. Karin terbahak melihat ekspresi menderita Kevin. “Gapapa elah, lo orang beruntung yang udah ngerasain t*i gue , Vin.” Kevin melebarkan kedua bola mata, dengan cepat Kevin menoleh ke arah Karin. Terlihat sekali dia sangat shock atas penyataan Karin. “Lo serius?” Tanya Kevin melongo. Karin mengedikkan bahu, acuh. “Gue habis berak.” “s**t! KARIN, SIALAANNN!” Tanpa peduli lagi dengan pertandingannya, Kevin pergi meninggalkan ruang tamu. Tujuannya adalah kamar mandi. Tiba-tiba Kevin merasa mual membayangkan perkataan Karin. Dia harus cepat-cepat membersihkan mulut dari kotoran haram sih Karin! BUNDA MULUT KEVIN TERNODAI! Semua yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Dion bahkan sampai mem-pause permainan mereka. Farrel menyentak-nyentakkan kaki saking tak kuat tertawa. Azka muncul dari balik kamar dengan pakaian kasual. Kaos hitam dan celana santai selutut. “Kenapa?” Pertanyaan itu lebih tepatnya untuk Karin. Dia duduk bersebelahan dengan Karin, mengambil tangan cewek itu lalu memainkannya. Kerjaan Azka jika sedang gabut. “Biasa, Kevin cepirit,” balas Karin seadanya. “Karin berdosa sekali.” Karin terkekeh mendengar perkataan Vino. Salah satu sudut bibir Karin terangkat. “Kalo gue berdosa lu apa, No?” Vino mengedikkan bahu. “Gue menikmati.” Karin dan Vino saling pandang. Mereka terkekeh lalu melakukan tos, dengan kedua tangan mereka kepal. “Boleh juga lo.” *** “HALLO ALL! YUHU! PRINCESS DATENG!” “KARIN! KEMANA AJA! AAA, ANYA KANGEEEEN BANGEET SAMA KARINN, HUAA!” Suara cempreng dan membahana dari seseorang terdengar memenuhi isi ruang tamu. Serentak mereka yang berada di ruang tamu menoleh ke arah sumber suara. Sudah sangat mereka mengenali suara ini. Sih paling heboh, manja, moodyan dan paling penting sih bucinnya Daniel, Alexa Frenya. Mereka akhirnya datang dengan saling menautkan tangan mereka. Kevin menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Bisa gak sih mereka sehari saja tidak membuat Kevin merasa paling jomblo menyedihkan di dunia ini? Mereka bagaikan rambut dan kepala. Tak terpisahkan. “PACARAN TEROSSS!” Frenya menatap Kevin tak suka, tangannya sudah berkacak pinggang. “JOMBLO TEROSS,” Balas Frenya. Vino, Farrel dan Dion tertawa mengejek ke arah Kevin. Merasa seperti boomerang sendiri baginya. Kevin berdecih, melirik sinis pada Frenya. Ingin rasanya dia menjitak kepala Frenya, namun takut jika pawang Frenya akan langsung membogemnya. ”Senjata makan tuan gue ini,” gumam Kevin. Farrel tertawa. “KEVIN MAMPUS!” Kevin melototi Farrel. Dengan berani, Farrel memeletkan lidah. Dia sudah tidak takut lagi, sudah ada Daniel dan Azka di sini. Rasain tuhh! Gak berani macem-macem kan. “Nya, Keysia pulang sama siapa tadi?” Tanya Dion, Dia merubah posisi duduk. Seperti tidak pernah absen Dion selalu menanyakan hal itu pada Frenya. Untung Frenya belum bosan mendengarnya. Namun sekali-kali di jahili tak masalah kan? Senyum jahil terbit di bibir pink milik gadis itu. “Bareng cowok tau, Dion. Tapi Anya gak tau siapa, bukannya Keysia ada gebetan baru, ya?” Frenya pura-pura berpikir. “Yah, Dion sih sad boy.” “Makanya jangan silent treatment mulu jadi orang.” “Butuh deep talk bareng gue gak, Ion?” Dion mengabaikan sindiran dari Kevin, Vino dan Farrel. Wajahnya sama sekali tidak sedang dalam mood bercanda. Cowok itu menghadap sepenuhnya pada Frenya. “Lo serius?” Frenya mengerlingkan sebelah mata pada Dion. “Boong deh, bercanda hahaha. Serius banget muka Ion! Keysia tadi pulang bareng temennya, Anya gak tau siapa namanya tapi kayaknya dia anak baru deh,” cengir Frenya, “Cie, panik. Makanya anak orang jangan di php mulu, Dion. Kasian tau,” goda Frenya. Dion menghela nafas pelan. “Gue gak tau, Nya,” ucapnya ambigu. Frenya menepuk bahu Dion. “Jangan sampe Ion kekurangan vitamin hidup ya,” nasehat Frenya agak sedikit tidak nyambung. Dion yang memang tidak mengerti maksud dari ucapan cewek itu hanya mengangguk saja. Pura-pura mengerti. Kini Frenya berpaling dari Dion menoleh ke arah Karin. Cewek itu sedang menunggu Frenya rupanya. “Karin!” Pekik Frenya. “Hai, Beb.” Karin melambaikan tangan pada Frenya. Karin mengkode Frenya agar duduk di sampingnya. Frenya duduk dengan antusias di sebelah Karin, “Karin kemana aja! gak bilang-bilang ih! jahat banget sih,” sebalnya dengan bibir mengerucut. Karin terkekeh. “Gue udah bilang Azka tapi keknya Azka gak bilang ke kalian,” terang Karin memberi penjelasan membuat Frenya mendengus. Tatapan tajam Frenya layangkan pada Azka. “Azka?” Frenya berdesis. “Ih! salah kalo kasih tau Azka doang. Dia pasti gak mau repot-repot kasih tau kita.” Frenya berbicara sambil menatap Azka, sengaja mengencangkan suara agar Azka peka. “Hm, tau gue tadi mereka ngomong.” Karin menunjuk ke arah Vino, Farrel, Dion dan Kevin. Sedangkan sang pelaku tampak tak tertarik dengan sindiran itu. “Tau gak sih Anya baru aja temenan sama artis selebgram! Cakep bangeet Karinn!” Frenya membuka ponsel miliknya dan menunjukkan akun i********: miliknya. Selagi kedua cewek ini menggosip, Dion menengok ke arah Daniel yang sudah duduk manis di kursi dapur. Ngomong-ngomong ruang santai dan dapur memang saling terhubung, hanya berbatasan dengan dua ubin lantai saja. Tidak ada penghalang antara dapur, ruang santai dan kedua kamar Azka. Kecuali dalam kamar Azka, ya! “El, sih Didit kenapa lagi dia?” Baru saja Daniel duduk di kursi dapur, Dion langsung membahas pertanyaan seputar dunia per-osis an. Dunia Daniel memang tidak jauh-jauh dari organisasi itu. “Masih sama, dia bikin aksi lagi dan sekarang mau libatin kelas sepuluh,” ujar Daniel. Vino melirik Dion. “Emang kenapa sih Didit?” Tanya Vino pada Dion tanpa melirik sih lawan bicaranya. Fokus matanya masih di tv besar. pertandingan antara dirinya dengan Azka terjalin dengan sengit di sini. Dion dan Kevin sudah selesai tanding, hasil pertandingan itu dimenangkan oleh Kevin. Meski begitu dia belum puas karena dia melihat Dion bertanding tanpa minat. Jadi Kevin menilai itu adalah hinaan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN