Agatha berjalan menyusuri koridor lantai satu seorang diri. Koridor sudah tampak sepi, sebab murid murid sudah berada di kelas masing masing untuk siap menimba ilmu. Sementara Agatha bukan tanpa alasan dia berada di luar kelas karena pelajaran olahraga, namun bukan karena ingin olahraga di lapangan melainkan dia ingin mencari pak Arthur untuk menanyai perihal kelompok. Pelajaran olahraga kali ini kelas mereka harus berdiskusi kelompok di karenakan Pak Arthur harus mengambil nilai kelas dua belas dalam ujian praktek olahraga. Agatha belum mendapatkan kelompok. Kelompok dari Pak Arthur di bentuk pada saat ia belum bersekolah disini. Alhasil dia berada di sini sekarang, di pinggir lapangan satu.
Dari sini Agatha bisa melihat ada kakak kelas yang sedang berbaris sambil menunggu giliran, mungkin? Dan ada beberapa murid yang sudah berleha-leha duduk di pinggir lapangan atau sekedar main lari-larian dengan temannya, mungkin mereka adalah murid murid yang sudah lolos praktek.
Namun ada satu orang yang menarik perhatian Agatha sebab orang itu duduk di samping Pak Arthur dengan tampak tenang dan seolah dia tak ingin repot repot berbaur dengan teman kelasnya. Agatha mengabaikan orang itu dan fokus pada Pak Arthur. Cewek itu menyebrangi lapangan menuju tempat pak Arthur berada, yaitu pinggir lapangan yang dekat dengan lapangan itu sendiri. Sepanjang perjalanan Agatha hanya mampu untuk menundukkan kepalanya, walau begitu dia tetap menjadi pusat perhatian murid murid yang ada di sana. Gugup? Pasti. Itulah yang di rasakan oleh Agatha ketika melewati mereka. Padahal Agatha berusaha untuk tidak mencolok di antara yang lain.
“Permisi Pak Arthur?” Awalnya dia ingin menyapa guru itu, namun suara Agatha tidak terdengar seperti sapaan melainkan pertanyaan spontan. Pak Arthur yang sedang menulis sesuatu di kertas penilaian sontak mendongakkan kepala untuk melihat seseorang yang menyapanya. Termasuk juga cowok yang di sebelah Pak Arthur pun ikut menoleh ketika mendengar suara seseorang di dekatnya. Cowok itu ikut mendonggak dan mengabaikan chat dari seseorang.
Pak Arthur bangun dari duduk yang membuat Agatha harus mendongak sebab tinggi Agatha hanya sampai bahu guru itu. Wow, benar benar tinggi! Tak heran Pak Arthur bisa menjadi guru olahraga sma ini. Agatha mengagumi guru itu dalam hati.
“Iya saya sendiri, ada apa?”
“Em, maaf mengganggu waktu Pak Arthur. Saya Agatha anak baru di sekolah ini Pak, Saya kesini untuk meminta kelompok olahraga karena saya belum mendapatkan kelompok, Pak.” Agatha merasa ada sepasang mata yang terus menatapnya intens. Seketika bulu kuduk Agatha berdiri. Oke fokus Agatha, dia berusaha mempertahankan pandangan agar tidak menatap ke arah samping.
“Oh anak baru.” Pak Arthur menganggukan kepala dua kali. “Di kelas kamu punya temen ‘kan?” Tanya Pak Arthur memastikan. Agatha menganggukkan kepala.
“Ada pak.”
“Yasudah kamu satu kelompok saja dengan temanmu itu.” Perkataan Pak Arthur mengundang sudut bibir Agatha agar terangkat. Cewek itu tersenyum senang. Meski sudah kenal dengan teman teman sekelas, tetap saja Agatha akan lebih nyaman dengan teman dekatnya. Dia cukup bersyukur dengan keputusan Pak Arthur.
“Baik Pak, terimakasih untuk waktunya, saya pamit dulu.” Baru saja Agatha menundukkan kepala dan ingin cepat cepat berlalu dari sana, suara Pak Arthur sudah lebih dulu mengintrupsi langkah kakinya.
“Eh, tunggu sebentar, Nak.” Cegat pak Arthur. Agatha kembali menghadap guru itu.
“Iya pak?”
“Bapak minta tolong, boleh?” Agatha mengangguk dengan cepat, seolah ingin menunjukkan kalau dia sama sekali tidak keberatan untuk di mintai tolong oleh guru ganteng itu.
Pak Arthur tersenyum ramah “Bapak minta tolong sama kamu buat ambil buku paket olahraga untuk kelas kalian di perpustakaan. Kamu bisa bilang saja ke Bu Mian ingin mengambil buku paket kelas sepuluh yang jilid dua B dan- ” Pak Arthur menoleh ke seseorang di sampingnya.
”Azka, karena kamu tidak harus remedial jadi kamu bantuin Agatha ya bawain buku paket ke kelasnya.” Agatha membeku di tempat, reflek dia menoleh ke arah Azka yang ternyata juga sedang menatap ke arah Agatha. Mata mereka sempat bertemu sebentar sebelum Agatha mengalihkan pandangan ke arah Pak Arthur. Meski begitu jantung Agatha berhasil berdegup dengan cepat.
Padahal Agatha sudah berusaha untuk tidak menoleh ke arah cowok itu, namun Azka justru di suruh untuk menemani Agatha. Aduh, apa yang harus dia lakukan nanti?
“Ayo.” Di tengah kesadaran, Agatha dapat melihat Azka berlalu melewati dirinya.
“Kamu bisa ikutin Azka, Agatha,” ucap Pak Arthur. Agatha mengangguk sopan dan sempat berpamitan sebelum berlari mengejar Azka yang sudah lumayan jauh, padahal cowok itu cuma berjalan santai tapi kenapa bisa secepat itu? Agatha berusaha menggapai Azka. Namun tak bisa dia menyeimbangi langkah kaki cowok itu. Alhasil dia hanya bisa pasrah berjalan cepat di belakang Azka tanpa mampu mengimbangi langkah mereka berdua.
***
Cepet banget sih jalannya,ih! Gak peka, dasar! Dimana-mana cowok harus pelanin jalannya kalo lagi jalan sama cewek eh ini malah jalan duluan! Sungut Agatha sepanjang perjalanan menuju perpustakaan.
Karena sibuk dengan kekesalannya, dari arah depan Agatha ada seorang cewek yang sedang berlari sambil memalingkan wajah ke arah lain sehingga tak menyadari keberadaan Agatha. Sedangkan cewek itu masih menundukkan kepala.
Cewek itu semakin dekat ke arah Agatha. “NISA AWAS!” Kejadiannya begitu cepat. Agatha yang baru seperdetik mengangkat kepala karena terkejut dengan teriakan seorang cowok kini harus menutup mata lagi kala merasakan kepalanya nyeri akibat benturan.
“ASTAGA!” Panik cewek yang di panggil Anisa itu. Dia langsung berhenti dari larinya. Lalu menengok kearah korban yang hampir dia tabrak. Anisa menahan nafas ketika melihat Azka di sana.
Belum sempat menetralkan detak jantung yang berdegup kencang akibat insiden ini, Kini Agatha harus menahan nafas lagi ketika dia kedapatan menghirup aroma maskulin milik seseorang. Dan seseorang itu sangat Agatha tahu. Tidak mungkin! reflek Agatha membuka mata, alangkah terkejutnya cewek itu ketika dia melihat dirinya berada di pelukan seorang Azka. Harus di garis bawahi SEORANG AZKA! Agatha membeku di tempat karena shock. Mulutnya bahkan kelu seketika kala cewek itu tak bisa mengatakan sesuatu akibat otaknya yang blank.
Apakah Kak Azka telah menolong Agatha? Dia menarik tangan Agatha? Sekilas Agatha merasakannya tadi.
Mampus gue! Batin Anisa meronta ingin pergi dari sana, namun kakinya seakan kelu dengan tatapan Azka yang begitu menusuk.