Kaki Agatha mundur selangkah tanpa di sadar, dengan mata yang masih fokus pada pergelangan tangan cowok itu. Bibirnya kelu tak bisa berkata-kata. Dia- kakak kelas ini, kenapa bisa melakukan hal seperti ini? Tidak sangka Azka yang terlihat tenang dan tidak banyak berbicara bisa melakukan hal seperti itu. Apakah teman temannya tahu? Apakah Clara dan Keysia tahu? Apakah Frenya tahu? Kenapa Agatha tidak menyadari hal ini? Seberapa besar masalah yang tengah di hadapi Azka sampai-sampai dia melukai dirinya sendiri? Kenapa Agatha jadi sedih? Dan peduli?
KRINGG!!!
Azka berdecak kala melihat tingkah ceroboh dari Agatha. Sangat ceroboh. Baru kali ini dia mendapatkan teman sebangku seorang cewek dan langsung mendapatkan cewek ceroboh seperti Agatha? Dia memperbaiki lengan seragamnya. Seperti tidak terjadi apa-apa, Azka berucap dengan acuh. “Cepet,” desaknya karena bell sudah berbunyi.
Agatha kalang kabut ketika menyadari perbuatannya yang sangat tidak sopan. Kenapa dia malah melihat ke arah barcode itu? Bagaimana jika Azka tidak suka ketika dia mengetahui rahasia cowok itu? Apakah ini bisa di sebut rahasia? Agatha jadi gagap sendiri, tidak tahu harus berkata apa. Agatha jadi tidak berani melihat wajah Azka.
Dengan kepala menunduk, Agatha melewati kursi Azka lalu duduk di kursinya. Tepat saat dia duduk, guru pengawas pun masuk ke ruangan mereka.
Murid di sana serentak tertib memberi salam, dan ujian pun di mulai.
Selama ujian mulai, Agatha berusaha untuk fokus pada soal-soal di kertasnya. Mengabaikan atmosfer tegang yang terjadi di antara Agatha dan Azka.
Sementara Azka mulai mengisi soal dengan tenang seolah tidak peduli ada orang yang tahu mengenai self harmnya. Ya mau gimana lagi, dia juga agak menyesal cewek di sebelahnya ini jadi mengetahui rahasia yang selama ini dia tutupi dari orang asing seperti Agatha.
***
Agatha bergegas bangun dari duduk ketika bell sudah berbunyi. “Permisi Kak, aku mau lewat, boleh?” Tanya Agatha dengan sopan namun terselip nada gugup di sana. Agatha meremas seragam yang dia pakai ketika melihat Azka tetap bergeming tidak bangun dari bangkunya ataupun merespon ucapan Agatha. Baru saja dia ingin mengeluarkan suara lagi, tapi justru Agatha harus menahan napas kala Azka bangun dari duduknya dengan tiba-tiba.
Bukan, bukan karena Azka bangun tiba-tiba dan mengagetkannya. Melainkan karena jarak di antara Agatha dan Azka hanya beberapa inci saja, hingga membuat Agatha sulit bernapas dengan normal. Dia bergeming.
Belum juga sempat menormalkan jantungnya, kini Agatha harus merasakan ada yang berterbangan di perutnya. Dengan santainya Azka menghadap Agatha. Mata tajam itu bertubrukkan dengan mata coklat miliknya. Agatha tertegun.
Kenapa jarak sedeket ini malah makin ganteng!
Agatha meneguk ludah dengan susah payah.
Azka menaruh kedua tangan di dalam saku celananya. “Lupain kejadian tadi,” ucap Azka dengan tatapan penuh intimidasi yang sudah pernah Agatha lihat sebelumnya.
Agatha meneguk ludah, reflek mengangguk. “Iy-iya, Kak.”
“Bagus.” Azka berbalik, meninggalkan Agatha dengan perasaan tak karuan.
Agatha menarik napas panjang ketika Azka pergi dari hadapannya. Jantungnya seperti lari maraton tadi. Sungguh tidak aman untuk kesehatannya. Dia memegang belakang lehernya yang tegang. Akibat situasi dan tinggi badan Azka yang mengharuskan Agatha mendongak menatap cowok itu sehingg membuat lehernya agak tegang. Aissh! Ceroboh banget sih!
***
“Gue satu kelas sama Dion.” Pernyataan Keysia membuat mata Gita yang awalnya terlihat biasa saja langsung membelalak. Kebetulan macam apa ini.
“Serius lo? Trus trus gimana? Kok muka lo cemberut gitu? Seneng dong harusnya.” Gita lebih mendekatkan diri pada Keysia.
Keysia mengerucutkan bibir. Kejadian di kelas ujian masih sangat membekas di ingatan Keysia. “Seneng tapi nilai jadi korban! lo tau kan gue belum belajar? Ya Tuhan! Aaaaa! Padahal gue udah seneng banget dapet sekelas bareng Ninie. Gue kira awalnya fine fine aja bisa nyontek sama dia. Eh waktu tau Kak Dion sekelas sama Gue hancur sudah rencana yang udah gue susun tadi pagi. Lo tau kenapa? Karena Kak Dion ngeliat ke arah gue terus! ish! Nyebelin banget’ kan!” Sungut Keysia. Dia suka jika bisa bertemu dengan Dion, namun untuk masalah ruang ujian Keysia sudah berdoa pada Tuhan untuk tidak satu kelas dengannya tapi sepertinya Tuhan tidak berkenan dengan doa Keysia karena tahu niatnya. Kenapa dia harus satu kelas lagi dengan Dion. Lagi? Keysia pernah satu kelas sebelumnya dengan Dion maka dari itu semalaman Keysia tidur larut malam hanya karena memikirkan hal ini. Dan ternyata benar dugaan Keysia. Sungguh menyebalkan. Ah pokoknya dia badmood banget hari ini!
”Hahaha Kasian banget sih lo. Kenapa gak kode-kodean aja sama si Ninie?” Saran Gita. Keysia menggelengkan kepala lesuh.
”Tetep gak bisa, Git. Lo bayangin aja gue sama Ninie jaraknya cuma kehalang Kak Dion. Setiap gue nengok ke dia Kak Dion pun tau.”
Ucapan Keysia membuat Gita berpikir keras. Temen sefruekuensinya sedang tidak baik-baik saja, Gita harus mencari cara agar Keysia bisa aman sama sepertinya. Kalau posisi Gita, dia sudah bersyukur sekali karena posisi menyontek sudah sangat aman. Dia sudah duduk disamping kakak kelas yang sangat baik hati dan selalu membantu Gita jika dia kesusahan atau ingin bertanya. Bahkan yang lebih beruntungnya lagi jika kakak kelas itu sudah selesai dengan soal-soalnya, dia tidak segan-segan untuk meminta soal Gita dan mengoreksi mana jawaban yang benar dan mana jawaban yang salah. Tentu Gita bersyukur sekali. Sangat beruntung, bukan?
”Kak Dion ‘kan kalo ngerjain soal pasti cepet tuh, gimana kalo lo tunggu Kak Dion selesai aja baru lo nyontek ke Ninie.” Keysia berdecak.
“Gak bisa. Kak Dion selesai sih Ninie juga selesai.” Gita mendesah frsutasi.
”Akibat gak belajar gini nih. Belajar makanya, Key. Nyontek mulu kapan suksesnya.” Keysia melempari kulit kuaci yang baru saja dia buka ke arah Gita, namun ternyata meleset.
”Mau gue kasih kaca gak?” Gita tersenyum manis sambil menggeleng pelan.
Gita nyengir. “Gak perlu kok, di rumah udah setumpuk soalnya.”
”Bokap dia kan jualan kaca,” Clara yang sejak tadi hanya memperhatikan kedua cewek itu sambil memakan kuaci akhirnya bersuara juga.
”Produksi kaca,” ralat Gita pada ucapan Clara.
Oh iya, Mereka berada di kantin lantai tiga. Usai ujian, mereka sama sama saling menghampiri satu sama lain. Mulai dari Agatha yang menghampiri Clara yang memang satu gedung dengannya, lalu menghampiri Gita dan yang terakhir mereka menghampiri Keysia.
”Selesai ujian mampir dulu yuk ke toko buku temenin gue, pada mau gak? Ada yang mau gue beli,” Lanjut Gita, menawarkan.
”Mau beli apa emang?” Tanya Keysia.
“Gue mau beli novel keluaran terbaru dari sang penulis tercinta,” ujar Gita dengan antusias. Ya, memang Gita sangat menyukai novel, bahkan sampai memiliki penulis idola.
”Gue ikut deh sekalian beli isi binder gue abis,” kata Keysia.
Clara yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Agatha mengerutkan alis. Tumben sekali dia diam, biasanya Agatha akan menimpali apapun yang menjadi obrolan mereka. Cewek itu terlihat seperti sedang melamunkan sesuatu. Tangan Clara bergerak memegang bahu Agatha. Tapi balasan Agatha hanya melirik Clara sekilas, sebelum kembali melanjutkan lamunannya. Hal itu menambah kekhawatiran Clara. Ada apa dengan Agatha?
“Lo kenapa, Ra? Muka lo keliatan setres banget, ada masalah?” Tanya Clara khawatir. Gita dan Keysia mengalihkan perhatian mereka.