Frenya membawa Agatha untuk berdiri di ruangan paling pojok. ”Oh jadi itu alesan Agatha diem terus di depan pintu?” Agatha mengangguk ragu. “Kenapa gak chat Anya aja sih, biar kita bisa ke aula bareng.”
Agatha menggaruk kepala yang tak gatal. ”Aku kan gak ada nomor kakak,” polos Agatha.
Frenya menepuk dahinya sendiri. ”Astaga! bener juga ya! wait-” Frenya mengambil ponsel dari balik saku seragamnya, menyalakan ponsel itu lalu menuju kontak penyimpanan nomor. “-Berapa nomor Agatha?” Tanya Frenya siap untuk menuliskan nomor Agatha di kontak ponsel miliknya. Agatha menyebutkan beberapa digit nomor. Sesudah Agatha menyebutkan, Frenya mengirim pesan pada ponsel Agatha.
Ting! Pesan dari Frenya masuk ke ponsel Agatha.
Frenya tersenyum lebar. “Yeay! Akhirnya Agatha bisa chat Anya mulai sekarang.” ucap Frenya dengan tulus.
Agatha jadi tersentuh melihat tatapan Frenya yang terlihat tulus dan antusias seperti itu. Padahal mereka baru saja saling kenal, namun perlakuan Frenya sangat membuat Agatha nyaman. Meski rumornya Frenya itu nakal, tapi Agatha seperti melihat ada sebuah alasan besar dia melakukan hal itu.
”Kakak baik banget,” guman Agatha tanpa sadar. Frenya menatap Agatha dengan tatapan seolah Agatha adalah makhluk aneh di bumi ini. Frenya tertawa terpikal-pikal sambil memegangi perutnya.
“Anya gak sebaik yang Agatha kira tau. Agatha belum tau aja di cerita Anya siapa yang paling berperan antagonis.”
“Maksudnya?”
***
Agatha dan Frenya duduk di salah satu tempat duduk yang sudah di sediakan panitia. Beruntung sekali mereka dapat tempat duduk, sedangkan yang lain banyak yang harus cape-cape berdiri. Termasuk Azka, Daniel dan Vino. Mereka berdiri di samping tempat duduk yang sedang Agatha dan Frenya duduki. Agatha sesekali mencuri pandang pada Azka. Kenapa keberanian Agatha menciut ketika mereka sedang tidak berdua saja? Terlalu banyak orang di sini dan juga ada teman-teman Azka dan Frenya, membuat Agatha tidak berani menyapa Azka dan hanya berani mencuri-curi pandang saja.
Bagaikan pengawal-pengawal yang sedang menjaga dua tuan putri. Itulah yang di rasakan Agatha begitu mereka bertiga serempak berdiri di samping mereka berdua dengan gagahnya dan tampak sangat menonjol di antara yang lain akibat badan mereka yang menjulang tinggi. Tentu hal itu mengundang tatapan dari siswa lain. Mereka bertiga seperti magnet yang membuat seluruh pasang mata menatap ke arah mereka.
“Gak nyangka mereka bakal ikut ke sini.”
”Kak Vino ikut olimpiade? Huaaa! Seneng banget!”
”Bayangin yang jadi Frenya itu lo, Cik.” Gak sudi Anya di samain sama tante-tante girang! batin Frenya berteriak tidak terima.
“Dia anak baru tapi udah masuk circlenya Azka dkk, iri banget! gue juga pengen tauu!”
”Kok bisa anak baru itu mainnya sama Frenya?”
”Gue yakin tuh anak baru nyesel kalo udah lama temenan sama Frenya.”
”Pasti mereka berdua sok merasa kayak tuan putri deh di gituin sama tiga pangeran gue.”
Perkataan mereka membuat mulut Frenya gatal serasa ingin memaki-maki. Namun dia menahan sebisa mungkin untuk tidak berkata yang tidak-tidak di hadapan Daniel. Bukan berarti Frenya tidak berani dengan mereka, ohh tentu saja dia berani. Hanya melawan orang-orang yang iri padanya bukan sebuah tandingan bagi Frenya. Lagian itu juga cuma mempermalukan Daniel.
”Bu Siska kemana sih? Dia suruh kita dateng cepet-cepet tapi dia sendiri dateng telat huh,” dumel Frenya. Tangan cewek itu sudah di lipat di bawah dadanya sambil menyenderkan punggung di kursi. Sudah sakit ini kuping Frenya mendengar bisikan-bisikan para cabai.
”Lo baru nunggu sepuluh menit belum seharian. Jangan lebay.” Vino dari arah kiri Frenya menyeletuk masih dengan fokus pada ponselnya. Frenya menggerutu dalam hati.
”Clara hari ini masuk, Ra?” Agatha tersentak ketika Vino menyebut namanya.
”Ma-masuk, ada di kelas,” gugup Agatha. Setelah itu Vino tidak menimpali lagi perkataan Agatha. Lagi, Cewek itu mencuri pandang ke arah Azka dan ternyata Azka pun sedang memperhatikan Agatha. Ia berkedip dua kali sebelum memalingkan mata ke arah objek lain. Astaga! Kenapa jantungnya berdetak tidak normal?
Sedangkan Frenya dan Daniel tampak seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Hanya cuek dan tak ingin menatap satu sama lain. Atau mungkin Frenya saja yang tidak ingin menatap Daniel, berusaha terlihat seperti orang normal pada umumnya. Tidak seperti Daniel yang sejak tadi terus saja mencuri pandang pada Frenya. Sangat berbeda jauh jika mereka di luar sekolah.
”Selamat pagi anak anak,” sapa Bu Siska, mengalihkan fokus Agatha. Seluruh murid di sana ikut memperhatikan Bu Siska.
”Pagi, Bu.”
”Maaf Ibu terlambat karena panggilan alam. Jadi langsung saja bagi yang tidak tahu saya siapa perkenalkan nama saya Siska Ayu biasa di panggil Bu Siska. Saya di sini sebagai kordinator olimpiade sekolah ini. Kalian di kumpulkan di sini bukan tanpa tujuan, termasuk kelas dua belas, karena untuk sebulan kedepan kalian lah yang akan membimbing adik-adik kelas kalian sesuai dengan bidang yang pernah kalian ikuti di olimpiade sebelumnya. Jadi mohon kerja samanya. Nanti akan saya bagikan menjadi satu anak kelas dua belas untuk satu orang anak yang akan menjadi penerus kalian. Di mohon untuk tidak macam-macam! Tidak boleh belajar di malam hari! Jika kedapatan maka siap-siap aja kalian akan kena sp dan jika sampai kedapatan di antara kalian ada yang berbuat masalah yang berhubungan dengan acara ini, maka saya tidak akan segan-segan untuk memberi peringatan drop out dari sekolah. Tidak peduli dia kelas dua belas yang mau lulus atau bahkan anak murid yang baru masuk ke sekolah ini, Kalian mengerti?” Jelas Bu Siska di balik micnya.
Serempak mereka berkata dengan lantang. “Mengerti, Bu.”
Bu Siska menganggukkan kepala sebagai tanda dia merespon, lalu kembali melanjutkan ucapannya. “Satu bidang akan di wakilkan oleh dua murid, masing-masing dari kelas sebelas maupun kelas sepuluh. Begitu juga dengan kelas dua belas akan ada dua perwakilan di setiap bidangnya. Akan saya sebutkan nama-nama kakak kelas kalian beserta bidang apa yang akan dia bimbing dan siapa yang akan di bimbing oleh mereka. Untuk murid kelas sebelas dan sepuluh di mohon untuk di simak siapa yang akan menjadi mentor kalian dan kelas dua belas juga kalian harus tau siapa adik kelas kalian yang akan kalian bimbing nanti, sampai sini paham? Ada yang ingin di tanyakan sebelum Ibu membacakan nama nama kalian?”
”Tidak ada, Bu.”
“Baik akan Ibu bacakan. Untuk yang pertama ada Alvino Rakasa kelas dua belas ips empat akan membimbing Naomi Dewi kelas sepuluh ips satu di bidang ekonomi. Lalu Sandra Putri kelas dua belas ips dua akan membimbing Radit Wahyu kelas sebelas ips satu di bidang ekonomi juga. Selanjutnya ada Azka Adnan Davino kelas dua belas ipa satu yang akan membimbing Agatha Adira Clarissa kelas sepuluh ipa dua, di bidang matematika. Daniel Arsenio kelas dua belas ipa dua yang akan membimbing Alexa Frenya kelas sebelas ipa empat di bidang matematika juga. Carel Nathan kelas dua belas bahasa satu akan membimbing Jordan Saputra kelas sepuluh bahasa tiga dalam bidang story telling bahasa inggris. Ferdinand Saputra kelas dua belas bahasa dua akan membimbing Rahma Putri kelas sebelas bahasa dua dalam bidang story telling bahasa inggris. Lalu…” Seterusnya Agatha tidak mendengar lagi apa yang Bu Siska ucapkan. Dia hanya fokus pada namanya dan juga kakak kelas yang akan membimbingnya.
Dia akan di mentorin Azka? Keberuntungan dari mana ini?!