Gita dan Keysia menoleh perhatian pada Agatha sepenuhnya. “Pantes kayak ada yang kurang ternyata nih anak dari tadi diem aja, gak biasanya lo gini, Ra.” Gita pun merasakan kejanggalan yang terjadi pada mereka. Dan ternyata itu dari Agatha. Tangan Gita mendorong bahu Agatha pelan dengan tujuan cewek itu tidak larut dalam lamunannya.
”Lo beneran ada masalah? Cerita aja sama kita, janji deh kita cuma dengerin,” Keysia mengangkat jari telunjuk dan jari tengah, berkata penuh keyakinan.
Agatha menoleh sepenuhnya ke arah mereka. Dia sedang tidak ada masalah, tapi dia serasa memikul beban yang cukup besar. Apakah dia harus memberitahukan pada teman temannya apa yang dia lihat tadi pagi? Jujur Agatha tidak bisa diam saja jika ada hal seperti ini. Dulu jika ada orang yang membully orang lain, maka Agatha tidak segan-segan akan membela seorang yang di bully itu. Agatha tidak takut jika mengangkut kejiwaan seseorang. Dia orang yang sangat peduli dengan lingkungan sekitar dan juga pada perasaan yang sedang orang lain alami. Itu juga yang menjadi alasan Agatha ingin menjadi psikolog hingga saat ini. Jiwa-jiwa peduli itu lagi-lagi keluar kala melihat tangan Azka yang begitu banyak goresan-goresan, yang dimana Agatha sangat tahu itu berasal dari benda tajam. Haduh, mulut Agatha gatal ingin menceritakan hal ini jika di tidak mengingat perkataan Azka tadi pagi yang menyuruhnya untuk melupakan kejadian tadi. Melupakan berarti menganggap itu tidak ada kan? Secara tidak langsung Azka menyuruh Agatha untuk tutup mulut.
”Yeee nih anak malah ngelamun lagi.” Gita menepuk-nepuk bahu Agatha. “Eh, Ra woy! bangun-bangun udah siang.” Gita mencubit pipi Agatha. Sontak membuat Agatha mengaduh kesakitan dan menatap tajam Gita.
”Sakit, Gita!” Rengek Agatha. Gita terkekeh melihat hasil perbuatannya yang memperlihatkan kemerahan sedikit di pipi Agatha.
“Ya, maaf lagian lo sih ngelamun mulu kesabet aja tau rasa lo,” candanya.
Agatha berdesis. “Gue gak papa kok. Gue cu-cuma mikirin em gue mikirin masalah nilai aja, gue banget takut remedial karena ada beberapa soal yang gue jawab asal.” meski terkesan terbata-bata, namun Agatha berusaha berkata dengan tenang agar teman temannya percaya dengan alasan yang di berikan Agatha.
Dengan pertimbangan yang cukup panjang, Agatha memutuskan untuk tidak memberitahukan perihal kejadian tadi pagi. Agatha tidak ingin mengambil resiko jika Agatha memberitahukan pada teman-temannya tapi ternyata mereka baru mengetahui hal itu. Maka bisa menjadi panjang urusan ini. Lebih baik dia simpan sendiri untuk dia pikirkan nanti.
Gita mengibaskan tangan di udara. ”Gue kira kenapa. Sejelek-jeleknya nilai lo itu gak akan lebih rendah dari nilai kita, Agatha Adira. Palingan mentok mentok lo dapet nilai delapan. Nilai paling jelek. Gak kayak gue yang dapet nilai tujuh aja dah sujud syukur,” sungut Gita.
Keysia mendorong bahu Gita. “Jangan ngadu nasib tolong.” Clara tertawa ketika mendengar ucapan Keysia. “Jadi gak ke toko buku? Gue juga ikut nih.” Gita mengangguk.
“Jadi dong. Ra lo juga ikut ya,” ucap Gita penuh harap. Agatha berpikir sebentar.
Kejadian tadi pagi membuat mood Agatha sepanjang hari ini menjadi tidak enak. Dia merasa tidak perlu ikut dengan teman temannya, karena dia ingin tidur cepat.
”Kalian aja deh gue ngantuk banget gara-gara bergadang kemarin.”
***
Entah sudah keberapa kalinya cewek ini mencoret sebuah tulisan, lalu menggelengkan kepala. Seakan-akan berusaha untuk memfokuskan diri untuk menulis beberapa hasil angka di buku tulis. Namun semakin dirinya berusaha untuk fokus, semakin pusing pula otaknya ketika di paksakan. Karena tak mendapatkan titik temu dan tidak ingin memaksa terlalu jauh juga, akhirnya Agatha mengemasi buku-buku dan beberapa pulpen dari atas di meja belajarnya. Kemudian menata barang-barang itu ke tempat semula. Setelah dia melihat meja belajar sudah rapi, Agatha melangkahkan kaki menuju tempat tidur miliknya di pojok ruang dekat dengan jendela.
Tubuh Agatha serasa ringan ketika dia merebahkan diri dengan posisi terlentang. Mata cewek itu menatap atap langit-langit dengan pikirannya mulai melanglang buana kembali ke tempat dia berada pada saat pagi hari. Tempat yang di mana dia bisa melihat sisi lain dari seorang Azka. Bisakah Agatha menyebutnya sisi rapuh Azka? Ralat, tanda sisi rapuh seorang Azka. Ah sial, Agatha jadi berpikir terlalu keras hanya karena masaah orang lain.
Seberapa besar masalah yang Azka hadapi sampai dia mempunyai pikiran untuk melukai dirinya sendiri? Setau Agatha, jika seseorang sampai melukai dirinya sendiri, maka beban di hatinya sudah tidak bisa dia bendung lagi, jadi dia melampiaskan pada badannya agar yang dia rasakan hanya rasa sakit pada badannya saja dan melupakan sejenak rasa yang teramat sakit di hati dia.
Tidak menyangka dia akan bertemu dengan orang orang seperti itu. Bisa di bilang perdana dia melihat tangan seseorang yang terpenuhi dengan gores goresan rapi dan di buat secara sengaja. Dan orang itu Azka, kakak kelas yang dia anggap sombong pada saat pertama kali dia bertemu dan mengobrol dengannya. Kakak kelas yang begitu pendiam, dingin dan misterius. Tapi wajar saja mengingat mungkin saja karena sifat itulah yang membuat Azka menjadi orang yang tertutup dan tidak ingin membagi masalahnya dengan yang lain sehingga dia melampiaskannya pada badan cowok itu. Tapi apa benar dia tidak membagi masalah dengan teman temannya? Agatha rasa itu hal yang mustahil mengingat betapa eratnya pertemanan mereka pasti Azka meski dengan sikap tidak banyak omongnya itu pasti paling tidak sedikit dia berbagi masalahnya pada teman teman cowok itu.
Agatha menghembuskan nafas panjang. Memang susah sih jika seseorang sudah memendam permasalahan yang dia hadapi tanpa ingin berbagi pada sekitar atau mungkin sudah namun masih ada hal yang menjanggal yang orang itu sembunyikan. Tidak mungkin sampai sekarang Azka masih melakukan hal itu jika semua masalahnya sudah dia beri tahu pada teman teman cowok itu.
Pikiran Agatha berpindah pada pertemuan pertama dirinya dengan seorang Azka. Dia tidak akan pernah lupa pada kejadian itu. Kejadian yang dimana pertama kalinya dia bertanya pada seseorang, namun orang itu tidak membalas sama sekali pertanyaannya. Oh, pantas saja dia merasakan sesuatu yang tidak enak dari Azka. Tatapannya pertama kali terlalu mengintimidasi Agatha, mungkin karena dia risih dengan Agatha mungkin. Tapi tidak hanya itu, aura cowok itu juga seperti kelam dan tidak penuh gairah semangat dalam dirinya. Seolah sudah terbiasa dengan semua ini sampai menjalani hidup saja hanya tampak seperti datar datar saja. Dia tidak ingin sok tahu, namun orang pertama kali melihatnya saja sudah tahu hal itu. Atau dia saja yang merasakan hal itu?
Ah! Agatha tidak suka dengan pikirannya sekarang! Kenapa kejadian tadi pagi harus terjadi, sih! Agatha jadi merasa pandangannya pada Azka sekejap berubah begitu saja. Dia tidak tau harus bagaimana, dia harus melakukan apa?
Tunggu dulu, kenapa dia jadi peduli pada cowok itu. Harusnya dia tidak usah memikirkan hal yang bukan urusannya. Ini urusan Azka, bukan Agatha. Jadi untuk apa dia memikirkan cowok itu.
Arggh!
Agatha bangun dari tidurnya, mengubah posisi menjadi duduk. Dia mengacak-ngacak rambut dengan frustasi. Dia tidak suka rasa simpatinya mengalahkan logika dia. Agatha harus apa?! Dia buntu sekarang. Kenapa sih dia harus memikirkan hal ini! Dia tidak bisa di biarkan terus menerus seperti ini.
Agatha terdiam beberapa menit, mencari solusi di dalam otak cantiknya. Ah, Dia sudah melihat kejadian itu. Dia sudah kecemplung, kenapa tidak basah sekalian’ kan? Semoga perumpamaan itu tidak lagi menjadi batu sandungan untuk Agatha. Dia harus mencari tahu setidaknya memancing Azka untuk membuka sedikit saja rahasia yang dia simpan, jadi Agatha tidak lagi merasa terbebani dan bertanya tanya tanpa tahu siapa seseorang ingin menjawab pertanyaannya. Kalau perlu dia menolong Azka jika di perlukan. Namun menolong dengan apa? Entahlah liat nanti saja.