23. Sandaran Lama

1396 Kata

“Jadi, tidak ada kesempatan sama sekali untukku?” Kalimat terakhir yang Izza dengar dari mulut Sean terdengar sangat menyakitkan. Dia harus memejamkan mata agar kristal beningnya tak meleleh. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat daripada biasanya. Kedua tangan Izza bahkan sudah saling remas dari pertama dia memergoki Sean bertemu dengan Nisa. Jujur, dia takut untuk mendekat, tetapi entah bagaimana kakinya melangkah. Duduk dengan jarak yang tidak begitu jauh membuat Izza bisa mendengar semua pembicaraan suami dan kakaknya. Bagai de javu. Izza kemarin juga mencuri dengar seperti ini dan dia memperoleh kekecewaan. Harusnya dia tidak mengulang kegiatan yang tak pantas itu. Mau bagaimana lagi, dia merasa penasaran.  Niat untuk mengembalikan ATM Nisa gagal sudah. Izza sudah tidak memiliki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN