Agatha mengikuti Azka sampai pada bilik ke tiga dari lima bilik. Mereka masuk ke dalam bilik itu. Agatha duduk di kursi yang berhadapan dengan Azka ketika melihat Azka lebih dulu duduk di hadapannya. Ruangan ini sangat cocok untuk orang yang benar-benar ingin fokus. Agatha kagum sekali. Di dalam sini terdengar nyaman dan adem.
“Ayo kita mulai,” ujar Agatha dengan semangat. Dia sudah duduk dengan manis sambil melipat kedua tangan di atas meja, menunggu aba-aba dari Azka.
Azka menatap Agatha. "Siapa nama lo?"
"Ih, kakak gak tau nama aku?” Yang benar saja, masa Azka tidak tahu nama Agatha, sedangkan Agatha saja tahu nama cowok itu. Menyebalkan sekali. Untung ganteng, eh.
"Nggak." Jawaban singkat dari Azka tanpa sadar Agatha berdecak tak habis pikir. Sabar Agatha, sabar. Harus punya ekstra kesabaran menghadapi cowok di depannya ini.
Agatha mengulurkan tangan pada Azka. "Agatha. Kakak bisa panggil Dira, Ara, atau em, Atha juga boleh hehe," sambungnya dengan senyum cengiran menampakan gigi giginya yang rapih. Tanganya masih terulur kedepan menunggu Azka menerimanya.
"Gak penting." Azka mendorong buku yang di dalamnya sudah dia tulis soal, di arahkan ke depan Agatha.
Agatha yang merasa tangan di abaikan dia menarik kembali. Agatha merengut sebal, kenapa dia bisa lupa jika cowok di hadapannya ini memang tidak sopan.
"Nih, lo bisa kerjain." Agatha menarik buku itu agar mendekat padanya. Azka memberikan sepuluh soal di kertas itu. Tidak banyak tapi Agatha tahu ini bukan soal yang mudah untuk dia kerjakan.
Agatha mengambil pulpen di dalam tas, mulai fokus mengerjakan soal soal tersebut. Beberapa menit seolah olah terasa begitu lambat menurut Agatha. Dahinya sudah mulai berkerut lucu. Pikiran Agatha sudah sepenuhnya terisi oleh soal soal yang di berikan Azka, tanpa menyadari sejak tadi dia terus di perhatikan oleh cowok itu.
***
Baru saja lima soal yang di jawab Agatha, namun dia sudah ingin menyerah untuk mengerjakan soal itu. Soal kelas berapa yang Azka berikan pada Agatha? Kenapa soal-soal ini tampak asing bagi Agatha? Dia tidak pernah mendapatkan soal soal ini di kelas sepuluh. Erghh! Otaknya serasa ingin pecah. Apa dia menyerah saja? dia baru mengerjakan lima soal. Tapi dia juga tidak bisa mengerjakan nomor enam sampai sepuluh, soal nomor itu belum pernah Agatha pelajari sebelumnya. Sudahlah Agatha sudah buntu tidak bisa berpikir lagi, untuk apa dia paksakan jika tetap salah semua.
Dengan berat hati Agatha menyerahkan buku itu ke Azka yang saat ini sedang memainkan ponsel milik cowok itu.
"Nih." Azka memalingkan wajah melirik buku itu sebelum mengambilnya. Alis cowok itu seketika naik sebelah kala melihat jawaban Agatha. Biar pun begitu Azka tetap bergeming sambil fokus melihat hasil kerja Agatha.
Agatha memainkan jari-jari tangan selagi Azka memeriksa jawabannya. Dari arah pandang Agatha, dia dapat melihat jelas Azka terus menggeleng-gelengkan kepala meski raut wajah tampak datar, namun Agatha tahu apa yang sedang Azka pikirkan mengenai hasil kerjanya. Seburuk itukah jawaban Agatha? Agatha rasa dia hanya tidak mengerjakan lima soal selebihya dia yakin benar semua.
"Dari sepuluh soal cuma lima yang di kerjain dan dari lima itu lo cuma bener empat," celetuk Azka tiba-tiba dengan datar, Agatha melirik Azka “Lo gak pantes ikut olimpiade kalo nilai lo cuma empat,” lanjutnya agak menyesakkan hati Agatha.
"Jahat banget! Kok bisa? Perasaan tadi aku jawabnya bener semua," decak Agatha. “Kakak kali yang salah coba cek lagi.” Tidak terima dia di katai tidak pantas ikut olimpiade. Jelas-jelas Bu Siska kemarin meluluskan Agatha. Sudah pasti nilai dia pantas dong.
Melihat kebingungan Agatha, Azka menyela. "Lo salah rumus.” Alis Agatha menjorok ke bawah.
"Salah rumus? Masa sih? Yang mana? Coba liat, perasaan udah aku cek bener semua kok.” Azka menyerahkan buku itu kembali ke Agatha.
"Nih." Azka menunjukan soal yang tadi Agatha salah rumus. "Lo harusnya pake cara ini." Azka mendekati Agatha dengan posisi menyamping dengan satu tangan di taruh di sandaran kursi Agatha. Azka menuliskan cara yang seharusnya Agatha kerjakan.
Sementara Agatha sudah serasa mau keluar bola matanya melihat jarak antara dia dan Azka terpaut sangat dekat. Jantung Agatha lagi lagi berdegup dengan kencang. Bahkan dia harus menahan napas ketika dari jarak yang sedekat ini dia dapat mencium bau nafas Azka. Samar-samar dia mencium bau mint, seperti permen mint. Apakah cowok itu sempat memakan permen mint sebelum dia bertemu dengan Agatha? Atau memang bau nafasnya seperti itu?
Sial, fokus Agatha sekarang teralihkan dari kertas soal ke wajah Azka. Agatha mengamati muka Azka diam-diam dari jarak dekat. Wajah Azka adalah tipikal wajah yang tidak pernah bosan jika di pandang setiap detik, pikir Agatha. Tidak menyangka dia akan bertemu dengan cowok seperti Azka. Cowok tampan sangat banyak di sekolah ini, namun menurut Agatha, Azka itu berkarisma dan dengan wajah yang terlihat datar terus di setiap harinya membuat cowok itu terlihat tidak pernah macam macam dengan cewek dan tidak pernah mempermainkan perempuan. Maksud Agatha tipikal cowok yang setia. Bukankah sikap itu sangat di sukai oleh kaum hawa?
Azka memalingkan wajah ke arah Agatha. Mata mereka bertemu satu sama lain. Dengan cepat Agatha memalingkan wajah.
“Coba kerjain.”
Agatha gelagapan. “Eh, apa? Oh i-iya,” gagap Agatha. Cewek itu kembali mengerjakan soal yang di berikan Azka. Mampus Agatha dia tadi tidak memperhatikan Azka. Apa yang mau di jawab?
"Pake cara yang tadi gue jelasin," suruh Azka seolah tidak terjadi apa-apa, cowok itu dengan tenang menyenderkan bahu di sandaran kursi sambil mengamati Agatha.
Agatha menggaruk garuk kepala, bingung. Ia harus memutar otak mencoba menjawab sebisanya. Agatha mulai mencoret-coret kertasnya. Setelah ia rasa jawabanya sudah benar, ia serahkan pada Azka. Cowok itu memeriksa dengan seksama.
Decakan lagi-lagi keluar dari mulut Azka. "Makanya kalo gue jelasin liatin soalnya jangan liatin gue," sindir Azka. Cowok itu merobek kertas kosong, lalu mengambil pulpen yang ada di tangan Agatha.
Semburan merah menjalar di pipi Agatha. Betapa malu Agatha tertangkap basah oleh Azka. Arghh! Mau pulang aja rasanya! Agatha malu banget.
Kali ini Agatha memperhatikan penjelasan Azka dengan sungguh sungguh. Sangat keterlaluan jika dia salah lagi. Setelah Azka selesai menjelaskan cara yang benar pada Agatha, cewek itu mulai mengerjakan lagi soal yang sudah di ubah angkanya oleh Azka.
Kala Agatha sedang asik mengerjakan soal, suara Azka mengusik pendengaran cewek itu.
"Ini soal kelas dua belas," ucap Azka tiba-tiba dengan ringan seolah kata-katanya adalah hanya kalimat biasa. Agatha menoleh cepat.