Berkumpul di Aula

1174 Kata
”Tunggu sebentar, ya.” Agatha mengangguk patuh. Bu Siska bangun dari duduk, berjalan menuju loker khusus guru yang memang satu ruangan dengan ruang guru. Bu Siska mengambil map merah dengan tulisan ‘soal-soal tes’ lalu membuka map itu dan guru itu memilih-miih beberapa soal dan memisahkannya dari map merah. Setelah dia rasa cukup, Bu Siska menaruh kembali map merah itu, mengunci loker lalu berjalan kembali ke meja dengan membawa beberapa soal di dalam genggaman dia. ”Ini soal soal khusus olimpiade, untuk saat ini kamu tidak perlu memakai waktu dalam mengerjakannya karena. Nanti saja waktu itu akan di latih oleh mentor kamu yaitu kelas dua belas yang memang sudah berpengalaman dan juga guru yang bersangkutan pun akan ikut berpartisipasi di dua bulan terakhir saat kamu akan mengikuti olimpiade ini, tes ini tidak usah terburu-buru cukup kamu tenang dan usahain kamu benar semua, kamu mengerti penjelasan Ibu, Agatha?” Agatha lagi-lagi mengangguk, paham. ”Saya mengerti, Bu.” “Baik, ini soal-soalnya, kamu bisa kerjain di sini, tenang Ibu tidak akan mengganggu kamu, karena Ibu akan istirahat sekalian ke ruang kesiswaan untuk membahas kegiatan olimpiade ini. Jadi kalau kamu sudah selesai kamu boleh istirahat sendiri, karena jam kamu pasti akan kepotong banyak. Untuk mengenai jam kelas sudah Ibu ijinkan kepada guru-guru kelas yang akan mengajar di kelas kamu sampai pulang sekolah nanti jadi kamu tidak apa jika tidak masuk kelas sampai pulang sekolah. Oh iya, jika Ibu masih belum datang ke sini, kamu taruh saja soal soal itu di meja Ibu jangan lupa kamu namain, ya,” jelas Bu Siska sambil memberikan beberapa soal itu di hadapan Agatha. Agatha menerima soal soal itu. “Baik, Bu, akan saya kerjakan dengan semaksimal saya.” Bu Siska tersenyum tulus, “Buat bangga sekolah dan Ibu, ya Agatha.” Seperginya Bu Siska, Agatha langsung mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh. Dia sudah bertekad untuk mengerjakan dengan sepenuh hati. Semoga hasilnya memuaskan. *** Seluruh murid bersorak riang lantaran mendengar pengumuman sekolah. Di beritahukan jika guru-guru akan mengadakan rapat minggu ini. Di karenakan minggu ini sekolah sibuk mempersiapkan olimpiade internasional dan juga rencana study tour. Yang artinya kelas akan banyak yang kosong. Yeayyy! Bukahkah itu yang murid-murid inginkan? ”Cek! Cek! Mia satu dua tiga, Cek! Mic!” Ada lagi? Seluruh siswa dan siswi yang berada di kelas mengalihkan perhatian mereka pada speaker kelas. Kini giliran suara Bu Siska yang bersuara, setelah tadi guru bk yang memberi penguman. Jika Bu Siska sudah bersuara di speaker kelas pasti pertanda ada informasi penting yang tidak boleh mereka lewatkan. Suara Bu Siska kembali terdengar. “Ehem, Baik sebelumnya, selamat pagi semua.” Serentak semua murid menjawab sapaan Bu Siska, meski banyak juga yang hanya diam. “ Saya di sini akan membacakan nama-nama murid yang akan ikut olimpiade. Tolong simak ya bagi namanya yang disebut di mohon untuk datang segera ke aula sekolah sekarang juga. Baik akan saya bacakan nama nama tersebut, yang pertama ada Alvino Rakasa kelas dua belas ips empat, Sandra Putri kelas dua belas ips dua, Radit Wahyu kelas sebelas ips satu, Naomi Dewi kelas sepuluh ips satu, Azka Adnan Davino kelas dua belas ipa satu, Daniel Arsenio ketua osis, Alexa Frenya kelas sebelas ipa empat, Agatha Adira Clarissa kelas sepuluh ipa dua, Carel Nathan kelas dua belas bahasa satu, Ferdinand Saputra kelas dua belas bahasa dua, Rahma Putri kelas sebelas bahasa dua, Jordan Saputra kelas sepuluh bahasa tiga,…” “Sekian terimakasih.” Kelas yang awalnya sepi karena menyimak informasi Bu Siska, seketika langsung kembali ramai dengan kegiatan mereka masing-masing. Mulai dari para cowok sibuk dengan bermain game di pojok kelas dan para cewek yang sibuk menggosip dan ada juga yang sedang membuat video video viral di sosmed. Ada juga yang sekedar membuka buku. Gita menepuk bahu Agatha berulang kali ketika speaker kelas tidak lagi berbunyi. Sedang yang punya bahu hanya bisa mengaduh kesakitan. “Nama lo di panggil, Ra!” Antusias Gita dengan nada histeris. Agatha pun sudah tahu namanya di sebut tapi dia hanya bergeming. “Vino ikut olimpiade apa dia, La?” Belum sempat Gita mendengar jawaban Clara, tiba-tiba meja di hadapan Gita bergerak mundur mendekati cewek itu, waktu Gita melihat ternyata pelakunya adalah Agatha. Agatha bangun dari duduknya. “Gue turun dulu ya.” Agatha melirik ke arah Gita, Keysia dan Clara. Gita dan Keysia menganggukkan kepala. “Nitip salam buat Kak Vino, bilangin kata Clara dia kangen sama dia,” jahil Gita yang tidak di hiraukan oleh Clara. “Yaudah, bye.” Agatha berlalu dari kelas mereka. Ketika Agatha pergi, Gita kembali melirik Clara yang berada di sampingnya. ”Eh, lo belum jawab pertanyaan gue, Clara,” rengek Gita. Dengan enggan Clara berkata, ”Ekonomi,” singkat Clara yang tampak acuh. Dia sedang menguteki kuku cantiknya dengan warna pink emas. Apakah boleh? Tentu boleh, di sekolah ini tidak di larang menguteki kuku mereka asal tidak memanjangkan kuku atau memberikan kuku kuku palsu yang panjang pada kuku mereka tidak masalah. “Cie tauan aja doi mau olimpiade.” Keysia menghadap ke belakang, lalu dengan usil dia ingin mencolek dagu Clara untung saja cewek itu dapat mengelak sebelum sempat Keysia meraihnya. “Apaansih!” Jutek Clara. Keysia memicingkan mata ke arah Clara, tidak lupa dia tersenyum konyol saat melihat ekspresi Clara yang terlihat sekali seperti sedang menyembunyikan sesuatu. ”Lo sembunyiin sesuatu ya tentang Vino,” tuduh Keysia. Gita yang berada di samping Clara ikut memicingkan mata kala Keysia berkata demikian. ”Lo sembunyiin apa, La?” Timpal Gita. Clara melototi kedua temannya. ”Diem ya lo pada, kuku gue berantakan ini!” Keysia dan Gita secara serempak mengangkat tangan tidak ikut campur. Dasar nenek lampir. ”Galak banget Kanjeng Queen,” ledek Gita. Clara berdesis. Gita dan Keysia tertawa. Mereka senang sekali menggoda Clara. *** Agatha menuruni tangga menuju ke arah aula sekolah yang satu gedung dengan angkatan Agatha yaitu gedung satu. Kalau dulu dia masih kesasar akibat luasnya sekolah ini, sekarang dia sudah mulai menyesuaikan diri dan berusaha mengingat baik baik nama tempat tempat yang ada di sekolah ini. Sampailah Agatha di ruang aula. Saat dia akan membuka pintu dan masuk ke dalam aula itu, betapa kagetnya Agatha ketika melihat lumayan banyak murid murid ada di sana, agak jauh dari ekspetasi Agatha. Apakah sebanyak ini akan mengikuti olimpiade semua? Agatha mematung di depan pintu masuk aula. ”Eh Agatha ngapain di depan pintu? Nanti ke sambet setan loh! Ih serem.” Agatha terperanjat ketika Frenya memegang bahu cewek itu. ”Kak Anya, astaga aku kaget tauu,” gerutu Agatha. Frenya terkekeh. ”Ya maaf. Lagian Agatha ngapain diem doang di depan pintu. Bumali tau kalo kata Farrel.” Frenya mengambil tangan Agatha, lalu membawa cewek itu untuk ikut masuk bersamanya. “Mending masuk bareng Anya.” Agatha menghela nafas sambil pasrah di tarik oleh Frenya. “Untung ada kakak. Aku sebenernya takut. Di sini terlalu banyak orang yang gak aku kenal.” Agatha bergidik ngeri membayangkan andai dia masuk ke aula seorang diri dan hanya diam di pojokkan tidak tahu harus melakukan apa sedangkan yang lain sibuk dengan teman-teman mereka. Kenapa mereka pada punya teman ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN