Sisi Lain Sekolah

1032 Kata
”Lo ngapain di sini? Gak usah ikut campur, Sialan!” Maki Hendru dengan tangan terkepal. Vino menatap lurus Hendru. Untung ada Clara. Lawannya sudah emosi tak karuan, namun anehnya Vino tak merasakan hal yang sama. ”Ngapain di sini? Oh, tentu gue berhak, sangat berhak. Clara punya gue!! jadi siapa yang berani nyentuh dia berarti secara gak langsung dia berhadapan sama gue juga!” tekan Vino dengan lantang. Suara cowok itu agak di keraskan agar semua yang di sini pun ikut mendengar pernyataan itu. Bisikan-bisikan terdengar lagi di telinga Vino. Salsa melebarkan kedua matanya. Sial! dia tidak tahu Clara sedang dekat dengan Vino. Si cowok yang tidak pandang bulu jika sudah berantem. Lebih baik mereka tidak memancing kemarahannya kalau tidak ingin menjadi target samsak cowok itu. Dan Salsa tahu Hendru bukan lawan dari Vino. Selain itu, dia juga malas berhubungan dengan seorang Vino. Ia tidak ingin mengambil resiko! Dengan kekesalan yang tertahan Salsa menyentakkan kedua kakinya, memberi aba-aba untuk teman temannya termasuk Hendru untuk meninggalkan tempat ini. Tidak lupa dia memberikan tatapan penuh permusuhan pada Clara dan juga teman teman Clara. *** Akhirnya Gita bisa bernafas lega ketika melihat Salsa dan antek-anteknya pergi menjauhi mereka. Gita mengalihkan perhatian pada Agatha. “Baju lo, Ra.” Perkataan Gita mengalihkan perhatian Keysia, Clara dan Vino. “Baju lo jadi penuh jus semua, Ra. Maaf ya gara-gara gue lo juga jadi kena,” ujar Keysia tak enak hati. Agatha tersenyum. “Gak apa-apa, ini bukan salah Keysia tauu.” “Sialan emang tuh Nenek sapu ijuk! trus gimana ini? Lo bawa baju ganti gak? “Tanya Gita pada Agatha. Cewek itu menggelengkan kepala. “Kalo kalian pada bawa gak?” Tanya Gita pada Clara dan Keysia. Clara menggeleng kepala. “Gue juga gak bawa.” Keysia benar-benar menyesal tak membawa baju ganti. Gita mengerutkan bibi. ”Yah, Gue juga gak bawa lagi, mana gak ada pelajaran or hari ini.” Mereka nampak berpikir mencari jalan keluar. “Lo masih ada sisa baju bersih di markas? Hm, temen Lala kena jus bajunya. Lo di sana? Yaudah kita ke sana.” Mereka berempat serentak menoleh ke Vino. Cowok itu sedang menelfon orang. Vino mematikan panggilan, menghadap ke mereka berempat. “Ayo ikut gue, Frenya ada baju cadangan.” Masih dengan menggenggam tangan Clara Vino jalan mendahului mereka. ”Eh tunggu, makanan kita gimana?” Tanya Gita. Dia belum makan, tidak rela dia makanannya di sia-siakan begitu saja ketika sudah di pesan. Dan dia yakin teman-temannya juga lapar sama sepertinya. Vino menghela nafas, dia menengok ke arah cowok yang entah siapa namanya. “Eh, jagain meja nomor tiga puluh empat dong, kalo udah ada makanan sama minumannya lo bilang ke pelayannya suruh bungkus aja trus lo pegang dulu nanti gue ke sini lagi, ngerti gak?” Karena anak cowok ini mengetahui siapa Vino. Dia hanya mengangguk cepat sebagai jawaban. Kesialan apa dia bisa berurusan dengan cowok ini. Vino menepuk bahunya dua kali, anak cowok itu melototkan kaget. Takut ada salah berbicara. Vino mengalihkan perhatian pada anak cowok itu, beralih ke para cewek-cewek di hadapannya. “Kalian makan di markas.” Lalu melangkahkan kaki, meninggalkan kantin dengan Clara yang masih dalam genggaman Vino dan tak akan pernah ia lepaskan. Mereka saling pandang satu sama lain. Gita melirik ke Keysia. “Lo pernah ke markas mereka?” Keysia menggelengkan kepala. “Udah gapapa, kasian Clara tuh di bawa Vino,” ujar Agatha yang langsung di angguki oleh mereka berdua. Sebelum pergi dari sana Agatha menyempatkan diri untuk berterimakasih pada cowok yang tadi Vino suruh untuk menunggui makanan mereka. *** “Waw, keren banget! Baru tau gue ada ruangan ini di sekolah kita,” gumam Gita masih bisa mereka dengar. Mereka tiba di sebuah ruangan bernuansa hitam pekat. Sepanjang perjalanan menuju ruang bawah tanah ini mereka tidak henti-hentinya berdecak kagum. Mulai dari pintu yang ternyata berada di belakang tembok ruang kepala sekolah yang menyaruh dengan warna tembok asli. Bahkan jalanan dari pintu itu mereka mengira akan sangat gelap dan bau, ternyata tidak. Jalanan ini di penuhi lampu kecil kecil di setiap tangganya. Dan tidak bau justru sebaliknya, tangga ini wangi kayu baru yang semerbak. Belum sampai situ kekaguman mereka, ruang markas pun tak kalah menganggumkan dari yang mereka bayangkan. Tidak di sangka di ruang ini terdapat pantry, buku-buku, juga banyak sofa, kursi dan toilet juga ada ternyata. Tidak lupa juga televisi ukuran cukup besar terpajang indah di tengah tengah ruangan, menyatu dengan tembok. Karpet bulu hitam pun menambah kesan maskulin yang gagah. Yang bikin tercengangnya lagi, terdapat lemari besar berwarna putih yang sangat kontras dengan nuansa ruangan ini. Berbentuk kotak-kotak. Kira-kira ada sepuluh kotak mungkin. “Itu lemari buat taruh barang-barang kitaa! Dalemnya juga sama persis kok kayak loker pada umumnya, tapi lebih gede dikit aja. Nah! di situ Anya simpen baju baju cadangan, tapi kebanyakan jaket sih sama parfume and skincare Anya sih hehe, karena di sekolah ini gak boleh bawa barang barang kayak gitu, jadi Anya simpan di lemari itu deh. Kalo udah istirahat ke dua pasti selalu cuci muka di sini, enaak kaaan hahaha,” jelas Frenya yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. Sedangkan Vino sudah kembali ke kantin. “Wah! curang lo, Kak,” sahut Gita dengan nada bercanda. Frenya terkekeh lucu. “Biarin aja! Kan Anya cuma memanfaatkan privilege Daniel, Hahaha..” Mereka ikut terkekeh. “Oh iya! Agatha ya? Ikut ekskul dance juga kan?” Tanya Frenya. Agatha mengangguk antusias. ”Iya! Nama aku Agatha Adira, kakak bisa panggil aku Agatha, Adira, Dira juga boleehh hehe.” Agatha nyengir. Frenya ikut nyengir antusias. Wuihh! Ada versi dirinya ternyataa di diri Agatha ternyata. “Jangan panggil Kakak ih! Anya cuma beda setahun sama kalian tauu. Panggil aja Anya.” Frenya mengulurkan tangan dengan antusias pada Agatha. “Aku gak enak kalo gak manggil kakak.” Frenya mengerutkan bibir. “Sama aja kayak mereka, huh. Males ah! Kan Anya masih muda tauu. Tapi gapapa deh karena kamu cantik jadi gapapa hehe.” Agatha bersemu. Hey, Frenya lebih cantik darinya. Jadi gini rasanya di puji sama yang lebih cantik dari kita. ”Kak, kenapa masih di sini?” Tanya Clara pada Frenya. Waktu Clara ke sini Frenya ada dan saat dia ke sini lagi ternyata Frenya masih ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN