Keributan di Kantin (2)

1048 Kata
”AGATHA!” Keysia menoleh ke balik punggungnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat teman-temannya sudah ada di sana dengan Agatha yang seragamnya sudah ternodai oleh jus jambu yang tadi Salsa lemparkan untuknya. ”Agatha! Kok bisa lo yang kena?!” Polos Keysia. Seluruh penghuni di lantai tiga terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihat. Kantin itu benar-benar hening. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan hanya sekedar saling berbisik. Clara orang pertama yang memecah keheningan. “Minta maaf,” katanya dengan suara dingin. Wajahnya terlihat tenang, namun mereka tahu bahwa cewek itu sedang menahan amarah. Tak peduli dia kakak kelas atau bukan, Clara sudah muak. Tidak ada yang berani dengan Clara jika dia sudah memasang raut wajah seperti itu. Bahkan Salsa pun sampai tidak tahu harus berkata apa, dia juga agak shock. Sial, dia salah sasaran! Namun begitu, dia berusaha untuk memasang muka tenang. Jika Keysia di kenal dengan galak, judes, dan pemberani. Maka Clara di kenal dengan orang yang tidak akan banyak bersuara, dia mementingkan tindakan, namun ucapannya juga terkadang sangat menyakiti hati. Berbeda dengan Gita dia tidak bisa berdebat, dan biasanya Keysialah yang menjadi tamengnya. Dan kalau Agatha memiliki sifat yang lembut sebenarnya, dia cinta damai dan hanya berbicara untuk menenangkan atau di butuhkan bukan berarti dia tidak bisa berdebat ya. Dia bisa hanya tidak ingin. ”Minta maaf,” ulang Clara. Dia maju mendekati Salsa. Cewek itu otomatis mundur. Siapa bilang dia tidak takut dengan Clara. Meski baru, namun orang yang mengenal Clara pun tahu jika cewek itu sangat tidak bisa di remehkan perihal bela diri. Salsa yang tidak tahu menahu dengan bela diri pasti akan memilih mundur perlahan. Dari pada dia harus masuk rumah sakit. Di tengah ketakutan dan kekalutan Salsa, cewek itu masih kekeuh dengan pendiriannya. “Ogah!” Entah dapat keberanian dari mana. Tangan Salsa bergerak mengambil salah satu jus mangga. Belum sempat Salsa mengangkat jus itu. Dengan cepat Clara mencekal tangan Salsa hingga cewek itu mengaduh kesakitan. ”Lepas!” tekan Salsa. “Gak akan!” Salsa mencoba melepaskan tangannya dari Clara, namun hanya jus saja yang perlahan tertumpah dan sedikit mengenai baju mereka berdua. ”Mau lo apa, Sialan!” Tanya Salsa yang sudah mulai membara. Clara memandang Salsa dengan tenang. “Lo b***k atau gimana? Gue mau lo minta maaf!” Salsa berdecih, dia menyentakkan gelas itu dari tangan. Melepas gelas hingga tak lagi dia pegang. Ia tidak ingin baju mahalnya terlalu banyak terkena jus. Meski baju Clara sama menyedihkan dengannya. Salsa menepuk-nepuk seragam putihnya yang terkena jus. Sialan, Clara! Sementara Clara seolah tidak memperdulikan noda kuning di bajunya. Dia tetap menatap Salsa. Teman-temannya pun tidak ada yang mencegahnya kelakuan Clara, karena mereka tahu apa yang di lakukan Salsa tidak benar. Salsa berdesis. ”Gak sudi gue minta maaf sama kalian!” Perkataan Salsa berhasil membangkitkan amarah Clara. Smirk muncul di balik senyum cewek itu. Terlihat menyeramkan, hingga membuat teman temannya melongo tak percaya. Itu Clara? “Berarti lo emang harus di kasarin!” Clara maju mendekati Salsa. Tangan itu terangkat, melayang ke arah Salsa. Salsa menutup mata rapat-rapat, siap untuk menerima tamparan Clara. Namun. Tidak terjadi apa-apa. Cewek itu tidak merasakan sakit di badannya. Apa yang terjadi? Salsa membuka mata. Di sana dia melihat Hendru, pacarnya, sedang mencekal tangan Clara. Pantas saja dia tidak merasakan apa-apa. Dia menyeringai puas. Jika sudah ada Hendru, maka dia tidak perlu takut lagi, hahaha ia ada backingan. Salsa melipatkan tangannya di bawah d**a. “Mampus lo!” Ejek Salsa tanpa suara. Clara berdecih. “Banci dateng? Cih! beraninya sama cewek.” Hendru yang sudah terpancing, semakin mengeratkan cekalannya pada pergelangan tangan Clara. Ah, pasti tangan itu sudah memerah. Namun dia tidak mengaduh kesakitan. Tidak sudi! “Lo gak bisa nyentuh pacar gue!” ucap Hendru dengan tajam. Jangan tanya Clara mengapa dia tidak bisa melawan Hendru. Pria itu juga tidak bisa di remehkan bela dirinya. Sabuk hitam dan dua dia pegang. Sementara Clara baru sabuk merah strip dua. Hey! Dia juga cewek! Clara pasti akan kalah telak. Sedangkan di lain tempat. Sejak tadi dia hanya diam sambil memperhatikan Claranya. Awalnya dia menikmati keributan itu, dan pada saat Salsa dan Clara bertengkar pun Vino dengan yakin menduga Clara pasti akan unggul. Ya, dia tidak bisa meremehkan gadis yang satu itu. Bahkan Vino sempat kagum saat Clara masih memasang wajah tenang dan kalem, padahal jika dia yang di sana sudah pasti Vino akan langsung membogem habis lawannya. Tapi! apa yang dia lihat sekarang membuat amarah Vino sedikit muncul. Dia sudah tidak lagi menikmati tontonan gratis ini. Dengan santai dia berjalan ke arah sumber keributan dengan kedua tangan di masukkan kedalam kedua saku celananya. Bagaimana pun dia harus tetap terlihat cool. Baiklah, jika Salsa memakai pacarnya sebagai tameng, maka Clara pun bisa. Hendru bukan lawan Clara, namun lawan Vino, bukan? “Lo juga gak bisa nyentuh milik gue.” Serentak mereka semua melihat ke arah sumber suara. Di sana sudah ada Vino dengan gaya kerennya dia, cowok itu melangkah mendekati Hendru. Salsa dan Hendru sama sama terkejut dengan siapa yang datang. Bagaimana bisa Vino datang ke sini? Mengapa dia membela Clara? Ada urusan apa dia sama mereka? ”Ngapain lo di sini?” Tanya salsa, meski takut dia berusaha mendongakan kepala. Vino tidak melirik Salsa sama sekali. Tatapannya lurus ke cekalan Hendru pada Clara. Sudah sangat merah. Sial! Dengan tenang Vino berjalan, melepas cekalan Hendru dari tangan Clara. Cowok itu tidak melawan. Ya, sebenarnya tidak apa jika dia melawan, maka dengan senang hati Vino meladeni mereka. Lalu dengan penuh hati-hati, Vino menarik pelan tangan Clara, mengusap pergelangan itu dengan lembut. Seolah membersihkan bekas Hendru dari tangan Clara. Setelah itu Vino menggantikan bekas Hendru menggunakan tangan besarnya. Menenggelamkan telapak tangan Clara di dalam telapak tangan Vino. Clara merutuki Vino. Wajahnya sduah memanas. Argh! Sial, masih sempatnya Clara salah tingkah di keadaan seperti ini. Penghuni kantin yang menyaksikan hal tersebut langsung berteriak iri pada Clara. Mereka saling berbisik, memuji perbuatan Vino yang sangat gentlemen dan romantis itu. Gita pun sempat menggoda Clara dengan mengeluarkan suara seperti orang batuk. Untung Agatha langsung memperingati cewek itu. “Lebih baik kalian pergi. Oh iya! lo bukannya orang yang suka sama Dion? Udah punya pacar? Pantesan Dion gak mau sama lo. Murahan ternyata.” Salsa merasa tersentil dengan ucapan Vino. Baru ingin membalas perkataan Vino, Hendru lebih dulu menyela dengan kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN