Perdebatan

1020 Kata
"Kalian ngomongin apa di grup? rame banget semalem gue lagi belajar jadi gak fokus." Agatha mengaduk-ngadukan jus yang ia pesan tadi. Keysialah yang menjawab ucapan Agatha. "Itu tuh sih Gita ada gosip hot terbaru katanya," Keysia yang berada di samping Agatha ikut mengaduk-adukkan jus yang masih ada s**u dan belum tercampur rata dengan jus buah pesanannya. "Lo belum buka grup? Sumpah ya lo harus tau! Kemarin rame banget di grup angakatan ngebahas katanya ada yang nembak Kak Azka lagi." Gita yang berada di depan Agatha mulai mengeluarkan bakat menggosipnya. "Bahkan nih ya menurut gue lebih parah dari yang cewek cewek yang lain! coba lo bayangin aja seorang cewe nembak cowok trus si cewe itu nembak cowoknya pake bacain puisi sambil bawa bunga! Gila sih urat malunya udah gak ada kali ya. Tapi gue harus acungin jempol sama keberanian dia, salut gue.” Agatha tampak sedikit speechless, namun tetap tenang. "Berani banget. Mungkin dia emang bener-bener pengagum Kak Azka makanya gitu, tapi emang niat banget sih dia." Agatha yang tadinya ingin meminum jus nya jadi menaruhnya kembali. "Gue kalo jadi cewek itu mungkin gak akan seberani dia. Jangankan nembak, kak Azka cuekin ucapan gue aja udah kesel setengah mampus. Untung muka ini sudah kebal ekspresi, ” ungkap Agatha jujur. Gita membenarkan ucapan Agatha. Siapa yang tahan dengan Azka. Melihat tatapan nya saja sudah menyerah. Keysia yang sejak tadi menyimak, akhirnya menyahuti. “Gaya lo Git. Palingan juga lo bakal sebelas dua belas sama kayak cewek itu, kan kalian sama. Sama-sama gak tau malu,” sindir Keysia, ia memutar bola mata. Tidak sadar diri sekali sahabatnya ini melihat tingkahnya bahkan bisa lebih memalukan dari cewek yang sedang mereka omongin. ”Sama?! Beda jauh kali,” kata Gita tak terima. Gita merasa tidak ada sama sekali kemiripan dari segi apaun dengan cewek itu. Sepertinya Gita harus memeriksa mata Keysia. Gita masih ada rasa malu kok. Buktinya masih pake baju. ” Urat malu lo udah gak ada! Sama kayak cewek itu,” ujar Keysia dengan enteng. Gita bergidik ngeri. Tak salah Keysia berkata seperti itu, tapi kalau untuk urusan cowok tentu saja berbeda jauh. Tidak bisa di samain! Dia segila itu hanya untuk seorang cowok. Gila aja! ”Enak aja! Gak lah! Meskipun gue udah gak ada urat malu, tapi kalo urusan nembak-menembak cowok?! mohon maap nih ya gue gak minat sama sekali, bener kata Agatha mending gue suka dalam diam.” Gita mengibaskan rambut. "Nama cewenya siapa?” Tanya Clara. Cewek itu sejak tadi asik mengupasi kuaci dan memisahkan isi kuaci dan kulit kuaci akhirnya bersuara juga. Gita membalas pertanyaan Clara. "Itu sih Sinta kelas sebelas ipa 3, lo kenal?” Clara mengangguk. ”Kenal, dia salah satu anak osis’ kan?” Gita menjentikkan jarinya. ”Seratus untuk Clara.” Clara hanya merespon dengan senyuman kecil, tangannya tak berhenti mengupas kuaci. Keysia mengalihkan perhatian pada Agatha. "Kemarin lo pulang naik apa, Ra?" "Bareng Kak Azka." Dengan tenang Agatha berbicara seperti itu tanpa memperdulikan Gita yang sudah tersedak dan Keysia yang melotot, tak sangka. "Demi apa! Sumpah lo beruntung banget Ra di boncengin sama dia,” Gita memandang kagum pada Agatha. Dia menepuk bahu Agatha dua kali sebagai bentuk kebanggaan pada temannya yang satu ini. “Tau gak sih lo, kalo Kak Azka itu gak pernah boncengin cewek, dan lo bisa perawanin jok kursi belakang Kak Azka? Sumpah keren banget lo,” puji Gita. Keysia pun meski tampak biasa saja namun respon cewek itu lebih ke arah bingung, tapi tak kunjung dia tak merespon apapun. ”Perawanin gimana?” Polos Agatha. Gita menepuk dahi, dia lupa temannya ini agak sedikit polos di banding teman-temannya yang lain. ”Udahlah yang penting lo keren banget.” Agatha mengendikkan bahu. ”Biasa aja,” acuh Agatha. *** “Awas!” ”Gak mau.” ”Awas gue bilang!” ”Gak mau gue bilang.” Cewek itu sudah membara-bara ketika melihat si cowok justru tampak tenang dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana. Gak ada keren kerennya cih, pikir si cewek. ”Lo maunya apa sih?! Gue udah telat nih!” Clara menatap kesal Vino. Mengganggu mood Clara banget sih! Ah, melihat wajah Vino seketika mengingatkan Clara pada kejadian tadi malam. Tau ah! Dasar fuckboy! Buaya darat! Hancur sudah mood Clara hari ini. ”Maunya lo.” Smirk andalan Vino keluar begitu saja ketika melihat rona merah menjalar di pipi Clara. Meski hanya wajah datar saja yang Clara berikan. ”Gak lucu!” Judes Clara. Seperti ada sedikit celah, dengan cepat Clara berlari ingin melewati Vino dari arah samping cowok itu. Namun lagi lagi gagal, dengan gesit Vino menghadang langkah Clara dengan membuat palang memakai tangan kanannya. Clara melongos kesal. ”Apasih, Vin! Gue mau ke kelas! Awas!” Tekan Clara yang lagi-lagi tak Vino hiraukan. ”Dan ngebiarin lo salah paham? Gak akan.” Vino tidak akan membiarkan Clara lepas begitu saja karena dia sudah mencari cewek itu sejak kemarin sampai sekarang, namun cewek itu terus saja menghindar. ”Masih ada jam istirahat kali, lo gak liat jam ya? Bell udah bunyi dari tadi!” Vino mengendikkan bahu. Tak peduli. ”Gue peduli?” Ucapan Vino menambah rasa kesal Clara. Ingin sekali ia menabok wajah sok gantengnya itu, Tapi karena tidak tau harus apa lagi, akhirnya Clara menarik nafas panjang dan mulai mengatur emosinya. Lebih baik dia mengalah dan menuruti permintaan cowok ini agar dia bisa cepat cepat ke kelas. Dari pada tetap mengotot dan ujung-ujungnya Clara tidak akan mendapatkan apa-apa. ”Yaudah lo maunya apa?” Tanya Clara pasrah. Raut wajah Vino berubah menjadi serius. ”Ikut gue sebentar,” mohon Vino walau hanya wajah tenang yang dia tunjukkan. Clara berdecak keras, tak habis pikir dengan sikap keras kepala Vino. ”Keras kepala banget sih! Gue udah bilang kalo mau ngomong yaudah nanti aja pas istirahat sekarang udah jam pelajaran! gue gak mau ya bolos lagi!” Peringatan Clara membuat Vino akhirnya berpikir ulang. ”Oke, lo harus ketemu gue pas istirahat, gue tunggu,” final Vino. Sebelum pergi, Vino menyempatkan diri untuk mengacak-acak rambut Clara. Lalu pergi sambil tertawa ketika mendengar gerutuan Clara. Jangan salahkan Vino, karena wajah Clara sangat imut ketika marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN