Menjelang Ujian Awal

1032 Kata
“YEAYY! AKHIRNYAA TEH TARIKNYA JADII!” Frenya bersorak kegirangan ketika Agatha masuk sambil membawa nampan. Film yang mereka tonton sudah berakhir, bertepatan dengan kedatangan Agatha. Sebentar, Frenya memicing, kenapa ada Azka? Kenapa jadi mereka yang membawa semua minuman pesana mereka? Kemana Vino? Frenya ingin bertanya, namun ia urungkan. Dia sedang marah pada Azka, jadi dia memutuskan untuk mogok bicara sama cowok itu. Azka pergi dari sana tanpa sepatah katapun. “Teh tarik ada dua ya, satu buat Kak Anya satunya lagi buat Gita.” Frenya menunduk, tangan kanan ia buat untuk menaruh nampan, sementara tangan kiri memegang teh tarik. Ia mensejajarkan nampan di sebelah meja, satu tangan lain mengangkat gelas-gelas ke meja. Sudah semua. Agatha bangun dari jongkok. ”WUIHH! GUE JUGA DI BUATIN TEH TARIK!” Gita senang bukan main. Dia orang kedua yang langsung mengambil gelas dari meja. Di susul Clara dan Keysia. Clara nengok kanan-kiri. ”Vino kemana?” Ia menatap Agatha, meminta jawaban. ”Oh itu, kak Vino lagi di toilet mules katanya.” Terjawab sudah pertanyaan Frenya. DRTT! DRTT!! Mereka serentak menengok ke sumber suara nyaring itu. “Hp lo, Ra.” Gita yang paling dekat dengan tempat duduk Gita mengambil ponsel cewek itu. Menyerahkan pada sang pemilik. Agatha melihat nama yang tertera. Deg! Bibinya menelfon. Agatha merasakan Firasat yang tidak enak. Langsung saja dia mengangkat telfon itu. “Halo, Bibi Santi, ada apa Bi?” Firasat itu semakin kuat. ”Halo Non, Daffa Non, Daffa jatuh dari tangga, Non!” Suara panik dari sebrang telfon membuat tubuh Agatha bergetar. Dia cemas bukan main. “Kok bisa?! Yaudah aku ke sana sekarang, Bi.” Agatha mengakhiri panggilan sepihak. Cepat-cepat dia bangkit dari duduk. ”Lo mau kemana, Ra?” Cegah Keysia, mencekal tangan Agatha begitu melihat Agatha ingin pergi dari sana. “Tenang dulu, Ra.” Semua yang di ruang ini memfokuskan perhatian mereka pada Agatha, termasuk Azka. Mereka terkejut melihat Agatha nampak kacau dan mengeluarkan air mata. Mereka tidak bisa mendengar pembicaraan Agatha, sebab cewek itu tidak menyalakan speaker panggilan. “Agatha kenapa nangis?” Tanya Frenya ikut cemas. Tangis Agatha pecah. “A-adik gue jatuh dari tangga,” lirih Agatha. Mereka berempat terkejut bukan main mendengar perkataan Agatha. Gita memeluk Agatha, karena emang dia yang paling dekat dengan Agatha. Sedangkan Keysia menepuk punggung Agatha dan Clara mengelus kepala Agatha. ”Lo pulang sekarang aja, Ra,” kata Clara. Dengan suara serak dan hidung memerah, Agatha berujar. “Iya, tapi kan gak boleh pulang dulu?” Agatha melirik teman temannya yang saling terdiam. Gerbang sekolah masih tutup, mereka belum boleh keluar sebelum bell pulang berbunyi. Itu masalah ini serahkan pada Frenya. Dengan melupakan kemarahannya, Frenya berbalik badan, menengok ke Azka. “Azka anterin Agatha Yayaya!” Mohon Frenya pada Azka yang juga ikut menyimak. Azka mengangguk. “Hm, ayo.” Dia berdiri, meninggalkan markas. Tidak lupa membawa tas dan helm. “Itu Agatha pulang bareng Azka aja.” Frenya mendekati Agatha. Gita melepaskan rangkulan pada Agatha. “Iya lo udah bisa pulang. Pulang sekarang aja,” ujar Keysia terselip nada sedih dalam perkataanya. Agatha menganggukan kepala. Dia menghapus air mata yang sudah membasahi pipi. “Gu-gue pulang duluan,” kata Agatha terbata-bata. Clara mendekati Agatha lalu memeluknya erat. “Hati hati ya, gue ikut sedih dengernya.” Entah kalian mau bilang mereka berlebihan atau sejenisnya. Namun mereka sama-sama tahu permasalahan yang telah di hadapi Agatha. Hanya adiknya yang sekarang Agatha punya. Jadi mereka ikut merasakan kesedihan Agatha. Agatha tersenyum lirih. “Makasih udah peduli,” tulus Agatha. Melihat teman temannya begitu perhatian Agatha jadi semakin terharu. ”Yaelah kayak sama siapa aja lo, Ra.” Gita terkekeh. Agatha melaimbaikan tangan. “Pergi dulu ya, Dadah!” Clara mengepal tangan memberi semangat pada Agatha begitu juga Keysia dan Gita. Sementara Frenya ikut membalas lambaian tangan Agatha. *** Langkah kaki Agatha berhasil menyusul Azka. Mereka sudah berada di luar parkiran, lebih tepatnya tempat untuk menunggu. Azka di atas motor, memberikan jaket pada Agatha. Wajah sembab itu terlihat bingung. Jaket? Untuknya? Melihat kebingungan Agatha dan tak kunjung di ambil, Azka berujar. “Pake aja.” “Untuk apa?” “Angin sore gak baik buat lo.” Azka memberikan satu tangannya pada Agatha, memberi kode pada Agatha untuk memegang tangan cowok itu. “Naik.” Agatha berkedip dua kali. Akh! Gak ada waktu buat baper-baper Agatha! Dia langsung mengambil tangan itu, lalu naik ke jok motor hitam milik Azka. Azka menjalankan motor dengan kecepatan yang sedikit dia naikan. Bukan untuk modus, namun dia tahu saat ini Agatha sedang ingin cepat-cepat sampai rumah. *** Pagi ini sekolah mengadakan upacara. Meski bukan hari senin, namun para murid sudah tahu apa yang mau di bahas di upacara kali ini. Dan itu sudah menjadi kebiasaan setiap hari jumat jika hari seninnya mereka akan mengadakan ujian. Ya, senin yang akan datang mereka akan mengadakan ujian awal semester. Oleh sebab itu, upacara di adakan sekarang untuk memberitahukan pada murid-murid secara formal dan mengingatkan para siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian esok senin. Seluruh siswa dan siswi sudah ramai berbaris rapih di tengah lapangan satu dengan memakai almet angkatan mereka. Fyi, Sma Kristal memang mempunyai dua lapangan di outdoor dan satu lapangan indoor. Termasuk Keysia, Clara dan Gita yang sudah berbaris di barisan tengah kelas mereka. Agatha? Itu dia yang tidak mereka tahu. “Agatha kemana sih, jangan bilang dia telat.” Keysia mencari-cari Agatha di gerbang pintu utama sekolah. Dari banyaknya murid berlarian masuk, ia tidak melihat cewek berambut panjang yang sering memakai jepitan di kedua sisi kanan-kirinya. “Tumben banget dia belum dateng jam segini.” Baru kali ini dia tidak melihat Agatha saat bell sudah berbunyi. Sudah di pastikan cewek itu telat. Untuk yang pertama kalinya. “Mungkin karena Daffa.” Bisa jadi, Keysia dan Gita ikut membenarkan ucapan Clara. Lebih baik mereka menunggu saja sampai Agatha sampai. Para guru masih belum berbaris, semoga saja Agatha bisa datang sebelum guru-guru datang. *** ”Baik anak-anak upacara akan di mulai, diharapkan untuk tertib dan tidak ada yang berisik!” Peringatan guru kesiswaan di mic podium terdengar begitu jelas di telinga para murid. ”Udah mulai upacara! Agatha kemana sih.” Protokol upacara mulai membacakan tata upacara. Barisan siswa maupun guru, berbaris dengan tertib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN