Teh Tarik

1008 Kata
”Haduhh seret nihh.” Gita sengaja mengeraskan suara agar Frenya mendengar. Clara yang ada di samping Gita merotasikan bola mata. Dasar tidak tahu diri! Bell akhir pelajaran sudah berbunyi, film yang mereka tonton juga hampir mendekati ending. Tapi makanan dan minuman mereka sudah habis sejak lima belas menit film di putar. Alhasil, Gita harus menahan haus. Bersyukurnya Frenya langsung sadar. “Oh iya! kalian haus? Mau minum apa? Di kulkas markas ada minum kalo mau. Lengkaaap semuaa! Ada s**u, teh, kopi biasa, kopi mesin, soda, jus sampe es cream juga ada hehe. Nanti Azka yang ambilin minum kalian.” Azka yang asik memainkan ponsel mendongak. Apanih? Kok bawa-bawa namanya. Dia menatap Frenya. Cewek itu hanya cengengesan. ”Lo bisa bikin teh tarik gak? Mau dong.” Sungguh tidak tahu diri Gita. Agatha memperingati Gita dengan cara menabok bahu cewek itu yang ada di sebelahnya. Tidak terlalu kencang, namun dapat membuat Gita terhuyung kedepan. Agatha melotot. ”Gita! Kak Anya bukan barista tauu!” “Eitss! Tenang aja Agatha, di sini ada barista Azka yang akan membuat minuman kalian,” cengir Frenya tanpa bersalah. Biarkan saja, apa gunanya kedai samping pantry kalau tidak di manfaat, bukan? Jarang sekali ada tamu di markas jadi sekalinya ada tamu Frenya harus memberikan pelayanan yang baik. Walau bukan dia yang akan membuatnya. Dan tentu bukan dia yang akan kedapur. Agatha melotot lagi. Dia membisikkan sesuatu pada Gita. “Gita jangan malu-maluin bisa? Nanti kalo kak Azka marah bahaya tauuu,” bisik Agatha dengan suara pelan. Haduh. Agatha tidak ingin berurusan dengan Azka. Tapi bukannya mengurungkan niat, Gita justru dengan gamblang bertanya pada Frenya. “Kak, kata Agatha jangan malu-maluin emang gue malu-maluin ya? Katanya juga nanti kak Azka marah, emang iya,” polos Gita. Tidak! Dia pura-pura polos, Agatha tahu itu. Spontan Agatha mencubit pinggang Gita. “Gitaa!” Gumam Agatha dengan suara tertahan. Wajah cewek itu sudah memerah malu. Rasanya ingin pulang saja dia! Gita malu-maluin! Gita menghadap Agatha. “Udah gapapa, Ra. Kapan lagi di bikinin minuman sama cowok inceran satu sekolah hehehe,” cengir Gita. Clara dan Keysia yang hanya menjadi penonton menepuk dahi. Tak habis pikir. ”Bikin sendiri!” Jutek Azka. Mampus. Gita melongo. Kini dia yang merona malu. Kepedeannya menurun drastis begitu mendengar suara dingin Kak Azka. Ah, seharusnya dia belajar dari pengalaman semester satu. Apakah di acuhkan oleh kakak kelas ini tidak membuat Gita jera? Frenya mengerucutkan bibir. “Kalo Azka gak mau s**u putih yang ada di kulkas Frenya buang semuaa!” Ancam Frenya. Azka menaikkan alis. ”Gue suruh Daniel beli lagi,” acuhnya. Frenya menghentakkan kaki. Dia juga ingin teh tarik! ”Azka!” Rengek Frenya. Azka tidak peduli sama sekali, dia justru kembali asik memainkan ponsel. Sontak itu membuat Frenya kesal bukan main. Kenapa sih Azka susah sekali di bujuk?! Menyebalkan! Frenya mencari cara agar Azka mau membuatkan mereka minuman. Apa dia harus menelfon Karin? Tapi Karin lagi belajar pasti. Trus bagaimana?! Keysia menyenggol Gita agar menunda permintaannya. “Gara-gara lo tuh,” bisik Keysia. Gita juga yang awalnya antusias jadi tidak minat lagi karena tak enak hati melihat Frenya terus membujuk Azka. “Em, udah gak usah kak, yang lain aja,” saran Gita. Frenya menggeleng kencang. ”Gak! Pokoknya harus bikin teh tarik! Anya juga mau teh tarikk tau!” Kalimat terakhir sengaja dia melirik Azka agar cowok itu peka. Namun hasilnya nihil. Tuh kan! Semua gara-gara Gita! Agatha mengacungkan tangan kanannya. Serempak Gita, Clara, Keysia dan Frenya menengok Agatha. “Biar aku aja yang bikin, Kak,” ucap Agatha menawarkan diri. Alis Gita berkerut. “Emang lo bisa?” Tanyanya ragu. Agatha hanya mengangguk. Wajah ingin menangis Frenya berubah cerah seketika. “Serius! Kamu emang bisa bikin?” Agatha mengangguk dan tersenyum. ”Asik!! Bikinin aku teh tarik yaa. Di sana udah ada bahan-bahannya kok lengkaap, kamu tinggal liat aja nama-namanya.” Lagi, Agatha mengangguk. Frenya tersenyum lebar. “Kalian mau apa? Nanti Vino yang siapin, gak jadi Azka dia pelit!” Frenya melirik sinis Azka yang tampak tak menggubris. ”Em, gue soda aja deh, kak.” Tidak ingin menjadi biang masalah lagi, Gita akhirnya hanya meminta soda. Frenya menghadap Clara dan Keysia. “Kalo Kalian?” “Teh biasa aja deh,” ucap Keysia. Clara mengangguk. “Samain aja.” Frenya berbalik badan, “Vino temen baiknya Anya! Siapin minum dong.” *** ”Bisa sendiri kan, Agatha?” Tanya Frenya. Agatha mengangguk ragu. “Nanti kalo gak tau tanya aja Azka atau Vino di sana, oke?” Agatha mengacungkan dua jempol, lalu tersenyum. Tidak mungkin dia mundur hanya karena mendengar nama Azka, bukan? Dia sudah setuju untuk membuat teh tarik. Sudah tidak bisa lagi dia menolak. Cewek itu bangkit, mengibas-ngibaskan baju dengan tujuan baju itu rapih. Tidak, dia tidak benar benar berniat merapihkan baju, itu hanya pengalihan untuk menormalkan rasa gugup dalam diri Agatha. Helaan nafas terdengar panjang. Setelah itu dia melangkahkan kaki menuju pantry. Dari sini saja dia sudah bisa melihat Azka sedang duduk kursi meja pantry. Agatha langsung menunduk. Saat hendak melewati meja pantry, tangan seseorang mencengkram pergelangan tangan Agatha. Cewek itu terkesiap. Ia mendongak. Tatapannya terkunci pada seorang cowok yang menatap lurus pada Agatha. Baru kali ini dia bersentuhan dengan seorang Azka. Dingin dan serasa disetrum. Itulah yang dia rasakan ketika merasakan kulit cowok itu. “Gue aja,” singkatnya. Agatha menarik napas terkejut. Kegugupan melanda Agatha. Dia tidak tahu harus menjawab apa. “Em, le-lepas, Kak.” Pada akhirnya hanya kalimat itu saja yang keluar dari mulut Agatha. Namun Azka tak kunjung melepaskan cengkraman tangan itu dari Agatha. “Lo di sini aja.” Agatha panik. “Eh! nggak kak, aku aja yang bikin,” jawab Agath cepat. Kenapa cowok ini jadi berubah pikiran. Apa karena Agatha? Dia tidak ingin melihat muka Agatha? Tatapan cowok itu mendukung opininya. Tapi Agatha sudah berjanji, tak mungkin dia ingkari. “Yaudah berdua,” putus Azka. Masih mencengkram tangan Agatha, Azka berdiri. Cowok itu menariknya ke dalam kedai tepat di samping pantry, memposisikan mereka tepat di depan mesin kopi. Arghh! Jantung Agatha serasa lari marathon!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN