Markas

1086 Kata
”Gak ada guru dong. Eh, ayo duduk jangan sungkan sungkan.” Frenya mengajak mereka berempat untuk duduk di sofa. “Lala, ambilin mereka minum dong,” suruh Frenya. Tidak kebalik? Harusnya dia yang mengambilkan minum untuk tamu-tamunya. Dasar Frenya. “Gak usah kak kita udah mesen minum tadi ada di Vino sama makanan sekalian,” ujar Keysia. Frenya mengacungkan jempol “Oke dehh!” Kemudian berlalu ke pantry untuk mengambil minuman untuk dirinya sendiri. Gagal sudah menyuruh Clara. Mereka duduk di sofa dengan canggung. Bagaimana tidak, mereka bertiga belum pernah ke sini, bahkan Keysia sekalipun. Apalagi Agatha yang merupakan anak baru. Keheningan terjadi sesaat, Agatha bergerak gelisah. Baju yang di pakainya belum juga di ganti. Dan itu sangat tak nyaman. Seperti teringat sesuatu, Frenya muncul lagi. “Oh iya! lupa kasih bajunya ya hehe. Sebentar ya Anya ambil dulu.” Agatha menarik nafas lega. Akhirnya peka juga. ”Si Vino mana sih! gue udah laper banget nih.” Gita merengut sebal. Keysia mendorong bahu Gita. ”Sabar, Neng.” Gita mendengus. “Lo sering ke sini, La?” Tanya Keysia penasaran. “Gak, baru tadi. Itu juga karena terpaksa dan sama kayak kalian gue juga pas dateng ke sini bawaanya canggung. Tapi sekarang udah lebih better.” Mereka bertiga mengangguk. ”Jujur nih ya, gue bingung banget mau ngapain di sini, canggung banget gila! Bayangin aja kita masuk markas anak cowok-cowok populer di sekolah! Dan yang pasti gak bisa sembarangan orang tau,” ungkap Gita dengan jujur. ”Kita gapapa di sini? Pulang aja yuk, gue takut huaa.” Agatha agak sedikit tidak enak hati, karena sudah masuk ke tempat orang lain. Dia belum pernah kenal sama geng cowok ini. Bagaimana jika salah satu dari mereka ada yang tidak suka mereka ke markas ini? “Gapapa, mereka baik-baik kok sebenernya, tapi ya emang tampangnya aja sangar-sangar,” Penjelasan Clara di setujui oleh Keysia. “Bener kata Clara, lo jangan liat dari luarnya, Ra. Awalnya gue sempet mikir kayak lo juga sih, gue kira mereka geng anak berandalan. Eh, ternyata jangan menilai buku dari covernya itu bener adanya,” Gita mengangguk membenarkan pendapat Keysia. Ya, dia akui yang di katakan Keysia benar semua. *** Sisa-sisa jam pelajaran mereka habiskan di markas. Bukan tanpa sebab mereka memilih menetap di sini, Mengingat Agatha hanya memakai baju biasa, bukan seragam. Dan mereka juga belum makan. Jadi mereka memutuskan untuk meminta ijin pada sang guru yang akan mengajar melalui perantaraan Vino. Entah apa alasan yang cowok itu berikan. Selama di markas, waktu mereka habiskan hanya untuk makan sambil menonton film melalui TV. Bermula dari Frenya yang membahas sebuah film membuat mereka berempat penasaran sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menonton film itu di sini. Ketukan sepatu seseorang di tangga terdengar begitu nyaring, hingga membuat Agatha yang berada di kursi pojok dekat tangga menoleh ke sumber bunyi itu. Dia terpaku beberapa detik, jantungnya berdetak tak karuan. Astaga! Kenapa ketemu dia lagi! Seorang yang baru saja muncul dari balik lorong tangga ialah seorang yang sangat Agatha hindari keberadaannya. Memory terakhir kali mereka bertemu berputar jelas di otak cantiknya. Astaga! Mereka bertemu kembali! Agatha membuang muka ke arah televisi pura-pura tidak melihat cowok itu. Ya ampun! Semoga dia lupa dengan Agatha! Agatha sangat amat tahu kakak kelas sombong itu adalah salah satu bagian dari geng cowo ini. Dia selalu melihat kakak kelas itu di antara perkumpulan geng ketika berpapasan. Saat berpapasan, Agatha selalu berusaha untuk tidak menengok ke arah cowok itu. Malu jika kakak kelas sombong mengungkit kejadian di toilet itu lagi! Agatha tidak suka. Begitu juga saat ini, dia berusaha untuk tidak melihat wajah kakak kelas sombong itu meski wajahnya menggoda untuk di lihat, EH! Azka datang dengan membawa tas di satu sisi pundaknya. Cowok itu mendatangi dapur yang sudah ada Vino di salah satu kursi pantry. Cowok itu sengaja tidak gabung dengan para perempuan dan hanya melihat dari jauh ceweknya, Clara dan sesekali ikut menonton film itu. Vino melirik Azka. “Lo pulang cepet lagi?” Azka mengangguk. Cowok itu menaruh tas di meja pantry, berjalan ke arah kulkas, lalu mencari s**u putih kesukaannya yang pasti harus selalu ada di sini maupun di apartemennya. Cowok itu sudah pernah mengingatkan teman-temannya untuk tidak mengambil s**u khusus untuknya itu. Sementara teman temannya hanya menyetujui tanpa minat, siapa yang akan suka s**u tidak berasa itu? Bahkan Farrel yang suka s**u saja dia menyukai s**u coklat bukan s**u plain, tanpa rasa. ”Gue tebak, pasti gara-gara lo bisa jawab pertanyaan Pak Dodi lagi kan?” Lagi Azka mengangguk. Vino menepuk tangan pelan. “Gak heran lo jadi anak kesayangan Pak Dodi,” lanjutnya lagi. Azka menanggapi dengan acuh, perhatiannya jatuh pada kelima cewek, ralat keempat cewek yang entah bagaimana bisa ada di sini. ”Mereka ngapain?” Tanya Azka. Fokus nya masih lurus ke empat cewek itu. ”Temen Clara yang itu.” Vino menunjuk Agatha dengan dagunya, lalu melanjutkan ucapan. “Bajunya habis kena jus jambu, akhirnya gue telpon Frenya nanyain ada baju ganti gak, ternyata ada, yaudah gue bawa mereka ke sini.” Azka memperhatikan punggung cewek berbaju pink. Memang benar, hanya dia yang tidak memakai seragam dan Azka tahu itu adalah baju pink Frenya. *** Oh iya! Mengenai kelas. Pasti banyak yang bingung kelas mereka itu jurusan apa, satu kelas atau beda beda kelas? Jadi akan di jelaskan di sini. Untuk Agatha, Keysia, Gita dan Clara mereka satu kelas di kelas SEPULUH IPA DUA, sedangkan Frenya kelas sebelas di kelas SEBELAS IPA EMPAT. Sedangkan Karin dia beda sekolah dengan mereka, cewek itu sudah kelas dua belas sama seperti para laki-laki. Sementara untuk para cowok. Azka duduk di kelas DUA BELAS IPA SATU. Daniel dan Farrel menempati kelas DUA BELAS IPA DUA. Dion dan Kevin berada di kelas DUA BELAS IPS DUA. Dan yang terakhir Vino, dia menempati kelas DUA BELAS IPS EMPAT. Jika membingungkan maka ingat saja jika Dion dan Farrel satu kelas, Kevin dan Dion satu kelas, sedangkan Azka dan Vino beda kelas. Untuk Azka dia bisa pulang duluan, karena saat ini pelajaran yang sedang kelasnya adakan adalah matematika. Dia berhasil mengerjakan soal kuis dengan cepat dan tepat tanpa perlu remedial. Akhirnya teman-temannya pun remedial, sedangkan dia dan dua orang lagi di pulangkan. Ya, untuk apa mereka di kelas jika nilai mereka sudah bagus. Jika mengerjakan tugas maka tidak adil untuk mereka, karena mereka sudah mendapat nilai bagus. Bisa saja nilai itu hasil dari bergadang mereka tadi malam. Jadi Pak Dodi membiarkan mereka pulang cepat sebagai bentuk penghargaan untuk mereka. Padahal waktu masih ada dua jam pelajaran sebelum seluruh murid benar-benar pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN