Ruang kerja itu sunyi. Tak ada suara apa pun. Malam sudah lama menggelap. Fajar sebentar lagi akan hadir. Namun, pria yang memakai kaos oblong putih itu masih belum memejamkan mata walau hanya sekejap. Mata tajam Sean melirik jam dinding di ruang kerjanya. Pukul empat pagi. Dia menghela napas. Kedua tangannya masih menyiang di d**a. Sementara tatapannya memandang jauh melalui kaca jendela. Berbagai peristiwa menghampiri ingatan Sean bagai sebuah rekaman yang terus berputar berulang-ulang. Dia tidak dapat tenang sejak memandang kedua mata Nadia alias Nisa. Semua hal tentang wanita itu masih tersimpan di kepala. Tidak ada kesengajaan. Sean ingin sekali menghapus semua kejadian hari ini. Lalu, dia sadar jika hal itu tidak mungkin bisa dilakukan. Dia juga tidak akan bisa menghilangkan Nisa

