Setelah berputar-putar dan menanyakan pada kakak kelas yang bernama Ayu. Sampai juga Agatha di tempat ini. Dia berdiri di depan pintu rooftop gedung tiga. Terdiam. Mata cewek itu menyusuri pintu rooftop. Seketika kening Agatha berkerut.
Bukan. Bukan karena pintu itu memiliki hiasan atau ukiran yang indah, namun pintu itu terlihat sangat kecil. Agatha bingung, bagaimana bisa seorang Azka masuk ke pintu ini? Bahkan Agatha saja yakin dia harus menunduk untuk melewati pintu itu. Apalagi Azka yang tinggi Agatha saja hanya mencapai dagu Azka. Bayangkan saja ukuran pintu ini hanya sebatas d**a Agatha. Kecil sekali, bukan? Dia jadi agak ragu Azka di sini.
Agatha melewati pintu rooftop itu dengan menunduk. Setelah kaki itu menapak di wilayah rooftop, kepala Agatha yang tadinya tertunduk spontan mendongak. Waw, itulah kata pertama yang pantas untuk rooftop ini. langit biru keputihan dan awan lebat menjadi pemandangan yang Agatha lihat pertama kali. Begitu indah. Dia terpukau.
Agatha berjalan lebih jauh sedikit. Di sisi kanan, lebih tepatnya di samping tembok ruangan terdapat beberapa mesin. Mungkin itu ruangan sejenis gudang.
Agatha maju beberapa langkah. Di gazebo depan ruangan tadi, ada seorang cowok yang sedang tiduran sambil membelakangi pintu rooftop. Cowok itu tidur di tangga kedua gazebo.
Agatha menghampiri cowok itu. Berdiri di sampingnya. “Ehemm.” Dengan suara agak di keraskan Agatha berdeham.
Azka sama sekali tidak bergerak maupun merespon keberadaan cewek itu. Manik mata cowok itu masih tertutup dengan tenang di bantu dengan kedua tangannya yang terlipat di atas wajahnya. Agatha tahu itu hanya pura-pura saja. Azka tidak benar-benar tertidur.
"Aku kesini cuma mau minta maaf." Ucap Agatha to the point yang langsung mendapatkan respon dari Azka.
Cowok itu mengintip di balik tangan. Terdiam sejenak sebelum bangun dari tidur, sambil membenarkan badan agar duduk dengan tegak sambil menaruh kedua tangan di bawah d**a. Azka menoleh ke Agatha. "Apa?" Tanyanya dingin.
"Aku ke sini mau minta maaf, Kak" ulang Agatha sekali lagi.
“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Azka. Bahkan tatapan Azka tidak sepenuhnya ke arah Agatha, melainkan lurus menatap depan.
Huh, sabar. Agatha mengelus d**a berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Azka yang super duper menyebalkan hari ini. Eh ralat, menyebalkan setiap hari sepertinya.
“Oh doang, Kak?” Tersirat nada sindiran di kalimat Agatha.
“Apa lagi? “ sabaar Agatha!
Agatha menghembuskan nafas panjang. “Aku minta maaf sama kakak,” tekan Agatha agar Azka memahami maksudnya. Kenapa setengah-setengah sih. Irit banget tuh suara, mau di simpen buat vokal grup atau gimana pak?
”Hm.”
Astaga! Agatha menghela nafas kasar ketika mendapatkan respon Azka yang seperti itu. Ish! ingin rasanya ia menonjok kakak kelas yang satu ini! Tapi Agatha tak mungkin melakukannya. Dia tak seberani itu!
“Jaadiiii?” Tanya Agatha gemas dengan nada sengaja dia panjangkan.
“Apa?” Tanya Azka, lagi?!
“Astaga! Kakak sengaja ya?! Jadi kakak maafin aku atau nggak?!” Agatha yang sudah kesal pun mulai meninggikan nada bicaranya.
“Hm.” Agatha mengelus dadanya sekali lagi. Benar-benar butuh ekstra sabar jika bersama Azka. Rasanya ia harus berlatih kesabaran agar tanganya tidak secara reflek melayang dan berusaha memukul Azka.
“Sumpah kalo maksud kakak bercanda, ini gak lucu sama sekali! Jadi kakak maafin aku atau nggak?!” Tekan Agatha dengan wajah memerah, menahan amarah. d**a cewek itu sudah naik turun.
Tanpa di sadari Agatha, Azka tersenyum kecil. Walau terlihat samar-samar saja. “Hm, iya.”
“Iya apa kak?!” Greget Agatha.
Azka mendongak sampai tatapan mereka bertemu. “Iya, Agatha.”
”Heh?” Agatha mematung. Kak Azka bilang apa tadi? Dia gak salah dengar?
“Iya Agatha.”
Kemarahan di dalam diri Agatha sirna begitu saja saat mendengar nada bicara Azka yang baru pertama kalinya Agatha dengar. Sial, kenapa dia jadi salah tingkah? Agatha membasahi bibir bawah dengan lidah.
Hening melanda mereka berdua.
Agatha mengedarkan pandangan menatap sekelilingnya. Di sini dia dapat melihat bangunan bangunan menjulang tinggi dengan berbagai bentuk. Mulai dari kotak, mengerucut dan masih banyak lagi. Dia yakin jika dia ke sini pada malam hari Agatha dapat melihat indahnya lampu lampu hias dari gedung-gedung itu.
Seumur hidup Agatha tidak pernah ke rooftop , meski cuma untuk bersantai atau sekedar melihat-lihat. Agatha tidak akan mau, karena menurutnya rooftop itu seram sebagai orang yang phobia ketinggian rooftop bukanlah pelampiasan ketenangan bagi Agatha. Tapi sekarang? Sebelum kesini ia menyempatkan diri untuk berkata pada dirinya sendiri bahwa rooftop tidak seseram yang di bayangkan. Dan terbukti, tidak terlalu buruk untuk ukuran Agatha yang phobia ketinggian.
Agatha masih bisa mengamati pemandangan dari atas gedung, pemandangan ini cukup indah. Sangat indah malah untuknya yang belum pernah ke rooftop. Dia juga merasakan kedamaian dan ketenangan di sini. Agatha menghirup udara di sekitar, tanpa sadar cewek itu menutup mata, menikmati suasana yang baru ini baginya.
Tunggu sebentar Agatha baru menyadari jika dirinya tidak sendiri di sini. Ia membuka mata, melirik ke Azka yang ternyata sudah ke posisi semula, yaitu tiduran sambil menutup mata memakai satu tangan.
Tidak ingin mengganggu tidur Azka dan dia juga tidak tahu ingin berbuat apa di sini, akhirnya Agatha memutuskan untuk balik ke kelas. Sepertinya juga jam pelajaran sudah selesai, jadi Agatha harus cepat cepat balik. Saat hendak berbalik meninggalkan rooftop, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pergelangan tangan Agatha. Cewek itu menengok ke arah pergelangan tangannya.
“Di sini aja.” Ternyata Azka lah pelakunya. Kedua alis Agatha berhasil bertautan bersamaan dengan Azka yang menyelesaikan ucapannya.
“Hah?” Dia tidak salah dengar bukan? Seorang Azka meminta pada Agatha.
“Temenin gue,” tekan Azka masih dengan mata tertutup.
“Ma-maksudnya, aku temenin kakak disini?” Tanya Agatha ragu. Semoga jawaban Azka tidak sesuai dengan pikiran Agatha.
“Iya.” Pengakuan singkat Azka sudah membenarkan pikiran Agatha. Hal itu cukup membuat Agatha terperangah. Jantung cewek itu lagi-lagi di buat tak aman oleh sang kakak kelas ini.
Setelah berpikir keras, dengan sedikit enggan, Agatha mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas. Dia kembali berdiri di samping tempat tidur Azka itu dengan melipat kedua tangan di bawah d**a. Bosan dengan pemandangan di depan mata, Agatha menundukkan kepala menatap ke arah Azka yang dari tadi tidak mengeluarkan suaranya. Apakah cowok itu tertidur?