Terpilih?

1017 Kata
“Selamat pagi, Kak Azka.” Azka melirik sinis Agatha yang sudah berdiri di depan pintu ruang ujian dengan senyum konyolnya. Kesambet apa orang ini tiba-tiba menyapanya, biasanya Agatha selalu menghindari dirinya. Bagaimana dia bisa tahu? Ya, dia memperhatikan cewek itu. Cewek paling aneh yang pernah Azka temui. Agatha mengikuti Azka dari belakang. “Kak Azka, udah makan belom? Aku bawain bekel tau buat Kak Azka. Kakak mau makan sekarang atau maka-“ ”Gak usah.” Perkataan singkat itu mampu memberhentikan langkah kaki Agatha menuju meja mereka. Agatha memajukan bibir. “Ish! kenapa judes banget sih kak, niat aku kan baik mau ngasih makanan. Ohh jangan-jangan kakak udah makan ya makanya gak mau?” Yap, pertanyaan Agatha tidak di gubris oleh Azka yang sudah duduk manis di bangku. Untung kelas masih sepi. Ada sih beberapa orang yang sudah datang. Terlihat dari tas di bangku mereka. Tapi mungkin rata-rata dari mereka memilih untuk menemui teman-temannya terlebih dahulu. Tidak menyerah Agatha terus mengajak ngobrol Azka. Dia berdiri tepat di samping meja Azka. ”Azka udah senyum hari ini? Mood kakak gimana hari ini? Kakak baik-baik aja kan? Kakak kenapa datengnya cepet banget?” ”Berisik!” “Astaga! Nyebut kak, nyebut. Yaudah misi dulu kak aku mau lewat.” Azka memberi ruang untuk Agatha lewat. Setelah duduk, Agatha sedikit agak mendekatkan diri dan berbisik pada Azka. “Kak, udah belajar belum? Boleh bantuin aku gak? Hari ini pelajaran fisika. Aku lemah banget di fisika, ya ampun. Nah, denger-denger kan kakak jago fisika, boleh nyontek gak nanti?” “Nggak!” *** Hari ini ujian awal sudah selesai. Seluruh siswa dan siswi kembali belajar seperti semula. Termasuk Agatha. Tidak rela sebenarnya dia. Agatha belum mendapatkan informasi apa-apa dari Azka. Cowok itu hanya diam saja jika di tanya. Sekalinya menjawab pasti tajem banget omongannya. Jadi begini ngomong sama es batu. Ngeri-ngeri sedap ternyata. “AGATHA ADIRA CLARISSA! NAMA LO ADA DI PERWAKILAN LOMBA MATEMATIKA!” “AAA BANGGA BANGET GUE SAMA LO.” Agatha dan Clara yang tengah asik dengan obrolan mereka kini harus di kejutkan dengan suara menggelenggar dari kedua teman mereka. Agatha tersentak kebelakang ketika Gita dengan antusiasnya memeluk Agatha erat, sementara Keysia sudah melompat-lompat kegirangan. Kegiatan kedua insan itu membuat kedua alis Agatha mengerucut ke bawah. Apa tadi mereka bilang? ”Kalian kenapa sih?” Tanya Agatha dengan jengkel. Untung saja jantungnya masih aman. Sungguh teriakan Gita memang benar-benar seperti duplikat toa cempreng. Merusak telinga dan batin. “Lo kepilih jadi perwakilan lomba matematika, Ra!” Antusias Keysia. Agatha bergeming linglung mendengar perkataan Keysia. Dia diam sejenak, sebelum- “APA!! Gak salah denger gue?!” Teriak Agatha ketika baru saja apa yang teman-temannya katakan. Clara merotasikan bola matanya. “Telat lo kagetnya.” Bukannya merasa tersindir justru Agatha menoleh dengan tatapan serius ke Keysia. Bagaimana bisa dia terpilih? Hey, dia masih anak baru tau! ”Kalian lagi bercanda ya?” Reflek Gita melepaskan pelukan pada Agatha. “Ya, gak lah. Kita serius tau!” Agatha meneguk ludah susah payah. Kenapa tib-tiba dia takut? “Haduh, yang lain aja deh gue gak bisa,” ragunya, tak yakin. Gita dari samping Agatha menyeletuk bingung. “Kenapa lo keliatan gak seneng? Seharusnya lo seneng dong, Adira. Dulu setiap ada lomba pasti lo selalu antusias, tapi sekarang? kenapa lo malah jadi gak pede gini?” Keysia menganggukkan kepala setuju dengan pendapat Gita. ”Bener kata Gita. Ini olimpiade internasional loh, INTERNASIONAL!” tekan Keysia di akhir kalimat agar temannya sadar jika dia di pilih bukan di sembarangan olimpiade. Ini sekelas internasional dan biasanya yang terpilih akan sangat beruntung karena hanya setahun sekali. Tapi Agatha yang baru menyandang anak baru sudah bisa mengikuti olimpiade ini. Sungguh beruntung sekali bukan. ”Justru karena internasional gue jadi takut ngecewain pihak sekolah, gue gak sepinter itu buat layak di bawa ke olimpiade internasional. Gue cuma anak baru, Key.” Mulai sifat merendahkan diri Agatha kambuh. Clara menepuk bahu Agatha dua kali. ”Lo gak sebego itu buat merasa gak pantes ikut lomba dan sekolah juga gak buta buat milih orang yang mereka yakin bisa buat sekolah bangga. Lo lupa sekolah kita ini Sma Kristal? Kecuali lo nyogok mungkin harus di pertimbangkan kemampuan lo. Ya meskipun sekolah kita juga gak mungkin nerima sogok-menyogok,” jelas Clara dengan agak sedikit panjang. Agatha merenungkan perkataan Clara dengan baik-baik. Benar juga sih yang di katakan Clara. Masa karena menyandang status anak baru dia jadi insecure dengan diri sendiri. Percaya saja dengan pihak sekolah, jika mereka sudah mempercayai Agatha, masa dia sendiri gak percaya dengan kemampuannya. ”Percaya sama diri lo, Ra. Lo jauh lebih pinter dari yang lo bayangkan. Nanti istirahat lo di suruh ke ruangan Bu Siska gue harap lo mau dateng, kapan lagi lo bisa ikut lomba segede ini ‘kan.” Agatha menganggukan kepala menyetujui perkataan Keysia. Dia harus mencobanya, tidak ada salahnya bukan jika mencoba, jika tidak mencoba maka Agatha tidak akan tahu kemampuan yang dia punya. Soal menang kalah biarlah itu menjadi urusan terakhir. ”Iya, gue coba,” final Agatha dengan tekad dan meyakinkan diri sendiri. *** Istirahat seperti kata Keysia, Agatha pergi ke ruang guru seorang diri. Di sana sudah ada Bu Siska di mejanya, Agatha menghampiri guru itu. ”Selamat pagi, Bu,” sapa Agatha dengan sopan. ”Eh, kamu Agatha, Pagi juga, duduk sini ada yang mau Ibu sampaikan pada Kamu.” Agatha mengangguk sembari duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Bu Siska. ”Kamu sudah tahu mengenai berita jika kamu di pilih sebagai perwakilan lomba matematika?” Lagi Agatha mengangguk. ”Sudah, Bu.” Bu Siska tersenyum senang. ”Kamu sudah siap jika benar benar terpilih?” Agatha tertegun sejenak sebelum meyakinkan dirinya dan menjawab dengan penuh percaya diri. ”Siap, Bu.” Bu Siska tepuk tangan dengan riang. Dia senang anak didiknya dapat berkontrubusi di olimpiade ini. Jangan lupakan jika Bu Siska adalah wali kelas Agatha. “Yaudah kalo gitu Kamu saya tes dulu ya sebagai bahan pembuktian, jika kamu benar benar lulus tes besok akan saya panggil lewat speaker sekolah untuk berkumpul di aula bersama dengan yang lain,” jelas Bu Siska dengan suara lembut khasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN