Ketahuan

1088 Kata
Sampailah cewek itu di perpustakaan. Agatha langsung menyusuri bilik demi bilik untuk mencari buku yang ingin di baca. Sudah lebih dari lima belas menit, ternyata berkeliling dari bilik satu ke bilik lainnya, tidak membuat Agatha menemukan buku yang ia cari. Dimana letak buku itu? Jangan bilang di lantai dua. Haduh besar banget nih perpustakaan. Lagi-lagi Agatha ceroboh dengan tak menanyakan dimana letak buku itu berada. Karena tak mungkin dia mencari sendiri dengan ruangan yang seluas ini dan pengetahuan yang masih minim, Agatha akhirnya memutuskan untuk menuju monitor yang kira kira sama ukurannya dengan televisi kecil. Dia mengusap layar sampai layar itu menampilkan tampilan beranda. Jari cewek itu bergerak menuliskan judul yang ingin dia cari setelah dia menemukan ikon perncarian. Dan benar saja, buku itu berada di lantai dua. Agatha mematikan kembali monitor itu, mulai melangkahkan kaki menuju lantai dua. Sepanjang perjalanan dia berusaha mengingat huruf dan nomor pasti bilik buku itu. Agatha menengadahkan kepala ketika membaca tulisan di atas bilik itu ‘mengenal manusia’ dia yakin bilik ini yang dia cari. Agatha masuk lebih dalam lagi, memfokuskan matanya untuk mencari buku yang di maksud Clara. Manik mata itu bergerak dari kanan atas hingga pertengahan, lalu berhenti di tengah tengah. Senyum lebar terukir di wajah cewek itu. Ketemu! Agatha mengambil buku itu. ‘Mengenal Gangguan Mental pada Manusia’ bibir Agatha reflek bergerak mengikuti pelafalan judul begitu dia membacanya. Jurusan Psikologi adalah bidang yang ia cita-citakan sejak dulu, bahkan saking cintanya, Agatha sudah belajar sedikit materi materi jurusan itu yang pastinya masih materi dasar. Maka dari itu Agatha ketika Clara merekomendasikan buku ini dia langsung tertarik dan rela mencari. Agatha sudah bertekad ingin menjadi seorang psikolog. Impian pertama Agatha adalah menyembuhkan sang ibu dari gangguan mental yang sedang di alaminya. Bahkan Agatha ingin pasien pertamnya adalah sang Ibu. Tapi Agatha lebih senang lagi jika Ibunya bisa sembuh secepat mungkin. Agatha membawa buku itu di tanganya, kaki cewek itu pergi meninggalkan bilik itu ke lantai dasar. Dengan antusias cewek itu berlari sampai pada meja guru. "Permisi, Bu." Panggil Agatha kepada bu Mian. Guru itu mengangkat kepalanya. ”Iya, ada apa? Kamu anak baru yang tempo hari itu ya?” Agatha mengangguk cepat lantaran antusias kala Bu Mian masih mengenalnya dengan baik. ”Iya benar Bu, saya ke sini ingin meminjam buku ini Bu, boleh nggak?” Agatha menunjukkan buku yang ada di genggaman cewek itu, tak lupa dia taruh buku itu di atas meja untuk di periksa oleh Bu Mian. "Boleh dong, kenapa gak boleh?” Agatha terkekeh melihat wajah jenaka Bu Mian. Guru itu menarik buku lebih dekat lagi, lalu memeriksa buku seperti ingin memastikan sesuatu. “Sebentar ya saya cari’ kan dulu kartu pink untuk nama kamu." Bu Mian menarik kursi yang terdapat roda kecilnya menuju ke tumpukan kartu pink yang lumayan banyak. Bu Mian mencari dengan teliti dan terlatih, seperti memang ke ahlianya dalam bidang perpustakaan terlihat juga ketika guru itu membuktikan dengan kelihaiannya dalam mencari kartu pink itu. “Ini kartu kamu, kalau ingin meminjam buku pastikan kamu tulis terlebih dahulu nomor dan judul buku di kartu pink ini ya dan untuk pengembalian buku juga sama, kamu butuh tanda tangan saya sebagai penanda buku itu sudah di kembalikan, kamu mengerti penjelasan saya?” Agatha menganggukan kepala. ”Mengerti, bu.” Agatha menuliskan beberapa informasi di kartu pink itu. Mulai dari nomor dan juga judul buku. Setelah ia rasa cukup, di taruhnya kembali kartu pink itu. ”Sudah, Bu. Saya akan balikan secepatnya. Saya pamit dulu ya, Bu.” Setelah mendapat anggukan dari bu Siska, Agatha berlalu dari sana. *** Agatha memasuki wilayah kantin. Dia di sini atas titipan Gita dan Keysia. Mereka menitip minuman. Mau tidak mau Agatha harus membelikannya, karena dia sekalian ingin ke perpustakaan tadi. Ya, apa boleh buat meski badannya sudah gemetar, takut ketahuan. Dia tetap berjalan memasuki kantin angkatan mereka. “Permisi, Pak.” Pedagang yang di panggil pun menengok kearah Agatha. “Eh ada neng cantik. Mau beli apa neng?” Tanpa mikir panjang Agatha berkata. “Mau beli teh tarik sama soda lemon, ada pak?” Pedagang itu tersenyum ramah. “Oh tentu ada, neng. Sebentar Bapak bikinin dulu. Sok atuh duduk dulu, neng.” Pedagang itu mempersilahkan Agatha untuk duduk di sekitar lapaknya. Agatha membalas sikap ramah pedagang itu dengan senyum lebar. Dengan senang hati dia duduk di kursi yang sudah pedagang di sana. “Terimakasih, Pak,” balas Agatha seramah mungkin. ”Sama-sama, neng. Bapak kebelakang sebentar.” Agatha mengangguk. Pedagang itu berlalu dari sana, menyiapkan dagangannya. *** ”Ini neng pesanannya.” Agatha berdiri, lalu menerima sekantung plastik yang di berikan pedagang itu. “Totalnya berapa ya, pak?” “Tiga puluh lima, neng.” Agatha menyerahkan selembar kertas berwarna biru. “Ambil aja pak kembaliannya, saya pamit dulu ya. Terimakasih pak.” Di kantin sekolah ini memang sudah biasa jika mereka memberikan semacam tip untuk para pedagang. Pedagang itu mengangguk antusias. “Sok atuh neng. Terimakasih juga ya neng.” ”Sama-sama, pak.” *** Seorang cowok menapakan kakinya di ruang yang sangat sepi. Kaki itu dengan sendirinya berjalan ke arah benda dengan ukuran besar berada di pojok ruangan. Cowo itu duduk dan mulai memainkan benda itu. Damai. Itulah yang cowok itu rasakan ketika ia mulai nemainkan piano. Seakan-akan masalah yang di hadapinya sejenak berhenti terhalang oleh indahnya alunan piano. Mata tajam itu memejam mata, menikmati alunan demi alunan jari yang terus bergerak. *** Baru saja dia ingin melewati tangga dekat gedung tiga. Namun suara alunan piano menghentikan gerak kakinya. Karena tingkat penasaran Agatha yang terlampaui tinggi. Ia mulai mencari-cari sumber suara yang ternyata berada di ruang sebelah persis toilet yang waktu itu menciptakan momen memalukan Agatha dengan kakak kelas. Agatha mendatangi ruangan itu dengan langkah pelan. Seperti orang mengendap-endap. Ia mendekatkan kupingnya ke arah pintu yang di yakini nya sebagai tempat sumber suara itu berasal. Nah benar kan! Dari sini asal suaranya. Ia mengintip sedikit dari celah pintu yang tak terkunci. Pantas saja suara piano itu terdengar samar-samar, ternyata karena tidak di kunci oleh si pemain piano itu. Agatha mencoba melihat siapa dalang di balik permainan piano. "Kak Azka?" Agatha memincingkan matanya. "Kak Azka bisa main piano? " Tanyanya pada diri sendiri. Tak selang beberapa detik, Agatha mengendikkan bahu. “Gangguin gak ya? Em, gak usah deh udah mau jam pelajaran juga.” Saat hendak ingin berlalu dari sana. Suara berat dari seseorang mengejutkan Agatha. "Ngapain disini?" Agatha berbalik, membelalakan matanya, kaget. Astaga! Ia tertangkap basah! Ken-kenapa kak Azka udah ada di depan pintu? Kapan dia jalan ke sini? Kenapa Agatha tidak mendengar suara piano berhenti?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN