Ya ampun! Malu bangeet! Dia harus beralasan apa? Oke, tenang Agatha. Harus stay cool.
”Hai, Kak Azka!” Sapa Agatha riang. Meski dalam hati sudah tidak karuan.
"Ngapain disini?" Azka mengulang kata-katanya yang tadi sempat di abaikan oleh Agatha.
"Em.., itu., anu.." Haduh! Kenapa dia gagap sih.
"Apa?"
"Eh? apa ya?" jawab Agatha linglung. Mati sudah!
“Hah?” Bingung Azka. Agatha merutuki dirinya sendiri. Tatapan Azka dan desakan cowok itu membuat Agatha tidak bisa berpikir. Ish, Agatha! Jangan malu-maluin deh!
Agatha diam berpikir sejenak.
Azka pun diam menunggu alasan Agaha.
"Itu, Kakak kenapa gak kunci pintu sih? Kan kedengeran banget sampe luar." Pinter juga, Agatha. Tinggal dia acting berpura-pura marah dan kesal.
Azka menaikkan alisnya. "Trus?" katanya.
"Kok terus?"
"Lo ngapain disini?" tanya Azka
"Ya tutup pintunya lah!"
"Itu doang? Gak penting banget.”
Agatha menghela nafasnya. Omongan kak Azka tidak di saring dulu apa ya. Sakit hati nih Agatha. Tapi,
"Astaga, omongannya kak. Btw, suara pianonya bagus kak! Kapan-kapan ajarin aku dong,” ucap Agatha dengan binar antusias.
“Ogah.”
Azka membalikkan badanya, memasuki ruang musik. Agatha yang merasa di abaikan ikut masuk. Mengikuti dari belakang. Ia belum puas dengan pertanyaanya yang tak kunjung di jawab. Huh, menyebalkan emang. Harus ekstra sabar menghadapi sikap acuh cowok ini.
"Kak Azka dari kapan bisa main piano?" Agatha mulai membuka obrolan. Sesi wawancara di mulai.
Azka hanya mengendikan bahunya. Tetap masih tenang berjalan ke arah piano.
"Kok gak tau? Maksud aku kakak udah bisa main piano dari kelas berapa? dari kapan? Umur berapa? atau semenjak baru keluar dari perut ibu kakak udah jago banget main piano? hahaha..." Ledek Agatha tanpa sadar tertawa mendengar ledekannya sendiri.
Tapi, tunggu.
Aw! Apa ini keras sekali. Agatha mengangkat kepalanya. Eh, kenapa kak Azka berhenti? Ada yang salah? Agatha merasa aura tidak enak dari cowok di depan ini.
Azka berbalik. Menatap Agatha dengan tajam dan datar. Terlihat sekali rahangnya mengetat.
"Gak usah bawa-bawa ibu!" Setelah mengucapkan itu Azka keluar dari sana. Tidak jadi melanjutkan bermain piano.
Agatha terpaku mendengar perkataaan Azka yang cukup aneh untuk ia dengar. Gak usah bawa ibunya maksudnya apa? Kenapa cuma mendengar panggilan itu saja cowok itu sudah marah? Kak Azka lagi musuhan sama ibunya kah? Atau jangan-jangan… ibu kak Azka udah meninggal?!
Agatha menepuk dahi cukup keras. Astaga Agatha! bisa aja kak Azka udah gak ada ibunya! Kenapa lo b**o banget sih! Ledekan lo gak lucu sama sekali kalo kayak gitu, tau ga, ck!
Haduh, sekarang Agathaa bingung apa yang harus ia lakuin. Meminta maaf? Ya, Agatha harus meminta maaf atas kebodohanya tadi. Tapi bagaimana?
Agatha bolak-balik sambil menggigitkan kukunya, gelisah. Kalau minta maaf kepada orang lain mungkin Agatha mau. Tapi ini Azka! ia harus berpikir dua kali! Ia tidak tau reaksi apa yang akan Azka berikan kepadanya nanti jika mereka bertemu. Cowok itu terlihat sangat marah.
Minta maaf, gak, minta maaf , gak, minta maaf, gak.
Agatha menghitung jarinya sambil berucap demikian. Dan jawaban terkhirnya di jari yang ke sepuluh seolah menyuruh Agatha untuk meminta maaf kepada Azka.
Agatha menghela nafas, berusaha memotivasi dirinya untuk meminta maaf kepada Azka. Ayo! Lo harus minta maaf, Agatha.
Huh, baru saja mulai obrolan. Agatha sudah kena marah. Agatha berbalik, meninggalkan ruang musik. Tidak lupa juga menutup pintu itu.
***
Agatha mencari Azka di kelas cowok itu. Tak ketemu juga. Agatha memutuskan mencari tempat yang sekiranya cocok untuk Azka yaitu tempat yang biasa sunyi dan tenang. Apa ya? Taman? Atau perpustakaan? Agatha mencoba memastikan dulu di taman. Semoga saja cowok itu ada di sana. Agatha khawatir banget ini.
Sesampainya Agatha di sana. Dia juga tak kunjung menemukan Azka. Nihil. Kalau tidak ada di sini berarti harapan Agatha tinggal di perpustakaan? Agatha langsung melangkahkan kaki menuju perpustakaan. Kalau sampai tidak ada juga, entahlah apa yang harus Agatha pikirkan.
Agatha memasuki perpustakaan. Menyusuri lorong demi lorong perpustakaan. Seniat itu dia. Bahkan sampai lantai dua pun dia cari. Kurang niat apa coba dia untuk minta maaf. Namun lagi, lagi seperti di taman. Hasilnya nihil. Tidak ada Azka di sana. Bahkan Agatha sudah bertanya pada Bu Mian. Dan guru itu juga tidak merasa Azka memasuki perpustakaan.
Agatha berdiri di pintu perpustakaan. Kemana lagi Agatha harus mencari Azka? Dia sudah cape. Keringat juga sudah membanjiri keningnya. Dia juga tidak tahu harus cari kemana. Buntu.
Sembari memutar otak, Agatha memutuskan untuk duduk di kursi panjang dekat perpustakaan. Istirahat sejenak. Akhirnya cewek itu mendapatkan sebuah ide. Bukan sebuah ide lebih tepatnya sebuah kesadaran. Ah, kenapa dia tidak menanyakan saja langsung pada teman-teman kak Azka?
Agatha mengeluarkan ponsel, mengetik pesan kepada Dion. Cuma Dion dan Azka saja yang kontaknya ada di ponsel Agatha. Dia tidak sempat menanyai atau tidak ada untungnya juga dia menanyai kontak teman Azka satu per satu jika tidak ada keperluan. Mereka juga jarang berinteraksi.
Kak Dion
Gue di ruang osis sama Daniel, ke sini aja kalo emang penting.
Agatha membalas pesan Dion dengan cepat. Ia menaruh kembali ponsel. Melangkah cepat, mendatangi ruang osis yang terletak di gedung dua atau gedung khusus kelas sebelas.
***
Cewek itu mengintip di balik jendela ruangan saat ia sudah sampai di depan ruang osis. Dari sini Agatha melihat Dion, Daniel dan beberapa murid yang tidak Agatha kenal sedang duduk sambil mengobrol santai sepertinya, sebab dia tidak melihat wajah wajah serius di sana kecuali Daniel yang memang sudah perawakan cowok itu.
Tangan Agatha terangkat, mengetuk pintu dua kali.
”Masuk.” Suara dari dalam mengkode Agatha untuk masuk.
Agatha memasuki ruang osis. Seluruh murid di ruangan sana memandang Agatha, namun tak ada yang berani menegur cewek itu lantaran Daniel sendirilah yang menyuruh Agatha masuk.
Dion memberi aba-aba pada Agatha untuk menghampirinya dan Daniel yang berada di sebrang meja yang berlawanan dengan Agatha. Cewek itu pun segera mendatangi mereka.
“Kenapa, Ra?” Tanya Dion begitu Agatha berdiri di samping cowok itu.
“Em, aku ganggu ya?” Tanya Agatha tak enak hati begitu melihat beberapa cewek osis terlihat seperti risih dengan kedatangan Agatha.
Dion tersenyum. “Nggak kok. Ada apa emang?”
Agatha menarik nafas. “Em, aku ke sini cuma mau nanya. Itu tempat biasa Azka pergi sendiri dimana kak? Tau gak? ” Reaksi Dion pertama kali adalah mengerutkan dahi. Ada urusan apa cewek ini dengan Azka? Daniel pun mendengar ucapan Agatha, namun hanya menyimak tanpa ingin ikut dalam obrolan ini.
Meski bingung tak menutup kemungkinan Dion tetap menjawab. ”Biasanya sih dia nongkrong di markas atau nggak rooftop gedung tiga. Tapi kalo lo lagi cari keberadaan Azka dimana, dia ada di rooftop gedung tiga barusan gue sama dia habis telfonan,” jelas Dion.
Agatha menghembuskan nafas lega. Akhirnya ketemu.
“Yaudah deh kak, makasih banyak ya udah mau repot-repot ngomong sama aku.” Agatha jadi agak tidak enak hati karena takut menganggu waktu Dion.
Dion terkekeh. “Gapapa kali, santai aja Ra. Kita di sini juga masih belum mulai rapatnya. Masih nunggu seseorang.”