Kosentrasi Azka terganggu karena adanya guncangan di depan mejanya. Tangan yang menjadi tumpuan di meja juga ikut berguncang. Kegaduhan apalagi ini. Kaki yang di lentangkan di atas kursi panjang kantin harus dia turunkan ketika melihat dua cewek-cewek sudah berdiri di kursi sebrang. Salah satu dari mereka tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang rapih. Ah dia lagi.
”Jangan ganggu.” Ungkapan itu di tunjukkan untuk Frenya yang memang sengaja menggoyangkan meja di depannya agar Azka menyadari keberadaan mereka berdua.
Dengan cengiran khasnya, Frenya bertanya. “Boleh duduk di sini gak Mas Azka?” Frenya berkedip dua kali, memasang wajah imutnya agar Azka melihatnya walau faktanya Azka malah balik fokus ke buku.
“Nggak,” ucapan singkat Azka tidak membuat senyum Frenya luntur, justru membuat senyum itu tambah lebar.
“Asik! Makasih Mas Azka! Baik deh.” Setelah itu Frenya mengajak Agatha yang sejak tadi hanya terdiam sambil menunduk.
“Ayo, Agatha!”
Agatha duduk dengan gugup di samping Frenya. Kegugupannya bukan tanpa sebab, dia hanya takut Azka marah pada mereka, karena sudah menganggu kegiatan cowok itu. Kenapa Frenya justru mengajaknya duduk di sini, padahal kakak kelas ini sudah menolak tegas mereka. Mana auranya sangat tak enak. Agatha mengangkat kepala, ingin melihat ekspresi cowok itu. Deg! Tubuhnya serasa di sengat listrik melihat Azka juga menatap ke arah Agatha. Nafas, Agatha! Nafas!
“Azka kok ada di sini?” Kesadaran Agatha kembali begitu Frenya membuka obrolan di antara mereka. Cewek itu menunduk.
“Jam kosong. Niel mana?” Ish! Suasana hati Frenya jadi tidak enak jadi inget kejadian tadi! Frenya yakin Daniel pasti marah. Biarin aja, siapa suruh dia tega sekali menghukum Frenya.
“Gak tau,” balasnya dengan muka di tekuk.” Azka diam. Frenya menambahkan ucapannya. “Kemaren Azka nganterin Agatha sampe tujuan kan?” Pertanyaan Frenya hanya di balas anggukan oleh Azka.
“Bagus lah, kirain Azka mau turunin Agatha kayak turunin emak lampir di tengah jalan.” Azka mengendikkan bahu.
Seperti melupakan sesuatu. Agatha mendongak. “Oh iya! Makasih kak udah mau anterin aku.”
Azka menoleh ke arah Agatha sekilas sebelum mengangguk lagi. Agatha tersenyum canggung. Frenya yang memperhatikan balas Azka seketika mendengus pelan.
“Jawab iya kek Azka! Sabar ya Agatha, dia emang suka gitu. Kayaknya emang pembuatan Azka di kutub utara deh. Dingin banget! Udah dingin, kaku, cuek, gak jelas lagi. “ Agatha terkekeh. Frenya setidaknya bisa mencairkan suasana.
***
KRINGG!!!
Bunyi bell kembali terdengar untuk kesekian kalinya. Namun ada sedikit perbedaan di antara yang lain, bell ini agak sedikit panjang yang biasanya akan murid kenali sebagai bell istirahat.
Ketika bell itu sudah berbunyi, maka semua siswa dan siswi sma Kristal akan berbondong-bondong berlari menuju kantin masing masing angkatan. Termasuk Agatha dan teman temannya. Mereka ikut berlari bersama dengan murid yang lain agar dapat memesan makanan terlebih dahulu.
“WOYY GUE DULUAN, AWAS!” Dialah sang pelaku, penyebab teman-temannya berlari tergesa-gesa, bahkan sampai rela berdesak-desakkan dengan murid lain di tangga.
”MINGGIR, MINGGIR, GUE YANG HARUS PERTAMA DAPETIN RISOL AYAM, GAK MAU TAU!” Siswa lain yang terdorong kebelakang karena tangan Gita, berdecak tidak suka. Sementara sang pelaku tampak tak peduli dengan u*****n mereka.
Keysia berdecak meski tak di urung dia juga ikut berlari. “Gita setres! Kita di liatin banyak orang nih.”
”pelan pelan, Gita.” Agatha sudah terlihat ngos-ngosan karena mengejar Gita.
”Ck! Ngerepotin banget nih anak.” Clara pun ikut berlari meski dia sangat tidak niat cara berlarinya.
Kejar-kejaran mereka terjadi di lorong sekitar gedung satu sampai gedung tiga. Banyak yang memperhatikan mereka saat mereka kejar-kejaran di lorong itu. Lorong ini dapat terlihat dari lapangan karena terbuka dan tidak terlalu jauh jaraknya. Sehingga mereka sukses menjadi tontonan bagi orang yang berada di lapangan, termasuk Azka dan teman temannya.
”Mereka kenapa tuh?” Serentak Vino, Dion, Daniel, Farrel dan Azka menoleh ke arah tangan yang di tunjuk Kevin. Mereka memperhatikan ke empat cewek yang berlari itu dengan berbagai ekspresi.
“Oh, Lala gue.” Kevin mengekspresikan diri seperti ingin muntah.
”Apaan sih, Vin. Geli gue.”
“Giliran Clara cepet banget lo, Vin.” Daniel terkekeh.
“Sirik bilang.”
“Pacar Vino kan pacar Farrel juga, ya kan Vino?” Goda Farrel, menaik turunkan alis.
Vino mengangkat tangan kanan, membentuk kepalan. “Gue bogem dulu sini!” Farrel menggeleng kepala beberapa kali dengan takut.
”Vino galak banget sih, cepet tua loh.”
“Pacar? Bukan pacar, Rel. Masih jadi ghostingan haha.” Dion ikut menimpali obrolan mereka, niatnya hanya mengejek, tapi Vino malah melirik sinis Dion.
”Butuh kaca? Biar gue beliin.” Kevin dan Farrel serentak tertawa terbahak-bahak melihat wajah pias Dion. Niat awal Dion untuk menyindir Vino, malah dia juga ikut merasa tersindir. Sialan emang.
***
”PERMISI, PERMISI ANAK PRESIDEN MAU LEWAT.” Gita menerobos kerumunan orang orang yang ingin mengantri makanan.
”BELI SEKALIAN BUAT KITA, GITA.” Teriakan Keysia masih dapat Gita dengar. Cewek itu mengangkat jempol sebagai tanda dia mendengar ucapan Keysia. Walau sudah teriak, suara Keysia masih kalah dengan teriakan murid murid lain yang juga sedang memesan makanan. Untung jarak Gita dan Keysia tidak terlalu jauh jadi masih dapat Gita dengar.
Keysia keluar dari kerumunan yang sedang berdesak-desakan itu. Sesudah bebas dari sana, Keysia mengambil napas panjang, mengingat di sana dia tidak bisa bernapas dengan baik. Dia kembali ke meja yang sudah di tempati oleh Agatha dan Clara. Mereka memutuskan untuk menjaga meja saja karena tidak ingin berdesak-desakkan. Keysia pun sudah menyerah dan menyerahkan semua pada Gita.
“Huh, sesek napas gue,” ujar Keysia dengan napas tersengal-sengal ketika sudah sampai di meja mereka.
Sahabat akan tertawa di atas penderitaan sahabatnya yang lain, itu juga berlaku pada Agatha saat ini. Bukannya kasian temannya sedang lelah, dia malah tertawa melihat ekspresi yang Keysia tampilkan.
Sehabis puas menertawakan temannya, Agatha menyodorkan minum pada Keysia. “Nih minum.” Keysia langsung menerima dan dengan cepat ia meneguk minum itu hingga kandas.
”Pelan-pelan Key, baju lo basah tuh.” Keysia melirik baju seragamnya. Ternyata benar kata Clara, baju seragam Keysia basah sedikit di bagian kerah cewek itu. Keysia menyengir.