Tak Sangka

1081 Kata
”Pelan-pelan Key, baju lo basah tuh.” Keysia melirik baju seragamnya. Ternyata benar kata Clara, baju seragam Keysia basah sedikit di bagian kerah cewek itu. Keysia menyengir. ”Ya ampun! Senin besok udah ulangan ajaa huaaa, baru aja kemaren desember libur sekolah.” ”Udah belajar, Key?” Tanya Agatha, ikut memakan kuaci yang ada di atas meja Clara. Sedangkan sang pemilik hanya bisa menarik napas ketika melihat kuacinya sudah tersisa sedikit. Keysia nih dalangnya! Keysia menggelengkan kepala dengan polos, lalu cengiran dia tampilkan. Agatha menghela napas panjang, seharusnya dia tidak usah bertanya jika sudah tahu apa yang akan di jawab oleh Keysia. “Kebiasaan, yaudah liat punya gue aja nanti.” “Gak akan bisa, Ra. Kita gak akan satu ruangan.” Dahi Agatha mengernyit. Maksudnya gimana? Mereka pisah kelas? Keysia yang melihat kebingungan Agatha langsung menyela. ”Karena lo baru di sini. Jadi gue jelasin nih sistem ujian di sekolah ini.” Keysia memperbaiki posisi duduk. “Sekolah kita beda sama sekolah yang ujiannya di kelas mereka masing-masing, maksud gue waktu lo masuk hari senin nanti lo harus liat dulu di mading utama yang ada di gedung dua. Lo harus cari nama lo dari sekian banyaknya murid sma Kristal ini, tujuannya supaya lo tahu gedung, lantai berapa dan di kelas mana lo akan ujian nanti. Kalau udah sampai lo liat kertas yang di tempel di pintu buat tau di mana tempat lo duduk. Gitu Agatha. Jadi lo sama gue belum tentu satu gedung, bahkan nih ya kita belum tentu satu kelas, apalagi satu bangku! jangan berharap deh, soalnya di samping lo gak bakal mungkin satu angkatan sama lo, palingan kelas dua belas atau kelas sebelas. Itu tergantung dari pihak sekolah yang nentuin. Kalo lo beruntung lo bakal dapet kakak kelas yang royal dan sejurusan sama lo. Biasanya banyak yang nanya sama kakak kelas kalo mereka memang seberuntung itu, bahkan ada yang semua soal di kasih tau jawabannya sama kakak kelas itu. Makanya gue berdoa aja dapet kakak kelas yang gak pelit dan sejurusan sama gue, Amin amin ya Tuhan!” Jelas Keysia panjang lebar. Agatha melongo tak kala dia mengangguk. Baru tahu dia ada peraturan seperti itu. Agatha berusaha memahami ucapan Keysia dan menyimpannya baik-baik di dalam otak untuk hari senin nanti. Inti yang dia dapat Agatha harus ke mading utama yang ada di gedung dua, cari namanya lalu lihat gedung, kelas dan lantai sebagai petunjuk tempatnya berada. Kalau sudah ketemu Agatha harus mengecek tempat duduknya di pintu ruangan atau di jendela. Okee, akan Agatha ingat baik baik. *** Hari senin. Akibat ujian sekolah yang tidak memungkinkan Agatha untuk berangkat naik angkutan umum, lantaran takut telat. Akhirnya dengan berat hati Agatha berangkat memakai mobil pribadinya. Ia memang sangat jarang memakai mobil faktor dari trauma masa lalunya, terkadang Agatha masih gemetar ketika menyetir sendiri. Jadi dia memilih untuk naik bus atau angkot. Kalau mepet seperti ini atau ada hal penting ya terpaksa dia memakai mobil. Agatha turun dari mobil dengan agak tergesa-gesa. Lima belas menit lagi bell masuk akan berbunyi, Agatha harus mencari lokasi ujiannya dengan cepat, kalau tidak ia bisa terlambat ke kelasnya, mana dia belum familiar dengan gedung dua dan gedung tiga, hanya pernah melewati saja. Lorong sepanjang jalan menuju gedung dua sudah mulai sepi murid murid yang berlalu lalang di sana. Hal itu patut Agatha syukuri karena tidak perlu repot repot untuk berdesak-desakkan dengan murid murid untuk melihat mading. Sebenarnya alasan ini juga yang membuat Agatha tidak ingin datang terlalu pagi dan Agatha rasa teman temannya juga datang telat sama sepertinya, terbukti dia masih belum mendapatkan pesan dari mereka. Kaki Agatha berhenti di depan mading utama gedung dua. Dia mulai mencari namanya dan juga teman temannya untuk ia fotokan agar mereka tidak usah lagi datang ke sini dan mencari cari nama mereka. Bola mata agatha menelusuri satu persatu kertas yang tertempel di mading itu. Pada saat bola mata itu berhenti pada kertas ke enam, matanya turun ke bawah untuk melihat namanya di lembaran kertas itu, dan ternyata ada. Di urutan ke tiga puluh dia dapat melihat nama lengkapnya terpajang di sana. Agatha mengangkat ponsel miliknya, lalu mengarahkan kamera ke lembaran kertas yang terdapat nama lengkapnya beserta keterangan tempat ujian Agatha. Setelah berhasil mendapatkan fotonya, dia kembali menyusuri lembaran demi lembaran untuk mencari nama teman temannya satu persatu. Satu persatu dia foto lalu di kirimkan ke grup mereka, mulai dari Clara yang ternyata satu gedung dengan Gita, dan Keysia yang ternyata paling akhir dia temukan namanya. Selesai, Agatha menaruh ponselnya kembali di saku seragamnya, melangkahkan kaki menaiki tangga gedung dua. Ya, Agatha beruntung dia mendapatkan gedung ini dan hanya perlu menaiki tangga saja. Agatha menaiki tangga sampai lantai tiga, menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari kelas sebelas ipa satu. Ruangan ujian Agatha. Dan ternyata kelas itu berada di sayap kanan dari arah tangga naik. Agatha menuju kelas itu dengan langka cepat ketika melirik ke arah jam tangan untuk melihat waktu yang tersisa ternyata waktu sisa tujuh menit lagi saat bell akan berbunyi. Sampai juga Agatha di pintu tempat ujiannya. Cewek itu mencari lagi namanya di kertas yang tertempel di pintu, Agatha melongok untuk memastikan letak meja pengawas dan mencocokkan dengan gambar denah di kertas itu. Semoga saja dia tidak salah, Agatha berada di bangku terakhir arah kanan dekat pintu masuk. Agatha menarik napas panjang sebelum benar benar memasuki ruangan. Setelah beberapa detik akhirnya dengan mantap Agatha memasuki ruangan itu. Agatha berjalan melewati beberapa meja dengan pandangan ke arah lantai, saat telah sampai pada meja paling pojok, Agatha mengangkat kepalanya. Dan seketika manik mata cewek itu bertemu dengan manik mata tajam milik kakak kelas yang sangat Agatha kenali akhir akhir ini. Agatha membeku di tempat. “Kak Azka?” Agatha melihat Azka dengan tenang berdiri dari duduknya. “Masuk.” “Heh, iy-iya kak.” Agatha seperti tersadar dari lamunan, Agatha langsung menurut. Dia melangkahkan kakinya melewati kursi Azka. Namun naas, saat hendak melewati kursi Azka cewek itu harus di hadapkan dengan permasalahan kecil, yaitu gantungan bandul kecil pink miliknya harus tersangkut di kancing pergelangan tangan baju seragam Azka, membuat seragam lengan panjang itu harus terkesiap ke belakang. Sehingga nampak pergelangan tangan Azka terekspose oleh Agatha. Agatha melebarkan bola mata. Terkejut bukan main. Kenapa ada barcode di pergelangan Azka?! Astagaa! Agatha jadi tidak enak. Jantungnya berdetak cepat. Sungguh tidak menyangka dia akan melihat secara langsung hasil dari self harm seseorang. Padahal dia hanya tahu dari berita berita dan TV tentang perbuatan ini tanpa melihat langsung sang korban. Dan sekarang dia melihatnya. DIA MELIHATNYA! AGATHA BENAR-BENAR SHOCK.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN