Nomor Seseorang

1013 Kata
"Dua belas?!" Azka mengangguk santai. Bisa-bisanya dia masih terlihat santai, sementara Agatha sudah menganga tak percaya. Pantas saja dia tidak bisa mengerjakanya! Ternyata ini soal kelas dua belas! Agatha merengut kesal. Menyebelin banget sih nih orang. Ingin sekali ia memaki cowok ini, tapi sayangnya dia tidak bisa. Agatha hanya bisa memaki dalam hati. "Lo kalo mau ikut olimpiade inter harus bisa kuasain materi kelas dua belas juga, bahkan kuliah,” ucap Azka memberi alasan yang logis. Ya, bener juga sih. Yang ikut bukan dari negaranya saja, tapi seluruh penjuru dunia. "Semua materi kelas dua belas harus aku kuasain?" Tanya Agatha lemas. "Gak semua." Azka membereskan buku-buku di atas meja, lalu buku buku itu di masukkan ke kedalam tas. Jam sudah menunjukkan hampir maghrib. Tidak baik jika dia teruskan lagi kegiatan belajar mereka. "Sampe sini dulu.” Agatha hanya memperhatikan kegiatan berberes Azka. “Lanjut besok, gue balik." setelah mengatakan itu Azka berlalu meninggalkan Agatha. Ck, tega banget sih, gerutu Agatha dalam batin. Dia ditinggalkan begitu saja. Sungguh tega! Agatha melirik jam, ia membulatkan mata. Jam ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore. Agatha membuka aplikasi pemesan ojek online dan memesan ojek online untuk dirinya pulang. Ia bangkit, bergegas pergi menuju gerbang sekolah. Sekolah sudah sepi, hari juga mulai gelap. Sudah tidak ada tanda-tanda manusia di sekolah ini, kecuali Agatha. Azka sialan, dia di tinggalkan sendiri begitu saja. Mana Agatha takut gelap. Tangan cewek itu saling meremas satu sama lain. Perasaan takut dan gelisah mulai menggerogotinya. Mommy, Agatha takut sendiri, batinnya cemas. Degup jantung cewek itu sudah tidak karuan. Agatha berjalan cepat menuju gerbang utama. Menunggu ojek online di sana sesekali melirik jam tangan. “Naik.” Mungkin karena efek sudah terlalu parno dan takut sejak tadi, Agatha terlonjak kaget ketika mendengar suara itu. Ekor matanya melirik dengan takut-takut ke asal suara. ”Kak Azka?” Dia kira cowok itu sudah tidak ada di sini. Ternyata masih tanggung jawab juga dia. "Naik, cepet,” perintah Azka. ”Tapi aku udah mesen ojek online.” ”Batalin.” "Apa! Oh o-oke." Tanpa pikir panjang Agatha langsung menaiki motor Azka. Akhirnya dia bisa bernapas dengan benar setelah tadi ketakutan menguasai Agatha. Pikiran buruk Agatha tentang Azka yang tadi dia kira akan meninggalkannya sendiri sirna begitu saja. Azka melajukan motornya setelah ia melihat Agatha sudah duduk aman di kursi penumpang. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berusaha membuka obrolan. Agatha pun tidak minat membuka obrolan karena pikiran cewek itu sudah berkecamuk, walau hanya sekedar basa-basi. *** Agatha turun dari motor Azka. Berdiri tepat di samping Azka. "Makasih Kak Azka." Agatha berkata dengan nada ceria. Hah, seneng deh moodnya kembali lagi. "Hm, Gue balik." Azka berlalu dari hadapan Agatha. Senyum cewek itu memudar. Agatha melihat kepergian Azka sambil merengut kesal. Ish! Ada ya cowo seperti Azka. Untuk bersama Azka, Agatha harus mengeluarkan tenaga yang cukup banyak. Di kira mencari topik duluan, memasang muka bantal dan bersikap tidak peduli dengan sinisnya Azka itu tidak melelahkan. Tapi gapapa pasti Agatha bisa! Dia jadi tertantang dengan sikap Azka. Smirk muncul di bibir mungil Agatha. Cewek itu dengan riang memasuki rumahnya. **** Handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya, Agatha jemur selepas ia memakainya. Agatha menghampiri meja belajar dan duduk di sana. Ia merenggangkan seluruh badannya. Sebelum belajar, Agatha menyempatkan diri untuk mengecek ponsel terlebih dahulu. Wah! Ternyata banyak sekali notif yang masuk berasal dari sahabat-sahabatnya dan juga teman kelasnya. Bahkan notif itu tak kunjung berhenti-henti berbunyi. Agatha memutuskan untuk mematikan notifikasi. Agatha mulai fokus belajar. Agatha mulai merasakan keram pada matanya. Cewek itu melirik jam di dinding. Waw, Tidak terasa sudah dua jam dia belajar. Pantas saja matanya mulai keram haha. Agatha menutup buku pelajaran dan menata buku pelajaran untuk esok hari, di masukkan kedalam tas. Setelah memastikan semua sudah lengkap, Agatha mengeluarkan buku soal yang tadi sempat Azka berikan padanya. Hah, Dia harus berusaha mengerjakan soal-soal dari Azka tanpa membuka rumus rumus yang juga Azka berikan. Baiklah mari kita coba! Agatha mulai fokus mengerjakan soal dengan mengandalkan hasil menyimaknya tadi saat Azka menjelaskan padanya. Lama berkutat dengan pekerjaanya. Agatha tiba-tiba saja merasa buntu begitu melihat soal sulit. Ia memusatkan kosentrasi lebih dalam lagi. Lima belas menit berlalu tak membuat Agatha berpindah dari satu soal itu. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ia sudah pernah mempelajari materi itu sebelumnya atau belum pernah. Namun, nihil. Seakan-akan otaknya buntu. Agatha tidak menemukan jalan keluar dari soal itu. Kepalanya pun sudah meronta-ronta karena sakit kepala mulai melanda Agatha. Hah, ia menyerah sekarang. Sebaiknya dia istirahat sejenak untuk menjernihkan pikirannya dari pada di paksakan dan tidak membuahkan hasil juga. Agatha menutup buku soal-soal itu. Ia bangun dari duduk kemudian kembali lagi ke tempat tidur dan selonjoran di sana dengan kepala yang menyender di kepala ranjang. Ketika sudah merasa nyaman, dia membuka aplikasi yang berwarna hijau untuk mengecek grup kelas dan grup teman-temannya tadi yang sempat ramai. Baru saja Agatha akan membuka room chat kelas, bunyi deringan notif tiba-tiba menarik perhatian Agatha. Ia membuka pesan masuk. Kerutan timbul di kening Agatha kala melihat nomor baru yang tak dia save telah mengirimkan pesan ke ponselnya. Siapa ini? Antara takut dan bingung, Agatha menimang-nimang ingin membuka pesan itu atau membiarkan saja pesan itu. Dua menit dia berpikir, akhirnya rasa penasaran itu mengalahkan ketakutan Agatha. Dengan rasa penasaran ia membuka room chat dari nomor yang tak ia simpan itu. "Ka Azka?" Kerutan kening Agatha semakin bertambah dalam. Ada rasa gejolak senang ketika mengetahui Azka mencari nomor Agatha. Tapi untuk apa Azka mengirim pesan pada Agatha? Apa ada hal yang tertinggal di perpus? Pasti ada hal penting yang ingin Azka sampaikan sampai-sampai dia repot-repot mengirim pesan untuk Agatha. Bodo amat deh, yang penting dia bisa dapet nomor Azka secara gratis. +89854*** sv Azka Agatha cepat cepat membalas pesan itu. Tak sadar sudut bibir Agatha terangkat. Anda OMEJI! Kak Azka tau dari mana nomor aku? +89854*** kalo ada soal sulit kasih tau gue. Agatha melongos ketika mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Pertanyaannya pun tak di gubris oleh cowok itu. Dia di cuekin lagi? Sungguh menyebalkan, bukan. Sial, Agatha harus menahan malu karena hal ini. AAAA! KAK AZKA NYEBELIN BANGET SIHHH!!!!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN