Akhirnya mie samyang mereka jadi.
Kevin meletakan piring-piring berisi samyang di atas meja. Tidak lupa dengan minuman mereka. Sebelum teman temannya dapat mengambil mie, Kevin sudah lebih dulu mengambil mie samyang yang porsinya sedikit dia banyakin dibanding yang lain. Hal itu yang mengundang pertanyaan di benak Farrel.
Farrel pun merasakan kejanggalan pada mie Kevin, terlihat sekali mie yang Kevin ambil agak lebih banyak porsinya dibanding yang lain. Farrel berdecak merasa tidak terima. Sedangkan yang lain sudah mengetahui perbuatan Kevin hanya bisa pasrah dan tak peduli akan hal itu.
“Kevin curang banget sih! Porsi lo lebih banyak! sini bagi gue.” Farrel menyodorkan piring miliknya kepada Kevin, mengkode Kevin agar diberikan lebih banyak mie. Dengan cepat mie yang ada di tangan Kevin cowok itu sembunyikan di belakang badannya agar Farrel tidak bisa melihat mienya. Padahal Farrel sudah terlanjur melihat.
“Sirik aja lo! Gue kan yang masak, berarti gue juga yang ngatur porsinya! Tenaga gue juga udah ke kuras banyak nih gara-gara berdiri dari tadi cuma buat liat mienya udah masak atau belom, jadi porsi gue harus spesial dong dibanding kalian,” bela Kevin. Dia duduk di sofa yang sama dengan Vino.
“Tapi bumbu gue ‘kan jadinya banyak, Kevin! Nanti gue kepedesan tau!!” Rengeknya. Kevin menaikkan alis.
“Kalo gak suka pedes kenapa lo makan samyang!” Mendengar itu, Farrel mendengus, dia menyentakkan kaki dengan kesal.
“Suka-suka gue lah! Kalo gue makannya dikit-dikit pasti pedes nya berkurang!” Sanggah Farrel membela diri.
Kevin pun tak ingin kalah. “Eh, tukijah! Makanya gue kasih dikit porsinya biar lo cepet abis! Kurang baik apa coba gue.”
“Malah tambah lama gue habisnya! Bumbunya jadi kebanyakan, Kevin!” Rengek Farrel seperti ingin menangis.
“Repot banget sih nih bocah, yaudah sini bumbunya kasih gue aja!” Kesal Kevin. Dia menyodorkan piring miliknya di udara ke arah Farrel. Sejak tadi dia ingin makan tapi tertunda terus karena perdebatan ini. Rasanya ingin Kevin melempari piring ini ke wajah Farrel.
“Berisik banget lo berdua! Tinggal makan aja susah banget,” jengah Vino dengan perdebatan mereka. Kevin tak menggubris perkataan Vino. Dia justru melotot pada Farrel, menyuruh untuk mengalah.
“Gak bisa! Bilangin Kevin dulu itu suruh dia balikin mienya! Nieel! suruh Kevin balikin.” Final Farrel tidak ingin dibantah. Ia beralih pada Daniel, lalu merengek pada cowok itu. Daniel hanya merespon dengan wajah datar namun tetap membalas ucapan Farrel.
“Udah, kasih aja, Vin.” Kali ini Daniel langsung yang meminta sambil menatap Kevin. Cowok itu tak bisa apa-apa jika Daniel sudah berkata dengan tegas seperti itu.
Dia menghela nafas kasar. Dasar ngaduan! Cemen banget! Dia kan jadi harus mengalah. Dengan berat hati Kevin bangkit dari sofa menghampiri sofa yang sedang diduduki Farrel, lalu memberikan sedikit porsinya untuk Farrel dengan wajah masam, sesudahnya Kevin balik ke sofa yang tadi dia duduki.
“Gimana sama Anya? Kalian udah baikan?” Tanya Dion menoleh ke arah Daniel, membuka obrolan baru. Posisi Dion berada di bawah sejajar dengan meja bersama Azka yang sejak tadi diam tenang menikmati makanannya, sedangkan Daniel di atas mereka tepat di tengah di antara Azka dan Dion, duduk sambil melipat kedua kaki.
“Itu sih Tuan Ratu kenapa lagi? Jangan bilang cemburu again sama sih ketua osis baru.” Seolah lupa dengan kekesalan tadi. Kevin ikut nimbrung pembicaraan Dion sambil memakan mie samyangnya.
“Ya apalagi masalah mereka selain orang ketiga? Masalah mereka gak bakal jauh-jauh dari Si Queen muka dua.” Hardik Vino.
Farrel mengangguk setuju dengan pendapat Vino. “Niel gak peka banget sih, Gue aja bisa tau kalo Norak itu munafik tapi Niel malah pura-pura gak peduli. Rasanya mau garuk muka nenek sihir itu, ih kesel.”
Orang yang sejak tadi mereka bicarakan akhirnya membuka suara. “Udah baikan,” singkatnya.
“Namanya Nara, Farrel.” Dion menegur Farrel.
Farrel mengedikkan bahu, acuh. “Biarin aja, emang cocok kok namanya Norak sama kayak penampilannya alay! Norak! Pokonya jauh dari Anya yang cantik, fashionable lagi mirip Jennie Blackpink! Gak kasian apa Daniel, Anya ‘kan jadi setiap hari harus nahan cemburu gara-gara Norak itu, jadi gak tega deh.” Sugguh hati Farrel sangat sensitif. Dia ingin menangis.
“Jangan salahin Nara kalo gitu. Itu udah konsekuensi Anya minta backstreet.” Ucapan Vino ada benarnya juga, Kevin menyetujui pendapat Vino.
“Anya harus nerima konsekuensi dari prinsipnya kalo dia masih mau pertahanin. Btw nanti Anya ikut ke apart Azka? Pasti tuh anak lagi kepanasan kupingnya dari tadi kita omongin.” Kevin menyeringai jahat. Senang sekali jika Frenya menderita.
“Ajak aja, Karin juga dateng.” Akhirnya Azka bersuara setelah makanan yang dia makan sudah habis tak tersisa. Dari tadi dia hanya menyimak pembicaraan tanpa mau repot ikut campur.
Daniel menjawab, “Hm, nanti gue ajak kalo dia mau.”
“Yee, Azka mah pasti gak jauh-jauh dari Karin. Gue yakin seribu persen eh nggak gue yakin satu juta persen jodoh Azka tuh sih Karin, siapa yang mau taruhan sama gue?” Tantang Kevin pada temannya, kecuali Azka sang tokoh utama dalam topik ini.
Seolah bukan dia yang tengah menjadi buah bibir kevin, Azka mengambil buku yang kemarin diberikan Karin padanya, lalu lanjut membaca buku yang sudah sisa setengah halaman ia baca.
Vino orang pertama yang angkat tangan. “Gue.”
Kevin menggeplak punggung Vino. “Sih Babi, yang jelas doonggg! lo pihak mana nih? Dion lo juga ikutan dong. Farrel, Niel, Azka juga kalo mau ikutan boleh, sayang.” Kevin mengerlingkan mata.
“Gue tonjok, mau?” Galak Azka. Farrel tertawa terbahak-bahak. Mampus Kevin.
Kevin menyengir. “Becanda elah, Ka.”
Vino membalas menggeplak punggung Kevin. “Gantian. Gue kontra sama lo. Gue yakin Azka bakal tetep anggep Karin sebagai sahabat gak lebih. Mereka gak ada cocok cocoknya, sama-sama galak kurang melengkapi, jadi Gue kasih tiga motor balap buat taruhan ini.” Vino menyandarkan punggungnya di sofa. Di tangannya sudah bertengger kunci motor miliknya.
”Lo sama Clara juga, sama-sama mulut pedes, berarti lo gak cocok sama dia,” tukas Kevin. Vino yang merasa nama Clara di bawa bawa langsung menegakkan punggungnya.
“Beda Anjing! Gue sama Azka gak bisa di samain.” Kevin mengendikkan bahu.
Dion ikut mengeluarkan kunci mobil. “Gue pro ke Kevin. Gue kasih dua mobil buat taruhan.”
Sementara Farrel nampak berpikir sejenak sebelum merespon taruhan ini. “Gue pilih Kevin juga deh. Gue kasih koleksi photocard kpop gue buat taruhan.” Farrel dengan semangat mengeluarkan beberapa photocard kpop di tas miliknya.
“Buat apa Anjing photocard! itu mah lo doang yang demen. Yang lain ah, jangan photocard atau lo gak usah ikutan taruhan!” Bukannya Kevin meremehkan, tapi pasti orang yang mendapatkan photocard itu akan bingung mau diapakan. Meski bisa di jual tapi mereka tidak tahu ranah itu.
“Ish! Jangan dongg! Gue juga mau ikutan tau! Yaudah nih gue relain jam tangan kesayangan gue buat taruhan.” Farrel melepaskan jam tangan Rolex miliknya, di taruh di atas meja.
“Gue ngikut Vino, Gue kasih satu atm gue buat taruhan.” Daniel mengeluarkan salah satu kartu berwarna hitam miliknya. Hanya dialah yang memihak pada Vino.
Jadi, dua lawan tiga.
“Oke, deal ya! Gue kasih jersey sama dua sepatu jordan!”smirk muncul di bibir Kevin.