Izza meletakkan Alquran di meja. Dia memperhatikan foto lama yang dipajang. Empat orang yang tersenyum lebar ke arah Kamera. Gambar diambil saat usianya dua belas tahun dan menjadi kenang-kenangan terakhir sebelum Papi meninggal.
Jari lentik Izza mulai menyisir garis wajah Papi yang memiliki senyum paling tulus. Dia selalu mengagumi sosok Papi yang penyabar. Ketika Mami memarahi atau menyalahkannya, Papi yang membantah. Papi tidak pernah membiarkannya bersedih.
"Izza kangen Papi," bisik Izza. Wanita itu segera menyeka air mata yang tiba-tiba membasahi pipi. Dia harus hidup bahagia seperti keinginan Papi. "Maaf, Pi. Izza terlalu merindukan Papi sampai menangis. Bagaimana pendapat tentang Mas Sean? Dia memang sedikit aneh, tapi sepertinya dia pria yang baik. "
Hanya selama ini saja Kak Faris yang selalu memenuhi pikiranmu. Kenapa sekarang kamu mempertimbangkan Mas Sean? Kamu mau menikah dengan siapa?
Hati Izza mulai memulai. Dia menggeleng berulang-ulang sambil beristigfar untuk mengenyahkan pikiran jahat itu. Setan senantiasa menyukai hamba Allah yang sedang dilanda ingat. Ia membisikkan hal-hal buruk agar kita bertemu dan terjerumus dalam lembah dosa.
Dosa? Izza sadar jika tidak semestinya memiliki perasaan berlebih pada Faris. Bagaimana pun, mereka tetaplah kakak-beradik yang tidak boleh menyimpan rasa cinta lawan jenis. Seharusnya tidak membahas, tetapi masyarakat pasti akan membahas hubungan mereka.
"Izza." Suara ketukan pintu menyadarkan Izza. “Makan dulu. Mau sampai kapan kamu mengurung diri? Kamu bukan anak kecil lagi. Jangan merajuk seperti ini. "
Faris kembali mengetuk pintu kompilasi tak ada jawaban dari Izza. Dia memejamkan mata dan menajamkan pendengaran. Berharap bisa mendengar suara Izza setelah kejadian memalukan tadi sakit.
Pintu terbuka dan memasang gambar Izza yang masih mengenakan mukena. Faris melongok ke dalam kamar. Ada sajadah yang masih belum dilipat, padahal waktu shalat Isya sudah lama berlalu. Apa Izza membaca Alquran lebih lama? Faris tahu jika adiknya itu akan memperbanyak tilawah jika sedang gundah.
“Maaf jika sudah membuat kamu gelisah,” ucap Faris penuh penyesalan.
“Seharusnya sejak awal kita memang tidak perlu sedekat ini. Iya, kan? ”
Ada pisau tak kasat mata yang menusuk hati Faris. Yang menjawab Izza sangat benar, tetapi terasa terasa salah di telinga Faris. Namun, dia tidak membantah. Dia juga tidak berani melihat Izza seperti biasa.
"Kamu menyesal karena selama ini kita dekat?"
"Bukan begitu. Kakak tahu betul apa maksudku, ”sanggah Izza.
“Kita hanya dua orang asing yang akhirnya menjadi kakak dan adik. Kamu juga tahu itu, kan? ”
“Mengapa Kakak keras kepala? Mami pasti sedih karena sikap kita ini. Biar bagaimana pun, kita tetap anak Mami dan Papi. Itu tidak akan berubah sampai kapan pun. ”
Keheningan menyelimuti setelah kata-kata yang dilontarkan oleh Izza. Coba Mulai Merenungkan Kesalahan Yang Mereka Lakukan. Dilihat dari sudut kepantasan, perasaan mereka memang salah.
"Kamu benar. Islam mungkin mengizinkan kita menikah karena kita bukan saudara kandung. Tapi kita tetaplah keluarga. ” Farisarikan diri untuk tersenyum. "Kamu tidak serius akan menikah dengan Sean-sean itu, kan?"
Izza mengangkat bahu. “Aku cuma ingin mengenalnya. Lagi pula, Mami tidak akan diizinkan. ”
“Tapi dia pria aneh, Za. Dia suka menangani sesuatu. Kakak khawatir kamu akan kecewa nanti. ”
"Mami benar. Kakak harus bertemu dan berbicara dengan Mas Sean. Dia tidak seburuk itu. "
"Benarkah? Jangan terima dia hanya untuk menghindari Kakak. ”
Senyum Izza mengembang. Dia mengangguk, lalu menutup pintu kamarnya. Setelah kejadian sore tadi, dia tidak bisa melihat Faris terlalu lama. Wanita itu memejamkan mata dan melafalkan doa untuk perlindungan perdamaian yang gelisah.
Bukannya menghilang. Bayangan Faris sulit menari-nari dalam pikiran. Semua kenangan bersama Faris di masa lalu meruntuhkan pertahanan yang coba dia bangun. Senyuman dan kebahagiaan mereka tidak akan mudah dilupakan begitu saja.
Ya Allah. Jangan biarkan setan terus menjatuhkan hamba dalam kegamangan. Lindungi hati dan pikiran hamba. Jauhkan segala keburukan dari diri hamba. Amin
***
"Izza mau ikut Kak Faris?"
Mata bulat Izza menatap polos pada Faris yang tersenyum. Umur Izza masih belum genap lima tahun kompilasi Faris menjemputnya di panti asuhan. Izza selalu menikmati Faris yang mengunjungi setiap hari. Membawakan berbagai hal yang dia sukai, mulai dari makanan hingga mainan.
Tinggal di panti sejak bayi membuat Izza mengerti jika hidup tidak selamanya tentang kebahagiaan. Namun, dia senang setelah mengenal sosok Faris. Terlebih saat Faris kecil akan menjemputnya untuk tinggal di rumah baru.
"Kita akan tinggal di rumah baru?" tanya Izza seraya tersenyum lebar. Faris mengangguk.
"Izza mau?" Izza mengangguk penuh semangat.
Mulai hari ini Izza dan Faris menjadi saudara, tinggal dan menghabiskan waktu bersama. Faris bagaikan pahlawan dan pelindung bagi Izza setiap kali ada yang mendekat. Tanpa disadari, Izza terlalu bergantung pada Faris yang selalu mendukungnya.
Izza menganggap Faris orang yang paling memahaminya. Tentu saja selain Papi yang berhati lembut. Sementara Mami tampak tidak disukai sejak Izza menginjakkan kaki di rumah. Wanita itu terus bingung Izza jika ada yang tidak beres.
Ketidaksukaan Mami bukannya malah menyurutkan semangat Izza. Gadis kecil itu perlu untuk menjadi anak yang lebih baik agar bisa meluluhkan hati sang ibu. Namun, semua tidak berguna. Izza kemudian menyetujui alasan Mami tidak suka menantang.
Malam yang diselimuti hujan deras, tepat setelah kepergian Papi. Izza tidak mungkin dikembalikan apa yang diminta oleh Mami. Meski usianya baru tiga belas tahun, dia cukup mengerti arti kata-kata yang diucapkan Mami pada Faris.
“Kamu masih tujuh belas tahun, Ris. Kamu tidak mengerti apa-apa, ”kata Mami, suaranya bergetar.
“Faris sudah cukup besar untuk menyelesaikan perkataan Mami. Mami tidak bisa melakukan hal itu. Izza akan tetap menjadi adik Faris sampai kapan pun. ”
“Menitipkan Izza ke saudara Mami tidak akan membuat kamu melepaskan Izza, Ris. Lagi pula mereka tidak tinggal jauh. Kamu bisa tahu kapan saja. Sama seperti saat dia ada di panti. "
“Mami sudah berjanji akan mengabulkan permintaan Faris saat itu. Faris mau Izza tinggal bersama Faris. Apa itu yang meminta Faris dulu? Kenapa sekarang Mami mengingkari janji. ”
Mami menghela napas berat. Dia duduk di kursi terdekat sambil menepuk-nepuk d**a. Izza kecil terus memperhatikan antara Mami dan Faris melalui pintu yang sedikit terbuka. Dia menyeka air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.
“Faris setuju diadopsi Mami Papi setelah Mami berjanji akan membuat Izza adik Faris. Tolong, jangan biarkan Izza pergi, Mi. Kasihan dia. Faris janji akan menunggu dia dan menjadi laki-laki yang berhasil nanti, jadi Mami tidak perlu khawatir. "
Tidak ada jawaban dari Mami. Wanita itu sekarang memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Faris duduk di bawah Mami dan mulai menangis. Dia tidak bisa membayangkan jika Izza pergi.
“Kamu harus menepati janjimu itu, Ris. Mami tidak mau kamu menjadi laki-laki yang ingkar janji. ”
"Iya, Mi. Faris Janji. "
***
Segala hal tentang Faris berpartisipasi dalam hati Izza. Mungkin itu sebabnya dia tidak bisa melihat orang lain yang selama ini mendekat. Dia terlalu fokus mengagumi Faris, jadi tak ada yang lebih baik dari sang kakak.
Izza tahu perasaan tak pantas ini diperlukan bisa dicegah. Sebagai muslimah yang mengerti batasan antar lawan jenis, dia paham betul hukumnya. Namun, mengendalikan hati tidak semudah itu. Apa lagi dia bertemu dengan Faris setiap hari. Faris juga tidak berusaha menjauh dari Izza.
Entah siapa yang salah dalam perang perasaan ini? Izza atau Faris. Yang pasti, yang sekarang dipahami rasa yang telah lama mereka pendam dalam-dalam. Mereka tidak menyangka jika Mamilah yang pada akhirnya menyadarkan, betapa hal itu tidak pantas.
Cinta merupakan fitrah manusia sebagai makhluk Allah. Ia diciptakan sebagai pelengkap kebahagiaan sekaligus ujian. Akan menjadi kebahagiaan jika dirasakan oleh yang sudah halal dan ujian imam bagi mereka yang belum memiliki hubungan resmi. Jadi, jangan sampai salah menempatkan cinta. Karena cinta bukanlah kesalahan. Manusialah yang membuat cinta terkadang disalahartikan.