Mulai Belajar Bersama

1078 Kata
Dan benar saja, ternyata Azka menghampiri Agatha yang sedang memakan salad buah dengan tenang tanpa memperdulikan dirinya yang sudah menjadi pusat perhatian para siswi di sana. Sepertinya Agatha belum menyadari hal itu karena posisi cewek itu agak membelakangi pintu masuk kantin. Setelah sampai di tempat Agatha. Azka menghentikkan langkah kakinya tepat di samping kaki Agatha. Melihat hal itu, Keysia langsung memberikan kode kepada Agatha agar segera melihat ke arah belakangnya. Tepatnya serong kiri. Karena posisi Azka tepat di sana. Agatha yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian orang sekitar termasuk teman temannya. Seketika dahi cewek itu terangkat bingung. Untung Keysia mengkode dirinya untuk melihat ke arah belakang. Segera saja Agatha menoleh ke arah belakangnya, spontan Agatha tersedak oleh salad buah yang sedang dia kunyah. Keysia memberikan minum ke Agatha dan langsung di terima cewek itu. Agatha melotot ketika melihat di sana sudah berdiri Kak Azka dengan tampang datar khasnya. “Ka-kak Azka ca-cari aku?” Tanya Agatha seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. Agatha melirik ke arah buku yang di bawa oleh kak Azka. “Nih, baca dan pelajarin.” Azka memberikan buku yang sejak tadi ia bawa, kemudian di berikan pada Agatha. “Pulang sekolah mampir ke perpus dulu, gue tunggu di sana.” Setelah berujar Azka langsung pergi berlalu dari kantin membuat kebisingan di sana menjadi semakin parah, sebab mereka mulai membicarakan Agatha dan Azka secara terang-terangan. Hal itu tidak di gubris oleh Agatha dan teman temannya. Biarkan saja para penggosip itu berkoar koar tentang mereka. Mata Agatha sibuk menelusuri sampul buku yang di berikan Azka kepadanya. “Cara jitu menghadapi lomba,” gumam Agatha ketika membaca judul buku itu. Oh jadi Kak Azka ke sini buat kasih buku ini. Baru sadar Agatha kalau Azka sudah menjadi mentornya. *** “Demi apa! Agatha! Lo bakal berduaan sama Kak Azka di perpus?! Pulang sekolah?! AAAAA” Teriak Gita histeris. ”Lo punya hubungan apa sama Kak Azka?” Mata Gita memicing curiga. Refleks Agatha menggelengkan kepala dengan kuat, membantah kecurigaan Gita sebelum ada rumor yang aneh aneh tentangnya. “Ih, sembarangan! Gue gak ada apa-apa sama Kak Azka tauu. Dia mentor cuma ngajarin buat persiapan olimpiade internasional gak lebih,” bantah Agatha. ”Ada apa-apa juga gapapa Ra kita ikut seneng, coba aja ajak dia ngobrol siapa tau kalian makin deket,” goda Keysia, mulai menaik turunkan alis. “Berarti lo pulang gak bareng kita Ra?” Tanya Clara memastikan. Cewek itu berpikir dulu sebelum menganggukan kepala, “Iyaa. Nanti pesen ojek online aja.” “Eh, Key. Gue denger-denger Kak Jeje mantannya Kak Dion ya?” Gita mulai memasang nada mode penggosipnya. Meski bibirnya sudah memerah karena kepedasan. “Apa maksud lo! Dion kan sebelas dua belas sama Azka, suka kali dia bukan mantan,” jengah Keysia. Lagi-lagi, dia mendengar orang lain mengaku pernah menjadi pacar Dion. Keysia agak kesal karena tidak terima Kak Dion di kambing hitamkan oleh orang-orang yang mengaku pernah menjadi mantan Dion padahal kenyataanya mereka hanya suka saja tidak lebih. Untungnya mereka berkata seperti itu untuk apa? “Tau dari mana lo dia cuma suka doang?” Kompor Gita dalam hati tertawa melihat eskpresi Keysia . “Ya kan banyak yang ngaku-ngaku jadi mantanya Dion,” sebal Keysia. “Lo belum tau ya kalo Dion pernah jalan sama Kak Jeje?” “HAH!! LO SERIUS?!” teriak Keysia akibat reflek. Bahkan tangan cewek itu sudah memukul meja di depannya. Gita memutarkan bola matanya. “Udah kesebar kali, lo nya aja kudet, banyak yang bilang mereka pasangan yang serasi dulu.” Smirk muncul di wajah Gita kala melihat wajah Keysia yang mulai memerah. “Lo tau kan Kak Jeje pinter sering ikut olimpiade, kurang serasi apa coba mereka.” Gita mulai memanas-manasi Keysia. Biarkan Gita membuat Keysia sadar jika di dalam hubungan harus ada kepastian, dia lelah melihat temannya itu sering kali galau setiap mereka berkumpul hanya karena tidak ada status yang jelas di antara mereka berdua. *** Bell pulang pun berbunyi dengan nyaring. Banyak murid yang berlomba-lomba untuk mencapai gerbang sekolah seolah olah inilah yang mereka nantikan, yaitu pulang ke rumah. Agatha dan temanya seperti biasa selalu memilih untuk menunggu sampai sekolah lumayan sepi, karena mereka tidak ingin berdesakan-desakkan dengan murid lain. “Lo jadi ketemuan sama Kak Azka, Ra?” Gita melirik Agatha sekilas. ”Jadi, ini mau ke sana.” Karena sudah lumayan sepi Agatha memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekarang. Dia bangun dari kursi, lalu berpamitan dengan teman temannya. “Gue ke perpus dulu ya, bye.” Keysia, Gita dan Clara melambaikan tangan mereka pada Agatha, Keysia sempat mengatakan hati hati pada Agatha. *** Agatha tiba di depan perpustakaan. Ia membuka pintunya dan memunculkan kepalanya sedikit, terlihat seperti orang yang sedang celingukan kesana kemari entah untuk apa dia melakukan hal ini. badannya masih berada di luar pintu. Dari sini dia melihat Bu Mian masih berada di meja khusus untuk guru perpustakaan. Agatha mengalihkan pandangan ke arah bangunan perpustakaan. Tak menyangka, dia yang sudah pernah melihat isi perpustakaan ini tetap saja masih terkagum-kagum dengan detail interior dan kerapihan perpustakaan ini, mana luas sekali sampai ke lantai dua dan- “Ngapain lo di situ? Masuk.” Suara dari arah belakang Agatha membuat cewek itu terperanjat kaget. Dia berbalik untuk melihat siapa pemilik dari suara yang sudah berhasil mengagetkannya. Ketika dia melihat sosok itu, mendadak pipi Agatha merona malu. Astaga, pasti Azka menganggap Agatha orang yang aneh, karena mengira dia sedang mengintip seseorang. Kenapa harus gaya itu sih Agatha! ”Hai Kak Azka,” sapa Agatha riang. Ia berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar di pipinya. Azka tidak menanggapi ucapan Agatha langsung berlalu begitu saja masuk ke dalam perpustakaan. Agatha segera menyusul Azka dari jarak yang dekat dengan sang kakak kelas itu. Agatha menunduk. Dari bawah, Agatha bisa melihat Azka berjalan ke arah pojok tengah kanan. Tempat yang Agatha tahu ada sekat-sekat untuk menjaga privasi siswa yang belajar. Ah, satu ruangan dengan Azka? Hanya berdua? Pipi Agatha memerah tanpa sebab. Agatha pernah memberi tahu jika tempat di pojok tengah kanan itu adalah tempat yang dimana ada sekat-sekat untuk mereka yang ingin belajar sendiri-sendiri meski kursi persekat ada dua. Tapi tak masalah juga untuk dua orang. Kalian jangan berpikir aneh-aneh dulu, karena ruangan itu di lapisi pintu yang transparan. Jadi tidak perlu takut ada kejadian yang tak di inginkan di sini. Semua sudah di desain untuk kenyamanan murid-murid. Sedangkan di bagian pojok kiri tengah adalah tempat bagi mereka yang ingin kerja kelompok. Karena di sana meja-mejanya cukup panjang dan banyak kursi bantal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN