Heran

1032 Kata
”Punya Mata?” Tanya Azka dengan suara rendah. Anisa mengangguk kaku. Tangan cewek itu sudah keringat dingin ketika berhadapan dengan Azka. Namun dia hanya bisa terpaku menatap takut Azka. Siapa yang tidak tahu Azka. Anisa bahkan sangat menghindari cowok itu dan tak ingin berurusan sama sekali dengan geng mereka. Tapi sialnya sekarang dia malah membuat masalah dengan cowok itu. Tapi apa hubungannya dia menabrak cewek itu dengan Azka? ”Keluarin aja kalo gak guna.” Anisa melebarkan bola matanya, takut. Padahal Azka berkata dengan tenang tanpa emosi berlebihan, namun entah dari mana Anisa merasakan tatapan Azka begitu menyeramkan dan dingin. “Maaf, Kak, maaf.” Anisa dengan tubuh gemetar langsung menjatuhkan diri di hadapan mereka berdua. Aksi Anisa sontak mengundang bisikan bisikan murid murid di sana yang sejak tadi sudah memperhatikan mereka dalam diam. Bahkan teman Anisa sudah tak berkutik lagi. Terlalu shock dengan apa yang sudah sahabatnya lakukan. Agatha yang juga melihat Anisa dari bawah, karena posisinya menunduk, langsung tersadar dan menarik diri dari Azka. Agatha menunduk, menatap panik pada Anisa. “Eh Nisa ngapain?! Berdiri ih! di liatin banyak orang tuh!” Agatha tak habis pikir dengan tingkah Anisa yang menurutnya terlalu berlebihan. Anisa hanya diam saja tak menggubris perkataan Agatha. Cewek itu semakin panik. Sementara Azka masih dengan raut wajah tenangnya, cowok itu memperhatikan dua insan itu hanya lima detik sebelum salah satu sudut bibir Azka terangkat samar. Cowok itu bergumam. “Caper.” Setelah itu dia berlalu begitu saja tanpa memperdulikan orang sekitar. *** Agatha berlari menuju perpustakaan. Di sana, Agatha dapat melihat Azka sudah berdiri di depan pintu perpustakaan dengan membawa tumpukkan buku-buku paket yang Agatha duga itu adalah buku paket untuk kelasnya. Jadi cowok itu sudah mengambilnya? Baru saja Agatha sampai di depan pintu perpustakaan, Azka sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Agatha. Heh?! Belum saja dia mengambil nafas untuk menetralkan nafas yang memburu sehabis berlari, namun cowok itu sudah jalan duluan. Huh, menyebalkan sekali. “Kak Azka, tunggu.” Dengan terpaksa Agatha menyusul Azka. Kali ini Agatha tidak terlalu kesusahan untuk menyeimbangi langkah kaki mereka, mungkin karena Azka sengaja memelankan langkah kakinya takut takut buku yang cowok itu bawa terjatuh. ”Kakak kenapa pergi gitu aja? Gak kasian apa sama Nisa?” “Gue peduli?” Agatha mendengus sebal. “Ya seenggaknya kakak suruh Anisa berdiri dulu biar dia gak tambah malu.” Azka mengendikkan bahu. “Dia yang mau,” acuh Azka. Mereka menaiki tangga lantai tiga, lantai di mana kelas Agatha berada. Agatha tak bisa menyanggah ucapan Azka lagi. Memang benar perkataan Azka, Anisalah yang berkeinginan untuk melakukan hal itu tanpa Azka suruh. Tapi kenapa cewek itu sampai melakukan hal yang dapat membuat dirinya di gunjing oleh murid murid sma ini. Dia terlihat ketakutan ketika menatap wajah Azka. Apa Azka semenakutkan itu? Padahal meski Azka dingin dan memang agak sedikit menyeramkan karena tatapan cowok itu seakan akan intens sekali, namun untuk ketakutan sampai gemetaran itu sepertinya cukup berlebihan untuk Agatha. Azka tak semengerikan itu, atau karena faktor lain? Entahlah Agatha tak tahu pasti dia juga belum mengenal Azka lebih dalam, bisa saja ada hal yang di sembunyikan cowok itu yang berhubungan dengan Anisa atau memang Anisa saja yang lebay dan hanya sebatas caper semata seperti yang di gumamkan oleh Azka di pinggir lapangan tadi. Astaga, otak Agatha ingin pecah rasanya karena terlalu berpikir keras. *** ”Lo jalan berdua sama Kak Azka? Kok bisa? Jangan jangaan… wah! gue mulai curiga sama lo, Ra,” Gita memicingkan mata menatap Agatha dengan tatapan menuduh. Keysia pun ikut mengangguk, menyetujui pendapat Gita. Rumor Azka yang membela Agatha dan insiden tadi entah bagaimana bisa, berita itu sudah kesebar ke seluruh penjuru sekolah ini. Termasuk sahabat-sahabatnya yang sekarang mengintrogasi Agatha. Lagi-lagi dia harus mengalami hal ini. “Lo ada sesuatu sama Kak Azka? Kita gak papa kok kalo lo deket sama dia malah gue ngedukung banget lo deket sama Azka,” Ucap Keysia memberi pengertian meski tak securiga Gita tapi dia juga cukup penasaran. Karena baru kali ini ada seorang cewek yang begitu dekat dengan Azka. Selama Keysia sekolah di sini dia belum pernah melihat Azka berbaur dengan seorang cewek, bahkan rumor yang beredar pun berkata demikian. Tapi Agatha? Dia bahkan sering kedapatan sedang berduaan, dan jika di tanya pasti cewek itu akan menjawab jika mereka hanya membahas olimpiade. Padahal Keysia berharap mereka ada apa apanya. ”Nggak, tadi gue sama Kak Azka cuma di suruh sama Pak Arthur buat bawain buku paket gak lebih kok. Kalo kalian berharap gue deket sama Kak Azka gue rasa itu gak akan terjadi” Kenapa sih teman temannya itu mengira Agatha ada sesuatu dengan Azka? Jangankan untuk ada something spesial, dekat saja mereka baru dan masih agak sedikit canggung kadang. Agatha bahkan masih menyesuaikan diri dengan kediaman Azka. Ya, meski sudah memasang wajah tebal. ”Kenapa?” Tanya Gita ingin tau. ”Ya seperti jawaban gue yang kemaren, gue deket sama Kak Azka cuma karena dia mentor olimpiade gue.” Sementara Clara hanya menyimak pembicaraan mereka sejak tadi, tanpa mau ikut menimbrung teman temannya. Pikiran cewek itu sedang kacau karena kejadian tadi pagi dan janjinya pada Vino saat nanti istirahat. Semoga saja istirahat mereka tidak saling bertemu atau dia berdoa semoga Vino sedang ada urusan yang penting jadi mereka tidak harus bertemu untuk saat ini. *** Mampus gue! Agatha menengok ke belakang, wajah cewek itu berubah heran ketika melihat Clara menghentikkan langkah kakinya. “Clara, ayo,” ajak Agatha. Clara masih diam saja tanpa menggubris panggilan Agatha. Mau tak mau Agatha menghampiri Clara. “Lo kenapa sih?” Agatha melihat Clara menggigit bibir bawah gugup. Clara melirik Agatha. “Gue di sini aja deh,” tawar Clara. Cewek itu mundur dua langkah sebagai penanda dia tak ingin ikut ke lapangan bersama teman temannya. Agatha yang tak mau ambil pusing pun akhirnya menjawab. “Yaudah, lo tunggu sini aja biar gue yang ke lapangan mana buku lo biar gue aja yang kasih.” Clara memberikan buku tulis miliknya ke tangan Agatha. Agatha menerima buku, sebelum dia pergi Agatha menyempatkan diri untuk menyelipkan rambut rambut halus di wajah ke balik telinga. Di tengah tengah lapangan, Agatha mendengar suara anak cowok samar samar seperti sedang menggoda Gita dan Keysia. Agatha berjalan lebih dekat lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN