Dion yang memang sudah duduk di sebelah Kevin ikut menyahuti, “Gue gak nyangka si Chika suka sama Azka,” Farrel ikut menganggukkan kepala. Cowok itu mengambil minuman di atas mejanya, lalu meminumnya. Dia sedang anteng kalo kata teman temannya. Posisinya berada di sebelah Daniel. Bukan duduk di satu kursi, tapi mengambil kursi lagi dari arah belakang meja mereka.
Mereka semua ada di kelasnya Azka begitu mendengar kabar yang menggemparkan satu sekolah.
“Kapan dia nembak lo Ka?” Dari atas meja Vino berceletuk. Cowok itu dengan tidak sopannya duduk di sana sambil memakan kuaci.
“Kemaren.” Vino dan Kevin saling pandang.
“Dimana dia nembak lo?” Tanya Kevin lagi.
“Di parkiran,” jawab Azka. Tangannya masih berkutat dengan ponsel yang dia pakai buat bermain game.
“Kenapa lo tolak?” Kini Daniel bertanya. Dia duduk di sebelah Azka.
“Gue gak suka.” Jawab Azka dengan datar.
Mendengar itu, Farrel reflek berdecak. “Heran banget sama Azka, banyak tau yang suka sama dia tapi gak ada yang nyangkut. Ibarat mesin capit boneka, Azka kayak bonekanya, sama-sama susah di gapai huh.” Sungguh tak habis pikir Farrel sama temen satunya ini.
Vino menepuk bahu Farrel dua kali. Dengan wajah meyakinkan Vino berkata, “Rel, dia suka sama lo, masa gak peka sih.” Benar dugaan Vino, Farre pasti akan menanggapi serius Farrel. Azka menatap Vino dengan tatapan tajamnya.
Manik mata itu melebar dengan ekspresi seolah jijik, Farrel bergidik ngeri. “AZKA SUKA SAMA GUE?!” teriak Farrel dengan ngawur.
“HAHAHA...” tawa Kevin dan Vino mengalihkan pandangan Farrel. Dengan wajah pias Farrel menatap sinis ke arah mereka.
“Kenapa kalian ketawa?” Sewot Farrel.
“Lo percaya sama omongan gue?” Sontak Farrel mengangguk.
“Percaya, Azka homo! Azka ‘kan gak pernah pacaran, jangan deket-deket sama gue Azka! Sono hus hus, Gue masih perkaja tau!” Dengan polosnya Farrel mundur menjauhi Azka. Sedangkan Azka hanya bisa mendengus.
“Emang lo tau perkaja apa?” Tanya Kevin meremehkan.
Dengan antusias Farrel menganggukkan kepala berulang kali. “Tau, kemaren di kasih tau Vino.”
“HAHAHA...” Seketika mereka tertawa terbahak-bahak termasuk Dion yang sedari tadi hanya diam sambil memperhatikan mereka.
Azka yang dikatai pun tidak tinggal diam. Ia mengambil pulpen yang berada di atas meja, lalu melemparkanya ke arah Farrel. ”Mau gue tonjok beneran?!” Ancam cowok itu.
“Ih, kan gue cuma ngomong fakta doang kok sewot, dasar Azka baperan, Wlee!” Farrel bersembunyi di samping Daniel dengan tampang menyebalkan Farrel menjulurkan lidah, meledeki Azka.
Azka menarik nafas dalam, lalu membuangnya. Harus ekstra sabar jika menghadapi seorang Farrel. Azka kembali melanjutkan kegiatannya tanpa mau menoleh lagi ke arah Farrel. Baru kali ini Azka agak sedikit kesal dengan seorang Farrel karena Azka tidak suka di katai homo, untung dia masih tahu diri untuk tidak memarahi cowok itu, mengingat Farrel yang masih polos.
“Hahaha... tonjok aja Ka gue dukung lo, masa mau aja di katain homo, gue sih jadi lo gak terima” Kompor Kevin. Farrel melototi cowok itu.
Azka melirik Kevin. “Lo yang gue tonjok.” Sahut Azka seadanya.
“Kok gue! Dedek gak salah apa apa bang, kenapa dedek yang ternodai disini,” ucap Kevin lebay.
“Lebay lo Calvin Klein.” Vino menyeletuk.
“Jokes bapack bapack.”
“Sialan, Kevin.”
***
Kantin lantai tiga, lantai angkatan Agatha, di gegerkan dengan kedatangan seseorang. Seluruh murid yang ada di sana sontak terperangah ketika melihat orang itu berjalan memasuki kantin lantai tiga dengan langkah pelan namun tampak, tenang, santai dan penuh perhitungan. Wajah datar dan mata tajam cowok hanya fokus dengan satu objek yang akan dia kunjungi, tanpa ingin melihat ke arah lain seolah tidak terganggu sama sekali dengan bisikan bisikan, bahkan ada yang hampir teriak tertahan di sana. Sangat acuh dan terkesan tidak peduli. Cowok itu berjalan dengan satu tangan di masukkan kedalam saku sementara tangan yang lain memegang sebuah buku.
“Itu Kak Azka? Sumpah sumpah dia cool banget kayak gitu,” bisik salah satu dari mereka dengan suara tertahan.
”Kak Azka mau ngapain di sini, ya? Ada yang tau?” Bisik yang lain.
”Aaaa! Gue mau teriak ngeliat mukanya Kak Azka ganteng bangeet!”
”Jangan cari masalah lo.”
Semua yang berada di sana tidak berani secara terang terangan membicarakan seorang Azka Adnan. Menurut rumor Azka jika sudah marah akan sangat parah melebihi marahnya Vino. Jadi dari pada mereka memancing kemarahan Azka lebih baik mereka tidak mencari masalah dengan cowok itu.
”Orang cuek kayak Kak Azka udah punya pacar belum, ya?”
”Gue bisa gak ya dapetin Kak Azka?”
“Orang kayak Kak Azka tuh cuek cuek peduli tau gak, pokoknya idaman banget woy!”
”Gue yakin bisa cairin es yang ada di Kak Azka.”
”Kenapa ada orang seganteng itu di dunia ini, Ya Tuhan.”
”Tolong, Kak Azka jangan menambah kehaluan saya deh.”
”Gila! Gue bisa liat Kak Azka sedeket ini! Aaa bunuh dedek di rawa rawa mas.”
Begitulah bisik-bisikan para siswi siswi di kantin. Sementara para siswa hanya bisa membandingkan diri di dalam hati, walau mereka mengakui jika gaya Azka terlihat sangat maskulin. Mereka jadi iri.
Mendengar kebisingan yang terjadi dari arah pintu masuk kantin, serempak Agatha, Keysia, Clara dan Gita ikut mengalihkan mata mereka ke arah sumber kebisingan yang terjadi. Mereka pun ikut terkejut dengan kedatangan Azka yang sangat menyita perhatian.
Alis Keysia menukik, kebingungan. Tumben sekali Kak Azka kesini, pikirnya. Selama dia menjadi murid sma kristal, baru kali ini dia melihat seorang Azka mau menginjakkan kaki di kantin kelas sepuluh.
”Ngapain Kak Azka ke sini?” tanya Keysia pada teman temannya. Mereka saling pandang.
“Ya ke kantin,” ujar Clara acuh, kembali melanjutkan memakan salad buahnya.
“Gak tau,” sama seperti Clara, Agatha kembali melanjutkan kegiatan memakan salad buah yang mereka beli serempak, tanpa harus memusingkan kakak kelas mereka yang sudah berhasil menggegerkan seluruh murid yang ada kantin lantai ini.
Mata Gita melebar kala melihat Azka menatap ke arah meja mereka. Ah sial, dia jadi salah tingkah, padahal mereka sudah pernah bertemu, kali ini Gita dapat merasakan ketampanan Azka bertambah berkali kali lipat di saat situasi yang seperti ini. Mulai dari cara jalannya, tampilan, wajah dan gaya tangan yang di masukkan ke saku. Arghh!! Andai saja Azka tidak secuek itu pasti Gita akan mengejar-ngejar cowok itu. Sayangnya Gita tidak menyukai cowok cuek.