“MINGGIR NENG CANTIK, AKANG JUSTIN MAU LEWAT!” Teriak Kevin yang berada paling depan barisan jalan mereka.
“TONGKRONGAN KAMI, BUKAN TONGKRONGAN PECUNDANG, SAY WHAT?” Kevin mengarahkan botol minum ke arah sebelah gerombolan orang berkumpul.
”PECUNDANG, PECUNDANG,” Sorak murid-murid yang ikut memperhatikan mereka.
“Kevin halangin pemandangan aja lo, awas kek gue mau liat Azka!”
“Kamu liat aku aja, Sayang. nanti kalo liat aku kamu juga bakal liat masa depan kita di sana.”
“Ogah! Pemandangannya terlalu b***k sama kayak masa depan lo.”
“Anggi, Sialan lo.”
“Biarin wle! sok ganteng sih lo, vin!”
“Anjirlah.”
“Niel ganteng, siapa yang punya, Niel ganteng siapa yang punya, yang punya Rahel cantik.”
“Mimpi lo!”
“Ih Vino, kalo ngomong di filter dulu kek mulut udah kek sebilah pedang. Sakit hatiku mendengarnya.”
“Vino malem minggu main bareng, yuk?”
“Ayo, sejam cukup?” Dion menggeplak kepala Vino.
“Gue aduin ke Clara tau rasa lo.”
“Dion kita’ kan satu ekskul bareng. Kenal gue kan?!”
“Emang Dion kenal lo?” Bisa savage juga sih Farrel. Sepertinya sudah ketularan Vino.
“Farrel baby face banget ih! iri gue.”
“IH! GUE BUKAN BABY! KITA GAK KENAL JANGAN SOK AKRAB!” Meski faktanya begitu tapi dia tidak suka di bilang ‘baby face’
Bukan pertama kalinya jika mereka jalan, pasti ada saja mulut para kaum hawa yang mencoba untuk mengajak ngobrol mereka. Namun seperti biasa pasti hanya Kevin, Vino dan terkadang Farrel yang meladeni para kaum hawa itu. Sedangkan Dion, Daniel dan Azka hanya akan menganggap angin lalu saja.
Bell pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu, saat ini mereka ber-enam sedang berjalan santai di koridor menuju parkiran sekolah. Niat mereka akan pergi ke apartemen Azka.
Biasanya mereka akan nongkrong di rumah Farrel atau di markas mereka yang berada di luar sekolah. Mereka membuat markas itu bukan tanpa tujuan. Markas itu sengaja mereka buat selain untuk tempat berkumpul, markas itu juga sering menjadi tempat pelarian mereka ketika sedang mempunyai masalah. Entah masalah bersama atau pribadi. Yang jelas mereka sedikit mengurangi acara nginap-menginap di rumah yang lain. Bukannya tidak boleh tapi mereka hanya menghindari saja, lebih baik jika mempunyai masalah mereka di sini di banding harus menginap di rumah orang. Markas sudah mereka anggap rumah kedua bagi mereka.
Sampai juga mereka di parkiran. Vino membawa motor sendiri begitu juga dengan Daniel, Dia sepertinya akan telat karena hari ini Frenya ekskul dance, jadi dia akan menunggu gadis itu dulu. Tentu bukan disini melainkan di tempat biasa mereka bertemu ketika ingin pulang bersama.
Sedangkan Azka, dia membawa mobil. Seperti biasa dia akan menjemput Karin terlebih dahulu, sang sahabat kecilnya.
Dion, Farrel dan Kevin mereka satu mobil bersama.
***
“Gimana sih ini, masa kita yang nyampe duluan dari pada si tuan rumah,” Gerutu Kevin. Seperti biasa, mereka pasti yang akan sampai duluan di banding yang lain. Terutama Azka.
Kevin, Farrel dan Dion sudah berada di depan pintu apartemen milik Azka.
“Yaudah kita masuk duluan aja.” Dion menempelkan sidik jarinya. Seketika pintu apartemen terbuka.
Mereka memasuki apartemen bernuansa abu-abu. Terdapat ruang tidur, ruang tamu, ruang santai, dapur dan terakhir ruangan yang mereka tau itu termasuk ruang favorite bagi Azka yaitu, ruangan khusus untuk buku-buku Azka.
Beberapa menit setelah mereka masuk, Vino pun datang. Mereka duduk di ruang santai. Di ruangan ini terdapat satu sofa, dua kursi single di sampingnya, Tv, dan yang tidak boleh tertinggal adalah playstation atau biasa kita sebut PS.
“Tanding lagi?” Kevin menaik turunkan alisnya, menantang Dion dan Vino untuk menyetujui ajakannya.
“Males gue, Noob lo.” Vino melepaskan jaket dari tubuhnya, sebelum ia ikut duduk di bawah karpet bersama dengan Kevin.
“Enak aja, kemaren gue kurang enak badan aja jadi gak fokus. Dion tanding gak?” Kevin mengalihkan perhatian pada Dion yang sudah duduk tenang di kursi single.
“Siapin aja, gue telfon Didit dulu.”
“KOK GUE GAK DI AJAK, KEVIN?!” Farrel yang baru saja balik dari dapur sehabis minum, merengut kesal.
“Lo noob ah, males gue.”
“Lo juga noob, ya! Kemaren baru kalah dari Vino gaya lo udah selangit.” Farrel tidak terima atas penghinaan Kevin.
“Kemaren ‘kan gue sakit. Lo kalo mau ikut nunggu salah satu dari kita kalah dulu.” Kevin mengambil stick ps, lalu yang satu dia berikan pada Dion.
“Ck! Gak deh, Kelamaan mending gak usah!” Farrel merengut kesal. Lebih baik dia main game di ponsel.
“Ya udah sana lo, jangan deket deket gue.” Kevin mendorong Farrel yang tengah duduk di sebelah kanan dirinya.
“LO KIRA GUE VIRUS APA! DASAR BUTIRAN CABE, MUSNAH AJA LO SONO!” Farrel pindah tempat ke kursi single di hadapan Dion. Hatinya sudah mendidih ketika dekat dengan Kevin. Mana tidak ada Daniel dan Azka yang biasa membelanya. Jadilah Farrel menyimpan amarah sendiri.
“HELLO EVERYBODY!”
Farrel yang awalnya ingin bermain game di ponselnya jadi di urungkan ketika mendengar suara orang yang sudah tidak familiar lagi untuknya. “KARIIIN!”
“BAYI BESARR!! AAA! GUE KANGEN BANGET SAMA LO!” Seorang yang di panggil Karin oleh Farrel berlari meninggalkan seorang lagi di belakangnya, menuju ke arah Farrel. Mereka berpelukan saling melepas rindu.
“Farrel kangeeen tauu! Karin kemana aja! Udah sebulan gak ketemu sama Karin, kangen tau.” Karin terkekeh masih mengeratkan pelukan mereka.
“Gue tau lo kangen berat sama gue, makanya gue kesini.” Karin terkekeh melepas pelukan mereka, diikuti Farrel.
“Dari mana aja lo?” Vino ikut menimbrung
Karin melirik Azka yang sudah berdiri di belakangnya. “Azka gak ngasih tau kalian?” Vino, Kevin, Farell dan Dion serempak menggeleng. Karin menatap tajam Azka. Cowok itu malah pergi menuju kamarnya. Karin beralih menatap yang lain lagi.
“Gue abis pulang kampung.” Karin beralih menatap Kevin. “ Muka lo jangan terharu gitu dong, Vin.” Kevin merotasikan bola matanya.
“Emang lo punya kampung?” Ejek Kevin. Dion terkekeh.
“Sialan lo.” Karin hampir saja ingin melempar ponsel ke wajah Kevin jika dia tidak mengingat berapa harga ponsel yang dibelikan oleh Azka.