Kebetulan macam apa lagi ini dia bisa di pertemukan oleh cowok itu. Semoga dia bisa mengorek informasi dari kegiatan ini. Ahh, padahal Agatha sedang mencari cara agar bisa bertemu Azka lagi. Dan sekarang! Mungkin Tuhan sudah merestui Agatha untuk tahu apa masalah Azka. Hitung-hitung belajar duluan sebelum benar-benar menjadi psikolog hahaha. Agatha harus berterimakasih pada Bu Siska yang sudah mengijinkan Agatha untuk mengikuti olimpiade ini. Kesempatan emas sekali, tidak boleh dia sia-siakan!
Selanjutnya Bu Siska menceritakan pengalaman olimpiade tahun lalu dan beberapa informasi seputar olimpiade.
***
Frenya menggiring Agatha ikut dengannya ke kantin, membeli beberapa makanan untuk mereka bawa ke kelas masing-masing. Mereka duduk di meja dekat pintu kantin sebelas.
“Eh kak, Bu Siska tadi gak bilang Olimpiade inter di adain di negara apa, kakak tau?” Sepanjang Bu Siska memberi tahu informasi hanya itu saja yang belum beliau beritahu. Entah dia yang lupa atau memang sengaja tidak di beri tahu?
Frenya mengendikkan bahu. “Anya juga gak tau.” Dia menyusul Agatha duduk di sebelahnya.
Alis Agatha seketika menukik ke bawah. “Gak tau? Bukannya kakak pernah ikut olimpiade ini, ya?” Frenya adalah kelas sebelas berarti pada saat kelas sepuluh dia pernah ikut serta dalam olimpiade internasional yang di adakan hanya setahun sekali. Tapi mengapa cewek itu tidak tahu?
”Nope. Anya aja baru kali ini ikut olimpiade inter. Agatha belum tau ya, di sekolah ini tuh ada peraturan yang agak unik menurut Anya, karena setiap tahunnya bakal ada wajah-wajah baru yang ikut serta dalam olimpiade ini.” Sungguh penjelasan Frenya tidak dapat di pahami.
”Maksudnya?”
”Ihh, maksud Anya tuh kalo Agatha udah pernah ikut olimpiade inter di kelas sepuluh, berarti waktu Agatha kelas sebelas pasti Anya jamin seratus persen Agatha gak akan di pilih lagi untuk ikut olimpiade inter ini,” jelas Frenya.
”Kok bisa?”
“Kalo kata Daniel sekolah ini memang sengaja keluarin peraturan kayak gitu buat ngembangin bakat-bakat murid muridnya. Kan gak adil kalo misalnya Agatha ikut olimpiade inter pas kelas sepuluh dan kelas sebelasnya Agatha lagi yang ke pilih. Sementara olimpiade internasional cuma di adain setahun sekali dan kelas dua belas udah gak bisa ikut olimpiade lagi. Makanya kalo Agatha peka, mentor kelas dua belas di setiap bidang pasti ada dua orang. Anya ambil aja contohnya, Azka sama Daniel, si Azka pernah ikut olimpiade waktu dia kelas sebelas, kalo si Daniel pernah ikut olimpiade kelas sepuluh. Begitu juga sama Anya. Waktu angkatan Anya kelas sepuluh yang jadi perwakilan olimpiade internasional itu si Nora. Nah, sekarang dia udah gak bisa lagi ikut olimpiade inter dan gantinya jadi Anya, beruntungnya Anya bisa di mentorin Daniel hihihi,” jelas Frenya cekikikan sendiri. Untung Daniel tidak menjadi mentor Nora. Untung saja Nora sudah pernah ikut olimpiade tahun lalu jadi kelas dua belasnya bukan Daniel hihi.
Agatha ber oh ria. Dia paham sekarang sistem sekolah ini. Berarti ini adalah pengalaman pertama dan terakhir Agatha dalam mengikuti lomba olimpiade setingkat internasional. Tapi apakah itu berlaku juga untuk olimpiade-olimpiade yang lain? Seperti olimpiade nasional, antar sekolah, antar provinsi, antar kecamatan dan lomba lomba lain.
”Kalo lomba lain berlaku juga peraturan itu?” Karena penasaran akhirnya Agatha bertanya.
”Nggak. Cuma berlaku buat olimpiade internasional. Emm, tapi gak menutup kemungkinan juga sih misalnya Agatha yang di pilih buat ikut lomba, tapi ada juga murid lain yang ngajuin buat ikut juga. Nah itu bisa itu di tentuin pake tes, siapa yang terbaik dia yang maju buat ikut olimpiade atau bisa juga kasusnya kayak angkatan kakak kelas yang baru lulus kemaren. Selama dua tahun berturut-turut dia yang terpilih tapi pas dia kelas dua belas nilai akademiknya menurun akhirnya kakak itu di ganti pake tes lagi sih cuma bedanya ini dari pilihan sekolah. Beda lagi kasusnya sama Azka dia sampe bosen olimpiade karena di pilih terus sama sekolah, bahkan bukan cuma di bidang matematika doang, tapi juga di bidang lain kayak fisika, kimia,biologi,bahasa inggris bahkan ekonomi juga dia pernah bareng Vino, faktor waktunya juga mepet akhirnya Azka yang terpilih. Tapi ya gitu seperti yang Anya bilang tadi, kasus Azka agak sedikit berbeda karena dia sendiri yang ngajuin diri buat mundur dari olimpiade. Pas Anya tanya kenapa dia mundur trus dia jawab katanya mau ngasih kesempatan ke yang lain untuk ikut olimpiade. Toh dia juga udah banyak banget piala di rumah dan lemarinya udah penuh banget sama piala. Kapan kapan Agatha main deh ke apartemen Azka atau ke rumahnaya.”
“Kak Azka peduli juga ya sama murid lain.” Itulah pesan yang Agatha dapatkan dari penjelasan panjang lebar seorang Frenya.
“Azka aslinya care banget kok sama lingkungan sekitar. Ya cuma dia gak ngomong aja. Azka tuh lebih banyak aksi dari pada ekspresi,” ucap Frenya ketara sekali dia antusias membanggakan Azka. “Bahkan dia sering kasih makan beberapa anak jalanan di lampu merah. Tapi dia kasihnya melalui Anya waktu Anya mau bilang itu dari Azka eh dia malah nolak yaudah deh terpaksa Anya bilang itu dari Anya,” terangnya.
Agatha terpukau. “Wow, Gak nyangka kak Azka bisa seperhatian itu.” Tanpa sadar Agatha berkata itu.
“Iya dong, siapa dulu saudara Anya,” sombong Frenya bangga.
Agatha melotot. “Kakak saudaraan sama Azka?” Fakta mengejutkan apa lagi ini.
”Ih Agatha bukannya pernah Anya kasih tau? Atau emang Anya belum kasih tau ya?” Frenya mengangkat jari telunjuk ke jidat, pura-pura berpikir.
Eh? Agatha linglung sendiri. “Aku juga lupa kak hehehe.” Dia tidak ingat Frenya pernah kasih tau Agatha atau belum. Kalau sudah mungkin Agatha waktu itu belum seperduli itu pada Azka.
***
“Eh Ka, kemaren lo di tembak Chika?” tanya Kevin begitu sudah sampai di kelas Azka. Pertanyaan itu untuk Azka yang saat ini sedang duduk di belakangnya, namun karena Kevin menghadap belakang mereka jadi saling berhadapan. Dia hanya ingin tahu kenapa bisa seorang Chika bisa melakukan hal itu, Karena sudah banyak rumor yang beredar tentang mereka, jadi Kevin menanyakan hal itu. Sudah tidak jarang siswi siswi di sini secara terang terangan menyatakan perasaanya pada Azka dan biasanya Kevin tidak mempermasalahkan hal itu, namun karena Chika termasuk osis yang dekat dengan Dion dan juga sering bertemu dengan Azka, dia kira Chika tidak ada rasa sama sekali dengan mereka ternyata dugaannya salah.
“Hm,” jawab Azka sambil memainkan ponsel miliknya.