”Eh, Keysia! kata Akang Dion neng keysia buat Babang Kevin ajaaa,” ngadu Kevin dengan nada jenaka. Keysia menatap galak pada sang ketua basket itu.
”Ogah! Lo gak seganteng Dion! Mending lo sama Mbak Nur aja sono,” kata Keysia membawa-bawa salah satu penjual makanan di kantin.
Farrel tertawa meledek, mengejek pada kevin. “Ih! Kevin sukanya sama janda anak dua. Gue aduin ah ke tante Mawar masa anaknya punya selera janda anak dua!” Dion ikut tertawa.
”Diem lo Baby Fish! Jangan sampe gue gibeng tuh mulut mumpung gak ada Daniel di sini.” Kini giliran Kevin yang melotot ke arah Farrel yang langsung di bales Farrel dengan menjulurkan lidahnya.
”Gak takut! Masih ada Azka, Wlee!” Ledek Farrel dengan wajah menyebalkan. Cowok itu bersembunyi di balik punggu Azka yang ada di sebelah kanan Farrel sedang duduk sambil mendrible bola basket tanpa memperdulikan perdebatan yang terjadi.
Kevin berdecak, lalu beralih ke Gita. “Ehhh, Nweng Gita diem-diem aja lagi mikirin masa depan kita ya?” Goda Kevin yang mendapatkan pelototan garang dari Gita.
“Masa depan, masa depan! Yang ada gue lagi mikirin gimana cara mutilasi lo!” Gita mengepalkan tangan membentuk tinju ke arah Kevin.
Kevin bergidik ngeri. “Alak Mak, jodoh aku segalak ini rupanya.”
”Idih! Mandi kembang tujuh rupa gue jodoh sama lo!” Balas Gita. Karena malas mendengar suara Kevin yang terus mengganggunya, Gita berpindah tempat menjadi dekat dengan Pak Arthur.
”Galak amat sih, Neng. Potek hati ini melihat kau mendua.”
”Ish! Bodo amat!”
Segerombolan itu ada di pinggir lapangan yang berlawanan arah dengan Clara. Sementara pak Arthur duduk di kursi panjang yang sama dengan Azka dkk duduki. Posisi pak Arthur agak sedikit jauh dari arah kanan mereka. Sementara Keysia dan Gita masih berdiri di samping Pak Arthur sampai Pak Arthur selesai mengoreksi jawaban mereka.
”Ehhh Agatha, cantik banget sih hari ini pasti karena mau ketemu sama babang Kevin ya?” Pede Kevin. Agatha yang baru saja sampai hanya membalas godaan Kevin dengan senyum tipis, tak menanggapi.
”Lo lama banget, Clara mana?” Tanya Keysia begitu melihat Agatha berada di dekatnya.
Agatha menunjuk tempat Clara dengan dagu. “Tuh, katanya dia gak mau ke sini.” Pernyataan Agatha sontak menarik perhatian Kevin dan Vino.
”Ohhh, kalian lagi berantem? Pantesan Vino diem mulu dari tadi ternyata ada masalah rumah tangga.” Agatha, Gita dan Keysia melirik Vino. Sedangkan pelaku hanya diam sambil menatap lurus pada seseorang yang sejak tadi terus menganggu pikirannya tanpa berniat menghampiri.
”Kalian berantem mulu jadian kaga.” Dion ikut menimbrung.
Keysia berdesis. “Lo lagi ngatain diri sendiri atau apa?” Dasar tidak peka! Apakah Dion membutuhkan kaca? Kalo iya maka dengan senang hati akan Keysia berikan secara cuma cuma.
Kevin terbahak. “Mampus lo! Kode keras noh, sana cepet-cepet halalin gih udah gak sabar tuh,” ucap Kevin asal. Geplakan kepala Kevin dapatkan dari Dion.
“Mulut lo filter dulu gih, kotor semua belom pernah di bersihin ya?” Kevin melebarkan bola matanya.
”Anjing, Dion lo belajar dari mana ngomong pedes?” Tanya Kevin penasaran. Bukan Dion yang menjawab melainkan Keysia.
”Dari gue lah!” Ucap Keysia bangga. Kevin tepuk tangan dua kali.
“Emang cocok lo berdua, satunya gak peka, cuek dan satunya lagi galak-galak tapi malu-maluin.” Wajah Keysia sudah kesal bukan main, karena menganggap itu hinaan bukan pujian. Sementara Dion kembali menoleh ke arah Vino.
Cowok itu menepuk bahu Vino. ”Samperin gih, minta maaf trus jelasin kalo ini cuma salah paham, lo sih gak berubah-berubah heran gue.” Vino mengangguk tanpa ingin membalas ucapan Dion, cowok itu langsung berlalu dari sana menuju pinggiran lapangan satunya, dimana tempat Clara berada. Dari sini saja dia bisa melihat cewek itu sedang asik dengan ponsel miliknya.
”Dion, temenin Keysia yuk mau gak?” Dion sedikit memundurkan tubuhnya reflek ketika melihat Keysia sudah berdiri di depannya. Dia kaget, namun tetap stay cool.
”Kemana?”
Keysia membalas dengan suara anak kecilnya. Sungguh kontras dengan sikap Keysia yang galak. “Nonton bioskop, gue penasaran banget tau sama film horor thailand yang lagi viral itu, mau ya yaaa?” Mata Keysia berkilau, memasang ekspresi puppy eyes andalannya.
“Cih, giliran sama Dion manja banget kayak tikus baru melahirkan,” sahut Gita tiba-tiba. Keysia merotasikan bola matanya.
”Sirik aja lo! Makanya cari pacar sana! Noh Kevin udah ada.” Kevin yang merasa namanya di sebut menyisirkan rambut ke belakang dengan gaya sok cool. Gita melirik jijik pada Kevin sebelum mengalihkan ke Keysia.
”Idih! Lo belom pacaran ya, burung dara!” Tak terima Gita berkata seperti itu Keysia merangkul tangan Dion dengan manja yang di sengaja.
”Bodo amat! Gue otw kok sama Dion, yang penting udah ada calon. Emang lo calon aja belum ada.” Keysia menyenderkan kepala di lengan Dion.
”Otw lo itu berlaku buat waktunya kungkang tau gak bukan waktunya manusia. Palingan ke sampeannya tunggu Dion nikah dua kali.” Keysia mencebikkan mulutnya. Gita mulutnya serasa ingin Keysia lakban!
Kevin yang menyimak pun akhirnya tertawa terpika-pikal. “Parah Key, masa di samain sama kungkang,” penekanan Kevin semakin membuat wajah Keysia memerah karena menahan kekesalan. Bahkan Agatha dan Pak Arthur pun sampai tertawa mendengar perkataan Gita. Keysia menyentakkan kaki ke tanah, pergi dari sana.
“Kungkang itu apa?”
Semua yang ada di sana melongo mendengar pertanyaan Farrel.
”Tau ah gue cape.” Kevin mengangkat tangan dan melambaikan secara asal. “Kamera mana? Kamera mana? Nyerah deh gue nyeraah! Cape dedek dapet temen modelan kayak gini. Ya Tuhan, salah apa Kevin sampe kau kirimkan sahabat yang seperti ini untuk Kevin.” Wajah Kevin terlihat benar-benar frustasi melihat tingkah sahabat satunya ini.
“Sabar Vin, sabar. Anak sabar di sayang Mbak Nur.”
Kevin menepis tangan Dion dari pundaknya. “Sialan, Dion!”
***
Agatha melangkahkan kaki dengan santai. Pandangan cewek itu di edarkan ke samping sehingga terlihat lapangan yang sudah sepi. Hanya ada sekolompok dedaunan yang berjatuhan di sana. Kaki cewek itu berbelok masuk ke ruangan yang sering di sebut perpustakaan. Mumpung kelas sedang kosong, Agatha tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencari buku yang sempat di rekomendasikan oleh Clara.