5. Interogasi

1309 Kata
"Kamu mau mengatakan sesuatu pada Mama?" serang Mama. "Tentang?" Sean mencoba menghindari mata Mama yang terus mengintimidasi. "Jangan pura-pura tidak tahu." Mama mengembuskan napas dengan kesal. “Siapa Izza sebenarnya? Kamu sengaja mendekatinya? ” “Sean sudah bilang kalau kami sudah bertemu di panti. Dan iya, Sean memang sengaja mendekatinya. ” "Karena dia mirip dengan Nadia?" Kepala Sean tergoda untuk mengangguk, tetapi tidak. Mama tidak akan menyukai alasan itu. Haruskah dia menghindar? Melihat betapa Mama jeli memperhatikan setiap sesuatu, ketidakjujuran malah bisa membawa Sean pada masalah. Lantas, apa yang harus dia lakukan? "Sean, Mama menunggu jawaban kamu," desak Mama. "Sebenarnya ... itu memang salah satu alasan Sean mendekatinya." Setelah menimbang semua kemungkinan, Sean memutuskan untuk jujur. Mungkin dengan begitu, Mama bisa membantunya mencari solusi. Mama punya ide bagus dalam hal jodoh menjodohkan. "Kamu tahu kalau Izza itu anak angkat?" Kenyataan itu mengejutkan Sean. Izza anak angkat? Dia tidak mencemaskan tentang status Izza itu. Sekarang dia mulai memikirkan kakak Izza. Apakah mereka bukan saudara kandung? Jadi, bisa saja mereka .... Izza dan kakaknya tampak sangat dekat. Andai Sean tidak bertemu dengan kakak Izza sebelumnya, dia pasti akan mengira jika mereka adalah sepasang sejoli  Ya ... Meskipun mereka tampak religius, tetapi cinta bisa menyerang siapa saja, bukan? "Jadi, Izza dan kakaknya ...." "Izza dan Faris sama-sama diadopsi dari panti," terang Mama cepat. "Faris?" "Nama kakak Izza." "Lalu, apa yang harus dicemaskan?" Sean mencoba menarik benang merah dari perkataan Mama. Semoga saja apa yang dia khawatirkan tidak benar. Akan sulit jika harus bersaing dengan Faris. Bukan tidak percaya diri atau apa, tetapi Sean kalah jauh dari Faris. Izza dan Faris bertemu setiap waktu. Kalau memang sedekat itu, pasti hubungan mereka sulit untuk dimasuki orang baru. Ditambah Sean sudah mendapat cap sebagai pria aneh yang menggoda wanita asing di pertemuan pertama. Entah bagaimana penilaian Izza terhadap dirinya. "Maminya Izza pernah berkata kalau kedua anak angkatnya saling menyukai dan dia sangat mengkhawatirkan hal itu." Ini bukan kabar baik bagi Sean. Jatuh cinta itu memang menyeramkan. Tinggal bersama sebagai kakak adik nyatanya tidak mampu membendung perasaan Izza dan sang kakak. Akan tetapi, Sean tidak bisa menyalahkan keduanya. Mereka hanya kebetulan menjadi keluarga. Tidak ada ikatan darah yang melarang mereka untuk saling menyukai. Cinta macam apa itu? Pasti sakit sekali menyukai seseorang yang  tidak bisa kita raih. Namun, harus terhalang oleh keadaan yang rumit. Sean tidak mampu membayangkan rasanya. Adakah yang lebih sulit dari cinta tidak sampai? Orang yang kamu cintai jelas-jelas berada di hadapanmu. Dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Namun, kalian sengaja mengalah demi membahagiakan orang lain. Coba kamu bayangkan? Sesakit apakah hatimu? "Benarkah? Lalu, apa yang mereka rencanakan? Menikah? Toh, mereka bukan keluarga, ”ucap Sean bergetar. Ada duri yang menusuk mata. Rasa perih semakin meningkat. "Apa menurutmu maminya akan setuju?" Mama malah bertanya. “Mereka memang bukan keluarga sungguhan, tetapi semua orang berpikir mereka adalah saudara. Bagaimana mungkin mereka tiba-tiba menikah? ” "Jadi?" “Jadi, maminya mencoba untuk menjodohkan mereka dengan anak teman-temannya, tetapi tidak pernah berhasil. Mereka pintar menghindar. Kamu tahu apa artinya itu? ” "Mereka ..." Sean butuh berat untuk menyelesaikan kalimatnya. “Benar sekali, Sean. Apa yang kamu pikirkan itu memang benar. Mereka saling menyukai. ” "Lalu, apa maksud Mama mengatakan semua ini pada Sean?" “Untuk berjaga-jaga agar kamu tidak terlalu sakit hati saat Izza menolak. Jangan terlalu berharap. Lagi pula, Mama tidak mau kamu mengajak Izza menikah hanya karena dia mirip dengan Nadia. Itu akan sangat menyakiti Izza. ” Tentu saja Sean tahu betul jika Izza akan merasa sakit hati saat menerima alasan Sean menyapanya siang itu. Haruskah Sean melepaskan Izza sekarang? Mereka belum dekat saat ini, jadi pasti akan lebih mudah untuk berpisah. “Jadi, yakinkan perasaanmu dulu. Baru putuskan. " Mama masih ingin melanjutkan perkataan, tetapi bunyi gawai mengalihkan perhatiannya. Dia meraih benda pipih itu dan mulai berbicara. "Assalamualaikum, Jeng." Mama melirik Sean yang masih menunggu kelanjutan perkataannya. “Begitu? Tidak masalah Nanti aku sampaikan pada Sean. Oke. Waalaikumsalam. " "Faris ingin bertemu kamu," ujar Mama setelah selesai menelepon. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Sean. Apa yang kira-kira ingin dibicarakan oleh Faris? Apa pun itu, pasti ada dengan Izza. Tidak ada gunanya menghindar. Dia akan mengatasi masalah ini. Jika Izza bukan seseorang yang dipersiapkan untuknya, Sean akan menerima dengan lapang d**a. Yang terpenting sekarang adalah menyelami hati terdalam. Adakah nama Izza di sana atau masih ada Nadia. *** Sean masih menunggu Faris memulai pembicaraan. Kedua pria itu masih merasa enggan untuk berbincang. Mereka hanya saling menyapa saat sama-sama tiba di kafe tadi. Sungguh Sean sudah bosan. Sudah sepuluh menit lebih berhadapan dan tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Menurut Sean, Faris sengaja membuatnya jengkel. Lihat saja yang dilakukan Faris sekarang. Dia membuka gawai dan menggerakkan jari-jarinya dengan cepat di atas layar. Dia seakan lupa jika ada orang di hadapannya. Oke. Jika Faris tidak ingin mengawali obrolan, Sean yang akan mengambil posisi itu. Dia sudah cukup menahan diri karena menganggap Faris sebagai kakak Izza yang harus dihormati. Baiklah, dia belum tahu siapa Sean Samudra Walzer. "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" Tidak masalah bukan jika Sean berbicara dengan bahasa santai. Faris tidak terlihat lebih tua dari dirinya. Malah tampak lebih muda. Jadi, dia tentu tidak akan mempermasalah hal itu. Ya, semoga saja. Faris berdeham. Dia memasukkan gawai ke saku baju dan meminum air putih di hadapannya. Kemudian, pria itu melihat lurus Sean. Ada tatapan lain yang Sean tangkap. Sean menebak jika Faris tidak terlalu menyukainya. Dia jadi teringat perkataan Mama. "Maminya Izza pernah berkata kalau kedua anak angkatnya saling menyukai dan dia sangat mengkhawatirkan hal itu." Kalau itu memang benar, sikap Faris bisa dimaklumi. Pria itu sudah menahan perasaan selama bertahun-tahun. Pasti sulit memendam cinta pada orang yang sangat dekat dengan kita. Namun, tidak bisa kita raih. "Apa kamu benar-benar berniat menikahi Izza?" Menarik. Faris tidak berbicara sesopan saat pertama kali bertemu Sean di panti. Sudut bibir Sean terangkat melihat ekspresi Faris. Pria itu merasa tersaingi oleh kehadiran Sean. Apa telah terjadi sesuatu di antara Faris dan Izza? Hati Sean kembali membara. "Kamu keberatan?" "Mengapa kamu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?" "Kamu juga melakukan hal itu," kata Sean tak mau mengalah. Sean dan Faris saling memandang lama sebelum sama-sama berpaling. Ego sebagai seorang pria sepertinya tengah menguasai mereka. Mereka ingin menang. Lihatlah bagaimana mereka melipat tangan di d**a sambil memasang wajah keras. “Jika tujuanmu hanya untuk bermain-main, lebih baik lupakan niat menikah dengan Izza. Dia bukan wanita sembarangan yang bisa kamu sakiti, ”ujar Faris serius. "Karena dia adikmu atau ...." "Atau apa?" Wajah Faris memerah. Dia berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi. "Atau karena kamu mencintainya?" Kedua tangan Faris mengepal di bawah meja. Jadi, Sean sudah tahu masalah itu? Faris tidak menyangka kalau pria itu cepat mendapatkan informasi. Dari siapa Sean mendengar? Mungkinkah Mami yang bilang? Jika Sean sudah tahu tentang perasaan Faris dan Izza, hal ini menjadi lebih mudah. Faris tidak perlu repot menjelaskan alasannya mewanti-wanti Sean. Sebaiknya Sean tahu jika ada Faris yang selalu berada di dekat Izza. “Karena kamu sudah tahu. Aku tidak akan sungkan lagi. Izza dan aku memang saling menyukai. Jika bukan karena Mami, aku tidak akan pernah melepaskan Izza pada pria mana pun, apa lagi pria sepertimu. ” "Pria sepertiku?" Sean sedikit tersinggung dengan ucapan Faris. "Kamu menyembunyikan sesuatu, kan?" tuding Faris dan langsung membuat Sean menegang. Sean sadar jika Faris pria jeli dan cerdas. Ternyata insting pelindungnya sangat kuat. "Apa yang kamu sembunyikan?" Sikap diam Sean membuat tawa Faris berderai. Faris tidak akan pernah mengizinkan Sean menikahi Izza sebelum dia yakin. Izza pantas mendapatkan pria yang baik. Kalau Izza bahagia, dia akan melepaskan gadis itu dengan hati ikhlas. “Apa pun yang aku sembunyikan, akan aku katakan pada Izza, bukan padamu. Ini masalah di antara kami. " "O ya? Kamu pikir kamu bisa menemui Izza tanpa izin dariku? ” tantang Faris. Lagi-lagi, dia dan Sean beradu pandang. Siapakah yang akan menang kali ini? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN