Bertemu Lagi

1033 Kata
”Gue harus berdiri di sana sampe jam pelajaran ketiga? Ogah! Yang ada skincare gue luntur lagi. Kalo skincare gue luntur nanti gue jadi keriputan gimana! Nanti gak ada yang mau lagi sama gue. Kalo gak ada yang mau sama gue, nanti gue jadi perawan tua dong! Ih kalo gue jadi perawan tua tanggung jawab loh,” sewot Frenya memutar bola matanya. Daniel menatap intens frenya. “Gue bakal tanggung jawab,” tekan Daniel. Frenya yang tahu maksud tatapan Daniel jadi salah tingkah. Agatha melihat Frenya salah tingkah. Agatha tidak terlalu tahu-menahu tentang hubungan yang terjadi di antara mereka. Menurut desas desus gosip yang beredar, Frenya adalah saudara jauh dari Daniel, namun ada juga yang bilang dia adalah adik kandung Daniel dan ada juga yang bilang mereka adalah saudara dekat. Tapi Agatha selalu melihat tatapan sulit di artikan pada Daniel untuk Frenya. Dari sikap mungkin biasa saja, namun siapa yang bisa membohongi tatapan? Entahlah, Agatha tidak tahu pasti apa hubungan mereka. Mereka misterius, menurut Agatha. Karena tidak ada yang dengan gamblang mengungkapkan status mereka. Bahkan di i********: saja Frenya tidak memposting sama sekali foto Daniel. Malah yang ada hanya foto Azka. Frenya memanyunkan bibir. “Jam pelajaran kedua yayaya, pliss,” mohon Frenya dengan wajah memelasnya. Berharap dengan ini Daniel akan luluh padanya. Daniel menghela nafas. ”Gak ada tawar menawar, Alexa frenya. Ini bukan jual beli.” finalnya dengan mutlak tak terbantahkan. Agatha melihat raut wajah Frenya berubah seperti ingin menangis. Dia jadi tak tega melihatnya. Huh, Frenya tidak suka dengan sikap tegas Daniel jika sudah seperti ini, sulit di ajak kompromi. Selalu tidak bisa di tolak perintahnya, baik Frenya maupun orang lain tanpa terkecuali. Dasar kaku! Nyebelin! Dengan sangat terpaksa, Frenya menghentakkan kaki, berjalan ke bawah tiang bendera, menjalankan Tugas yang di berikan oleh sang tunangan. Mana dia tidak bawa topi, memang benar-benar akan sia-sia skincare dia hari ini. Semoga saja sunscreennya dapat membentengi kulit Frenya lebih lama lagi, dari jahatnya panas matahari. Agatha menyusul Frenya berdiri di samping cewek itu. Bibirnya terangkat otomatis melihat wajah cemberut Frenya. Sungguh menggemaskan. Agatha jadi ingin mencubit pipi itu. Apakah Agatha sudah pernah mendeskripsikan wajah Frenya? Jika belum maka dia akan mendeskripsikan sosok Frenya. Wajah Frenya jika diam akan terlihat judes dan sombong. Mungkin karena matanya yang tajam. Namun jika dia tertawa dan akrab dengan seseorang maka wajah cewek itu juga bisa berubah seratus delapan puluh derajat jadi imut dan menggemaskan. Faktor dari wajahnya yang cubby tapi mungil. Perpaduan yang cocok menurut Agatha dengan sikap Frenya yang kadang ngambekkan, namun tetap imut di saat bersamaan. *** KRINGG!! Akhirnya! Batin Agatha bersorak dengan riang. Tangan yang sejak tadi terus terangkat di samping alis, akhirnya dapat Agatha turunkan. Sungguh terasa sangat kebas ketika dia menurunkan tangan dengan pelan. Dengan lesuh Agatha berjalan ke pinggir lapangan yang tak terkena matahari. Dia duduk sambil memperhatikan Frenya. Eh sebentar, kenapa dia ikut menurunkan tangan? Kenapa dia berjalan ke arah Agatha? Dia belum selesai masa hukumannya, tapi sudah santai berdiri di samping Agatha. ”Kantin yuk,” ajak Frenya. Agatha berkedip dua kali. ”Eh, jangan kak! Nanti kita kena hukuman lagi,” panik Agatha. Frenya berdiri di sini saja sudah membuat Agatha panik, apalagi mereka ke kantin! Astaga, kakak kelas satu ini emang bener-bener yaa. Tak habis pikir Agatha. ”Gapapa, cuma beli minum doang kok. Ayo!! Plis, plis, plis!” Frenya menangkup kedua tangan di depan d**a. Hal itu membuat Agatha berpikir keras. Tidak tega juga sebenarnya melihat wajah Frenya yang sudah memerah. Tapi dia juga takut ketahuan. Aduh gimana dong. Melihat keraguan dalam diri Agatha, Frenya kembali membujuk. “Gak akan lama kok, janji deh.” Agatha berpikir lagi. Gapapa deh, semoga aja gak ada guru-guru. “Em, yaudah deh sebentar aja ya kak.” Frenya mengangguk antusias. ”Ayo kita ke kantin!” Ujarnya penuh semangat. ”Tapi-“ Belum sempat Agatha menjawab, Frenya sudah menarik pergelangan tangan Agatha membuat cewek itu hanya bisa pasrah di tarik oleh Frenya. *** Agatha terpaku. “Em, kak. Aku ke kantin kelas sepuluh aja deh.” Manik mata itu mengamati sekeliling kantin. Tatapan ngeri muncul melihat ada beberapa siswa dan siswi yang sudah mejeng dan duduk di meja kantin ini. Tak habis pikir, Kenapa kantin lantai ini sangat berbeda jauh dengan angkatan Agatha yang sepi. Kantin kelas dua belas sangat ramai, namun tidak seramai saar istirahat, tapi tetap saja ini jam perlajaran. Sekolahnya yang dulu Agatha tidak pernah dia jumpai siswa ataupun siswi yang ke kantin pada saat jam pelajaran di mulai, mereka lebih memilih perpustakaan sebagai tempat persembunyian. Namun di sini berbeda. Atau mungkin karena kantin siswa dan guru di pisah membuat mereka lepas dari pantauan guru guru, berbeda dengan sekolahnya yang dulu, kantin siswa dan guru di gabung dalam satu lantai. Bukan berarti sekolah ini jelek, ya. Menurut Agatha wajar saja jika mereka memisahkan kantin guru dan siswa dan mengenai ketidakdisiplinan, sekolah ini menerapkan sistem seperti di kuliah. Tidak memaksa murid untuk ikut pelajarannya, karena yang membutuhkan nilai di sini adalah murid bukan guru. Namun tetap ada batas ketidakhadiran di setiap mata pelajaran dan itu tergantung dari guru yang mengajar. Namun begitu, entah karena peraturan itu atau memang siswa dan siswi di sini yang cerdas cerdas. Kualitas sekolah ini tidak di bisa ragukan lagi karena siswa dan siswinya yang sangat berkontribusi dengan sekolah di kaca internasional maupun nasional dan di antar sekolah maupun organisasi. Di luar dari keonaran yang dia buat di dalam sekolah, mereka sangat berbakat di bidang masing masing. Berkat adanya ekstrakulikuler yang di adakan sekolah. “Gapapa kok, santai aja mereka gak gigit hehe,” kekeh Frenya yang di balas senyum canggung oleh Agatha. Kini mereka memasuki pintu kantin kelas dua belas lebih dalam lagi. Banyak sepasang mata yang diam-diam sedang memperhatikan Agatha seolah dia telah menganggu wilayah mereka. Karena tidak enak dengan tatapan yang di berikan mereka padanya, Agatha menundukkan kepala menatap lantai kantin yang masih bersih. Dia tidak tahu Frenya akan membawanya kemana, namun Agatha hanya dapat melihat lantai saja, sebab tidak berani mengangkat kepalanya. Frenya menarik tangan Agatha sampai pada meja kantin yang terletak lumayan paling pojok di antara meja yang lain. Frenya menghampiri seseorang yang sejak tadi tengah asik sendiri dengan buku yang dia baca beserta earphone untuk menyumpal telinganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN